
Hari ini, tepat di saat bel masuk setelah istirahat berbunyi, ada sebuah berita menyenangkan yang membuat kami seisi kelas bersorak gembira, namun pada waktu yang sama kami juga mengeluh tidak suka.
Itu adalah di mana guru matematika yang seharusnya mengisi jadwal mapel memberi informasi jika para guru akan melakukan rapat penting sampai jam sekolah berakhir. Akan tetapi, guru matematika itu sepertinya tipe manusia yang suka meninggalkan jejak sebelum pergi.
Buktinya, sebelum ia berjalan meninggalkan kelas, ia masih sempat-sempatnya berkata, "Daripada kalian menganggur, jadi Ibu beri kalian tugas untuk mengerjakan soal-soal di buku paket halaman 150-175. Kerjakan di buku tulis. Dikumpulkan besok lusa saat pertemuan matematika berikutnya."
Setelah itu, seisi kelas jadi sangat berisik. Semua grasak-grusuk tidak jelas. Ada yang pergi ke sudut ruang untuk melakukan ritual ghibah masal. Ada yang bergegas mengeluarkan ponsel untuk bermain game. Ada yang keluar kelas sebentar, Lalu kembali dengan tangan yang dipenuhi oleh makanan ringan dan minuman kaleng seperti kantin berjalan. Bahkan ada yang sudah tidur dengan nyenyak di bawah kolong meja. Padahal suasana kelas hampir tidak ada bedanya dengan pasar saking riuhnya. Sementara seonggok daging di sampingku ini justru membuka buku paketnya dan mulai mengerjakan dengan mimik kelewat serius. Siapa Lagi kalau bukan Jessica?
Ah! Membosankan. Sepertinya di kelas ini memang tidak ada yang sefrekuensi denganku. Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan.
Well, sepertinya keputusan itu tidak terlalu buruk. Di sini benar-benar sepi. Tidak ada orang sama sekali. Bahkan pustakawannya saja terlihat tengah nyenyak tidur bersedekap alih-alih menjaga perpustakaannya. Cocok sekali dengan diriku yang suka ketenangan.
Aku pun segera berjalan menuju rak buku paling belakang dengan pencahayaan sedikit redup. Kemudian menyumpal kedua telinga dengan earphone. Menyetel lagu klasik yang menenangkan. Mengambil sebuah novel bertema dark phantasy dan membacanya sambil bersandar di tepi rak. Sedang berkhayal menjadi manusia misterius yang suka menyendiri dengan kepribadian elusif. Padahal tidak ada yang peduli sama sekali.
Namun, hal itu tak berlangsung lama sebab ada sosok makhluk bumi yang tiba-tiba muncul entah dari mana, lalu tanpa permisi menarik earphone kananku hingga terlepas dan memasangnya pada telinga kanannya. Mataku membola sempurna saat menyadari bahwa kini jarak wajah kami sangatlah dekat. Deru napasnya terasa sepoi-sepoi menyapu wajahku yang tengah menegang.
"Wah, Alenaa... ternyata selera musikmu bagus juga," pujinya seraya mulai memejamkan mata. Seakan tengah menikmati alunan musik yang tengah menyapa ruang rungunya.
Aku yang semakin gugup lantas segera melepaskan earphoneku dari telinganya, kemudian mendorong tubuhnya agar sedikit menjauh.
"Sedang apa kau di perpustakaan sendirian begini?" tanya makhluk bumi itu santai sekali.
"Oh, aku sedang berenang menyeberangi Laut Antartika sambil mencari penyu," jawabku dengan nada setengah dongkol.
Seolah tidak percaya dengan jawabanku barusan, ia memiringkan kepalanya 30° ke kiri sebelum akhirnya kembali bertanya, "Benarkah? Kulihat bajumu tidak basah."
Spontan, jemariku yang Lentik ini melayang tepat di tengah jidatnya.
Tuk!
Sebuah sentilan yang lumayan keras berhasil mendarat di sana. Membuat si empu meringis kesakitan sambil mengelus-elus jidatnya yang kini terlihat memerah.
"Sudah tahu lagi di perpustakaan, pakai nanya segala," ujarku menjeda kalimat, beralih menunjukkan novel padanya, "apa kau juga tidak lihat sedari tadi aku membaca novel?"
Dua detik setelahnya, ia mengambil novelku. Kemudian membaca judulnya sekilas dan membolak-balik isi halamannya secara cepat. "Hei, Alena. Kau ini sudah kelas 12, bukannya cari bacaan tentang pelajaran malah baca novel-novel seperti ini. Buat apa sih? Mau berkhayal jadi gadis yang disandera oleh pria kekar berwajah rupawan dan memiliki kekuatan super?"
Hmm, tidak salah juga sih. Daripada belajar, aku Lebih memilih disekap oleh om-om kaya bergelimang harta.
"Memang kau sudah mengerjakan tugas matematika?"
Aku menggeleng, "Belum. Besok saja. Lagipula pengumpulannya juga lusa. Masih lama."
"Jangan suka menunda-nunda pekerjaan," kata pria itu sok bijak.
"Kalau bisa besok, kenapa harus sekarang?" tanyaku setengah meledek. Lalu beralih untuk merebut kembali novel dari genggamannya. Aku masih ingin membacanya. Tetapi, makhluk bumi itu malah mengangkat tangannya yang sedang memegang novel tinggi-tinggi.
"Kembalikan novelnya!" Kedua kakiku ber jinjit. Berusaha menggapainya.
"Tidak sebelum mengerjakan matematika," elaknya sambil ikut berjinjit. Sengaja sekali. Tubuhku yang jauh lebih pendek ini semakin sulit untuk menggapainya.
"Coba saja kalau bisa." Ia meledek.
Aku masih tidak menyerah. Bahkan kini aku harus berjinjit sambil melompat agar bisa mengambil novel itu dari tangannya. Namun, sesuatu yang tak terduga pun terjadi saat kakiku tak sengaja menginjak sepatunya. Aku kehilangan keseimbangan atas tubuhku. Kedua tanganku spontan mengalung pada lehernya. Kukira aku akan berhenti sampai di situ. Ternyata tidak.
Ia juga kehilangan kendali atas tubuhnya. Dan...
Bruk!
Kami berdua jatuh di lantai dengan posisi saling tindih. Ia jatuh terlentang, sementara aku berada di atas tubuhnya.
Tapi kurasa itu bukanlah masalah utamanya, sebab kini ada sesuatu yang terasa begitu kenyal menyentuh ujung bibirku.
Kedua kelopak mataku yang tadinya refleks memejam sebab akan jatuh pun perlahan mulai kubuka. Dan betapa terkejutnya aku saat mendapati bagaimana kondisi kami berdua saat ini.
Kedua bola mata kami saling bersirobok. Baik aku maupun dirinya tetap berada di posisi yang sama seakan membatu dan tidak tahu harus bagaimana.
Aku ragu mengatakannya, tapi sekarang ini bibir kami berdua saling menempel dengan tidak sengaja. Apa ini bisa dikatakan sebagai sebuah ciuman?
Sialan Keperawanan bibirku direnggut dengan sangat tidak terhormat.
Buru-buru aku beranjak dari posisi akward tersebut. "M-maaf. Aku tidak sengaja. Sumpah demi Tuhan"
Jangan ditanya sesalah tingkah apa diriku saat ini. Bahkan aku langsung membelakanginya tanpa menolongnya sama sekali.
"Minta maaf yang benar. Kau baru saja melecehkanku dengan menciumku"
"Sudah kubilang aku tidak sengaja," ungkapku memberi penekanan di setiap kata, lalu membalik badan ke arahnya dan mendapatinya tengah membersihkan seragam bagian belakangnya yang terkena debu lantai.
"Maaf," ucapku Lirih nyaris berbisik.
"Terdengar tidak ikhlas."
Bukannya menerima permintaan maafku, ia malah melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyandarkan bahu kirinya di rak buku. "Kecelakaan seperti apa? Kecelakaan itu banyak jenisnya. Jadi minta maaflah dengan menyebutkan keselahan yang spesifik agar aku mau memaafkanmu."
Wah, manusia ini benar-benar minta disunat dua kali.
Memilih untuk tidak menggubris perkataannya, aku pun berniat untuk berjalan pergi. Namun, ia lebih cepat menahan pergelangan tanganku. "Kalau kau tidak minta maaf dengan sungguh-sungguh, kau akan kulaporkan BK atas kasus pelecehan."
"Tapi aku tidak sengaja, bang-"
"Kuhitung sampai tiga. Satu... Dua... Dua seperempat... Dua setengah... Dua-"
"Aku benar-benar minta maaf karena tidak sengaja menciummu barusan. Puas, Jery?"
Ia menggeleng, "Belum. Ada satu syarat lagi agar kau aman dari Laporan BK."
Mendengus sebal, aku pun lekas bertanya dengan nada sehalus mungkin, "Apa? Bisa katakan sekarang? Aku malas berdebat denganmu."
"Oke." Jery lantas mencekal pergelangan tanganku, sebelum akhirnya membawaku ke sebuah ruangan lain yang ada di perpustakaan. Ia menarik satu kursi, kemudian mendudukkan di sana, sementara ia juga melakukan hak yang sama pada dirinya. Kami berdua duduk berhadapan di sebuah bangku tempat di mana anak-anak biasa membaca buku.
"Temani aku mengerjakan tugas matematika," ungkapnya sambil membuka buku paketnya yang entah sejak kapan susah berada di bangku ini. Mungkin pria itu datang ke perpustakaan sengaja untuk mengerjakan tugasnya.
"Baiklah, aku akan temani," kataku seraya hendak memasang earphone di telinga.
"Siapa yang menyuruhmu memakai earphone?" tanyanya dengan intonasi tegas.
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Duduk diam di situ," jawabnya dengan tampang tanpa dosa.
"Oke-oke!"
Lantas aku pun mencari posisi ternyaman. Berpangku tangan sambil memfokuskan pandangan pada presisinya yang kini mulai menggoreskan jawaban di atas buku tulis. Ya, semoga saja aku tidak bosan menunggunya sampai selesai mengerjakan. Demi menjaga nama baik dari catatan BK, aku harus rela mengalah, setidaknya untuk kali ini saja.
"Bagaimana keadaan lututmu? Masih sakit?" Jery melirikku sekilas, sebelum akhirnya membaca soal di bukunya.
"Tidak. Lukanya sudah mulai mengering," sahutku apa adanya.
"Maaf. Seharusnya aku tidak sok ide mengajakmu mencari Mystery Boxnya di hu_"
"Bagaimana dengan Rahel?"
Mulut sialan! Kenapa malah refleks bertanya tentang gadis itu sih?
"Dia sedikit terkejut. Hari ini ia juga tidak masuk karena tubuhnya demam. Mungkin karena terkena hujan saat camping."
Aku menanggapinya dengan anggukan.
"Ternyata Rahel mengikuti kita masuk ke hutan. Ia kira aku sedang berselingkuh denganmu."
"Lalu?"
"Aku menyangkalnya. Aku bilang padanya kalau kita berdua cuma teman."
Oke, Lagi-Lagi aku disadarkan dengan kenyataan bahwa kita berdua hanya teman.
"Waktu aku menemukannya, ia menangis sesenggukan. Maklum, Rahel itu sedikit manja. Ia gampang takut. Beruntung aku bisa memenangkannya dengan caraku sendiri."
Asal ia tahu saja, aku berada di belakangnya saat itu. Mengintip dari balik pohon.
Tanpa ia menjelaskan pun aku juga tahu bahwa caranya menenangkan Rahel yang tengah menangis ketakutan adalah dengan memeluk dan mengecup manis bibir ranumnya.
"Sudah-sudah. Jangan bahas Rahel terus. Cepat selesaikan matematikanya," titahku seraya menunjuk dagu ke arah bukunya. Ia mengangguk, lalu kembali fokus mengerjakan.
Hampir sepuluh menit berlalu, dan yang kulakukan hanyalah menatapnya yang tengah fokus mengerjakan. Ia bahkan tidak berniat untuk mengajakku berbicara. Aku tidak mempermasalahkannya. Sebab, entah kenapa hanya dengan menatapnya seperti ini membuatku merasa tenang.
Raut wajahnya terlihat serius. Kedua bola pendarnya terkunci pada angka-angka tanpa sedikitpun merasa jenuh. Ujung penanya ia kulum, sementara jemari di tangan kirinya tengah sibuk menghitung.
"Apa aku setampan itu sampai dari tadi kau tidak berpaling dariku?" Pertanyaan itu sontak membuyarkan pandanganku. Segera aku memalingkan wajah sebab mendadak salah tingkah.
"Jangan menatapku terlalu lama, nanti kau jatuh cinta," imbuhnya diiringi dengan kekehan pelan.
"Jangan mimpi!!"
"Berani taruhan?"
"Jangan diteruskan. Sana."
"Kalau kau sampai jatuh cinta denganku, akan kubuat kau tersiksa karena tidak bisa lepas dari pesonaku."