Remember You

Remember You
The Delirous



Satu minggu lagi, sekolah akan mengadakan ujian tengah semester. Aku memang bukanlah anak ambis yang selalu ingin mendapatkan nilai sempurna di setiap mata pelajaran. Mendapat nilai satu angka di atas KKM saja tidak apa-apa, aku sudah bahagia.


Tapi masalahnya ini agak sedikit berbeda. Jika dulu saat homeschooling aku adalah tipe orang yang tak peduli sama sekali terhadap nilai atau bahkan sangat santai saat diomeli karena terlalu sering remidi. Namun kali ini perkaranya beda lagi.


Jeje bilang padaku jika UTS juga ada sistem perangkingan, di mana setelah ujian itu berakhir, nilai rata-rata semua siswa akan dipajang di mading sekolah dengan urutan dari nilai paling tinggi ke nilai paling rendah.


Semenjak Jeje bilang begitu padaku, aku jadi suka insecure. Aku ini tidak suka belajar. Alergi rumus matematika. Cepat lelah jika sudah dihadapkan dengan aneka macam buku teori. Belum lagi pelajaran jurusan IPA lainnya yang bikin kepala pening tujuh keliling. Apa bisa aku masuk jajaran ranking dua puluh besar? Bagaimana jika aku yang menduduki posisi ranking terakhir dari total ratusan siswa kelas 12? Mau ditaruh di mana mukaku nanti?


Oleh karena itu, ada sedikit rasa sadar yang menyentil kemalasanku. Tadi sebelum pulang sekolah, aku sempat menemui Jery sebentar. Mengatakan jika ingin meminjam semua buku catatannya.


Entah mengapa, dari sekian banyaknya penghuni kelas, hanya Lelaki itu yang terlintas di pikiranku. Padahal masih ada Jeje yang baru-baru ini kunobatkan sebagai makhluk bumi paling rajin menyalin catatan dari papan tulis. Tapi faktanya Jery yang menduduki peringkat pertama di kelas. Kalau aku pinjam buku catatan darinya, lalu jika tiba-tiba merasa bingung dan tidak paham, aku bisa memintanya untuk mengajariku, bukan?


Tunggu! Apakah ini bisa disebut modus?


"Selamat sore, Tante Linda," sapaku ramah dengan posisi masih di depan pagar rumahnya. Wanita nyaris paruh baya yang sebelumnya terlihat tengah asyik menyiram tanaman itupun kontan menaruh selangnya, sebelum akhirnya bergegas membukakan pagar untukku.


"Alena..., ya?" tanya Tante Linda, lupa-lupa ingat. Aku tersenyum, mengangguk, kemudian segera mencium tangannya.


"Ada apa, Nak?"


Menunjukkan totebag berisi buku-buku catatan, aku lantas menyahut, "Mau mengembalikan bukunya Jery yang saya pinjam, Tan."


Sesuai dengan yang kukatakan semalam di room chat, aku benar-benar mengembalikan buku catatannya sore hari setelah selesai ku foto copy.


"Masuk saja. Jery ada di dalam, mungkin sedang bermain dengan adik kecilnya. Tante mau lanjut siram-siram dulu."


"Tapi "


"Sudah tidak usah malu," sela Tante Linda cepat seraya menunjuk dagu ke arah pintu rumahnya yang terbuka, seolah mempersilahkanku masuk dari gelagat yang ia tunjukkan. Aku menurut. Membungkukkan punggung sedikit rendah, kemudian mulai berjalan memasuki rumahnya.


Hal pertama yang kutangkap melalui netra adalah eksistensi Jeryco yang tengah meringkuk di atas meja tamu dengan buku paket digunakan sebagai bantalan kepala.


Buru-buru kuletakkan totebag tersebut pada sisi meja yang masih kosong, juga kantong kresek berisi snack yang kubeli sebagai buah tangan untuknya.


"Jeryco..." panggilku lirih sembari menepuk-nepuk pelan lengannya. Ingin membangunkan, sebab dari postur tubuhnya terlihat sangat tidak nyaman. Jika diteruskan, pasti leher dan punggungnya akan terasa pegal. Belum lagi ia hanya mengenakan celana boxer dan kaos tanpa berlengan, terlebih tubuh bawahnya berada di lantai yang dingin, bisa-bisa ia terkena masuk angin.


"Jery, bangunlah. Jangan tidur seperti ini, nanti tubuhmu akan sakit semua."


Merasa terusik, Jeryco pun akhirnya mulai membuka satu matanya malas. Sepasang alisnya mengernyit dongkol, sementara bibir bawahnya terlihat monyong. Ia mendengus kesal seraya mulai memejamkan mata Lagi.


"Setidaknya pindahlah ke sofa lalu lanjutkan tidurmu," celetukku masih mencoba membujuk.


Awalnya aku ingin mengajak Jery mencari makanan, namun kalau tidur ia tidak bisa dibangunkan seperti orang mati.


Maka, dengan mengumpulkan segala kekuatan dari ujung kaki hingga ujung kepala, aku pun mulai membawa tubuhnya naik ke atas sofa panjang di ruang tamu tersebut. Butuh perjuangan ekstra, sebab beban bongsor layaknya babon itu harus diangkat seorang diri. Baru setelah berhasil, aku segera membaringkan tubuhnya dengan menjadikan bantal sofa sebagai bantalan yang nyaman untuk kepalanya.


"Kau benar-benar beban hidup, Jery," celetukku dengan napas sedikit terengah. Semoga setelah ini aku tidak terkena ambeien karena mengejan terlalu kuat.


Sepuluh detik berselang, aku pun memutuskan untuk merapikan segala kekacauan di atas meja yang membuatku merasa risih jika dibiarkan begitu saja. Buku-buku paket yang terbuka, peralatan tulis yang berserak di mana-mana, bahkan gulungan sepasang kaos kaki berwarna coklat tua begitu merusak pemandangan.


"Bee?"


Mendengar panggilan itu membuat kegiatanku terhenti sejenak, "Aku bukan Rahel" Ia pasti sedang melindur.


Lantas setelah kurasa semua sudah terlihat rapi, aku memutuskan untuk berdiri di samping sofa tempat Jery berbaring. Awalnya berniat ingin pamit pulang, namun hal itu kuurungkan sebab tak tega jika harus membangunkannya dari tidurnya yang damai itu. Kedua mata terpejam rapat dengan mulut yang sedikit terbuka, serta suara dengkuran yang samar-samar mengudara menjadi bukti bahwa ia benar-benar merasa nyenyak.


Akan tetapi, sepertinya dugaanku itu salah. Sebab belum sempat tungkaiku melangkah menjauhi presisinya, ia sudah lebih dulu menahan pergelangan tanganku. Kemudian tanpa permisi menariknya dengan kuat hingga membuat tubuhku hilang keseimbangan, limbung ke depan, dan...


Bruk!


Aku jatuh di atas tubuhnya.


Bahkan dalam kondisi seperti ini pun, Jery masih enggan untuk membuka matanya. Justru ia malah membawa tubuhku pada posisi miring dalam dekapannya. Kepalaku ditenggelamkan di dalam dadanya, tangannya menahan punggungku erat-erat agar tak jatuh dari sofa yang sempit itu, bahkan kedua kaki kudanya mengapit tubuh bagian bawahku layaknya sebuah guling empuk yang nyaman dipeluk.


"Jery! Apa-"


"Rahel, tumben sekali datang ke rumah. Ada apa? Rindu aku ya?" tanyanya dengan suara berat, serak dan juga seksi yang bercampur menjadi satu.


"Buka matamu, Sialan! Aku ini Alena"


Bukannya merespon, pria itu malah semakin menjadi-jadi dengan semakin memperkuat dekapannya, alhasil jarak di antara kami berdua benar-benar terkikis dan nyaris tak bercela. Bahkan kini aroma tubuhnya yang khas mulai menyapa indera penciumanku. Aroma yang bercampur dengan keringat itu membuat sesuatu dalam perutku terasa begitu menggelitik.


"Aku ingin cuddling seperti ini. Nyaman sekali," Lirihnya masih dengan posisi yang sama dan mata yang masih memejam sempurna. Namun, pria itu masih tetap berulah dengan beralih menduselkan hidung bangirnya pada pucuk kepalaku. "Apa kau baru ganti shampoo? Wanginya berbeda."


"Bangunlah, Jery! Tidurmu terlalu miring."


"Tidak mau bangun. Maunya kiss," tukas Jery tanpa rasa dosa sama sekali. Bibirnya spontan dimanyunkan ke depan, persis seperti bebek. Kemudian digerak-gerakkan maju mundur seakan sedang meminta kode untuk segera dikecup, namun hal itu justru membuatku sedikit ngakak sebab jika dilihat dari sudut pandangku, bibirnya itu terlihat seperti pantat ayam yang sedang akan bertelur.


"Jangan-jangan kau ini sedang mengigau dan bermimpi melakukan hal jorok bersama Rahel, ya?"


"Makanya kiss dul-"


"ASTAGA!! JERY, ALENA, APA YANG SEDANG KALIAN BERDUA LAKUKAN?!?!"