Remember You

Remember You
The Single



📤 Sudah mau hujan. Apa Ayah Lupa menjemputku? Atau jangan-jangan Ayah Lupa kalau punya anak?


📤 Tau ah! Aku ngambek!


📥 Maaf, Ayah Lupa. Maksudnya lupa memberi tahu. Tante Renata yang menjemputmu, mungkin masih terkena macet. Sabar ya anak manis.


Ya, seharusnya Ayah tahu kalau putrinya ini adalah sarjana terbaik dalam masalah menunggu.


Dan tebak apa yang baru saja Lewat di depanku!


Aku yakin sebagian besar orang yang tidak punya kekasih sepertiku ini akan merasa iri, dengki, dan keki setengah mati.


Bagaimana tidak? Jery dan pacar seksinya- Rahel tengah mesra berboncengan di atas ninja. Si Gadis memeluk perut prianya dengan amat posesif. Tidak menyisakan jarak sama sekali barang hanya sesenti. Pundak lebar milik Sang Kekasih dijadikan tumpuan dagu agar acara mengobrol jadi lebih asik. Pun tangan kiri Sang Lelaki bergerak aktif mengusap paha gadisnya dengan amat seduktif.


Dan bodohnya, aku justru menyaksikan adegan itu sampai motor Jery benar-benar tidak lagi tertangkap oleh pandangan. Sungguh adegan yang tidak baik untuk kesehatan mental lajang karatan.


Well, andai saja aku punya pacar, pasti tidak perlu repot-repot menunggu jemputan. Bisa nebeng diantarkan pulang. Bermesraan di sepanjang jalan.


Namun, kembali Lagi ke realitas kehidupan. Dunia memang sangat kejam untuk seorang Alena.


Tin...Tin...


Sebuah mobil mewah yang tak asing berhenti tepat di hadapanku. Itu mobil milik Ayah. Kaca filmnya mulai bergerak turun. Menampilkan Sang Pengemudi cantik dengan kacamata hitam berpangkal pada tulang hidungnya yang mancung.


"Alena, ayo masuk," titahnya sembari mengulas senyum manis. Aku mengangguk, lantas segera membuka pintu dan duduk di kursi penumpang depan.


Memasang sabuk pengaman, aku pun lekas bertanya, "Ayah sibuk sekali ya sampai harus menyuruh Tante menjemputku?"


Wanita itu melirikku sepintas, kemudian mulai menekan pedal gas. "Tidak juga. Oma mu datang ke kantor, jadi ayahmu tidak bisa menjemput. Omong-omong Tante minta maaf, ya."


Spontan aku menoleh. "Minta maaf untuk apa, Tan?"


Ia menilik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya, "Tante terlambat dan membuatmu menunggu lama. Jalan dari arah kantor macet total."


Baguslah kalau wanita ini mengakui kesalahannya. Asal ia tahu saja kakiku sudah kebas karena terlalu lama berdiri memakai sepatu pantofel.


"Oh, ya! Tante hampir saja lupa memberi tahumu. Kita akan ke mall sekarang."


Keningku sukses mengkerut, "Untuk apa? Bukankah ini masih jam kerja Tante?"


"Oma meminta Tante untuk membantumu membeli pakaian dan make up," ungkap Tante Renata dengan nada yang bersemangat.


"Tapi, aku tidak memerlukannya. Kita pulang saja, ya, Tan?"


Tidak sesuai harapan, Tante Renata melayangkan sebuah gelengan kepala konstan. Sepertinya ia tidak memberikan lampu hijau pada permintaanku barusan. "Oma sudah memberi tanggung jawab itu untuk Tante. Lagipula kenapa Alena terlihat tidak senang? Padahal biasanya anak gadis seusiamu akan girang kalau diajak berbelanja."


"Karena aku merasa tidak perlu. Pakaianku masih bagus-bagus kok." Aku masih berusaha meyakinkan.


"Apa Alena sudah lupa kemarin Ayahmu bilang apa?" Tante Renata memotong frasanya dengan sengaja untuk menoleh ke arahku. Ia tersenyum. "Ayahmu ingin kau berubah. Apa tidak kasihan kalau membantah keinginannya?"


Tidak langsung menjawab, aku memilih untuk memalingkan wajah menghadap jendela. Kalau sudah begini aku jadi malas. Hei, apa salahnya jika aku lebih nyaman dengan penampilanku yang sekarang? Kurasa selama ini Ayah juga tidak mempermasalahkannya. Aku yakin sekali Oma dan Opa lah yang sudah mencuci otak Ayah.


"Daripada berbelanja pakaian dan make up, akan Lebih baik jika kita membeli makanan saja. Aku lapar, Tante. Berbelanjanya kapan-kapan saja. Aku tidak mood, hanya ingin makan," cerocosku dengan nada memelas. Memasang wajah bagaikan anak anjing yang kelaparan.


"Oke, kita makan dulu. Baru setelah itu belanja." Tante Renata terdengar memberi solusi.


"Tapi aku ingin makan daging sapi import, Tan. Itu mahal. Nanti tidak cukup uangnya untuk berbelanja," ungkapku sok ide tatkala mobil memasuki parkiran mall. Untung saja aku teringat dengan sebuah restoran yang menyajikan makanan import super mahal dilantai atas.


Namun, kulihat raut wajah wanita itu nampak biasa saja. Seakan itu bukan masalah besar. Setelah mobil terparkir sempurna, barulah ia kembali bersuara, "Mau Tante tunjukkan sesuatu?"


"Apa, Tan?" Jujur saja, perasaanku mendadak tidak enak.


Tante Renata meraih tasnya yang ia letakkan di jok belakang. Merogoh isi didalamnya untuk mengambil ponselnya.


"Sebelum berangkat menjemputmu, Oma sudah mentransfer uang pada Tante," ucapnya sembari menunjukkan bukti transfer sebesar delapan juta won (dibulatkan menjadi 100 juta rupiah). Membayar dua porsi daging sapi import pun tidak ada apa-apanya untuk uang sebesar itu. Bahkan, jika diibaratkan uang itu Lebih dari cukup untuk membeli daging sapi import untuk penduduk satu kecamatan kota.


Ya, Oma memang sangat berlebihan.