
Aku berlari tergesa-gesa di sepanjang koridor rumah sakit. Mengabaikan puluhan pasang mata yang melirikku eksentrik. Seragamku basah kuyup, rambutku lepek, bahkan tali sepatuku yang lepas membuatku nyaris tersandung berkali-kali. Penampilanku kini jauh dari kata 'waras'.
7A
VVIP
Paru-paruku rasanya seperti akan meledak karena terus dipaksa untuk menghirup oksigen banyak-banyak. Aku mencoba untuk mengatur napas selagi menyocokkan tulisan yang timbul di pintu dengan pesan yang dikirimkan Paman Melvin beberapa saat lalu. Sama. Ini adalah kamar di mana Ayah dirawat.
Saat aku hendak membuka pintu, di waktu yang bersamaan itu pula seorang wanita berpakaian glamor keluar dari dalam kamar. Aku terhenyak untuk beberapa saat. Napasku tersendat. Kakiku kontan mundur beberapa langkah saat seluruh atensinya sekarang tertuju padaku.
Ia menutup pintu itu kembali dengan sangat perlahan, enggan sampai terjadi suara dentuman khas lidah pintu. Aku masih diam. Tidak berani membuka pembicaraan. Terlalu takut, jujur saja. Tatapannya nyalang. Tersirat kemarahan dan juga rasa kesal yang berkobar-kobar di matanya. Wajahnya yang banyak keriput jatuh turun, tidak bersemangat, penuh kekecewaan. Aku langsung memalingkan muka. Merasa terintimidasi sepenuhnya.
"Ikut saya," tegasnya tanpa basa-basi. Ia bahkan terlihat tak peduli dengan penampilanku yang menyedihkan ini.
"Tapi, Oma... aku ingin menemui Ayah dulu," Lirihku dengan suara parau.
"Turuti kata-kata saya selagi saya memintanya baik-baik." Oma berjalan mendahuluiku. Terpaksa aku harus mengikutinya dari belakang dengan perasaan campur aduk.
"Masuk," titah Oma sesaat setelah kami sampai di parkiran. Ia menyuruhku masuk di jok mobil belakang, bersamanya. Lantas memberi instruksi pada pak sopir agar ia menunggu di luar mobil.
Tiga detik kemudian, Oma mengeluarkan sebuah sapu tangan dari dalam tasnya. "Keringkan tubuhmu dengan ini, jangan buat mobil saya jadi basah. Saya risih," ungkapnya dengan gaya bicara yang membuatku sedikit sakit hati, ia bahkan melempar sapu tangan itu dengan tidak niat terkesan merendahkan.
Aku menurut dan tidak membantah. Sedang tidak ingin membuat masalah.
"Saya sedih..." celetuk Oma sebelum akhirnya menyerongkan posisi duduknya ke arahku, "saya sedih kenapa anak saya harus punya anak sepertimu."
Sedari tadi, Oma membahasakan dirinya sendiri dengan kata 'saya' dan terus berbicara menggunakan bahasa formal. Seolah sengaja menciptakan kesenggangan. Aku merasa semakin tidak nyaman.
"Saya juga sedih," ia menghela napas panjang, "kenapa anak saya rela menyakiti dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan maaf dari anaknya yang tidak tahu diri."
Aku masih diam tak berkutik. Menundukkan kepala sambil bermain kuku jari untuk meredam angkara yang menusuk-nusuk jiwa.
"Anak saya pingsan di ruang kerjanya. Menyedihkan. Dia didiagnosa mengalami stress dan dispepsia. Kau tahu kan siapa penyebabnya?" Oma melipat kedua tangannya di depan dada, aku bisa melihatnya dari ekor pendarku walaupun samar-samar. Sebab kini kedua netraku tengah membendung buliran air mata yang siap meluncur kapan saja.
"Oma, aku bisa jelaskan," ujarku mencoba bersuara.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan. Kau itu mudah ditebak. Terlalu naif untuk gadis berusia 18 tahun. Sangat kekanak-kanakan!" raungnya tanpa memikirkan perasaanku. Harga diriku terluka. Oma menyudutkanku, menganggapku sebagai biang keladi dari semua masalah ini.
"Ayah tidur dengan wanita lain. Tapi kenapa Oma seolah-olah menjadikanku tameng dari kesalahan Ayah? Bukankah seharusnya di sini aku yang menjadi korban?" Dadaku naik turun tidak karuan. Semakin merasa sesak. Air mata yang susah payah kutahan pada akhirnya jatuh membasahi pipi.
"Lucu ya? Merasa jadi korban. Bilang saja kalau masih tidak rela ayahmu berpaling dari ibumu yang sudah mati, tidak perlu berkilah."
Oma tertawa. Menganggap yang kukatakan barusan adalah sebuah lelucon yang pantas ditertawakan.
"Bahkan saya rasa Dena juga akan tertawa melihatmu."
Den**a, itu ibuku.
"Well, sebenarnya hari ini ada dua kabar yang harus kau dengar. Kabar baik dan kabar buruk. Mau mulai dari mana dulu?"
Aku tak menjawab.
"Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang kemudian. Saya rasa harus memberi tahu kabar buruk dulu, baru setelahnya kabar baik,"
Kurasakan jemari tangan lentik milik Oma menyentuh daguku. Ia tersenyum. Tersenyum jahat. Kerutan-kerutan di sudut matanya terlihat begitu jelas dan sukses membuatnya tampak lebih menyeramkan. "Saya yakin selama ini kau bertanya-tanya tentang siapa wanita yang tidur bersama Ayahmu. Ini akan menjadi kabar buruknya."
Oma mendekatkan mulutnya ke telingaku, lalu berbisik, "Wanita itu Renata."
Kedua bola mataku membelalak seiring Oma yang kembali pada posisi semula. Kedua tanganku spontan mengepal kuat.
"Dan kabar baiknya, saya dan suami saya sepakat untuk menikahkan ayahmu dengan wanita yang ditidurinya."
Kurasa, bola mataku hampir mencuat dari kelopaknya. Jiwaku terhenyak. Ini terlalu tiba-tiba.
"OMA!!" Aku membentaknya tak terima.
"Kenapa? Ini tentang hidup anak saya, dan saya tidak membutuhkan persetujuan dari anaknya yang egois. Anak saya berhak bahagia," celanya enteng sekali.
"Ta-"
Tuk tuk...
Oma sengaja menginterupsiku dengan mengetuk-ngetuk kaca jendela. Tak berselang lama pak sopir yang sejak tadi menunggu di luar mobil pun bergegas masuk. Ia sungguh tak memberikan aku kesempatan barang hanya menyuarakan pendapat.
"Keluar dari mobil saya," perintah Oma sambil menunjuk dagu. Aku pun keluar dengan hati yang terasa sangat mengganjal. Semua uneg-uneg dalam benakku masih tertahan dan kurasa selamanya tak akan bisa kuangkat bicarakan.
Aku membungkuk saat mobil Oma mulai meninggalkan area parkiran. Bagaimanapun aku harus tetap sopan meskipun rasanya aku ingin mengumpatinya habis-habisan.
Lupakan soal dongeng tentang nenek yang selalu hangat dan menyayangi cucunya sepenuh hati, karena kurasa Oma lebih mirip seperti nenek lampir.