Remember You

Remember You
The Team Work



"Jangan pikir karena aku memberimu tumpangan, aku suda melupakan kejadian tadi pagi dilapangan"


Jery beringsut mulai menyodorkan helm bogo hitamnya padaku. Wajahnya masam, kentara tidak ikhlas.


"Kalau begitu" Ujarku sembari mendorong sodoran helm itu kembali padanya "Aku bisa naik taksi ke rumahmu, lagi lula kenapa harus kerumahmu sih mengerjakan tugasnya? kenapa tidak di caffe saja sekalian ngopi sore?"


Jery mendecak kesal, kemudian menurunkaan kembali standar motornya. Sempat mendengus pelan sebelum akhirnya turun dari motor ninjanya dengan sangat elegan.


"Wah!!" Ia mengusap kasar wajahnya "Ternyata si timboy ini banyak maunya ya?"


"Kenapa? Memangnya salah?" Aku menyolot, tidak mau kalah pastinya.


"Deadline pengumpulan tugas itu lusa, kalau kita mengerjakannya di caffa, kapan selesainya? lagipula kau ini anak homescooling, tahu apa soal kerja tim?" tanyanya setengah meledek, lalu menyodorkan helm bogo itu padaku yang kedua kalinya.


Ya, yang si kaki kuda ini katakan ada benarnya juga. Selama ini aku hanya serinh menonton film atau drama populer, dimana mereka menjadikan caffe sebagai tempat mengerjakan tugas. Memantengi laptop sambil menyeruput secangkir kopi hangat. Ku pikir itu asyik. Tapi Jery mematahkannya begitu saja.


"Cepat pakai helmnya" Titah Jery. Aku menurut. Namun, sepersekian detik setelahnya ku lihat ia mulai menurunkan resleting jaketnya.


"Jery, kenapa kau melepas jaketmu? Bukankah cuacanya sedang panas?" Peecayalah pertanyaan konyol itu hanya sebuah alibi. Aku mendadak gugup karena tiba-tiba ia membentangkan jaketnya begitu lebar, sebelum akhirnya mendekat ke arahku.


Ia berdehem singkat "Bisa kau rentangkan kedua tanganmu?"


"TIDAK!" firasatku memburuk


"Kuhitung sampai tiga" cetusnya tanpa ekspresi sama sekali "satu...dua...ti..."


"Iya iya!" jujur, ia terlihat menyebalkan kalau sedang tanpa ekspresi. "Mau apa sih Jery?" Imbuhku setelah merentangkan tangan lebar-lebar, sesuai keinginan konyolnya.


"Diam, berisik!"


Ia semakin mendekat. Tubuhku sedikit tersentak manakala secara tiba-tiba ia membungkukkan sedikit badannya. Tidak, lebih tepatnya kepalanya kini sudsh sejajar dengan dadaku.


"DASAR CABUL! TOLONG!"


"Ssstt...jangan teriak seperti itu, Al!" tangannya masih setia membekap mulutku. Maka dengan isi akal yang istimewa, ku sengaja menjilat telapak tangannya itu, sebelum akhirnya ku gigit dengan superpower. Jery yang merasa jijik langsung melepas bekapannya. Namun tiga detik setelahnya, aku merasakan asin diujung lidahku.


"Cuih! aku meludah tak kalah jijik. Sepertinya pria ini tidak pernah mencuci tangan. Pasti banyak kuman. Jika sampai nantinya aku muntaber, maka aku akan meminta uang kompensasi seharga motor ninjanya.


" Hei...hei...aku tidak bermaksud seperti itu tadi" Ungkap Jery dengan cepat. Garis wajahnya terlihat salah tingkah. "Aku hanya ingin melingkarkan jaket ini untuk menutupi pahamu, agar kau merasa nyaman saat naik motor. Tapi kau malah menuduhku cabul? apa aku terlihat sangat mesum? wah pikiranmu ini memang sudsh konslet"


Ia malah mengataiku.


"Tapi kalau tidak mau juga tidak masalah. Lagipula siapa yang akan terangsang dengan melihat penampilanmu itu? ya...kecuali jika orang itu memiliki fetish terhadap jailangkung hidup"


"YAK!!"


Bukannua merasa bersalah bedebah itu malah menempeleng kepalaku. Beruntung helm bogo itu sudsh kupakai, setidaknya bisa meminilasir cedera kepala.


"Kalau begitu pakai saja sendiri" Jery melempar jaketnya.


Lima detik berselang, ia menaiki motornya kembali. Memakai helm full facenya, sebelum akhirnya menaikkan standar motornya. "Cepat naik! Aku tidak punya banyak waktu. Nanti sore aku ada janji dengan pacarku malam mingguan. Menemaninya menicure pedicure.


Budak cinta sekali.


Lekas aku menaiki jok belakangnya.


"Memang tidak takut jomplang ke belakang kalau tidak pegangan?" celetuknya cukup menyentak. Aku harus bagaimana lagi, ya Tuhan?


"Aku ini pembalap" katanya sambil mengatungkan tangan, seolah memintaku untuk mengulurkam tanganku. Aku lagi-lagi menurut. Kemudian ia membawa tanganku untuk mencengkram kedua sisi seragam sekolahnya yang tak lagi karuan-- seragamnya sudah tidak masuk ke dalam celana.


Aku peka. Secara tak langsung ia memintaku untuk berpegangan erat. Hanya saja itu membuatku sedikit canggung "Aku tidak mau tanggung jawab kalau kau kenapa-kenapa"


Dan itu adalah kalimat terakhir yang ia serukan sebelum akhirnya meninggalkan arena sekolah.