Remember You

Remember You
THE SOMETHING HAPPENED



"Dingin ya?" tanya Jery saat menyadari eksistensiku yang sibuk menggosok-gosok telapak tangan untuk selanjutnya ditempelkan di pipi, berusaha mencari kehangatan.


Sekitar tiga menit yang lalu, kami berdua sudah selesai makan ramyeon dan memutuskan untuk keluar dari dalam minimarket. Hujan masih turun, meskipun sudah agak reda. Namun berganti dengan hembusan angin yang begitu dingin bak di Kutub Utara. Orang-orang yang sebelumnya meneduh pun satu-persatu sudah hilang entah ke mana.


Kulihat Jery hendak menurunkan resleting jaketnya. Secepat kilat aku menahannya. "Kenapa? Jangan dibuka. Dingin"


"Ya karena dingin aku membukanya. Ini jaketmu. Kau berhak memakainya," jelasnya terkesan mempedulikanku.


"Well, aku tidak akan pingsan karena kedinginan. Imunku kuat. Santai saja," elakku masih sibuk membuat kehangatan di telapak tangan.


Sepersekian detik kemudian aku sukses dibuat tercekat manakala tangan Jery tiba-tiba memeluk pundakku dari samping.


"Hari ini Nona Alena meminjamkan jaketnya yang wangi, katanya biar Paduka Jery tidak kedinginan.


Ia menarik pundakku semakin dekat hingga tubuh bagian samping kami saling menempel.


"Tapi Nona Alena bodoh. Kakinya bahkan bergetar karena kedinginan. Paduka merasa kasihan, oleh karena itu Paduka memeluknya diam-diam."


"Hei!" Aku mengelak. "Jangan buat mereka berpikir macam-macam lagi."


Jery pun menurunkan pelukannya di pundakku, namun tak berhenti di situ, ia kembali berulah dengan mengatungkan tangan kirinya. "Kalau begitu sinikan tanganmu."


Aku menurut, lalu meletakkan tangan kananku di atas telapak tangannya. Jery kemudian menggenggamnya erat dan memasukkan tangan kami yang saling menggenggam itu di dalam kantong jaketnya.


"Tanganmu dingin sekali. Seperti es," celetuknya sambil tertawa pelan.


"Asal kau tahu, orang yang tangannya dingin itu sebenarnya memiliki hati dan sifat yang cenderung hangat." Aku pernah mendengar kalimat ini dari suatu serial drama, tapi aku lupa judulnya.


"Benarkah?" Jery menyentak tak percaya. "Tapi kenapa Nona Alena begitu keras kepala, menyebalkan, dan berbuat kriminal? Tidak ada hangat-hangatnya sama sekali."


"Dasar kuda sialan!"


"Apa aku terlihat peduli?" tanyaku merasa gondok sendiri.


"Bercanda ya teman," katanya sambil menjulurkan lidah.


"Hmm."


"Omong-omong, bagaimana? Kau masih kedinginan?"


Aku menggeleng, "Sudah mendingan. Tanganmu hangat. Rahel kalau pegang tanganmu pasti tidak mau lepas, apalagi hujan-hujan begini."


Jery tersenyum sombong. "Rahel adalah salah satu gadis paling beruntung di dunia karena pernah berpacaran denganku selama nyaris tiga tahun. Bayangkan sebahagia apa dia? Tapi sayang sekali dia harus pindah ke Brazil dan terpaksa harus memutuskan orang yang selalu membuatnya tertawa. Sekarang yang kupikirkan adalah siapa yang bisa menggantikan posisiku di sana?"


"Mulai deh galaunya," protesku sambil merotasikan bola mata dongkol. Benar kata orang, orang yang baru putus cinta itu menderita. Bawaannya gelisah, galau, merana.


Tak berselang lama, suara dering panggilan tiba-tiba mengudara. Itu berasal dari ponselku.


"Aku angkat telepon dulu," pamitku seraya berjalan beberapa langkah menjauhi presisinya.


"Hallo?"


"Iya, Alena akan segera ke sana."


Panggilan berakhir, tubuhku langsung gemetar hebat. Aku panik. Tidak tahu harus apa.


"Ada sesuatu yang terjadi?" Jery menghampiriku.


Aku mengangguk lemas. dua detik setelahnya, air mata mulai membanjiri kedua belah pipiku.


seseorang dalam bahaya karenaku.