Remember You

Remember You
The Promise



"DOR!"


"Tidak kaget."


"Ahl Tidak asik!"


"Pergi jauh-jauh sana, Jery. Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu."


Yang digertak sontak menampilkan wajah masam. "Kenapa? Apa aku tidak terlihat tampan hari ini?"


Aku menoleh sejenak pada eksistensinya yang tengah terduduk manis di bangku Jeje, sebelum akhirnya melemparkan tatapan dongkol setengah emosi. "Iya."


Jawaban yang singkat, namun kuyakini terasa begitu menusuk batin sang empu. Terbukti dari suara decakan sebal yang kini terdengar menyapa ruang runguku. "Kau ini berdosa sekali."


"Terserah."


"Mau ke kantin bersamaku, tidak?" tawar Jery bersemangat.


"Tidak," jawabku malas.


"Kenapa?"


"Tidak apa-apa."


"Kau ini kenapa sih? Dari tadi kuamati wajahmu terlihat seperti lipatan ketiak. Tertekuk dan masam. Ada masalah?"


Saat ini aku tidak sedang dalam suasana hati yang baik. Tidak ingin banyak bicara. Tidak ingin melakukan apa-apa. Hanya ingin menghabiskan waktu sendirian dan hanyut dalam lamunan. Ingin membuat pikiran setidaknya sendikit merasa lebih tenang. Tapi mengapa Jery justru datang dan memancing sesuatu yang sama sekali tak kuharapkan untuk dipertanyakan. Itu sangat menjengkelkan.


"Kalau mau pergi ke kantin, pergi saja. Kau juga punya pacar seksimu itu untuk diajak makan bersama. Tidak usah hiraukan aku," ujarku berterus terang, meskipun sejujurnya ada rasa bersalah karena menolak tawarannya yang sepertinya memang tulus dari hati.


Menggeleng pelan, Jery lantas menyahut, "Rahel sedang diet."


Melihat ekspresinya yang berubah murung membuatku semakin dihantui rasa bersalah. Maka, aku pun memutuskan untuk merogoh saku rok untuk mengambil uang 10.000 won [+ 127.000 IDR] yang tersimpan di dalam sana. Kemudian kusodorkan uang tersebut pada Jery, membuatnya spontan menautkan kedua alisnya bingung.


"Ini untukmu. Beli apapun yang kau mau di kantin. Kalau ada sisa, ambil saja. Anggap itu adalah uang untuk membayar hutangku kemarin," jelasku seraya menarik telapak tangan Jery, lalu meletakkan uang itu di sana.


"Aku tidak mau pergi kalau kau tidak ikut." Jery mengancam. Ia bahkan mengembalikan uang itu padaku dengan air muka yang tidak santai.


"Ya sudah, terserah," ucapku ketus sembari memalingkan wajah. Kemudian memilih untuk melipat kedua tangan di atas meja dan menyembunyikan wajah tak berseleraku di sana.


"Kau hari ini aneh sekali, Al."


Entah kenapa, mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya itu sukses membuat emosi yang sedari tadi kutahan mati-matian semakin bergejolak. Tanpa alasan, aku merasa sangat tersinggung. Sentimenku sudah mencapai puncak ubun-ubun.


"Bisa diam tidak? Aku sedang tidak ingin adu bacot denganmu."


"Kau mens?" tanyanya begitu enteng, bahkan ia sempat terkekeh, seolah sedang sengaja menggoda untuk diajak bercanda. Itu tidak lucu. Andai saja ia tahu apa yang sekarang sedang mengusik pikiranku hingga rasanya kepalaku ingin pecah, aku yakin ia tak akan berani berbicara seperti itu.


"Oh! Atau jangan-jangan kau begini gara-gara Mama mengomel kemarin ya?"


"YAK! JERYCO!" teriakku sembari menendang kaki mejaku hingga meja tersebut terguncang dan terdorong jauh ke depan.


"Y-ya?" Jery langsung kikuk. Membeku di tempat duduk. "Apa aku salah bicara?"


Tak mengindahkan pertanyaannya, aku memilih untuk beranjak dari bangku. Berjalan gontai menuju ambang pintu, meninggalkan Jery tanpa sepatah katapun, bahkan tidak meliriknya sama sekali.


Aku tidak mengerti kenapa hari ini berjalan begitu lambat sekali. Waktu istirahat yang biasanya terasa cepat dan berlalu hanya dalam sekejap, kini terasa sangat lama dan membosankan.


Aku bahkan tidak tahu ke mana langkahku ini akan menuju. Tanpa arah yang pasti. Hanya mengikuti kata hati. Menyusuri lorong dan menaiki anak tangga tak peduli haluan sama sekali. Sampai akhirnya secara tak sadar aku sudah berada di rooftop gedung sekolah. Sendirian. Tapi setidaknya untuk saat ini aku bisa menghanyutkan pikiran tanpa ada sesiapapun yang mengetahui.


Menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya secara perlahan dan beralih mendongakkan kepala menuju bentang langit yang amat luas, menikmati bagaimana sinar matahari yang begitu menyilaukan itu membuat kelopak mataku kontan memicing sempit. Namun itu tak bertahan lama, sebab perlahan aku mulai merasa pusing dan pandanganku jadi berkunang-kunang.


Bodoh memang. Siapa juga yang bersedia menghadap langit untuk menyaksikan sinar matahari di pukul sebelas pagi? Kalau bukan Alena Mega Frananda, kurasa tidak ada yang sudi.


Sepersekian detik kemudian, kuambil ponsel di saku dada. Lantas membuka casing pelindungnya dan menemukan sebuah foto polaroid kecil yang terlihat sudah kusam termakan usia.


Aku tersenyum sejenak sebelum akhirnya menaruh atensi sepenuhnya pada foto yang sukses membuat memori masa laluku terngiang kembali dalam benak. Itu adalah foto yang diambil saat perayaan ulang tahunku yang keempat. Di foto ini terlihat aku yang sedang meniup lilin berangka empat, juga ada Ayah dan Ibu di sampingku yang mengulas senyum lebar sambil bertepuk tangan. Kami bertiga sama-sama menggunakan kostum dan bando kelinci yang lucu sekali. Sampai akhirnya aku tersadar bahwa ini adalah foto terakhirku merayakan ulang tahun bersama Ayah dan Ibu.


Jika ditanya tentang apa keinginan terbesarku saat ini, aku akan lantang menjawab, aku ingin bertemu Ibu, memeluknya, dan bercerita bagaimana kecewanya aku dengan Ayah yang mengingkari janjinya untuk setia.


Katakan jika aku terlalu egois. Tapi anak mana yang tidak kecewa melihat Ayahnya bercinta dengan wanita lain, padahal ia sudah berjanji untuk mencintai istrinya sampai mati. Tidak akan berkhianat, tapi ujung-ujungnya juga tetap berkhianat. Diam-diam bercinta dengan wanita lain. Mengaku kesepian dan mengucapkan ratusan kata-kata penyesalan terhadap anaknya yang sudah terlanjur kecewa. Jika melihat ini, apakah Ibu juga akan menangis karena merasa dikhianati?


"Kau menangis?"


Tubuhku terperanjat hebat begitu suara bariton tersebut mengudara secara tiba-tiba. Lekas aku berbalik badan dan mendapati eksistensi Jery sedang berdiri tepat di hadapanku.


"K-kau mengikuti?" tanyaku gelagapan seraya cepat-cepat menyeka air mata dengan jemari tangan. Aku tak mau terlihat menyedihkan di depannya.


Jery mengangguk, sebelum akhirnya menjawab, "Kau tampak seperti orang yang tak punya semangat hidup, jadi aku mengikutimu karena takut terjadi sesuatu padamu."


"Berlebihan bagaimana maksudmu? Sekarang aku bertanya, kenapa kau ada di rooftop gedung sendirian kalau tidak sedang merencanakan bunuh diri?" Pria itu berjalan mendekati presisiku. Mensejajarkan tubuh, kemudian menatap kedua bola mataku Lekat. "Ada masalah?"


Aku menggeleng pelan.


"Kau boleh bercerita jika memang itu akan membuatmu merasa tenang. Tidak semua bisa dipendam sendirian."


"Aku tidak apa-apa. Bersikap seperti biasa saja, Jery. Aku tidak nyaman dengan perhatianmu sekarang," tandasku sembari membuang muka. Kurasa batinku semakin tertekan jika hal ini tetap diteruskan. Sekarang jantungku tengah berdegup tak karuan.


"Kenapa? Aku hanya tidak ingin melihatmu seperti ini. Jujur saja, aku lebih suka Alena yang bar-bar daripada Alena yang tiba-tiba diam tanpa sebab," ungkapnya sebelum akhirnya beralih mengambil sesuatu dari dalam saku celananya.


"Ini kalungmu, aku kembalikan."


Tanganku refleks mengatung sebab kukira Jery akan memberikannya padaku. Ternyata salah. Jery justru membawa langkahnya semakin dekat dengan tubuhku. Kemudian tanpa permisi mulai melingkarkan kedua tangannya pada leherku.


"Apa yang kau Lakukan?!"


"Sssttt... Diamlah. Aku sedang berkonsentrasi memasang kalung di lehermu," jawabnya dengan wajahnya yang kini berada sejajar dengan telinga kananku. Aku bisa mendengarkan suara deru napasnya yang teratur. Dan itu membuatku semakin merasa tak karuan. "Aku bisa melakukannya sendiri."


Tak!


Sebuah sentilan yang cukup keras mendarat tepat di tengah dahiku. "Terlambat, celetuknya dengan tangan yang kembali merogoh saku celananya. Kali ini ia menyodorkan secarik kain tipis berwarna coklat. Aku tak yakin, tapi sepertinya itu adalah sebuah sapu tangan.


"Seka air matamu dengan ini. Sebentar lagi bel masuk akan berbunyi, kita harus segera kembali."


Aku menggeleng pelan, mengisyaratkan penolakan.


"Kenapa?"


"Pasti bekas ingusmu," sahutku lirih sekali.


Jery terkekeh, "Fitnah. Padahal aku baru mencucinya kemarin. Gih, cepat pakai."


Segera aku mengambil alih sapu tangan tersebut dari tangannya, lalu mulai menyeka air mata yang masih setia membendung di pelupuk mata.


"Sebenarnya aku berbohong. Sapu tangan itu belum dicuci dan aku menggunakannya untuk mengelap mejaku yang kotor tadi."


Plak!


"KUDA SIALAN!!" raungku sambil memecut lengannya dengan sapu tangan. Apa aku baru saja mengalami sebuah penipuan dan kejahatan sosial?


"Aaaah!!! Sakit. Ampun-ampun!!"


Melihatnya tengah meringis kesakitan, aku langsung menghentikan aksiku.


"Lihat! Kau baru saja mengumpatiku. Jiwa bar-barmu telah kembali. Apa kita perlu merayakannya?" tanyanya menggoda sambil tertawa kecil.


"Tidak Lucu, Jery."


"Lucu kok. Buktinya aku tertawa." Ia sengaja menunjukkan jajaran gigi kelincinya.


"Terserah."


Tiga detik kemudian, Jery secara tiba-tiba mengangkat jari kelingking kanannya.


"Kenapa?" tanyaku keheranan.


"Mau berjanji padaku tidak?"


"Apa?"


"Berjanji untuk tidak akan lagi menangis di depanku."


Aku mendecih pelan, "Kenapa aku harus berjanji? Ini tubuhku, jadi aku berhak untuk menangis sekalipun kau harus melihatnya."


"Aku tidak suka."


"Katakan saja alasannya. Jangan bertele-tele," pintaku.


"Tidak ada alasan. Aku juga tidak tahu kenapa aku memintamu untuk berjanji padaku seperti ini," terang Jery.


"Oh."


"Jadi bagiamana?" Jery menaik-turunkan kedua alisnya, memasang ekspresi haus jawaban. "Kelingkingku sudah mulai terasa keram."


Aku mengangguk, kemudian mulai mengembangkan senyum manis dan membalas tautan pada jari kelingkingnya.


Ia juga membalas senyumku dan berkata, "Mulai hari ini kita adalah teman baik."