
Tak Lama setelah Tante Renata pulang, Oma juga ikut menyusul. Rasanya tidak ada yang lebih melegakan daripada bebas dari eksistensi wanita nyaris tujuh puluh tahunan itu. Seakan bisa kembali menghirup udara bebas selepas dibekap hingga sesak setengah mampus.
Lantas segera kubawa langkahku menuju kamar yang berada di lantai dua. Bergegas mandi sebab tubuh rasanya begitu lengket oleh keringat. Butuh waktu sepuluh menit untuk menyelesaikannya. Kemudian segera turun menuju dapur guna mengambil beberapa bungkus makanan ringan dan soda kaleng.
Malam ini, aku berniat untuk belajar. Haha, kalau boleh jujur, aku ini tipe orang yang belajar jika ada ulangan saja.
Kebetulan besok ada jadwal ulangan bahasa Inggris di jam pertama. Sebenarnya tanpa belajar atau buka buku sekalipun aku yakin pasti bisa mendapat nilai yang sempurna. Kenapa? Jawabannya adalah karena aku sudah pernah tinggal lama di Amerika. Bahasa Inggris seakan menjadi makanan pokok setiap harinya.
Wow! Baru kali ini ada sesuatu yang bisa kubanggakan dari diriku sendiri.
Meja belajar sudah kutata senyaman mungkin, termasuk beberapa snack favorit yang menjadi teman belajar pun kini telah tersedia di depan mata. Asal kalian tahu, belajar tanpa ngemil itu rasanya hampa. Serta dapat kupastikan jadi cepat bosan dan mengantuk.
Sepuluh menit pertama, semua masih baik-baik saja. Tingkat fokus belajarku masih 90%. Namun, ketika sebuah notifikasi pesan tiba-tiba mengudara, persentase fokusku buyar seketika.
Awalnya aku mencoba untuk mengabaikan. Berpikir positif, mungkin saja itu hanya pesan dari operator. Kemudian berusaha kembali meniti atensi pada buku paket di hadapanku sambil sesekali menyumpal mulut dengan jeli rasa stroberi.
Tetapi, tak berselang lama ponselku kembali menyuarakan notifikasi pesan. Well, sepertinya kegiatan belajar harus tertunda sebentar karena harus mengecek ponsel.
Dua pesan dari nomor tidak dikenal.
Sedikit ragu, namun pada akhirnya aku yang penasaran lantas membukanya.
📥 Hei Benar ini Nathan?
Aku tak Langsung menjawab, melainkan membuka foto profilnya. Gambar seekor kucing yang Lucu. Bisa kutebak. Sepertinya pemilik nomer ini adalah Jeje.
📤 Jeje ya? Ada apa?
📥 Jeje..Jeje...jidatmu!
📤 Santai saja kali. Memang kau siapa?
📥 Jeryco Tampan. Bisa-bisanya kau kira aku ini si cupu.
📤 Habisnya profilmu kucing. Jadi ku kira kau perempuan.
📥 Jangan menilai orang dari profilnya.
Hei, kurasa semua orang juga akan berpikiran sama denganku jika melihat foto profilnya yang demikian,
📤 Omong-omong ada apa?
📥 Mau mengingatkanmu, segera bayar hutangmu.
📤 Iya..iya bawel!
📥 Aku butuh uang itu untuk beli coklat. Besok anniv ku yang ke tiga bulan dengan Rahel.
Dih masa bodoh! siapa peduli!
📥 Kau mengabaikanku?
📤 Belajar! besok ulangan.
📥 Hari gini masih belajar? Kau II 12 dengan Si Cupu itu.
📤 Aku tidak mau jadi orang bodoh sepertimu. Ups! keceplosan.
📥 Kalau begitu besok aku duduk denganmu lagi, mau menyontek.
📤 BIG NO!!
📥 Big No itu artinya 'saya bersedia' kan?
📤 Tak kusangka kau se-stupid ini Jery.
📥 Hahaha..makasih.
Dan balasan tak nyambung itu adalah akhir dari chat singkat kami. Tidak bohong, sampai detik ini pun aku belum berhenti tertawa geli. Masih tidak habis pikir dengan kelakuan inosen atau bodohnya Jery yang nyaris tak bisa dibedakan.
Pun sekitar tiga menit kemudian, ponselku kembali menyuarakan notifikasi. Kali ini bukan notifikasi pesan, melainkan notifikasi panggilan video. Aku segera menjawabnya tatkala mendapati nama 'Paman Melvin' yang tertera di layar ponsel.
"Ada apa, Paman?" tanyaku memulai pembicaraan.
"Seharusnya Paman yang bertanya. Kenapa kau tertawa sendiri seperti orang gila?"
Bagaimana ia bisa tahu? Oh! Aku hampir saja melupakan robot hantu yang berada di meja belajarku. Paman Melvin pasti memantauku dari situ.
"Melihat meme Lucu." Aku beralibi.
"Sudah kelas dua belas bukannya belajar malah main HP terus. Nanti kalau tidak lulus bagaimana?"
"Oke, Paman percaya Pokoknya sekarang Alena harus fokus belajar, belajar, dan belajar. Kurangi bermain Hp. Satu Lagi, Alena tidak boleh pacaran sama Laki-Laki manapun."
"Loh, kenapa tidak boleh pacaran?" Intonasiku turun satu oktaf, terdengar sedikit kesal.
"Alena masih kecil. Paman tidak memberi restu."
Oke, sepertinya aku harus segera mengganti topik.
"Omong-omong Paman ada di mana?" tanyaku sesaat setelah sadar bahwa background Paman saat ini nampak asing. Aku dan Paman memang sering melakukan panggilan video tatkala aku masih tinggal di Amerika. Jadi secara tak sadar aku hafal bagaimana kondisi rumahnya meskipun hanya sebatas virtual saja.
"Paman sekarang ada di studio musik." Paman Melvin mengalihkan kamera videonya dari kamera depan menjadi kamera belakang. Lantas secara perlahan menunjukkan bagaimana situasi studionya padaku.
Aku tidak mengerti, yang jelas di sana ada sebuah komputer dan alat-alat yang sepertinya digunakan untuk membuat musik.
"Paman mau comeback Lagi?" tanyaku penasaran tatakala layar ponselku kembali menampilkan wajah Paman Melvin.
"Iya, kali ini Paman akan kolaborasi dengan penyanyi senior." Paman Melvin menjawab dengan antusias.
Bola mataku sontak berbinar, "Sungguh? Dengan siapa? Laki-Laki atau perempuan?"
"Perempuan. Dengan Tina Lagi."
"Wah! Kesempatan besar. Paman harus pepet Tante Tina . Jangan kasih kendor!"
Namun, bukannya memberi pengindahan, Paman Melvin justru mencebikkan bibirnya. Memasang ekspresi yang tak bisa kujabarkan. "Tina kan sudah tunangan."
Semangatku luruh seketika. "Yah... Paman Melvin tetap jomblo deh."
"Siapa bilang? Paman kan punya Alena," ungkapnya sambil terkekeh. Memamerkan gummy smile andalannya.
"Alena punya Ayah, bukan punya Paman. Lagipun Paman Melvin bukan tipe idealku." Aku menjulurkan lidah dengan garis wajah setengah meledek. Sengaja. Ingin membuat pria di balik layar ponsel ini semakin kesal karena terus kukatai.
"Ah, benarkah? Nanti kalau tiba-tiba Alena naksir Paman bagaimana? Asal kau tahu saja, kebanyakan yang mengantri untuk menjadi pacar Paman itu gadis-gadis SMA seusiamu."
Oh, itu terdengar creepy.
"Paman ini pedofil, ya?"
Pria itu spontan menaikkan salah satu sudut bibirnya sinis. "Hei, cinta itu tidak mengenal usia. Memang kau tidak pernah mendengar berita tentang seorang kakek 70 tahun menikah dengan gadis 17 tahun?"
"Paman sudah makan?" Aku buru-buru mengalihkan pembicaraan. Jika terus dilanjutkan aku jadi merinding sendiri.
"Sudah, tadi makan roti isi."
"Paman harus makan yang banyak! Paman tidak boleh kurus. Nanti jelek. Kasihan, nanti tidak ada yang suka." Tidak bohong, Paman Melvin dengan pipi chubby jauh Lebih menggemaskan.
"Siap, Tuan Putri" Balasnya dengan sebuah kerlingan mata.
"Oh, iya. Ayahmu ke mana? Paman telepon sampai tiga kali tidak diangkat-angkat."
"Mengantar Tante Renata pulang," jawabku santai.
"Memang ia dari mana?" Paman Melvin menaruh atensi.
"Oma yang super menyebalkan itu meminta Tante Renata untuk menemaniku berbelanja. Karena sudah malam, Oma menyuruh Ayah mengantarkan Tante Renata sampai ke apartemennya." Aku menjelaskan semua apa adanya.
"Jam berapa Ayahmu mengantarkannya pulang?"
Aku mencoba mengingat-ingat. "Kalau tidak salah jam setengah tujuh."
"Dan sekarang sudah jam setengah sembilan malam. Apa Ayahmu belum kembali juga?"
Spontan aku mengecek jam yang berada di bar atas ponsel. "Belum."
"Jangan-jangan terjadi sesuatu?" Air muka Paman Melvin seketika terlihat khawatir.
"Paman jangan menakut-nakuti ku, plis!"
"Bukan begitu. Sudah dua jam, dan Ayahmu belum juga kembali ke rumah. Padahal hanya mengantar Renata pulang ke apartemennya."
Berusaha tetap tenang, aku lantas menimpa, "Mungkin Ayah mampir di apartemennya Tante Renata. Di sini hujan deras, bisa saja di daerah apertemen Tante juga hujan deras."
"Mampir katamu?" Kedua alis Paman Melvin seketika bertaut sempurna. Tiga detik kemudian ia tertawa aneh dan wajahnya berubah merah.
"Mampir? Hujan deras? Berdua? Apa Nathan memikirkan apa yang Paman pikirkan?" Tanya pria tersebut sambil mengger ayangi tengkuknya sendiri.
"Paman, please! Jangan membuatku overthinking"