Remember You

Remember You
The NoteBook



📥 Kau membuat program dietku gagal! Kenapa harus bawa banyak makanan?


Send a picture



📥 Dari tadi aku tidak bisa berhenti mengunyah. Rahangku sampai pegal.


📤 Itu namanya tanda terimakasih. Makan banyak tidak akan membuatmu mati.


📥 Iya tidak mati, tapi gemuk seperti babi.


📤 Omong-omong Tante Linda masih mengomel tidak?


📥 Sudah berhenti. Bibirnya bengkak karena banyak ngomel.


📤 Syukurlah, aku overthingking dari tadi.


📥 Sudah biasa, mama takut kalau anak tampannya ini memperkaos anak gadis.


📤 Memperkaos?


📥 Memperkosa.


📤 Oh, lagipula kau ini ada-ada saja. Mimpi basah disore hari. Sialan!


📥 Masa subur sis.


📤 Btw, tidak takut kepergok Rahel saat chat denganku begini?


📥 Tidak. Setelah chat, aku langsung hapus chatnya. Lagipula aku menyimpan kontakmu dengan nama laki-laki. Jadi aman.


📤 Ya sudah kalau begitu. Aku ingin belajar dulu.


📥 Okay, selamat belajar Nona Alena.


"Selamat belajar Nona Alena"


Oh, Tuhan tolong tarik jiwaku kembali ke bumi. Rasanya aku sudah terbang terlalu tinggi hingga meninggalkan galaksi Bimasakti.


Kurasa pria itu benar-benar ahli dalam mengontrol duality. Saat di dunia nyata ia menjengkelkan sekali, suka menyulut emosi, bahkan kerap kali membuat darah tinggi sampai rasanya ingin melemparnya ke matahari. Namun, saat di dunia maya ia terlihat begitu naif dan membuat hatiku holy shoot! Apa yang baru saja kupikirkan? Sadarlah Alena! Sadar!


"Tadi senyum-senyum sendiri, sekarang pukul-pukul kepala sendiri. Paman rasa kau harus segera dibawa ke rumah sakit jiwa untuk melakukan pemeriksaan. Jangan-jangan yang kau lakukan ini adalah gejala dari gangguan kejiwaan."


Paman Melvin terdengar mengejek.


"Sejak kapan Paman berdiri di situ?"


"Sejak kau bergumam 'selamat belajar nona Alena'. Siapa yang mengucapkan itu padamu? Laki-Laki? Teman? Pacar?" tanyanya seraya mulai mendaratkan pipi bokong pada sisi sofa yang masih kosong, kemudian melempar tatapan mengintimidasi seolah aku baru saja melakukan sebuah kesalahan besar.


"Bukan! Aku hanya menonton drama kemudian aku mengulang dialog adegannya saja. Serius," elakku cepat sambil mengacungkan dua jari membentuk kode peace.


Paman Melvin memiringkan kepalanya 30° ke kiri sembari mulai mengambil posisi berpangku tangan. Dari garis wajahnya tersirat bahwa ia sama sekali tidak percaya dengan ucapanku barusan. "Tapi dari tadi Paman tidak mendengarkan suara apapun."


"Ah anu! Mungkin gara-gara Paman sudah tua jadi telinga Paman mulai kehilangan fungsi pendengarannya."


Sepersekian detik kemudian, jantungku nyaris dibuat terjun bebas tatkala kedua telapak tangan big size milik Paman Melvin tiba-tiba menangkup pipiku hingga terdengar bunyi 'plak' cukup keras. Aku tersentak, sebab tanpa aba-aba ia mendekatkan wajahnya padaku. Mungkin jika dikalkulasi, jarak antara wajahku dengan wajahnya hanya berselisih sepuluh senti. Spontan kedua mataku membola karena tidak siap disuguhi pemandangan mendebarkan seperti ini.


"Paman memang sudah 35 tahun, tapi aura Paman masih seperti bujang 25 tahun," ujarnya membela diri, bahkan ia sempat memberi seringain kecil di akhir kalimat. Daripada menyeramkan, ia justru terlihat seperti jamet kuproy pinggir pasar yang suka menggoda gadis-gadis yang baru selesai berbelanja. "Coba Lihat! Apakah ada kerutan di wajah Paman?"


Sama sekali tidak ada.


"Ada. Banyak sekali! Kurasa kerutan di wajah Paman lebih banyak daripada kerutan di wajah Nenek." Aku sengaja. Ingin membuatnya tambah kesal.


"Ada apa ini? Kenapa kalian membicarakan Nenek di belakang? Pantas sejak dari tadi pantat Nenek kedutan," timbrung Nenek yang baru saja keluar dari area dapur sembari membawa nampan berisi kue kering dan segelas susu stroberi.


Paman Melvin yang melihat presisi Nenek pun segera bangkit dari sofa, lantas berjalan cepat ke arahnya sebelum akhirnya melakukan hal yang sama dengan yang sebelumnya ia lakukan padaku menangkup pipi Nenek secara tiba-tiba.


"Eomma, coba Lihat baik-baik. Apa benar wajahku banyak kerutannya?"


Agaknya setelah ini aku harus berterima kasih pada Nenek karena mau bekerja sama untuk membuat pria itu keki setengah mati.


"Aishh! Tidak mungkin. Aku kan rutin melakukan perawatan di salon kecantikan terkenal. Skincareku Juga mahal-mahal." Kedengarannya, Paman Melvin benar-benar tidak terima.


"Makanya, kau harus cepat-cepat menikah. Lelaki dewasa manapun akan awet muda jika diurus istrinya. Perawatan dan skincare mahal masih kalah jauh dengan dimanjakan istri di dalam kamar," jelas Nenek sambil meletakkan nampan di atas meja, lalu mengambil posisi duduk di samping kananku, sementara Paman Melvin terlihat berkomat-kamit tidak jelas sebelum akhirnya ikut duduk di samping kiriku dengan sengaja mementalkan tubuhnya di atas sofa yang empuk.


"Nenek buatkan kue kering dan susu stroberi untuk temanmu belajar. Al_"


"Oh, ya! Paman sudah rela memohon pada Ayahmu agar masa menginapnya diperpanjang satu hari dengan syarat kau harus mau belajar selama di sini. Tapi kenapa dari tadi malah main HP terus bukannya belajar?"


Belum apa-apa aku sudah mendapat omelan. Jangan-jangan Paman Melvin ini punya dendam kesumat gara-gara kukatai banyak kerutan tadi.


"Hmm, iya, aku akan belajar sekarang," sahutku malas-malasan.


"Alena, omong-omong kenapa ada banyak buku fotocopy di sini? Apa akan kau jadikan bungkus gorengan?" tanya Nenek polos sekali.


Terkekeh pelan, aku lantas menjelaskan, "Sebentar lagi kan UTS, jadi aku meminjam catatan temanku dan kufotocopy untuk belajar."


Paman Melvin terlihat menautkan kedua alisnya, sebelum akhirnya ikut bertanya, "Memangnya kau tidak punya buku catatan sendiri?"


"Punya. Tapi kosong. Aku tidak pernah menulis catatan dari papan tulis," jawabku enteng.


Mendengar itu, Paman Melvin spontan mengulas senyuman bangga sambil mulai mengelus pucuk rambutku, "Wah... Kau benar-benar anak yang malas."


Sialan! Kukira ia akan memujiku.


"Kau dulu juga seperti itu Melvin. Malah lebih parah lagi." Nenek tiba-tiba menginterupsi sembari mencebikkan bibir bawahnya, seolah tengah menampar Paman Melvin dengan kenyataan di masa lalu. "Sudah bandel, kerajaannya di kelas cuma tidur, sering bolos pelajaran, bahkan Eomma masih kesal kalau mengingat dulu Eomma pernah dipanggil kepala sekolah gara-gara kau suka menggodai guru BK. Tapi bisa-bisanya kau meraih juara satu di kelas."


Aku tersentak. "Juara satu?"


"Iya, dari belakang."


Sial! Aku hampir tertawa.


"Ekhemm... oke-oke! Mari lupakan soal itu dan coba kita lihat buku-buku catatan ini. Aku penasaran sekali bagaimana pelajaran anak jaman sekar-astaga! Apa ini?" Paman Melvin memekik kaget tepat di saat lembar pertama buku fotocopyan itu dibuka. Kedua matanya sampai melotot lebar nyaris mencuat.


Aku mendekat ke presensi Paman untuk ikut melihat sesuatu yang membuatnya terheran-heran. "Oh... Ini rumus-rumus matematika, Paman."


"Benarkah? Paman kira sandi rumput," kelakarnya sembari membalik satu-persatu halaman, "pinjam buku catatan siapa? Laki-Laki ya?"


"Kok tahu?"


"Soalnya tulisannya jelek."


Kurasa mulut Paman Melvin ini memang tidak ada filternya.


"Siapa namanya? Kenapa pinjam dengannya?" Kali ini ia terdengar seperti sedang menginterogasi.


"Jeryco. Dia juara satu di kelas."


"Dari belakang ya?"


"Enak saja! Dia itu juara satu bertahan dari kelas sepuluh."


Nenek mendecih pelan, "Kenapa Vin? Mau cari teman ya?


"Tidak. Aku bangga kok juara satu dari belakang, tidak perlu cari teman," sahutnya kemudian kembali bertanya, "cuma sebatas teman sekelas kan?"


"Vin... Vin... kenapa kau bertanya seperti itu pada keponakanmu?" Nenek menatap sewot Paman Melvin. "Sudah-sudah! Sekarang Alena belajar. Jangan lupa habiskan kue kering dan susu stroberi yang sudah Nenek buatkan. Nenek akan menunggumu di kamar selagi kau belajar, oke?"


Aku mengangguk antusias.


"Dan kau bujang Lapuk!"


Paman Melvin sontak menunjuk dirinya sendiri. "A-aku?"


"Kau bilang sedang sibuk menggarap album, cepat selesaikan dan jangan ganggu cucuku yang tengah belajar untuk ujian. Paham?" Nenek menindak tegas. Paman Melvin mengangguk dan segera lari mengibrit menuju ruang kerjanya.