Remember You

Remember You
The Stars



Paman lantas beralih menuju meja rias untuk mengambil kursinya, sebelum akhirnya diletakkan berdampingan dengan kursi kerjanya. Ia kemudian menepuk-nepuk kursi kosong itu seraya berkata, "Sini, duduk."


Aku menurut, lalu segera mendaratkan pipi bokong di sana dengan kasar hingga terdengar suara gesekan antara kaki kursi dan Lantai.


Paman Melvin ikut duduk, lantas mengambil sepotong roti jahe dan mulai memakannya. "Wah.. roti jahe buatan Alena enak seka_"


"Nenek yang membuat, Alena hanya menghias," potongku dengan nada ketus.


"Wah.. hiasan kue buatan Alena bagus seka_"


"Apa sih, Paman? Tidak jelas sekali lagi-lagi aku memotong ucapannya. Kali ini garis rahangku berubah sinis.


Paman Melvin sontak terheran-heran. "Alena marah sama Paman gara-gara telepon tadi?"


Aku menggeleng cepat.


"Lalu Alena kenapa?"


"Tidak apa-apa," jawabku singkat.


"Kalau tidak apa-apa jangan_"


"Sudahlah, Paman jangan banyak bicara. Habiskan semua roti jahenya dan dua gelas susu itu sekalian biar tidak kurus kerontang seperti orang tidak diberi makan. Paman jelek kalau kurus!"


"Alena bilang Paman kurus? Padahal bulan ini berat badan Paman naik dua kilogram," terang pria itu.


"Oh,"


"Kalau Alena terus-terusan ngambek, Paman tidak yakin akan berumur panjang," imbuhnya seraya menghela napas panjang.


"Kenapa?"


"Ayahmu pasti akan menguliti Paman karena membuat putrinya ngambek seperti ini."


"Oh."


"Kalau begitu Paman Melvin minta maaf deh. Paman tidak bermaksud apa-apa tadi. Dimaafkan atau tidak?"


"Ya,"


"Sekarang giliran Alena yang minta maaf dengan Paman."


"Kenapa?"


"Karena Alena masuk kamar Paman tanpa permisi dulu. Itu tidak sopan."


"Maaf."


"Itu saja? Tidak ikhlas sekali." Paman Melvin masih tak terima.


Merotasikan bola mata dongkol, aku pun lantas bertanya dengan sensi, "Lalu Alena harus apa?"


"Cium pipi Paman," jawabnya enteng sekali seraya memasang tampang tak berdosa. Ia bahkan menunjuk pipi kanannya seakan memberi tahu tempat mana yang harus kucium.


"Ewh, tidak mau."


"Loh, kok tidak mau? Padahal dulu saat masih kecil Alena suka sekali cium-cium pipi Paman biar bisa dimaafkan."


"TIDAK!"


"Kalau begitu Paman akan melaporkan Alena ke kantor polisi karena melanggar privasi dan tidak mau diajak berdamai dengan ba__"


Cupp!


"Cerewet!"


Paman Melvin langsung memegangi pipi kanannya yang baru saja kububuhi kecupan singkat. Wajahnya cengo. Terlihat masih tidak percaya.


"A-apa Alena baru saja mencium Paman?" tanyanya gelagapan.


Aku menggeleng, "Tidak. Aku baru saja memenggal kepala Paman."


"O-oke. Jadi apakah ini tandanya kita berdua sudah baikan?"


Aku mengangguk, "Hmm."


"Baiklah. Sekarang Paman akan kembali bekerja, tapi Alena harus tetap di sini. Menemani Paman sambil menyuapi roti jahe, bisa?" tanyanya sembari mengaktifkan layar Laptop.


"Bisa."


Kedua sudut bibirnya kontan tersungging tinggi. Wajahnya nampak berseri. Kenapa pria ini terlihat senang sekali?"


"Aaa..." Paman membuka mulutnya lebar-lebar. Aku yang peka lantas mengambil satu potong roti jahe dan menyuapi presisi di sampingku ini layaknya anak bayi.


"Paman lagi mengetik apa?" Aku jadi penasaran.


Yang ditanyai langsung menoleh, "Lirik lagu. Sebentar lagi boygroup rookie MasterPiece akan comeback. Paman punya andil besar sebagai seorang komposer."


"Oh."


Ting!


Suara notifikasi pesan itu sontak mengudara saat aku ingin mengambil satu potong roti jahe.


"Ponselmu?"


Aku mengangguk, kemudian bergegas merogoh ponsel yang semula tersimpan di saku celanaku. Lalu melihat nama 'Jeryco' di bar notifikasi. Maka aku segera membuka pesan yang ia kirimkan.


📥 Besok jadi pinjam semua buku catatanku?


📤 Iya!/Besok sore akan langsung kukembalikan ke rumahmu


"Temanku. Aku mau meminjam bukunya besok," jawabku yang dihadiahi anggukan mengerti oleh Pamam Melvin.


"Omong-omong, Paman boleh tanya sesuatu ke Alena tidak?"


"Tanya saja, kenapa harus minta ijin?" tanyaku balik setelah menggigit kepala roti jahe.


Paman Melvin yang mendengar itu sontak memutar kursi kerjanya menghadapku. Kemudian menarik napas panjang dan menahannya sebentar sambil memejamkan mata selama lima detik, sebelum akhirnya membuang napasnya perlahan. Suasana kamar seketika berubah sesaat setelah Paman Melvin sengaja berdehem singkat.


"Kalau semisal ada seorang Laki-Laki mencintai seorang wanita yang tidak mungkin untuk dimiliki, apa yang harus sang Laki-Laki itu lakukan? Bisakah Alena menjawabnya?"


"Hamili saja si wanita."


"M-menghamili?" Paman Melvin terdengar gagap.


Aku mengangguk, meskipun sedikit skeptis. "Kalau si wanita itu hamil, pasti ia akan meminta pertanggungjawaban. Saat itulah si Laki-Laki bisa menikahinya dan memilikinya seutuhnya."


"Dapatkah pemikiran dari mana?"


"Novel," jawabku enteng. "Memangnya ada apa Paman? Tidak biasanya Paman bertanya tentang hal-hal seperti ini. Apa jangan-jangan Paman sedang berada di posisi yang sama dengan Laki-Laki itu?"


"Hei, mustahil! Paman bertanya untuk inspirasi membuat Lagu," sahut sang Paman selagi meneguk susunya.


"Bagiamana kalau kita ke balkon saja? Sepertinya hujan sudah reda. Paman ingin menghirup udara malam setelah hujan." Paman Melvin menawariku sembari memegang pergelangan tanganku. Kemudian membawaku menuju balkon sebelum aku sempat menerima tawarannya itu.


"Wah... Bukankah udara sehabis hujan deras itu segar sekali?"


Paman Melvin merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil menghirup napas dalam. Wajahnya terlihat damai sekali.


"Sini, mendekat ke Paman."


Aku menurut, lantas segera berjalan menuju railing balkon tempat lelaki itu berada.


"Apa Alena kedinginan?" Paman Melvin rupanya peka. Memang, semenjak kami keluar menuju teras balkon, kedua tanganku tak berhenti mengusap-usap lengan sebab angin malam yang menyeruak terasa begitu dingin dan menusuk-nusuk kulit.


"Tidak apa-apa, kok."


"Tidak apa-apa bagaimana maksudnya?"


******Happ******!


Detik itu juga kedua mataku membola sempurna. Sukses dibuat ternganga saat dua lengan kekar itu tiba-tiba memeluk tubuhku dari belakang.


"P-paman, apa yang k-kau lakukan?"


Ya, pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Paman Melvin.


"Hei, kenapa tubuhmu tegang sekali. Paman hanya ingin menghangatkanmu. Kau bisa sakit jika kedinginan," terangnya seolah mencoba untuk membuatku tenang. Tapi tetap saja tidak bisa.


"A-aku bisa masuk ke dalam ka_"


"Tidak boleh! Alena harus bersama Paman," interupsinya dengan cepat.


"Aku merasa tidak nyaman, Paman."


Namun, bukannya melepaskan, Paman Melvin justru semakin mempererat pelukannya. Tidak sampai di situ saja, ia bahkan mendaratkan dagunya di pundak kiriku sambil berkata, "Pejamkan matamu. Nikmati bagaimana deru angin ini menyapu kulitmu. Perlahan kau akan merasakan hangat dan nyaman menjadi satu. Percaya sama Paman."


Meskipun ragu, aku pun mulai melakukan apa yang ia minta. Memejamkan mata dengan perlahan sambil menikmati deru angin malam. Tubuhku memberi respon yang tak biasa. Rasanya aneh. Aku seperti akan terbang saat telapak tangan kanannya yang dingin mulai masuk ke dalam sweaterku, mengelus perutku dengan sangat lembut.


"Engh..." Lenguhan itu keluar dari mulutku tanpa kusadari. Aku semakin tidak karuan saat merasakan napas Paman Melvin yang panas menyapa kulit leherku.


"Dulu waktu Alena masih kecil, Alena suka sekali dipeluk Paman. Kalau sekarang bagaimana?"


"P-paman apa yang sedang kau lakukan?"


"Membuatmu merasa nyaman."


"Tapi ini terasa geli. Enghh... Paman... bisakah kau hentikan tanganmu yang bermain di perutku?"


Paman Melvin mengangguk, aku bisa merasakan itu dari gerakan dagunya di pundakku. Ia menghentikan aksinya. Lantas segera kubuka kedua kelopak mataku yang semula terpejam, sebelum akhirnya menatap Paman Melvin lekat melalui ekor pendar.


"Kenapa kau menatap Paman seperti itu?" tanyanya dengan senyuman tipis di sudut bibir. Ia juga menatapku dengan tatapan mata yang sayu. Namun, aku tak bisa mengartikan pesan tersirat dibalik matanya itu.


"Apakah wajar jika seorang paman dan keponakan melakukan sesuatu seperti yang baru saja kita lakukan?"


Ia mengangguk, lagi. "Ini bukan apa-apa. Hanya sekedar paman yang ingin memberikan kehangatan dan kenyamanan untuk keponakannya. Bukan masalah besar."


"T-tapi-"


"Alena, coba lihat dua bintang itu," ujarnya sembari menunjuk ke arah langit yang kini sudah terlihat tak berawan hitam seperti sebelumnya. Sinar rembulan mulai benderang dan bintang-bintang mulai bermunculan selagi awan hitam pamit menghilang setelah menurunkan hujan. Aku mengikuti telunjuknya dan mendapati dua buah bintang yang ia maksud.


"Dari sini, bintang itu terlihat saling berdekatan, bukan?" tanya pria itu sembari memandang objek yang tengah ia bicarakan.


"Ya."


"Tapi sebenarnya mereka sangat jauh. Terpisah oleh ruang yang hampa."


"Mereka bisa saling mendekat jika ingin bersama," cetusku begitu saja.


"Tapi mereka akan meledak dan hancur jika berdekatan. Semesta tidak memberikan mereka takdir untuk bersama. Mereka ada untuk berjauhan agar tidak merusak tatanan dunia."


Aku menoleh ke arahnya, "Tapi kenapa Paman Melvin tiba-tiba membicarakan bintang itu?"


Paman Melvin ikut menoleh ke arahku, kemudian mengunci pandangan di antara kami berdua. "Alena."


"Ya?"


"Sampai kapanpun jangan pernah hentikan Paman. Sekalipun itu akan membuat kita hancur."


[...]