
"Bagaimana? semua sudah selesai ganti bajunya?"
Itu guru yang sama dengan guru yang membantu Jeje. Namanya Kinan. Guru sastra bahasa. Aku tadi mendengar desas-desus kalau guru yang satu ini keras kepala dan banyak maunya saat sedang berganti pakaian bersama-sama didalam kelas.
"Sudah Bu"
"Baik, untuk pertama kali ini Ibu akan memberikan kalian tugas tim, untuk melakukan praktek penyampaian berita seperti yang biasa kalian tonton ditelevisi. Pertemuan senin depan semua sudah harus siap, baik praktek maupun laporan teks beritanya. Ibu tidak mau tahu, kalau sampai ada yang terlambat, maka poin nilai aka dikurangi"
Seisi kelas langsung berisik.
"Satu tim terdiri dari dua orang teman sebangku" Ia memotong frasa sembari mengambil sebuah kotak kecil dari tas dinasnya "Setiap tim akan mendapat materi praktek berita yang berbeda, sesuai dengan kertas undi yang didapat. Ada yang ingin ditanyakan?"
"Bu"
Suara itu terdengar mengintrupsi. Semua anak lekas membalik badan menuju sumber suara. Rupanya Jery dengan tangan kanannya yang mengacung tinggi.
"Iya, Jery. Silahkan"
Jery mendecak "Saya tidak punya teman sebangku, Bu"
Bu Kinan mengernyitkan dahinya samar sebelum akhirnya menjawab "Bagaimana bisa?"
"Jumlah muridnya ganjil" jawab Jery cepat.
Kali ini Bu Kinan terlihat sedang memicingkan matanya. Ibu Guru itu memang sudah lumayan tua. Makanya penglihatannya juga sudah tak setajam kaum muda.
Tapi, entah mengapa prasaanku mendadak tidak enak.
"Itu..." Bu Kinan sepertinya menunjukku. Aku langsung memalingkan muka.
Tuhan, tolong jangan. Kali ini saja, jangan Jeryco.
"Teman didepanmu juga sepertinya tidak ada pasangan. Jery satu tim saja sama dia--"
"Bu! Aku sudah sebangku dengan Jeje yang tadi izin pulang. Otomatis aku satu tim dengannya" Selaku begitu saja. Sebenarnya tidak sopan, tapi demi harga diri aku harus berani.
Tidak seperti dugaan, Bu Kinan menggelengkan kepalanya "Tidak apa-apa, Jeje biar Ibu beri tugas susulan"
"Aku tidak mau dengan Alena, Bu" Cetus Jery dengan intonasi tak suka.
"Mereka tadi bertengkar dilapangan basket, Bu. Jambak-jambakan seperti sepasang singa lapar berebut mangsa" Siswi dengan suara menggelegar tadi pagi tiba-tiba menimbrung.
"Bagus kalau begitu, jika kalian satu tim pasti akan cepat akur. Ingat, solidaritas tanpa batas. Semakin cepat berdamai maka kalian akan semakin cepat bertumbuh dewasa"
"TAPI BU!!" kami berdua kembali kompak menolak.
"SO...LI...DA...RI...TAS.."
Bu Kinan benar-benar keras kepala dan banyak maunya. Dan sialnya, memang itu faktanya.
"Karena kalian baru saja bertengkar, maka tim kalian Ibu beri kesempatan untuk mengambil kertas materi terlebih dahulu" Ia berjalan menuju bangkuku.
"Baiklah, Alena atau Jery yang akaan mengambil kertas undiannya?" Tanya Bu Kinan sambil melirik kami berdua.
Aku menoleh kebelakang sebentar, Jery malah melototiku. Ck! rasanya aku ingin mencolok kedua matanya dengan garpu, kemudian ku congkel hingga lepas dan memasaknya dengan bumbu rica-rica. Dengan begitu, ia tidak akan berani lagi melototiku.
"Aku saja, Bu. Tangan Jery itu tangan sial"
Jery memukul kepalaku dengan ujung pena "Mulutmu!"
"YAK!!"
"Hei-hei! Apa kalian aka bertengkar lagi? Bu Kinan memukul pundakku pelan, berlanjut dengan pundak Jery.
Ku melirik Jery tajam, sebelum akhirnya mengambil kertas undian.
'Membawakan berita bertema skandal idol besar korea'
"Dapat apa?" Jery merebut kertas undian tersebut lalu membacanya.
"Skandal besar idol korea?"
Aku mengangguk ragu.
"Bagaimana dengan skandal Lucas Zander B.O.S, yang tujuh belas tahun lalu menghamili seorang gadis? menarik bukan?"