
Jeryco.
Aku tidak bisa mengalihkan perhatianku dari eksistensinya saat ini. Sumpah demi apapun, sejak pagi tadi, tepatnya saat bel ujian pertama di mulai, aku tidak bisa fokus sama sekali. Otakku tidak bisa diajak berkompromi. Tidak tahu kondisi. Padahal masih ada lembar jawaban yang harus buru-buru diisi.
Sepuluh menit lagi waktu ujian akan berakhir. Bukannya frustasi karena masih ada dua soal lagi yang harus segera dipungkasi, aku justru frustasi karena dibuat penasaran sampai keki sendiri.
Ya, penasaran dengan alasan kenapa Jery tiba-tiba mengirimiku pesan berisi kata-kata mutiara yang begitu meresahkan.
'Fvcck'
Well, kau tahu seberapa besar effort yang kukeluarkan agar aku tidak mati penasaran?
Aku bahkan bergadang sampai pukul sebelas malam untuk menunggu baterai ponselku terisi sampai benar-benar penuh. Kemudian aku membalas pesannya seperti ini; Kau waras?
Centang dua abu-abu, belum dibaca.
Lalu kembali memancing dengan mengirim; Kau baik-baik saja?
Centang dua biru, hanya dibaca, tidak dibalas.
Aku semakin geram. Rasa penasaranku sudah berada di puncak ubun-ubun. Maka, aku memutuskan untuk mengirimkan satu pesan lagi sebelum tidur. Isinya, Baca saja\= mandul.
Centang satu abu-abu, ia sedang offline.
Oke, sepertinya ia takut mandul. Makanya tidak baca, tapi menghilang secara tiba-tiba.
"Waktu ujian tinggal Llma menit lagi. Yang sudah selesai segera dikumpulkan di depan dan bisa siap-siap untuk pulang," ujar bapak pengawas sembari menilik jam yang melingkari pergelangan tangannya.
Sudah bisa ditebak, makhluk bumi bernama Jeryco langsung beranjak dari bangkunya, membawa langkah ke depan dan menjadi yang pertama mengumpulkan.
Biasalah, dia 'kan juara kelas'.
Aku yang sudah merasa dongkol karena tak kunjung mendapat jawaban soal pun memilih untuk menghitung benik.
"A-le-na-can-tik," batinku sambil menunjuk satu persatu benik seragamku. Aku mendapat jawaban E.
"A-le-na-a-nak-baik," aku mengulangi hal yang sama. Kali ini aku mendapat jawaban B.
Baru setelahnya, segera kuisi LJK yang masih kosong itu dengan ramalan hitung benik. E dan B. Ini soal peruntungan. Kalau jawabannya benar, tandanya aku sedang hoki, tapi kalau salah ya sudah, mau bagaimana lagi? Jangan dipikirkan. Nanti bisa kena darah tinggi.
Aku pun bergegas mengumpulkan LJK di depan kelas. Kemudian berkemas sembari menunggu bel pulang sekolah berbunyi. Diam-diam kuamati gerak-gerik Jery dari bangkuku yang terletak dua baris di belakangnya. Ah, kebetulan kami berdua ada dalam satu ruang ujian yang sama. Hanya saja posisi duduk kami jadi social distancing gara-gara harus urut sesuai nomor absen.
Hari ini ada yang berbeda darinya. Yang biasanya berulah sok keren, sok ganteng, sok jagoan dan tentunya menyebalkan, kini mendadak terlihat lunglai dan lesu. Terbukti saat postur tubuhnya terlihat lemas tak bertulang dengan pandangan kosong menghadap depan sambil memainkan kuku jari tangan-aku tadi sempat meliriknya saat hendak kembali ke bangku setelah mengumpulkan jawaban di depan.
Tak berselang lama, suara bel yang ditunggu-tunggu pun akhirnya berbunyi nyaring. Seisi kelas langsung berhamburan keluar untuk pulang. Namun, lain halnya dengan Jeryco yang masih stagnan duduk manis di atas kursinya.
Merasa ada yang tidak beres, aku pun memilih untuk berjalan mendekati presisinya. Jery yang sadar lantas menoleh dengan wajah datar tanpa ekspresi. Bibirnya pucat pasi dan matanya sedikit sembab.
"Kau baik-baik saja, Jer?" tanyaku berempati. Ia mengangguk lemas.
"Aku baik-baik saja, kok," elaknya seraya mulai mencangkLong tasnya.
"Mau ke mana?" Aku menahan lengannya saat ia hendak melenggang pergi begitu saja.
"Pulang," katanya.
"Oke, sebelum kau pulang, ijinkan aku mengajukan satu pertanyaan," aku menaikkan satu alis, sedang berusaha merangkai kata yang lugas agar rasa penasaranku bisa tersampaikan, "kemarin lusa... apa ada sesuatu yang terjadi padamu?"
Jery yang mendengar itu sontak menghela napas panjang. Air mukanya berubah semakin masam. Apa aku baru saja salah bicara? Mendadak aku merasa tidak enak.
"Aku sedang tidak ingin membahasnya," ujarnya dengan intonasi suara terdengar gusar. Tanganku yang menahan lengannya bahkan ditepis sedikit kasar. Lalu tanpa berkata-kata lagi, ia mulai berlalu pergi.
"Kenapa kau mengikuti, Alena Zender?" Jery tiba-tiba berceletuk. Aku yang sedari tadi diam-diam membuntutinya dari belakang sambil berjalan mengendap-endap spontan berhenti. Pria itu memutar tubuhnya 180° menjadi menghadapku, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, raut wajahnya hambar bagaikan sayur tanpa garam. Merasa terintimidasi, aku pun berjalan mundur beberapa langkah sambil mencari alasan, "Pesan kemarin lusa.... kau bilang ingin bunuh diri. Aku takut kau akan merealisasikannya di sini. Makanya aku mengikutimu kemari."
"Maaf, waktu itu aku tidak bisa mengontrol emosi," sesalnya, kemudian kembali berbalik badan dan berjalan mendekati railing rooftop. Ia terdiam untuk beberapa saat.
"Ada masalah?" Aku mulai menyusul eksistensinya.
Kulihat Jery menganggukkan kepalanya, meskipun pergerakannya begitu samar. "Rahel memutuskanku."
Kedua bola pendarku sukses mencelos, bibirku menganga, Jiwaku sampai terpental. "Ha? Sungguh? Demi apa?"
Jery menatapku aneh.
"A-ah maksudku kau sedang tidak bercanda, bukan?" Aku merendahkan nada bicaraku. Yang tadi memang terdengar bersemangat karena masih terbawa efek terkejut bukan kepalang.
Ia mendengus panjang, "Apa aku terlihat sedang bercanda?"
"Tidak."
"Kau masih ingat kan waktu kita di Sungai Han tiba-tiba Rahel meneleponku, memintaku untuk segera pulang karena ia sudah menunggu di rumahu?" Jery memastikan, aku kontan mengiyakannya dengan anggukan. "Ternyata ia tidak datang sendirian. Ia datang bersama orangtuanya."
"Kenapa?" tanyaku dibuat makin penasaran.
Pria itu tertawa, tapi bukan dalam arti jenaka, Jelas ia sedang berpura-pura untuk menutup luka. "Ia akan pindah ke Brazil. Makanya ia memutuskanku. Dan mungkin malam itu adalah hari terakhir aku bisa melihat Rahel."
"Kau tahu? Aku--" Jery menjeda kalimatnya untuk menghirup napas dalam, kemudian menalan ludah kasar, "aku seperti kehilangan separuh jiwaku. Sakit sekali."
Tentu saja. Ia sudah menjalin hubungan bersama Rahel sejak dua tahun silam. Ia pasti syok dengan fakta bahwa seseorang yang selama ini selalu berada di sampingnya tiba-tiba mendeklarasikan kalimat perpisahan. Jiwanya pasti tak tenang.
"Hei, Jery! Kau kenapa?"
Aku seketika panik saat Jery secara mendadak memengangi keningnya sambil meringis pahit. Kedua kelopak matanya menutup rapat seakan tengah menahan sesuatu yang terasa menghantam di kepalanya. Ia Limbung. Tangan kirinya berusaha berpegangan erat pada railing rooftop karena perlahan keseimbangan tubuhnya hilang.
"Kau sakit?" Aku semakin panik. Ditambah Jery yang tidak menjawab pertanyaanku sama sekali. Aku berusaha menahan tubuhnya yang semakin lemas sembari mengambil ponsel di saku rok untuk mencari bantuan. Namun, dua detik kemudian Jery ambruk tak sadarkan diri.