Remember You

Remember You
The Warning Letter



"ANAK-ANAK ADA APA INI?"


Sampai aakhirnya Tiger ssaem datang. Semua langsung berlari menuju kami berdua, berlagak seolah memisahkan. Dasar muka dua!


"Kenapa kalian bertengkar seperti ini?" Tiger ssaem langsung menyemprot tanpa sela. Aku dan Jery dijejer dihadapan anak-anak lain.


Jemariku spontan menunjuk ke arah Jery "Dia yang mulai duluan Ssaem"


Jery tergemap "Enak saja! Dia duluan Ssaem tiba-tiba menjambak rambutku"


"Jeje sakit ssaem, tapi kuda ini tidak mau mengantarnta ke UKS. Katanya Jeje pura-pura" tandasku sembari mengarahkan ekor mata pada eksistensi Jeje yang masih berada ditempat dan kondisi yang sama. Masih tidak ada yang membantunya. Ia bahkan terlihat hampir pingsan.


"Jelas-jelas kau! Kok aku yang disalahkan?" tanya Jery sambil melotot ke arahku.


"SUDAH!" tegas Tiger ssaem yang membuat kami berdua membisu seketika.


"Kalian ikut ssaem ke ruang BK sekarang" Ssaem memotong frasa, kemudian menunjuk Jeje "Antar teman kalian itu ke UKS lalu lanjutkan pemanasan dan silahkan berolahraga sendiri!"


"Baik ssaem" semua menjawab serempak.


Tiger ssaem langsung memintaku dan Jery mengekorinya dari belakang. Selama perjalanan disepanjang di sepanjang lorong menuju ruang BK, kami berdua saling menggertak, melotot, mencibir dan hampir mengulang adegan jambak-jambakkan jika saja Tiger ssaem tidak menoleh kebelakang. Pokonya tidak ada yang mau mengalah.


Guru BK dengan makeup super tebal dan gincu semerah darah itu mulai menyedekapkan tangannya diatas kursi. Melmparkan tatapan tajam padaku dan Jery yang kini tengah duduk berdampingan. Tiger ssaem juga menaruh penuh atensinya pada kami berdua. Aku sontak menunduk sembari memainkan kuku jari. Entah kenapa, aku tiba-tiba merasa terintimidasi oleh mereka.


"Alena duluan ssaem, bukan aku" Jery membuka kata terlebih dulu. Tetapi sangat menjengkelkan karena ia menuduhku.


Aku menggeleng tidak setuju "Dia duluan! Mana ada ketua kelas yang menuduh temannya berpura-pura sakit?"


"Biasanya anak-anak mencari alasan untuk membolos jam olahraga"


"Tapi Jeje tadi hampir pingsan karena sakit perut--"


"DIAM!!!"


Sialan!


Aku, Jery dan Tiger ssaem sampai terperangah tatkala guru BK itu mendadak berteriak dengan lantang. Sukses membuat jantung hampir pindah posisi dan melorot ke lambung. Terkejut bukan main.


"Apa perlu ssaem melapor orangtua kalian?"


"JANGAN!" Kami berdua serempak menolak.


Apa? yang benar saja?


"Minta maaf atau" Guru BK itu mengambil ponselnya "ssaem akan telepon?"


"Alena, aku m-minta maaf" Jery tetap berusaha tampil gantle.


Aku tertohok beberapa saat. Jery meminta maaf lebih dulu? Apa artinya kali ini dia kalah?.


"Apa Alena tidak mau meminta maaf pada Jery?"


"A-ah iya. Aku minta maaf" Kalimat itu terdengar sangat cringe.


Guru BK itu mengangguk-anggukan kepala seolaah masalah sudah beres.


"Kalian ini kelas 12, sebentar lagi banyak ujian. Bukannya sibuk belajar malah sibuk bertengkar. Mau jadi apa kalian nanti?" Ibu guru berdempul tebal itu beralih membuka lacinl mejanya. Mengeluarkan dua lembar kertas putih, lalu menulis sesuatu disana sebelum akhirnya diberibl stempel berwarna ungu.


"Ini surat peringatan. Jika kalian mengulanginya lagi maka, ssaem akan langsung menelpon orangtua kalian" imbuhnya seraya menyodorkan masing-masing dari kami satu kertas peringatan.


Tiger ssaem bangkit dari kursinya "Ingat! kalian suda kelas 12. Jangan main-main!"


Baik aku maupun Jery, kami sama-sama mengangguk. Tiger ssaem keluar dari ruang BK lebih dulu.


"Sekarang kalian silahkan kembali ke kelas" ucap guru BK


Pada akhirnya kami berdua pun bergegas keluar.


Disaat langkah kami berdua hampir di pelataran kelas, aku melihat Jeje sedang dibantu berjalan oleh seorang Guru. Aku lekas berlari ke arahnya.


"Jeje, kau kenapa?"


Jeje lemas, tidak sanggup menjawab.


"Magh Jeje kambuh dan ia dipersilahkan pulang. Ayahnya juga sudah menunggu didepan. Kalian berdua cepat ganti baju sana. Setelah ini bu Guru akan masuk ke kelas" Guru itu sembari kembali berjalan menuntun Jeje.


Aku dan Jery tak sengaja saling melempar pandangan.


"Apa lihat-lihat?" Aku masih merasa kesal.


"Siapa juga yang melihat? memangnya situ cantik?" Jery masuk ke kelas meninggalkanku diambang pintu.