
"Ini, cepat makan," titahku seraya menyodorkan paper bowl berisi bubur ayam yang masih panas.
Bukannya segera menerima, Jery malah merengek, "Tidak bisa makan sendiri. Tanganku kan diinfus."
"Yang diinfus tangan kiri, lagipula kau juga tidak kidal," kataku.
Ia menggeleng. Mendadak jadi sedikit manja. "Suapin."
Aku menunjuk diriku sendiri, setengah ragu. "Aku?"
"Ya siapa Lagi?"
"Ekhem..."
"Kau flu?" tanyanya lugu sekali.
"Tidak. Tadi dahaknya tersangkut di tenggorokan," jawabku beralibi.
"Oh... Kalau begitu cepat suapi aku," pintanya sambil membuka mulut lebar-lebar.
Wah! Padahal tadinya ia terlihat seperti orang yang paling tersakiti, tapi sekarang ia berlagak seperti seorang bayi.
Maka, tanpa perlu berlama-lama, aku pun segera menyuapkan sesendok bubur ke dalam mulutnya.
"Hah! Panas! Hah!" Jery mengipas-ngipas Lldahnya. Buru-buru aku memberinya segelas air mineral. Tak berselang lama, ia melempar tatapan sinis. "Buburnya masih panas. Tiup dulu. Kau mau membuat lidahku terbakar?"
"Baik, Paduka Jeryco. Saya bersalah. Hukum saya dengan kematian," ucapku dengan nada yang dibuat-buat seperti dialek drama saeguk. Kemudian kembali menyuapinya dengan bubur yang sudah kutiup seperti permintaannya. Hari ini ia adalah seorang raja, dan aku pelayannya.
"Omong-omong bagaimana kau membawaku ke rumah sakit? Kita kan ada di rooftop saat aku pingsan." Jery tiba-tiba penasaran.
"Melemparmu dari rooftop, kemudian jatuh di taman dan kuseret sampai ke rumah sakit."
"Kok aku tidak mati?" Kelakarnya.
"Aku meminta tolong Ahjussi."
"Ahjussi siapa?" tanyanya sembari menelan bubur yang baru kusuapkan.
"Sopir yang biasa mengantar-jemputku ke sekolah," jawabku, "kau berhutang budi padanya karena ia yang menggendongmu dari atas rooftop sampai ke mobil. Auh!"
"Di mana Ahjussi itu sekarang?"
"Aku menyuruhnya pulang."
Ia mengangguk paham, "Lalu kenapa kau tidak pulang?"
"Lalu siapa yang akan merawatmu wahai paduka Jeryco?" Pria itu tersenyum senang. "Bagaimana kalau orang tuamu mencarimu wahai pelayanku?"
Sial, aku hampir tertawa.
"Jangan pikirkan aku. Aku sudah menyiapkan seribu alasan untuk itu," jelasku memasang wajah sombong.
"Aaaa... oke-oke," serunya sambil kembali menerima suapan bubur dariku.
...----------------...
"Kau pulang saja. Aku sudah tidak apa-apa."
"Setidaknya aku harus mengantarmu sampai ke dalam rumah. Lagipula kenapa sih keras kepala ingin pulang?"
"Aku tidak suka bau steril rumah sakit. Bikin pusing," jawabnya gamblang tanpa pikir panjang.
"Nanti kalau tiba-tiba pingsan lagi bagaimana?"
"Sssttt...." Jery meletakkan jari telunjuknya di bibirku. Ia tersenyum, "Alena cerewet. Seperti Mama."
Aku mendengus sebal. Setelah pintu terbuka, aku menuntunnya berjalan memasuki rumah. Jalannya masih lemas, aku takut ia terhuyung atau jatuh karena tumpuan kakinya belum terlalu kuat.
"Di mana kamarmu?" tanyaku. Jery menunjuk pintu berwarna putih di sebelah utara. Aku kembali menuntunnya hingga sampai ke kamarnya. Kemudian mendudukkannya di tepi ranjang, sementara aku beralih mengambil kaos dan celana yang nyaman untuknya. Tentunya ia sudah memberiku ijin.
"Cepat ganti pakaian, lalu istirahat," aku memberikan kaos dan celana oblong yang sudah kupilihkan, "di mana Ponselmu? Aku akan menelepon Mamamu. Ia harus tahu kalau kau sedang sakit."
Jery menunjuk dagu pada benda pipih yang berada di Lantai, tepatnya berada di bawah kolong meja belajar. "Aku akan menelepon selagi kau ganti baju," ucapku, lantas segera mengambil ponsel itu.
Namun, aku dibuat tercengang untuk beberapa saat setelah melihat bagaimana penampakan ponsel itu sekarang.
Apa Jery membantingnya?
Saat kucoba untuk menyalakannya, aku makin tercengang. Apalagi saat mendapati persentase baterai yang tinggal 10%,
Aku yakin sekali ponsel ini sudah bersemayam di bawah kolong meja belajar sejak malam di mana Jery diputuskan oleh Rahel. Malang sekali.
Tok! Tok! Tok!
"Jeryco, sudah selesai?" tanyaku selepas memberi kabar Tante Linda melalui ponsel milik Jery. Ia bilang bahwa ia akan mengusahakan pulang besok lusa.
"Berbaring lah."
"Ya?" Pria itu tampak bingung. Kemudian segera menurut. Kutarik selimut untuk menutupi tubuhnya hingga sejajar dada. Lalu beralih mengambil bye-bye fever di antara beberapa bungkus obat yang telah diresepkan dokter, sebelum akhirnya menempelkannya pada dahi Jery yang masih terasa hangat.
"Kalau ada apa-apa hubungi aku. Aku akan secepat kilat datang ke sini," kataku sambil menyisir anak rambutnya ke belakang.
"Kau mau pulang?"
Aku mengangguk. "Sudah hampir malam. Aku juga harus belajar untuk ujian besok."
Wajahnya nampak murung. Hal itu justru membuatku tak ingin pergi. Aku benar-benar takut sesuatu akan terjadi padanya, terlebih ia di rumah hanya dengan adiknya.
"Sebelum pulang, bolehkah aku minta tolong satu hal lagi?" Jery tampak ragu untuk bertanya.
"Apa?"
"Adikku, Issabela belum makan dari pagi, aku lupa memberinya makanan karena bangun kesiangan. Dia pasti kelaparan. Bisa tolong cari dia?" pintanya dengan gurat wajah memohon.
"Isabella di mana?"
"Di rumah. Ia tidak suka keluar. Jadi tolong cari dia. Aku masih agak pusing kalau banyak berjalan. Nanti kalau sudah ketemu beri tahu aku, ya?"
Aku menurut. Lantas segera mencari Isabella. Selama sepuluh menit aku memeta seisi rumah Jungkook, namun aku tidak kunjung menemukan batang hidung manusia lain di sini. Bahkan aku sudah menyusuri lantai dua rumahnya, tapi tetap saja nihil.
"Aku tidak menemukan siapa-siapa di sini, Jery," kataku pada Jery yang dihadiahi kernyitan seolah tengah tenggelam dalam pikiran. "Sudah cek kolong sofa ruang tamu?"
Sepasang alisku kontan tertaut. "Belum."
"Kalau begitu coba cek, soalnya Isabella suka bermain di sana."
Seperti orang bodoh, lagi-lagi aku menuruti kata-kata yang keluar dari mulutnya. Hei, manusia mana yang suka bermain di bawah kolong sofa? Bahkan setelah kulihat, kolong sofa itu hanya setinggi mata kaki. Bayi baru lahir saja tidak muat masuk ke sana.
Namun, dengan kesabaran yang tinggi, aku tetap mencoba untuk mengeceknya. Aku sampai harus menungging untuk memastikan apakah Isabella benar-benar ada di sana. Well, nyatanya yang kutemui hanya seekor kucing ras persia berwarna putih tengah tidur nyenyak di bawah sana.
Aku mendecak kesal. Lantas kembali menunju kamar Jery untuk protes keras. "Wah!! Aku benar-benar merasa tolol karena mencari Isabella di kolong sofa. Tidak ada manusia di sana, hanya ada kucing."
"Siapa bilang Isabella manusia?"
Aku melongo sempurna. "Maksudmu??"
"Isabella itu kucing."
Astaga Tuhan, aku hanya bisa tersenyum dengan perasaan tertekan.
"Hehehe... Beri makan Isabella tiga whiskas, dia harus diet. Lalu beri dia minum susu di dalam kulkas. Bisa kau lakukan itu untukku?" Jery membinarkan matanya dan memasang wajah melas.
"Y."
Aku pun segera kembali menuju ruang tamu. Membangunkan Isabella yang masih tertidur di kolong sofa, lalu menggendongnya menuju sebuah miniatur rumah yang kuyakini adalah tempat Isabella. Di sana ada tempat makan sekaligus etalase kecil berisi beberapa stok makanan kucing dan sepertinya beberapa botol vitamin.
"Bella-ya... Kau tahu? Tuanmu sangat menyebalkan," ungkapku mengajak bicara kucing betina itu selagi menuangkan susu dan empat sendok whiskas. "Jangan bilang Jery ya kalau aku menambah porsi makanmu. Dia bilang kau belum makan dari pagi."
"Meong..."
Seolah tahu, kucing itu mengeong. Aku terkekeh pelan. Lantas mengelus lembut kepalanya sementara ia menikmati makanannya.
Aku masih ingat betul bagaimana Jery mendeskripsikan makhluk bumi yang ia akui sebagai adik ini. Cantik, putih, mulus, proporsi tubuh sempurna, suara mendayu-dayu, dan bisa membuat siapa saja terpana. Kurang lebih seperti itu yang ia katakan padaku.
Dan, ya! Ekspektasiku terlalu tinggi untuk sebuah realisasi yang nyatanya hanya seekor kucing betina.
"Tugasku sudah selesai. Dan kurasa aku harus segera pulang, pamitku. Mendengar itu, Jery yang samula berbaring langsung mengambil posisi duduk.
"Hei, tidak usah bangun. Kau harus tidur sampai besok pagi," aku kontan mendaratkan pipi bokong di bibir ranjang untuk menahan tubuhnya yang hendak berdiri.
"Aku ingin mengantarmu sampai ke depan."
Menggeleng konstan, aku pun menolak mentah-mentah ucapannya. "No! Kau tidak perlu mengantarku."
Ia tersenyum. "Terima kasih dan maaf karena harus merepotkanmu."
Aku mengangguk. "Iya, sama-sama. Tapi bisakah kau tidak menatapku seperti itu?"
Buru-buru kupalingkan wajahku. Tidak tahan saat melihat tatapannya yang terlihat sendu.
Dua detik kemudian, aku dibuat tersentak saat tiba-tiba Jery memelukku.
"K-kenapa?" Aku yang belum siap jadi gelagapan.
"Tidak apa-apa."
Perlahan aku membalas pelukannya.
"Aku takut duniaku akan menjadi abu-abu setelah kepergian Rahel" ucapnya lirih, nyaris berbisik. "Tapi aku hampir lupa kalau aku masih punya Nona Alena. Terima kasih untuk hari ini, teman baik."