
Sudah lebih dari tiga puluh menit aku berada digerbang sekolah. Menunggu tak tentu seperti orang dungu. Ada sedikit kecamuk geram saat belum lama Ayah meemneriku kabar bahwa ia tidak bisa datang menjemput. Katanya ada rapat mendadak dan ia sudah menyuruh seseorang untuk menjemputku. Namun kenyataannya sampai kakiku mengakar pun tidak ada orang ku kenal yang datang menghaampiri.
"Kau belum pulang?"
Tubuhku tergemap "Sialan! mengagetkan saja"
Laki-laki itu langsung mematikan mesin motor ninjanya. Kemudian beralih membuka helm yang menutupi seluruh wajahnya. "Sekolah sudah mulai sepi"
"Tahu"
Samar-samar ku dengar ia tergelak pelan "Sedang menunggu jemputan ya?"
Aku mengangguk malas.
"Dijemput siapa?"
"Malaikat maut"
"Wow-"
"Berisik Rik! sudah pulang sana! aku tidak mau melihat pacar montokmu itu mengomel didepanku" raungku sembari menatapnya tajam. Bukannya menurut, ia malah menurunkan standar motor ninjanya, lalu turun dan berdiri disampingku.
"Koreksi! aku tidak suka dipanggil Rik, Rico atau apapun itu" Ia menyibakkan poninya kebelakang, "Panggil aku Jery, lebih elegan dan berkelas. Cocok untul wajahku yang glamour"
Masa bodoh, siapa yang peduli.
"Mau ku antar? aku ada dua helm" Jery menunjuk helm bogo hitam yang digantung distang sisi kiri motor.
Aku menggeleng konstan "Tidak usah. Sudah ku bilang aku tidak mau berurusan dengan pacar montokmu"
"Tapi kalau sudah sore, sekolah menjadi sangat menyeramkan. Dulu ada siswi hamil yang bunuh diri dari lantai atas gedung. Konon katanya ia sering menampakkan diri ketika sekolah mulai sepi" ungkap Jery sambil memasang mimik muka tidak jelas. Kedua matanya melotot, bibirnya menyeringai, dam sepasang tangannya terulur kedepan. Ku pikir ia sedang mencoba menakutiku dengan mereka adegan penampakan hantu itu. Tapi sayang sekali, ia malah terlihat Cringe.
"Hidupku jauh lebih menyeramkan. Kalau kau tahu pasti tidak bisa tidur semalaman"
Jery mengernyitkan dahi bingung "Ah, benarkah?"
Memutar bola mata malas, aku pun mendorong lengannya sedikit menjauh, "Pulang sana! aku malas melihat wajahmu"
"Tidak!" Ia berucap tak kalah lantang "Aku akan menunggu sampai ada yang menjemputmu"
"Sok akrab!"
"Sudah ku bilang hantu disini menyeramkan. Kalau melihatnya kau akan pingsan" Jery melipat kedua tangannya didepan dada. Aku sudah kehabisan kata-kata untuk menolaknya.
Tidak ada pembicaraan yang berlangsung saat itu. Kami sama-sama diam. Aku menatap kosong ke jalanan, sementara Jery sedang bermain ponselnya.
Sekitar sepuluh menit berlalu, sebuah mobil sedan hitam yang begitu mewah nampak menurunkan lajunya dari arah barat. Mobil itu berhenti didepanku dan Jery yang baru saja memasukkan kembali ponselnya dalam saku celana.
"Itu jemputanmu?" Jery amat penasaran.
Aku menggerakkan bahu sebab tidak tahu "Entahlah, aku juga tidak tahu siapa yang menjemputku"
Sepersekian detik kemudian, kaca mobil itu perlaha bergerak turun. Menampilkan secara gamblang siapa pengemudi dibaluknya.
"Dia yang menjemputmu?" Jery begitu terkesima melihatnya.
"Iya Jery, dia pamanku" Laki-laki itu sontak mulutnya tak percaya "Kau serius?"
Aku mengangguk, lantas berganti menepuk pundaknya "Terimakasih sudah menemaniku menunggu. Maaf juga karena tadi melempar tas dan merebut bangkumu"
Jery masih membeku. Aku pun segera melangkah memasuki mobil. Tidak mau membuat paman menunggu.
"Dia temanmu?" tanya paman sambil terkekeh. Aku mengangguk sembari menutup pintu mobil.
Tak berselang lama paman pun memberi klakson pada Jery sebagai salam perpisahan sebelum akhirnya kembali menjalankan kemudi mobil.
Setelah dipikir-pikir, apa yang membuat Jery membatu seperti itu setelah melihat pamanku?
Sudah berapa lama ya tidak bertemu?
Ini aneh.
"Alena rindu paman tidak?"
Ya, pria yang tengah sibuk dengan kemudinya ini adalah pamanku, Melvin Steward. Paman kesayangan. Adik kandung dari mendiang ibu.
"Biasa saja"
Paman Melvin terkekeh pelan "Kenapa Alena memandang paman seperti itu? melotot seperti boneka mampang pinggir jalan"
"Kenappa? tidak percaya?" Paman Melvin melempar pertanyaan, sementara aku malah semakin penasaran.
"Ayah meminta paman untuk menjemputku?"
Paman Melvin meringis, "Iya, asal Alena tahu, sejak kemarin paman mengajukan diri pada Ayahmu untuk menjadi sopirmu satu hari saja. Biar bisa berduaan dengan keponakan tercinta. Paman merindukanmu karena sudah lama tiidak berjumpa. Bukankah pamanmu ini baik sekali?"
Aku mengernyitkan dahi samar. Sejak kapan paman Melvin banyak bicara begini? jadi sedikit cerewet. Padahal seingatku dulu saat masih kecil, aku harus membuatnya marah atau kesal terlebih dahulu agar ia mau berbicara padaku. Paman Melvin itu irit-irit kata, tetapi perhatiannya yang luar biasa membuatku menobatkan sebagai 'Paman kesayangan'.
Maka disaat lampu merah menghentikan laju kendaraan, aku mulai mendekat padanya. Tidak lagi melotot, kali ini memicing. Mencari celah-celah untuk menemukan bukti bahwa pria disampingku ini adalah paman Melvin yang sama dengan dua belas tahun lalu.
Sekarang usianya sudah mencapai angka tiga puluh lima tahun. Setidaknya ia sudah harus memiliki satu atau dua kerutan di area mata kalau memang ia adalah manusia normal. Tetapi sepertinya paman Melvin seorang vampir. Ia tidak menua sama sekali. Malah terlihat semakin segar saja.
"Apakah paman Melvin punya pacar?"
Pria itu sontak mencelos "Pertanyaanmu aneh, ganti topik!"
"Sudah kuduga. Paman ini tidak pernah laku. Kasihan sekali sih" ucapku meledek. Sejenak ku tangkap ekspresinya yang berubah kecut untuk beberapa saat, sebelum akhirnya jemarinya mendaratkan satu sentilan keras pada dahi lapangku.
"Enak saja! Bukan tidak laku, paman ini pemilih. Punya standar yang tinggi, tidak asal memilih. Alena mana tahu soal cinta? jomblo dari lahir jangan sok keras!"
Menohok sekali.
Lantas aku pun beralih melipat kedua tangan didepan dada. Mengulum bibir bawah sambil sedikit berpikir.
"Jadi apakah bibi Laura itu tipe paman sekali?" Entah tiba-tiba aku teringat dengannya. Gadis cantik yang selalu digoispkan dengan paman Melvin.
"Dapat pemikiran dari mana?" Pria nyaris tua itu melirikku tajam. Lucu. Aku jadi inging mencolok matanya dengan pena yang masih tersimpan pada saku dadaku.
"Paman baru saja menciptakaan sebuah lagu. Isinya tentang perbudakan cinta. Semua netizen bilang kalau itu kode keras yang paman berikan pada bibi Laura. Jujur saja paman! tidak perlu malu-malu seperti anak perawan" kelakarku sembari menahan tawa. Paman Melvin terlihat salah tingkah. Ia gelisah sampai-sampai kedua belah pipinya ikut memerah.
"Apa salahnya?" Ia masih mencoba mengelak "Aku ini seorang komponis. Seluruh dunia juga tahu itu. Aku bekerja di MasterPiece Entertainment untuk menciptakan sebuah lagu".
Oh, ya! perlu kalian tahu jika paman Melvin dan ayahku itu mantan Boygroup B.O.S (Best Of Stars) yang sangat terkenal pada masanya. Beranggotakan lima orang tampan keturunan dewa dari surga.
Setelah kontrak grup mereka selesai, mereka pun mulai menjalani kehidupan layaknya manusia seperti biasanya. Melanjutkan asa masing-masing. Ayah meneruskan perusahaan Opa, sementara paman Melvin masih terikat agency yang pernah menaungi grupnya sebagai seorang komponis. Begitu juga dengan para member lain. Mereka sudah bisa hidup bebas sekarang. Sudah banyak yang berkeluarga juga, sayangnya paman Melvin adalah pengecualian.
"Hei! paman hampir saja lupa" cetusnya tiba-tiba "Ayahmu tadi bilang kalau kau lupa membawa uang saku. Jadi paman membelikanmu burger. Cepat makan, kau punya magh!"
"Dimana paman? aku tidak melihatnya"
Paman Melvin lekas menunjuk "Itu didalam dashboard"
Tanpa berlama-lama aku pun membukanya "Kenapa juga disimpan dalam dashboard? memangnya ada yang mau mencuri?"
"Biar tetap hangat" Ia tergelak tatkala menangkap mimik mukaku yang tak mengerti sama sekali "Itu akal-akalan paman saja"
Paman Melvin itu jalan pikirannya memang unik. Aku pun mengiyakan dengan anggukan konstan, lalu segera mengambil sebuah box burger tersebut. Tetapi sebelum itu, atensiku mendadak dialihkan oleh dua lembar foto yang juga tersimpan didalam dashboard. Aku memilih untuk mengambil foto itu alih-alih box berisi burger.
Paman Melvin belum sadar. Lekas aku memandang lamat-lamat foto pertama yang membuat hatiku menghangat. Foto itu berisi lima member B.O.S yang sedang berfoto disebuah panggung besar. Dibelakangnya juga terlihat para fans tengah mengangkat lightsticknya tinggi-tinggi. Sepertinya foto itu di ambil setelah konser spektakuler berakhir. Ayah pernah bilang padaku jika jonser sudah beraakhir, mereka berlima selalu menyempatkan diri untuk berfoto bersama para fans sebagai bentuk kenang-kenangan. Itu manis sekali.
Sedangkan foto kedua ini sedikit berbeda. Perasaaan hangat tadi seketika berubah menjadi sedikit sendu. Didalam foto ini terdapat Paman Melvin dan Ibu saling berpelukan dengan seragam SMA masih membalut tubuh mereka masing-masing. Mereka berdua hanya terpaut dua tahun, tetapi bisa begitu akur.
"Alena-ah!"
Aku cukup terkesiap manakala secara tiba-tiba Paman Melvin mengambil paksa kedua foto itu dari tanganku. Paman langsung memasukannya kembali pada dashboard dan menutupnya keras hingga aku terkesiap untuk yang kedua kalinya.
"Paman tadi menyuruhmu apa?" sisi menyeramkan dari paman Melvin keluar.
"Makan"
"Yasudah makan. Habiskan!" titahnya dengan intonasi yang sangat datar. Aku hanya bisa mengangguk pasrah dan mulai membuka mulut lebar-lebar untuk menyantapnya.
"Paman tahu Ayah akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat lagi?" tanyaku sambil terus mengunyah. Paman mengindahkan itu dengan pejaman mata sesaat.
"Skandal ayah--"
"Sudah tidak perlu dipikirkan," ujarnya menyela "Netizen memang seperti itu. Teori konspirasi yang mereka trendingkan itu belum tentu benar. Mereka hanya kurang kerjaan saja".
Menelan makanan tak jenak. Lantas membuatku memandang Paman Melvin skeptis. " Mereka bilang Ayah melarikan diri setelah kasus bunuh diri Ibu yang belum menemukan titik terang. Kemudian kembali dengan menjabat sebagai seorang Direktur perusahaan besar. Mereka jadi ikut menyeretku"
Paman Melvin lekas membawa satu tangannya untuk mengelus puncak kepalaku, sementara ia masih membagi fokusnya untuk membelah jalana kota. Ia tersenyum manis "Percayalah, meraka hanya omong kosong. Netizen tidak tahu apa-apa"
"Tapi paman" aku menjeda frasa kemudian menarik napas begitu dalam " Aku semakin yakin jika kehadiranku didunia ini adalah sesuatu yang sangat mereka benci"
"Apa maksudmu, Al?"
"Mereka tidak pernah menginginkan idolanya menghamili seorang gadis dan memiliki anak"