Remember You

Remember You
The illegitimate child



Memang benar, paman Rico meninggal diusianya yang masih sangat muda karena serangan jantung. Padahal waktu itu merupakan hari-hari menjelang pernikahannya dengan bibi Mayla. Pun pada saat itu aku sudah lahir kedunia, masih berusia sekitar tiga bulan. Jadi aku tidak bisa mengingat sama sekali bagaimana visual paripurna paman Rico didunia nyata.


"Lalu?" tanyaku semakin merasa penasaran, sebab garis yang tergambar pada raut wajahnya terlihat kesal.


"Gara-gara itu Mama memberiku nama 'Jeryco'. Karena namaku itu, aku jadi sering diejek teman-teman Mama karena level bucin Mama terhadap Rico itu luar biasa gila. Padahal Mama saat itu juga sudah menikah" terangnya panjang lebar.


"Makanya aku lebih suka dipanggil Jery" ia melempar kaleng coca-cola lain yang masih utuh ke arahku. Memintaku untuk ikut minum.


"Ngomong-ngomong pria tua yang kemarin menjemputmu siapa? seperti tidak asing"


Sial! aku hampir tersedak.


"Pamanku" jawabku cepat.


Lekas Jery melipat kedua tangannya didepan dada. "Iya, maksudnya pamanmu itu siapa?"


"Melvin Steward. Aku keponakannya"


"Oh, pan-- APA KAU BILANG BARUSAN?" Jery terlihat sangat kaget. Ia bahkan sampai menutup mulutnya tak percaya.


"Kau serius?"


"Apa wajahku terlihat seperti penipu?" tanyaku balik sembari meletakkan kaleng coca-cola yang sudah kuteguk untuk membasahi kerongkongan.


Jery mengangguk skeptis setelahnya "Oke, aku akan percaya, walau tidak terlalu. Tetapi aku yakin sekali yang kulihat kemarin adalah Melvin B.O.S. Wah! Mama tidak boleh sampai tahu soal ini. Kalau tidak--"


"Santai saja kali!" selaku "Lagipula mereka semua juga sudah tua. Mama mu itu pasti juga tidak akan terkagum lagi melihatnya. Sudah banyak kerutan. Tidak punya roti sobek apalagi lengan kekar seperti dulu. Sekarang semuanya menggelambir" Aku terkekeh samar setelahnya.


Aku mengerdikkan bahu. Jery kian antusias "Keponakan jauh.."


Maaf Jery, untuk kali ini aku harus berbohong demi keamananku.


"Makanya!" Jery tiba-tiba menjentikkan jemarinya, seolah baru saja mendapatkan pencerahan yang luar biasa "Itu sebabnya aku tadi minta topik beritanya Lucas Zander B.O.S saja"


Oh! itu menohok sekali.


"Tidak bisakah kita ganti topik lain saja? Kasihan kalau kita mengungkit masalah orang tujuh belas tahun yang lalu. Kan masih banyak topik yang lebih panas tentang skandal idola populer" Aku hanya tidak mau privasi Ayahku dikuliti lagi.


Bukan pengindahan yang kudapat, Jery justru memberi sebuah toyoran pelan pada dahiku. "Kau ini kudet atau bagaimana sih, Al? Jelas-jelas nama Lucas Zender itu sedang trending sekarang. Kalau kita membuatnya sebagai topik tugas, nilai kita pasti paling tinggi. Apalagi pamanmu itu Melvin B.O.S, pasti lebih perfecto, no hoax, nilai jebol!"


Aku mendengus kesal. "Kau ini anak ambis ya, Jery?"


Ia meringis keki. "Aku melihat hashtag trendingnya, katanya Lucas Zender sudah kembali ke korea. Dan kau tahu?"


Menggeleng malas, aku pura-pura tidak tahu saja. Semetara si kaki kuda menarik nafas panjang. "Lucas kembali dengan anak haramnya. Dan kau tahu lagi? ternyata anaknya itu sepantaran dengam kita. Hanya saja tidak tahu kelaminnya laki-laki atau perempuan, karena identitasnya masih disembunyikan"


"Anak haram?" tanyaku mengulangi, sedikit memberikan intonasi penekanan. Takut salah dengar. Namun, kenyataannya Jery malah mengiyakan. "Netizen menyebutnya begitu karena hamil duluan"


"Tapi mereka kan menikah setelah anaknya lahir! Jadi dia bukan anak haram!" Koreksiku tidak terima. Jery tidak tahu kalau sebenarnya 'anak haram' yang ia bicarakan ada dihadapannya. Aku merasa sakit hati sebenarnya. Tetapi, aku harus bersikap seolah tidak ada sangkut pautnya, sebab ayah bilang belum saatnya identitasku terungkap.


Jery mencebik remeh "Ya, terserah. Yang ku pikirkan saat ini hanyalah kalau anak Lucas Zender B.O.S itu laki-laki, pasti tampan sekali. Aku juga pasti tersaingi. Tapi kalau perempuan...ah! sudah pasti cantik sekali"


Aku memang cantik.