
"Oi, Alena!!"
Seseorang penghuni bangku tengah tiba-tiba saja mendaratkan pipi bokongnya di mejaku, memasang wajah tengil, melipat kedua tangan di depan dada, lalu menaik turunkan sepasang alis layaknya preman jail pinggir pasar.
Padahal kemarin ia terlihat seperti orang sekarat yang sedang menunggu ajal, namun sekarang dengan pedenya malah bertingkah sok bebal dan menyebalkan.
"Sepertinya kau sudah sembuh?" tanyaku memastikan sembari memasukkan kotak pensil ke dalam tas.
Yang ditanyai kontan mengangguk semangat, seolah tengah bertemu dengan penyelamat hidupnya. "Berkat Nona Alena."
Entah angin dari mana, kedua sudut bibirku spontan tersungging tinggi. Kalimat yang sederhana, namun sukses membuatku tersipu malu.
"Kau tidak pulang?" Aku berusaha mengalihkan topik pembicaraan, tidak ingin pria di hadapanku ini memergokiku yang sedang bingung menyembunyikan ekspresi salah tingkah.
"Pulang. Siapa juga yang mau tidur di sini? Banyak hantu," katanya menakut-nakuti.
Setelah selesai mengecek kolong meja dan memastikan tidak ada yang tertinggal di sana, aku pun Lantas berdiri dan mencangklong tasku di pundak. Jery juga turun dari meja, ikut berdiri dan menyamai posisiku.
"Mau ikut ke Subway? Kita makan bersama. Aku akan mentraktirmu," cetus Jery.
“Tiba-tiba?” Dahiku berkerut.
"Aku Lapar. Dari pagi belum mak-"
"Kenapa belum makan?" Aku langsung melemparinya tatapan tajam. Pria di depanku ini langsung diam, tidak melanjutkan kalimatnya. "Apa kau mau pingsan lagi, huh?"
Dasar kuda sialan! Apa dia lupa kalau kemarin dia begitu merepotkan? Tidak, kurasa dia sangat meresahkan.
"Aku tidak bisa masak. Mau makan apa? Whiskas? Isabella bisa marah besar kalau sampai tahu jatahnya kumakan." Si Jery berusaha membela diri.
"Jangan-jangan Paduka Jery ini belum mengenal aplikasi food delivery order, ya?" sindirku sambil tersenyum sinis.
"Aku tidak suka memesan makanan online. Tidak ada yang cocok di lidahku. Ongkirnya lebih mahal dari harga makanannya. Masakan Mama paling enak, fix. Kalau kepepet ya mampir Subway. Sampai sini paham Nona Alena?"
Mengangguk malas, aku pun membalas, "Oke, anggap saja aku percaya dengan alasanmu. Well, apakah kita jadi ke Subway?"
"Kau mau?" Jery terlihat antusias.
"Selagi gratis, kenapa tidak?"
“Ayo berangkat” serunya sambil berjalan mendahuluiku. Tanpa berlama-lama, aku segera mengekorinya dari belakang.
"Tadi berangkat ke sekolah naik apa?" tanyaku saat ia mulai beralih membersihkan helmnya.
"Taksi," jawabnya.
Aku mencebik skeptis manakala baru menyadari bahwa ada helm bogo tercantol di stang motornya. "Kau masih membawa helm itu bahkan saat sudah putus dengan Rahel."
Jery spontan merotasikan matanya pada objek yang kumaksud. "Aku selalu membawanya setiap hari."
"Kenapa?" Aku mulai penasaran.
Jery tak langsung menjawab, ia membersihkan helm bogo itu juga. Ia terlihat sangat risih bahkan hanya dengan debu yang sangat tipis. "Karena setiap hari jok belakang motorku selalu terisi, tidak pernah kosong penumpang."
Dua detik kemudian, tanpa aba-aba Jery memasangkan helm itu ke kepalaku. "Seperti hari ini, Nona Alena yang mengisinya."
"Kuda sialan! Kalau mau memasangkan helm, minta ijin dulu kenapa? Aku belum siap. Telingaku tertekuk ke depan," protesku sembari membetulkan posisi telinga kiri. Takut terjadi malfungsi.
Pria itu tak mengindahkanku, melainkan memasang helm untuk dirinya sendiri. Tidak sampai situ, ia juga nampak hendak menurunkan resleting jaketnya. Cepat-cepat aku menyela, "Kau mau apa?"
"Rokmu pendek," ia menunjuk dagu ke arah tubuh bawahku. "Pahamu nanti jadi tontonan masyarakat."
"Tidak usah. Aku pakai jaketku sendiri saja," ucapku mulai melepaskan jaket, kemudian mengikatkan lengannya di pinggangku.
"Ayo naik," titahnya selagi menyalakan mesin motor. Aku menurutnya.
"Kalau pegangan yang benar, nanti kau terbang terbawa angin bagaimana?" Jery mengarahkan kedua tanganku memeluk erat perutnya, "seperti ini."
"Bukankah ini berlebihan, Jery?" tanyaku mulai merasa tak nyaman. Sebab kini seluruh tubuh depanku menempel pada punggungnya.
"Berlebihan bagaimana?" Pria itu memang tidak peka.
"T-tapi i-ituku menempel. Tidak enak," ungkapku lirih nyaris berbisik. "Apa? Dadamu? Benarkah? Aku tidak merasakan apa-apa di punggungku. Punyamu datar ya?"
Sialan!!
Tanganku refleks memukul helmnya dari belakang hingga terdengar suara ketukan cukup keras. Ia mungkin tak merasa sakit, namun kepalanya yang terhuyung ke depan membuatku puas. Semoga isi otaknya terkocok dan segera sadar bahwa kata-katanya itu membuatku jadi insecure. Padahal tidak datar-datar amat. Mungkin jaketnya saja yang terlalu tebal atau malah kulitnya memang keras seperti badak, makanya ia tidak bisa merasakannya.
"Bisakah kau tidak membicarakan dadaku? Kau bahkan juga pernah membicarakan itu di depan Mamamu. Aku jadi ingin membunuhmu, Jery. Pilih mana? Kusunat asetmu dua kali pakai gergaji atau kupukul asetmu pakai tongkat baseball?" Tentu saja aku tak mau kalah. Jika ia menghina milikku, maka akan kuhancurkan miliknya.
"Jangan, Nona. Aku masih ingin berkembang biak."