
Dahulu sekali, saat masih terlalu dini untuk mengerti, aku begitu percaya dengan kisah dongeng dimalam hari. Tentang lingkar kehidupan yang penuh afeksi. Dimana kita bebas untuk mengutarakan ekspresi. Tertawa riang sambil berlari girang kesana kemari. Tanpa pernah sekalipun menyangka ada segelintir getir yang kapan saja siap datang menghampiri.
Kala itu memang cukup payah. Terlampau lugu untuk tahu. Pun masih singkat akal untuk memahami bahwa semua itu hanyalah karangan fiksi. Karya imaji yang tidak selalu berakhir indah sesuai ekspetasi.
Beberapa tahun yang lalu, disaat usiaku baru saja menginjak lima tahun. Tergambar begitu jelas kebahagiaan dari raut wajah manis yang amat di elu-elu. Masih teringat dengan baik, saat itu aku memakai baju pesta berwarna putih salju, rambut panjang yang diurai sampai bahu, hingga sebuah topi kerucut yang diletakkan diatas kepalaku. Duduk bersila dengan mata berbinar terang. Menantikan ibu yang tengah mematikan api pada sumbu lilin berangka lima.
Rinai hujan menjadi pengiring semu nyanyian ulang tahunku yang terkesan sedikit sendu. Hanya ibu dan aku yang merayakannya. Ayah tidak bisa ikut bergabung karena ada suatu hal yang perlu diselesaikan.
Ibu memintaku untuk memanjatkan doa didetik-detik terakhir sebelum meniup lilin. Aku menurutinya dan segera berdoa kepada Tuhan jika aku ingin ayah pulang, sehingga kami bertiga bisa merayakannya bersama-sama. Tidak apa-apa meskipun datang terlambat, aku tidak mempermasalahkan itu sama sekali. Dan hal yang sama juga ibu lakukan, ia berdoa, namun aku tidak tahu apa doa yang sedang ia panjatkan. Ia menangis diam-diam. Kemudian tersenyum aneh saat ia sadar aku memandangnya keheranan.
"Selamat ulang tahun putri ibu yang cantik. Maaf ya, ayah tidak bisa datang sesuai janjinya kemarin. Tetapi jangan sedih, ibu sudah mempersiapkan hadiah yang luar biasa untuk putri ibu yang cantik ini."
Kupikir 'Hadiah luar biasa' yang ibu maksud adalah hadiah boneka atau semacamnya. Ternyata salah. Aku tidak pernah menduga ini sebelumnya.
Ibu memberiku sebuah gelas berisi air dengan warna cukup keruh. Baunya sedikit menyengat dan tidak asing. Ia memintaku untuk meminumnya sampai habis. Rasanya sangat pahit dan aku meneguknya sampai tetes terakhir.
Tidak membutuhkan waktu lama hingga aku tersadar ada yang janggal dari minuman tersebut. Itu bukan obat atau suplemen yang bisa membuatku berubah menjadi kuat. Aku tumbang, tenggorokanku sakit sekali. Tubuhku kejang-kejang. Aku berusaha meminta tolong pada Ibu, namun Ibu malah berjalan menuju nakas tempat tidur. Menangis keras sambil sesekali melirikku yang berusaha memanggil namanya berulang kali.
DOR! Ibu menembak kepalanya sendiri, pecah. Semua isi dalam kepalanya keluar.
Dan sejak saat itu aku menjadi trauma berat.
Bahkan hingga usiaku tujuh belas tahun, memori itu masih tersimpan begitu baik dalam brankas ingatan. Menyajikan sisi kelam yang selamanya tidak akan pernah bisa untuk dilupakan. Terlalu sakit, sampai aku tak mampu lagi menggambarkan bagaimana wajah Ibu yang tersenyum manis penuh kehangatan. Hanya momen dimana ia membunuh dirinyalah yang selalu terbayang dalam angan.
Hidupku berubah seratus delapan puluh derajat setelah kepergian Ibu. Aku sempat dinyatakan koma untuk beberapaa hari, minuman yang ku teguk adalah cairan racun serangga. Pun dewasa ini aku baru tersadar bahwasanya 'Hadiah luar biasa' yang dimaksud Ibu adalah kematian. Ia ingin mengajakku mati bersamanya dengan cara yang berbeda.
Aku tidak pernah marah terhadap Ibu, meskipun aku berhak untuk itu. Tidak ada yang tahu apa alasan pasti sampai ia nekad mengakhiri hidupnya dengan cara setragis ini. Semua memilih bungkam tak acuh hingga seiring berjalannya waktu kasus Ibu seakan mulai dilupakan tanpa adanya titik terang sama sekali. Justru hal tersebut mebuatku semakin yakin jika ada satu hal besar yang memang sengaja disembunyikan.
Saat usiaku enam tahun Ayah dipindah kerja ke Amerika untuk mengurus cabang Luar Negeri dari perusahaan IFC OFFICE TOWER. Oma dan Opa -orangtua Ayah- juga memaksaku untuk ikut dengannya, walaupun saat itu aku sudah menolaknya berulang kali hingga tenggorokanku meradang. Aku juga dituntut untuk bersekolah dengan sistem homescooling dari TK sampai kelas dua bangku SMA. Pergaulanku dibatasi dan Ayah hanya diam saja. Masa kecilku hilang dan aku tidak bahagia seperti anak-anak diluar sana.
Entah angin dari mana, pada akhirnya opa meminta Ayah untuk kembali ke Korea. Bukan tanpa sebab, ada kursi Direktur kosong yang harus segera diisi olehnya.
"Alena Mega Frananda. Kalian bisa memanggilku Alena. Aku harap kita semua bisa segera akrab"
Semua memandangku penuh atensi. Ada yang berbisik-bisik lirih. Ada juga yang langsung melempar tatapan mengintimidasi. Segalanya masih terasa asing dengan kehadiranku sebagai siswi baru disini.
Beberapa menit berselang hingga seluruh perhatian teralihkan oleh sebuah tangan yang mengacung tinggi. Dia seorang anak laki-laki. Duduk dibangku pojok nomer dua dari belakang sambil menyunginggkan sudut bibirnya.
"Seonsaeng-nim bukankah disekolah ini aturannya seorang siswi tidak boleh berpenampilan seperti laki-laki? dan begitu juga sebaliknya?"
Guru Debora, ibu guru cantik yang sedari tadi menemaniku untuk memperkenalkan diri lantas memberi senyum simpul. "Budaya Amerika dan Korea itu berbeda. Jadi, tugas kalian adalah membantu Alena mencapai standarisasi aturan disini. Kalian mengerti?" Semua kompak menganggukkan kepalanya konstan sebagai bentuk pengindahan. Tidak ada yang berani berkutik setelahnya.
"Baik, Alena, tempat dudukmu ada disudut paling belakang" Guru itu mengarahkan telunjuknya pada bangku yang terletak seakan diujung dunia. Aku mengangguk paham, lalu melangkah maju.
Semua masih terasa normal sampai akhirnya sebuah kaki jenjang menghadang jalan -menghentikanku dengan sengaja. Aku mungkin saja terjungkal ke depan jika tidak memperhatikan langkah dengan baik. Kaki panjang seperti kuda itu rupanya milik laki-laki yang tadi melontarkan pertanyaan sarkas untukku.
Sebelah alisku terangkat tinggi. Bertanya melalui ekspresi. Netra kami juga sempat bertemu sepersekian detik sebelum ia memalingkannya menuju gadis yang duduk tepat disampingnya.
"Cupu, kau saja yang duduk dibelakang" ia berbicara padaa gadis itu, namun sayangnya ditolak mentah-mentah dengan gelengan kepala "Ayolah! aku ingin duduk dengan si tomboy ini"
Mendengar caranya berbicara membuatku memutar bola mata kesal. Jangan lupakan jika kaki kudanya masih menahan langkahku yang tidak bergerak.
"Cupu-"
Rasanya sudah tidak tahan. Jemariku lantas mencengkram kerah lehernya, lalu kutarik ke atas untuk memaksanya berdiri. Ransel hitam yang tergeletak di kursi duduknya kemudian ku lempar menuju bangku belakang yang seharusnya menjadi tempatku. Laki-laki itu sontak mencelos ketika tanpa ijin aku menduduki kursinya, sementara ia kini tengah mendengus kesal karena terpaksa harus duduk disana. Tidak peduli lagi dengan puluhan pasang mata yang menatap kami tak percaya.
"Kau sial-"
"Berisik!"