Remember You

Remember You
The Sunday



Kalian tahu hal apa yang paling kubenci di hari Minggu pagi?


Ya, itu adalah saat di mana aku sudah berniat untuk bangun kesiangan, namun Ayah malah datang ke kamar untuk membangunkanku.


"Anak gadis jam segini kok belum bangun?" sindirnya sembari mulai membuka gorden lebar-lebar. Alhasil cahaya matahari pun masuk dan menyilaukan mataku yang masih setia memejam.


Hei, Ayah. Ayolah... ini hari Libur, putrimu ini masih ingin tidur.


Asal Ayah tahu saja, aku ini sudah terlalu Lelah menjalani hari-hari dengan belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Otakku yang minimalis ini juga perlu istirahat.


"Alena, ayo bangun. Tidak malu dengan Ayah yang jam segini sudah wangi?" sindir Ayah sekali lagi. Kali ini aku merasakan kasurku sedikit bergoyang.


"Mmmh."


"Ayo bangun, mandi! Apa perlu Ayah mandikan?" tanyanya sambil menguyel-uyel belah pipiku. Sengaja agar aku terusik.


"Lima menit lagi. Masih ngantuk," erangku malas.


"Tidak ada lima menit lima menitan! Ayah mau Alena bangun sekarang."


Tiba-tiba saja Ayah menarik selimut tebal yang sedari tadi membungkus tubuhku. Kemudian tanpa aba-aba menarik kedua tanganku hingga membuatku terduduk sempurna.


Dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul, aku pun mulai membuka kelopak mata dengan sangat terpaksa. Lalu mendapati presisi Ayah yang sedang menatapku datar sambil melipat tangan di depan dada.


"Tapi ini hari Libur, Yah."


"Siapa bilang ini hari valentine?"


Untuk diriku sendiri, tarik napas yang dalam lalu buang perlahan. Sabar. Jangan emosi. Ingat, Bapak Lucas Zander ini meskipun rese sekali tapi tetap harus dihormati.


"Cepat mandi gih. Ayah akan menunggu di bawah," titah Ayah untuk yang kesekian kalinya. Aku mengangguk lemas sebagai bentuk pengindahan. Lantas setelahnya Ayah mulai melangkah keluar dari kamarku. Namun, kalian tahu apa yang membuatku jauh Lebih kesal sekarang?


Itu adalah Ayah yang keluar tanpa menutup pintu kamarku kembali. Membiarkannya terbuka begitu saja.


Oke, Alena, sekali Lagi kau harus bersabar.


...----------------...


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih lima belas menit untuk mandi, akhirnya aku memutuskan keluar dari kamar untuk menyusul Ayah di pantry-biasanya ia akan menghabiskan awal harinya dengan minum kopi sambil membaca berita melalui iPadnya di sana.


Tetapi sebelum itu, aku menyempatkan diri untuk mengambil ponsel yang semalaman kucharge di meja belajar, kemudian lekas mengaktifkan perangkatnya.


Entah kenapa semalam mendadak muncul ide iseng sengaja menonaktifkan perangkat semalaman penuh. Berharap akan ada yang mencari. Well, ternyata setelah ponselku kembali menyala, yang kudapati hanyalah sebuah pesan operator yang berisi bahwa nomorku sedang berada dalam masa tenggang dan harus segera diisi pulsa.


Semenyedihkan inikah orang yang tidak memiliki kekasih?


Baiklah, daripada si Jomblo ini semakin sakit hati karena tidak ada yang peduli, akan lebih baik jika aku segera turun menuju pantry.


Oh, ya. Jika kalian ingat, sepulang dari kerja kelompok di rumah Jery, Ayah mengirimiku pesan tentang Oma dan Opa yang akan datang ke rumah.


Beruntung, karena setidaknya kemarin kami berdua tidak perlu mendengarkan celotehan-celotehan menyebalkan dari Oma dan Opa. Itu sangat melegakan.


"Loh, kok Ayah tidak ada?" tanyaku pada angin. Kedua sorot pendarku tak menemukan presisi Bapak Zander itu seharusnya berada.


Aku memanggilnya dua kali, namun tidak ada jawaban sama sekali. Padahal ingin mengajaknya sarapan bersama. Tetapi, karena para cacing dalam perutku sudah konser dan mencak-mencak ingin segera diberi makanan, maka aku memutuskan untuk berjalan ke kulkas mencari sesuatu yang bisa dibuat mengganjal perut yang kroncongan.


Kulihat hanya ada sebuah kotak susu rasa stroberi di sana, dan sisanya hanya bahan-bahan mentah yang belum diolah. Tanpa pikir panjang aku pun segera mengambilnya, namun...


"Selamat pagi Tuan Putri Alena yang terhormat. Apakah semalam Tuan Putri tidur dengan nyenyak?"


Sialan!


Tubuhku terperanjat luar biasa manakala secara tiba-tiba seseorang menempelkan sebuah gelas yang begitu dingin pada belah pipiku. Aku yang tak siap dikejutkan hampir saja menjatuhkan kotak susu rasa stroberi itu. Dan lihat! Kini pelakunya malah tersenyum dongkol tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Paman Melvin!!!" gertakku sambil menghentak-hentakkan kaki kesal setengah mati. "Jantungku hampir melorot ke lambung tahu!!"


Paman Melvin malah terkekeh. "Maaf-maaf, begitu saja marah. Cemen!" Ledeknya sembari menyodorkan sebuah gelas yang masih kosong. Agaknya ia tahu aku belum mengambil gelas untuk menuangkan susu.


Mengambil sodoran gelas, lantas memilih untuk berjalan lebih dulu menuju bangku pantry. Paman Melvin terlihat menyusul. Lalu tanpa aba-aba mengambil alih kotak susu itu dariku.


"Sini biar Paman bukakan," ungkapnya sambil membuka tutup kotak yang masih bersegel, sebelum akhirnya menuangkannya pada gelas sampai penuh dan nyaris tumpah.


Kedua sudut bibirku terangkat rendah, "Thanks, Paman!"


"Omong-omong... kenapa Paman Melvin datang kemari pagi-pagi sekali?" Aku bertanya karena penasaran. Paman tak langsung mengindahkan pertanyaanku, melainkan terkekeh samar.


"Pagi katamu?" Ia malah balik bertanya. Sukses membuat alisku tertaut sebab tak paham.


"Lihat jam tangan Paman," cetusnya sembari mengulurkan pergelangan tangan yang dilingkari jam tangan rolex super mahal. "Pukul berapa sekarang?"


Kelopakku memicing sekilas. "Sebel... Las... PUKUL SEBELAS??"


Damn! Padahal kupikir tadinya ini masih pukul enam pagi.


"Kau mewarisi sifat 'kebo' dari mendiang Ibumu, Al." Lelaki tua di sampingku ini justru meledek. Menyebalkan!


"Jadi, kenapa Paman datang ke sini?" tanyaku untuk yang kedua kalinya. Masih dibuat penasaran.


Paman Melvin tak Langsung menjawab, melainkan beralih meneguk cairan hitam yang sepertinya adalah ice coffee. "Paman gabut. Tidak tahu harus kemana dan berbuat apa. Tapi, Paman ingat kalau ice coffee buatan Bibi di rumahmu itu enak. Jadi Paman ke sini deh."


Paman ini kasihan sekali, ya? Sudah tidak punya kekasih, tidak punya kegiatan pula sampai-sampai ia 'gabut' dan pergi ke rumah keponakannya hanya untuk segelas ice coffee.


Aku hanya manggut-manggut mengiyakan agar ia merasa senang. Kemudian mulai menyeruput susu stroberi sebelum akhirnya kembali bertanya, "Lalu di mana Ayah? Aku tidak melihatnya dari tadi."


"Ayahmu kedatangan tamu"