Remember You

Remember You
The Gift



Kedua manik jelagaku tengah menatap kosong pantulan tubuh dibalik kaca vanity. Sedang mencari sesuatu yang sekiranya bisa dikoreksi dari tubuhku ini. Namun, nyatanya aku tidak bisa menemukan itu sama sekali.


Aku selalu menjadi diriku sendiri. Tetapi, entah mengapa, isi kepalaku jadi sangat rumit. Tidak biasanya aku ambil pikir dengan apa yang telah terjadi seharian ini.


Bersamaan dengan itu, suara deritan pintu yang dibuka pun lekas mengudara. Menampilkan sosok pria dewasa dengan sepiring semangka potong ditangan kanannya. Ia mematri senyum manis. Kemudian berjalan mendekati presisiku yang masih sibuk bercermin.


"Putri Ayah sedang apa?" tanyanya menaruh uperhatian sembari mulai meletakkan piring tersebut diatas nakas dekat ranjang. Aku meenyerongkan sedikit tubuhku untuk menghadapnya. Lalu menggeleng singkat sebagai jawaban skeptis yang ku berikan.


"Alena berbohong," ia mencebik, "Alena paling tidak bisa berbohong dengan ayah"


Pria itu adalah Lucas Zander Frenando, Ayahku.


"Tidak apa-apa, sungguh" ucapku berusaha meyakinkannya. Tak berselang lama, aku menyusul Ayah yang duduk di bibir ranjang. Ia merentangkan kedua tangannya lebar agar aku bisa menghamburkaan pelukan terhadapnya. Nyaman sekali, Ayah adalah satu-satunya orang yang meengerti diriku dengan baik. Sekalipun aku tidak pernah memberi tahu dan terus mencoba menutup diri.


Ayah menghela nafas panjang, "Bagaimana harimu? apakah menyenangkan belajar disekolah baru?"


"Tidak menyenangkan sama sekali" aku lekas mendongak. Saling bertatapan dengan Ayah.


"Apa ada yang mengganggu putri ayah? jelaskan, ayah akan mendengarkan semuanya" cetus ayah bersemangat.


Lima detik setelahnya, aku melepaskan pelukan secara sepihak. Lalu mengambil posisi berdiri tepat didepan ayah sambil berkancah pinggang. Tidak lupa melempar air muka masam.


"Pertama, orang-orang itu--"


"Orang-orang itu?" sela ayah dengan cepat. Ia tidak peka.


"Penghuni kelas," ralatku tidak kalah cepat. Ayah ber'oh' ria seraya menaikkan sebelah alisnya tinggi, bermaksud memintaku untuk lanjut bercerita.


Aku menarik napas dalam sebagai ancang-ancang. "Pertama, orang-orang itu memberi tatapan aneh padaku, lalu berbisik-bisik dibelakangku. Kedua, ada siswa yang melempar pertanyaan sarkas tentang penampilanku. Dan yang ketiga, ada siswi kelas lain yang mengira aku ini adalah seorang laki-laki. Aku kesal sekali!"


Ayah mengangguk-anggukan kepalanya paham. Beralih mengambil satu potong semangka dan menjejalkannya kedalam mulut, sebelum akhirnya berkata "Coba berputar"


Aku menuruti perintahnya. Berputar pelan sementara ayah tengah menilik penampilanku. Ia berpangku pada tangan. Dahinya mengernyit. Ayah sedang memberi penilaian.


"Mereka tidak salah juga sih" Aku melotot kaget mendengar kalimat itu. Namun, ayah segera tertawa kecil agar aku tidak tegang "Potongan rambutmu pendek, mirip laki-laki. Gayamu berpakaian terlalu boyish. Postur tubuhmu terlalu kekar untuk ukuran wanita. Lalu caramu berdiri dan berjalan seperti preman. Dudukmu bahkan megangkang. Tidak lemah gemulai sama sekali"


Apakah Ayah sedang mengejekku juga?


"Ayah--"


"Sebentar!" tukasnya mendadak "Ayah ada telepon"


Ia segera mengambil ponselnya yang tersimpan di dalam saku piyama. Lantas menunjukkan layar berisi notifikasi panggilan itu padaku. "Ayah akan mengangkat telepon, Impportan bussines"


Beberapa detik kemudian ayah bangkit dari duduknya, pun beralih mengecup pucuk kepalaku singkat. "Habiskan semangkamu, lalu cepat tidur!"


Aku hanya berdehem sesaat sebeluk ayah melenggang keluar kamar. Kesal rasanya, orang itu menelpon disaat yang tidak tepat. Padahal aku sudah siap dengan kepalan tangan untuk membogem perut buncit milik ayah. Tuhan memang sedang berbaik hati padanya.


"Oke. Alena, tarik napas...buang.."


Ah! bicara soal 'berbaik hati' aku jadi teringat Paman Melvin.


Setelah mengantarku sampai didepan rumah, ia memberiku sebuah hadiah. Katanya spesial dan membukaanya pun harus pakai hati.


Aku pun segera berlari-lari menuju meja belajar-- tempat dimana hadiah tersebut kini berada. Menarik kursi, kemudian mendaratkan pipi bokong sedikit tergesa. Lantas mulai membukanya dengan penuh kehati-hatian hingga isi diidalamnya terintip netra.


Detik itu juga mataku berbinar terang. Paman Melvin memberiku sebuah jam tangan mewah berwarna hitam. Rolex Datejust Diamond, yang terkenal sangat mahal. Aku langsung mencobanya. Terlihat sangat cocok melingkari pergelangan tanganku yang kecil ini.


Tidak hanya itu, Paman Melvin juga memberikan hadiah lain yang tidak kalah menarik. Bahkan spontan membuat kedua alisku tertaut sempurna. Sebuah boneka robot berwarna putih, apa maksudnya?



Tingg!


Dering notifikasi pesan itu sukses mengintrupsiku. Aku lekas beranjak menuju ranjang untuk mengambil ponselku. Rupanya pesan dari Paman Melvin. Kebetulan sekali.


Baru kali ini aku tahu ada orang yang memberi hadiah tapi dengan santainya menyebut harga.


📤 Jam tangannya bagus, tapi robotnya seram.


📥 Kenapa seram? Robotnya kan lucu     


📤 Iyadeh...makasih ya Paman. Kapan-kapan kasih hadiah apartemen. Mobil mewah juga boleh"                        


Sepersekian detik setelahnya, Paman Melvin meminta sebuah panggilan video. Ku rapikan cepat rambutku yang sedikit berantakan sebelum akhirnya mengangkat panggilan tersebut sambil memasang wajah jutek. Berpura-pura kesal biar tahu rasa. Kepnakannya ini sudah besar kok masih diberi hadiah mainan.


"Wajahmu terlihat seperti lipatan pantat ayam"


Sialan!


"Paman ini kurang kerjaan sekali membuang-buang uang untuk beli mainan" nada bicaraku ketus sekali.


Kulihat dari kayar ponsel, paman sedang menutup mulutnya. Seperti sedang menahan tawa. Terlihat dari tulang pipinya yang terangkat naik.


"Itu bukan robot biasa. Paman akan tunjukkan sesuatu"


Paman mengalihkan panggilan video ke kamera belakang. Ternyata ia sedang berada dimeja kerjaanya dengan sebuah laptop yang menyala.


"Lihat baik-baik"


Mataku memicing. Kualitas video itu tidsk terlalu bagus. Yang ku tangkap dari layar ponselku. Paman Melvin sedang membuka sebuah aplikasi dengan kursornya.


Dan satu detik berikutnya, aku sukses dibuat melotot dengan sempurna.


"Wah Alena! sepertinya kau harus menjauhkan robot itu dari dadamu. Jantung Paman tidak kuat melihatnya"


Konyolnya lagi, aku memang sedang mendekap robot sialan itu.


"Dasar paman cabul!" ku lempar robot sialan itu menjauh. Tangan kananku sontak menyilang didepan dada.


"Jangan dibanting! itu mahal. Paman akan menjelaskan semuanya"


Aku mengangguk curiga.


"Didalam mata robot itu ada chip kamera yang terhubung langsung dengan laptop paman. Chip itu bisa merekam video dan suaramu"


Ini gila! "Paman memata-matiku?"


"Bukan memata-matai. Tapi mengawasi"


"Awas saja, aku mengadu pada ayah" ujarku menggertak. Namun paman Melvin malah meringis seolah tidak merasa takut sama sekali.


"Adukan saja. Lagipula kami sudah sepakat dengan itu. Letakkan robotnya dekat meja belajar. Tempat strategis. Paman bisa memantau mu dari kejauhan dengan leluasa"


"Ayah?"


"Iya, ayahmu akan lebih sibuk setelah ini. Ia memintaku untuk mengawasimu seharian. Katanya kau ini sedikit bandel. Ayo, cepat letakkan dimeja belajarmu"


Mendengus kasar, aku pun lekas beranjak dari ranjang. Memungut robot hantu yang tergeletak di lantai, sebelum akhirnya ditempatkan sesuai titah Paman. Kalau sudah menyangkut Ayah, aku tidak berani menolak sedikitpun.


Ayah memang posesif. Tapi, tidakkah ini keterlaluan? sampai-sampai harus melibatkan paman Melvin didalamnya.


"Alenaa"


Lamunan sesaatku buyar. Pandanganku kembali ke arah layar ponsel. Pria itu sedang mengacungkan jempolnya tinggi sambil mengulas senyum keki.


"Mulai malam ini Alena tidak boleh ganti pakaian didalam kamar. Nanti Paman bisa mimisan. Sekian"