Remember You

Remember You
The Possessive



"Ya sudah!" Si kaki kuda beralih menyalakan laptopnya. "Kau cari semua informasinya di internet." Ia memberikan laptop itu padaku. Dan bukannya membuka buku atau setidaknya membuka laman melalui ponsel, ia malah mengambil gitarnya yang semula ia sandarkan pada lengan sofa.


"Lalu, kau?"


Jemarinya menunjuk diri sendiri sambil menyeletuk. "Aku?"


"Siapa lagi?"


"Aku akan main gitar" Jawabnya santai.


"HEI!!"


Jery kontan menutup lubang telinganya. "Tenang...kan juga kerja tim"


"Kalau kerja tim itu dikerjakan bersama-sama sialan!" rutukku semakin dibuat naik darah.


Yang dirutuki malah menggeleng tidak setuju. "Bukan begitu konsepnya, Al. Kau yang mencari semua informasi, nanti aku yang mengetik. KERJA TIM itu yang satu KERja, yang lainnya TInggal Mengetik. Sampai sini kau sudah paham?"


Karena naik pitam, kulemparkan bantal sofa ke arahnya. Head shot! tepat mengenai kepalanya hingga ia terhuyung kebelakang. Mampus kau!


Lagipula tante Linda tadi juga sudah bilang kalau berbuat macam-macam pukul saja kepalanya, tentu sesuai perintah.


"Iya-iya! santai saja kali" semprotnya sambil cemberut.


"Jadi kita bagi tugas--"


"Ya Tuhan, tolong beri kemudahan pada titisan makhluk jahat bernama Alena supaya bisa menyelesaikan tugas secara cepat. Bukalah otaknya yang sempit dan sebesar biji sawi itu supaya bisa digunakan untuk berpikir. Amiin."


"HEI JERYCO!"


Sekonyong-konyong paman Melvin yang memberiku sebuah robot super creepy, rupanya masih ada Jery yang kelewat kinky.


"Apa? apalagi?" Jery menyuarakan frasa menyolot.


"Rasanya aku ingin menjambak rambutmu lagi, Jery. Kali ini tak akan ku biarkan rambutmu masih melekat dikepala." Aku mengancamnya. Lelaki itu sontak was-was dan menutupi bagian kepalanya posesif. Agaknya masih trauma.


"Seharusnya kau berterima kasih karena aku mendoakanmu!"


Berdehem malas, aku pun memilih untuk membuka laman internet. Beradu argumen dengan si kaki kuda ini tak akan ada habisnya. Bahkan sampai dia peot dan tua bangka pun akan tetap banyak alasan.


"Lagi pula aku sudah membantumu tadi. Membantu doa. Kau juga tahu kan bantuan paling ampuh itu datangnya dari Tuhan?" Ia kembali dengan gitarnya.


Kulirik presisinya tajam, "Bicara sekali lagi, kugunting lidahmu!"


Ya, setidaknya setelah mendengar ancamanku untuk yang kesekian kalinya, Jery akhirnya bisa diam. Satu setengah jam berjalan baik-baik saja, aku yang mencari segala sumber informasi untuk mendukung meteri topik, dan Jery yang memetik gitarnya sambil bersenandung ringan. Aku tidak tahu lagu apa yang sedang ia mainkan, namun itu terdengar cukup menenangkan. Baik, kali ini ku anggap ia membantu karena tidak merusuh dan membuat hal-hal yang meresahkan lagi.


Selain itu, aku juga jadi tahu bahwa media memang benar-benar heboh dengan kembalinya Ayah ke Korea. Mereka berlomba-lomba membuat spekulasi untuk menaikkan pamor beritanya demi mendapatkan keuntungan dibaliknya, bahkan tak sedikit yang tak masuk akal. Clickbait. Namun, aku masih merasa lega. Sebab dari sekian informasi dan banyaknya berita yang aku kumpulkan, tak ada satupun yang berhasil mengungkap identitasku. Masih menjadi sebuah rahasia.


"Sudah?" Tanya Jery seraya menyandarkan gitarnya yang sudah puas dimainkan. Aku menganggul sebagai pengindahan.


"Sebentar, aku angkat telpon dari Dokter dulu" Ia lantas berjalan sedikit menjauh. Sementara itu, aku beralih untuk membereskan kekacauan ringan yang kami berdua perbuat. Membuang beberapa kemasan cemilan dan kaleng minuman. Sebelum akhirnya ia kembali ke ruang tamu.


"Kau sakit apa, Jery?" tanyaku sambil mengcopy file berisi kumpulan-kumpulan informasi tersebut. Mengantisipasi jika sewaktu-waktu hilang atau tak sengaja terhapus.


"Bukan aku, tapi adikku. Kata Dokter operasi usus adikku berjalan baik" Ungkapnya mengindahkan.


Aku tak menyangka ia memiliki seorang adik. Terlebih adiknya baru saja operasi, tetapi seingatku tadi tante Linda pergi keluar untuk arisan. Dan Jery sekarang dengan santainya duduk disofa. Ah! mungkin adiknya itu sedang ditunggu Ayahnya dirumah sakit.


"Adik laki-laki atau perempuan?"


Jery menoleh, "Perempuan, cantik sekali"


"Cantik mana dengan Rahel?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutku.


Ia tertawa remeh, sebelum akhirnya berkata. "Tentu saja cantik Adikku. Cantik sekali. Kau tak lihat setampan apa Kakak Laki-lakinya ini?"


"Dia itu perempuan tercantik yang pernah kutemui. Kulit mulusnya selembut sutra dan seputih salju. Proposinya sempurna. Suaranya mendayu-dayu dan membuat siapa saja terpana. Aku juga sempat membayangkaan kalau--"


"Stop! sudah, aku tahu kemana arah pembicaraanmu nanti. Jadi, daripada otak suciku ini tercemar, lebih baik aku pulang saja" Cetusku sambil mengaambil tas.


"Mau ku antar pulang? Jery menawari, lalu mengambil kunci motor Ninjanya yang sedari tadi tersimpan dalam saku celana jogernya. Aku menggeleng sebagai respon terhadapnya. "Aku naik taksi saja"


"Kau sudsh pesan?" Tanyaanya seraya mengantarku kee gerbang depan.


"Sudah" Lantas setelah terlihat mobil taksi mula mengurangi laju dari arah Barat, aku segera membuka isi tas untuk mencari kartu Debit. Sekarang semua serba elektronik.


"Kenapa?"


"Jery, bisa pinjam kartu debitmu untuk bayar taksi? aku lupa membawanya dan uangku kurang" Sumpah demi apapun aku sedang mengutuk diriku sendiri. Harga diriku turun satu tingkat karena ini. Mau bagaimana lagi? supir taksi itu sudah menunggu.


"Ternyata miskin" Sindirnya seraya mengeluarkan dompet. Kemudian memberikan kartu debitnya padaku.


"Thanks, Jery. Besok akan ku ganti sepuluh kali lipat" Ujarku keras sambil menutup pintu taksi. Aku melempar ringisan tak berdosa padanya seiring dengan taksi yang mulai berjalan, sementara ia terlihat menggertak terlampau sebal.


Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi pesan muncul dilayar ponselku. Segera kuperiksa, dan ternyata itu pesan dari Ayah.


📥 Alena, kok belum pulang? Ayah khawatir. Perlu Ayah jemput?


📤 Ini sudah diperjalanan pulang.


📥 Dengan siapa? naik apa?


📤 Dengan pak sopir. Naik taksi.


📥 Tidak percaya. Coba foto


Baik, jangan lupakan fakta bahwa Ayah orangnya super posesif. Diam-diam aku mengabadikan foto pak sopir yang tengah sibuk membelah jalanan dari jok belakang. Lalu kukirimkan pesan gambar ke Ayah.


📥 Masih tidak percaya. Coba selfie


Wah...rasanya benar-benar menyebalkan. Untuk menuruti keinginannya itu aku harus berani memutus urat malu untuk mengajak pak supir berselfie. Kuajak pak supir itu membuat video singkat sekalian.


"Pak supir. say 'hi!"


Tentu saja pria paruh baya itu merasa aneh. Mungkin sekarang sudah menganggapku tak lagi waras.


"H-hai"


Aku menyelesaikan videonya sampai disitu, kemudian mengirimkannya ke Ayah dengan segera. Biar bapak Lucas itu bahagia.


"Maaf pak. Bapak ini terlihat seperti kakek buyut saya yang sudah meninggal. Saya rindu, jadi saya minta video wajah Bapak supaya rasa rindu ini terobati" dustaku.


Lalu Bapak supir itu tersenyum senang. Ia seakan telah berhasil menghiburku. Minta maaf banyak-banyak ya, Pak.


"Sudah sampai, Dik" ujar Pak supir setelah tiga puluh menit mengemudi. Aku mengangguk mengucapkan terimakasih, lalu cepat-cepat turun dari taksi.


Sementara taksi berwarna biru itu pergi menjauh, kulihat sebuah motor Ninja merah yang tak asing tengah mengerem cepat laju motornya. Ia membuka helm full facenya.


"Loh, Jery? Ada apa?" Tanyaku panik, sebab ia nampak ngos-ngosan. Padahal naik motor, tetapi malah terlihat seperti baru saja lari maraton.


Jery masih belum menjawab. "Apa kau mengikutiku?"


Ia menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


"Aku...hah...hah..."


"Kau kenapa? khawatir denganku, ya? Tidak usah berlebihan begitu. Aku memang baru disini, tetapi tidak ada yang berani menculikku. Lihat! kau sampai repot--ash!" Bedebah itu menyentil dahiku keras sekali.


"Kalau ada orang yang mau bicara tunggu sampai selesai dulu!" Ia berdalih mengatungkan tangan kanannya. Alisku tertaut tak mengerti.


"Apa?"


"KARTU DEBITKU!"


Ah sial!.


"Siapa juga yang mengkhawatirkanmu? jangan pede" Ia menarik paksa kartu debitnya. "Tanpa ini aku bisa diamuk Rahel"


Aku ber-oh ria.


"Kalau begitu, aku mau pulang" Ungkap Jery langsung memakai helmnya. Lalu memutar balik motor dan melaju kembali dengan sangat kencang. Membuatku berakhir geleng-geleng kepala dengan tingkahnya yang tidak jelas.


Bersamaan dengan itu, notifikasi pesan kembali tertera pada layar ponselku. Masih dengan pengirim yang sama--Ayah.


📥 Alena masih lama? Gawat sekali, Oma dan Opa dalam perjalanan kesini.


Maka setelah membaca seluruh pesan itu, aku segera berlari secepat kilat menuju rumah.


Percayalah, ini akan menjadi kiamat kecil untukku dan Ayah.