
"ANAK LAKI-LAKI KELUAR DULU! ANAK PEREMPUAN MAU GANTI BAJU!"
Suara yang menggelegar bagai petir dalam topan itu adalah milik salah satu siswi penghuni bangku depan. Tubuhnya kecil semampai, namun siapa sangka suara yang dihasilkan mampu mengguncang dunia. Hanya dengan satu teriakan, seluruh siswa di dalam kelas yang nampaknya juga tengaah bersiap untuk ganti pakaian pun segera lari terbirit-birit. Mereka lebih baik mengalah dari pada merelakan gendang telinga mereka jebol jika suara berfrekuensi tinggi itu mengudara untuk yang kedua kalinya.
Ya, hari ini jaam pertama dimulai dengan kelas olahraga.
"Itu kunci pintunya dong!"
"Gordennya belum ditutup rapat, nanti anak laki-laki bisa mengintip!"
"Sera, kau yang jaga pintu! Nanti kita gantian"
"Hei, lihat! Bra milik Mela warnanya merah muda, ulala!"
"Oi! Balikkan badanmu! jangan melihatku!"
Dan masih banyak lagi. Mereka terlihat heboh sendiri.
"Alena..kau tidak ganti baju olahraga?" Tanya jeje sambil sengaja menyenggol siku.
Aku menatapnya bingung "Hei Jeje, memangnya kamar mandi sekolah sedang rusak, ya?"
"Tidak kok, biasanya juga seperti ini. Kamar mandi sekolah itu jauh dibelakang dan sangat menyeramkan"
"Jadi?"
Jeje tiba-tiba menarik tanganku kebawah kolong meja. Aku tersentak karena tidak siap, kening mulusku ini tak sengaja mencium kaki meja cukup keras. Dan rasanya,
"Ah! mantap sekali Jeje. Keningku pasti akan benjol dua centi setelah ini"
Yang disarkasi malah terkekeh "Maaf-maaf aku tidak sengaja"
"Hm"
"Cepat ganti, nanti Tiger ssaem marah-marah kalau tidak segera ke lapangan" Jeje mendesak.
"DISINI??" tanyaku masih tidak percaya, sementara Jeje terlihat mengangguk antusias.
...----------------...
Hampir sepuluh menit menunggu dilapangan basket, Guru olahraga itu tak kunjung memunculkaan wujudnya.
Si kaki kuda Jeryco berinisiatif pergi ke ruang guru untuk menanyakan dimana keberadaan si guru olahraga tersebut.
Oh, ya! asalkan kalian tahu, Jery itu ternyata ketua kelas 12 MIPA 2 sejak semester pertama.
Tak berselang lama, ia terlihat kembali dengan membawa beberapa bola basket dikanan dan kiri tangannya.
"Hari ini Tiger ssaem akan datang terlambat karena masih ada rapat" terang Jery sembari memberi intruksi agar semua berdiri dan membuat deret barisan. Kemudian ia baru meletakkan beberapa bola basket itu didekat ring. Sepertinya materi kali ini seputar permainan bola besar.
"Kita pemanasan dulu, aku yang akan memimpin. Setelah itu lari mengelilingi lapangam sebanyak tiga kali. Kalau sampai ada yang tidak serius akan ada konsekuensinya dari Tiger ssaem" Jery memasang garis wajah serius.
Tentu saja aku memilih untuk berada dibarisan paling belakang. Posisi ini tidak terlalu mudah dijangkau dari depan. Jadi, aku bisa lebih santai.
Ya, selain tidak suka matematika, aku ini juga sama sekali tidak cinta olahraga.
Ayolah! siapa sih yang mau mengeluarkan tenaga untuk menggerakkaan badan secara cuma-cuma?
Sialan!
Kegiatan pemanasan terjeda sementar. Semua anak mulai menolehkan kepala mereka ke belakang.
Aku yang kagok pun mulai menunjuk diri sendiri "A--aku ya?"
"JEJE"
Syukurlah, lega sekali rasanya karena rupanya yang dimaksud bukan aku. Tetapi, "Jeje! kau kenapa?"
Gadis itu menggeleng skeptis "Tidak apa-apa, kok"
"Kau sakit?" Aku mendadak panik manakala Jeje tiba-tibaa berlutut sambil memegangi perutnya. Wajahnya kini sudah dibanjiri dengan keringat.
"JESICA! KALAU TIDAK NIAT BEROLAHRAGA SANA KELUAR SAJA DARI LAPANGAN!"
Bibir Jeje nampak semakin pucat. Ia sedang tidak baik-baik saja.
"Dia sakit Jery" teriakku sambil meliriknya. Jeje merintih. Sementara orang yang seharusnya bertanggung jawab atas temannya malah melipat kedua tangan di depan dada, kemudian disusul memutar bola mata kesal.
"Alena kau tidak pernah melihat anak malas sedag bersandiwara untuk membolos pda jam olahraga?" jawab lelaki itu enteng. Tidak merasa berdosa sedikit pun.
Menyebalkan sekali. Ini tidak bisa dibiarkan karena semua yang ada dilapangan ini sibuk menyaksikan bagaimana salah satu temannya tengah terduduk tak berdaya. Jery sebagai ketua kelas juga tidak melakukan apa-apa.
Menarik napas panjang, aku pun berlari kecil menuju presisinya "Gendong dia ke UKS" cetusku masih mencoba untuk sabar.
Jery mencebik "Dia itu hanya pura-pura"
"Dia serius sakit, Jery!"
"Demi apa?"
Wah emosi ku benar-benar disulut dengan mulut busuknya.
Maka dengan bar-bar aku mulai menjabak rambutnya keras hingga tubuhnya terhuyung ke belakang. Jery tidak mau kalah. Ia juga menjambak rambutku dengan sangat beringas.
"LEPAS SIALAN SAKIT!" teriakku sambil memperkuat jambakan dikepalanya.
Jery meringis perih "KAU YANG MULAI DULUAN ALENA!"
"WOY! KALAU RAMBUTKU SAMPAI BOTAK, KUSUNAT BURUNGMU DUA KALI SAMPAI BATANGNYA PENDEK!"
"MASABODO KALAU RAMBUTMU BOTAK! BIAR MAKIN JELEK MUKAMU ITU!"
Cukup lama kami bertengkar dan tidak ada yang mau mengalah. Aku harus staycool meskipun rambutku rasanya seperti akan terlepas dari kepala. Aku tidak mau sampai si kuda ini menang telak. Mau ditaruh mana harga diriku nanti?
Dan konyolnya, semua yang ada dilapangan malah bersorak-sorak kelewat semangat. Tidak ada yang melerai. Seakan mereka menganggap kami berdua ini sedang bertarung di MMA.
Pantas semua konyol, panutan kelasnya saja begini modelnya.
Aku tak yakin Jeryco dihadapanku sekarang ini adalah Jeryco yang sama dengan yang mau mengantarku pulang kemarin. Jelas yang ini adalah titisan Iblis.
Kelakuannya sangat meresahkan.
"ANAK-ANAK ADA APA INI?"