
Kurasa sudah lebih dari satu jam aku menatap wajah Nenek yang begitu damai dalam tidurnya. Ia masih terlihat sangat cantik meskipun tak lagi muda. Kerutan-kerutan di ekor pendarnya seakan menjadi tanda bahwa selama ini ia telah bekerja keras, dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk ia menikmati masa tuanya.
Kusisihkan anak rambutnya yang sudah memutih, kemudian secara perlahan mulai membelai belah pipinya yang tak Lagi kencang. Aku bisa melihat wajah Ibu di sana. Hidung mancung, bibir tipis, kulit putih dan mata monolid yang begitu indah, aku yakin jika Ibu masih hidup dan menua, ia pasti akan terlihat seperti Nenek sekarang.
Mungkin ini adalah alasan kenapa aku ingin berlama-lama menginap bersama Nenek. Ya, aku ingin melihat sosok perempuan yang sangat kurindukan dalam dirinya lebih lama lagi.
Ting!
Suara notifikasi pesan itu datang dari ponselku yang sedang diisi daya. Awalnya aku berniat mengabaikan, siapa juga yang mengirim pesan tengah malam selain operator spam? Namun setelah suara notifikasi itu berbunyi dua kali, aku segera beranjak dari tempat tidur dengan pelan supaya tidak membangunkan Nenek. Siapa tahu itu penting. Dan rupanya setelah kulihat siapa pengirim pesan tersebut, kedua mataku yang semula hanya tersisa daya 5 watt, tiba-tiba saja melek sempurna layaknya token listrik yang baru diisi pulsa.
π₯ Hei, sudah ya?
Kenapa Jery mengirim pesan seLarut ini?
π€ Belum
π₯ Ini Alena sungguhan kan?
π€ ya.
π₯ Coba Vn, aku mau memastikan. Kalau kau benar-benar Nathan Siapa tahu yang sedang membalas pesanku adalah setan karena ini sudah tengah malam.
π€ β 00:04 [Iya, ini Alena]
π₯ Suaramu tidak jelas. Bagaimana kalau kita telponan saja?
π€ Bisa saja kau kuda! Nenekku sudah tidur.
π₯ Lalu kenapa kau belum tidur?
π€ Karena aku masih bangun.
π₯ Terserah.
π€ Ya.
Send a picture
π₯
π₯ Punyamu bukan ?
Spontan aku langsung memegang leherku. Oh, aku bahkan tak sadar jika kalung itu terlepas.
π€ ya.
π₯ Tadi adikku menemukannya saat bermain dikolong meja.
Memang ada ya manusia yang bermain di kolong sofa? Apa tidak terjepit?
π₯ Ya sudah sekarang tidue sana.
π€ Kau sendiri kenapa belum tidur?|
π₯ Insom.
π€ Oh.
π₯ Sampai jumpa disekolah besok.
π€ Ok.
Setelah selesai dengan chat singkat tersebut, aku memutuskan untuk kembali berbaring di atas ranjang. Namun, dua detik sebelum aku beranjak, ponselku kembali menyuarakan notifikasi. Kali ini bukanlah notifikasi pesan, melainkan notifikasi panggilan.
Segera kucabut ponselku dari kabel charge, kemudian buru-buru keluar dari kamar agar Nenek tidak terusik dengan suara notifikasinya yang agak berisik.
Keningku berkerut untuk beberapa saat. Panggilan ini dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo..."
Pada akhirnya aku memilih untuk menerima panggilan itu.
"Alena..."
Suara Ayah? Tapi kenapa terdengar sangat parau?
"Maafkan Ayah"
"Ayah kenapa?"
"Halo? Benar ini putri Bapak Lucas?"
Kali ini bukan Ayah yang berbicara, melainkan suara bapak-bapak asing yang tengah mengambil alih pembicaraan telepon.
"Iya, dengan saya sendiri. Ada apa ya, Pak?"
Aku menggeleng skeptis, sebab memang aku tidak tahu siapa yang sedang berbicara denganku. Peka, aku pun langsung memencet tombol speaker agar Paman Melvin juga bisa mendengarkan pembicaraan kami.
"Saya sopir yang dipesan teman Bapak Lucas untuk mengantarnya pulang dari diskotik, Bapak Lucas sepertinya minum terlalu banyak dan ia mabuk berat. Apa anda sedang tidak berada di rumah sekarang? Saya sudah coba untuk menekan bel rumah berkali-kali tapi tidak ada yang membukakan pintu."
Mendengar penjelasannya, spontan aku dan Paman Melvin saling pandang. Lantas Paman Melvin mengambil alih ponselku dan berkata, "Iya, putrinya sedang menginap di rumah Pamannya. Kalau begitu saya akan ke sana. Bapak tunggu sepuluh menit ya."
"Baik, pak"
Panggilan tersebut pun terputus. Paman Melvin bergegas mengambil kunci mobilnya dan hendak membuka pintu, namun aku menahannya seraya berkata, "Paman, aku ikut."
Sayang sekali, respon yang kuterima malah gelengan kepala tak setuju. "Sudah malam. Alena tidur saja. Paman yang akan mengurus Ayahmu."
"Plisss!" aku memohon.
Pasti ada sesuatu yang terjadi pada Ayah. Ia tidak pernah minum alkohol kecuali memang sedang berada dalam suatu masalah. Ia tidak sedang baik-baik saja, aku yakin dengan itu.
"Baiklah. Ambil jaketmu, kau tidak boleh keluar dengan piyama tidurmu."
Aku menggeleng cepat, "Tidak ada waktu. Ayo, Paman!"
Tak butuh waktu lama, akhirnya kami pun sampai di pekarangan rumah. Paman Melvin membawa mobilnya dengan kecepatan ekstra seperti alap-alap.
"Ayah saya di mana, Pak?" tanyaku buru-buru, tak dapat dipungkiri bahwa kini sedang luar biasa panik.
Bapak itu pun segera membuka pintu jok belakang dan menampilkan Ayah yang sedang tak sadarkan diri dengan penampilan kacau sekali.
"Alena, kau buka pintunya. Paman yang akan memapah Ayahmu masuk ke rumah," titah Paman sembari mulai mengambil posisi, Pak Sopir itu juga terlihat membantu. Sementara aku segera berlari menuju pintu dan menekan tombol sandi sebelum akhirnya pintu terbuka.
Paman Melvin membawa Ayah menuju kamarnya. Setelah sampai, ia pun membaringkan tubuh Ayah di atas ranjang secara perlahan.
"Paman keluar sebentar untuk membeli obat pengar. Kalau dibiarkan, besok bisa-bisa ia bolos kerja. Alena cepat ganti pakaian Ayah supaya lebih nyaman, mengerti?"
Setelah kuindahahkan perkataannya dengan anggukan kepala, pria itu bergegas membawa langkahnya keluar dari kamar. Di saat punggungnya sudah tak lagi nampak, aku mulai mengambil setelan piyama dari almari dan berniat untuk segera mengganti pakaian Ayah sesuai titahnya padaku.
"Apa Ayah sedang banyak pikiran?" tanyaku pilu sembari membenahi posisi bantalnya yang terlalu tinggi.
Aku menghela napas panjang saat mendapati wajahnya sangat merah. Paman Melvin pernah bilang jika toleransi alkoholnya rendah. Rambutnya berantakan, pakaian kantor yang masih melekat di tubuhnya juga begitu lusuh, dan bau alkohol dimana-mana. Ia pasti memaksakan kemampuannya hingga menyiksa dirinya sendiri.
Perlahan aku mulai melepas simpul dasi yang terlihat mencekik lehernya. Lantas beralih dengan melepas satu persatu kancing kemeja putih yang menyesakkan tubuhnya. Namun, saat dua kancing terakhir belum sempat kutanggalkan, sebuah tangan besar menahan pergerakan jemariku.
"Ayah?" pekikku senang saat mendapati kedua kelopaknya matanya sedikit terbuka.
"Ayah baik-baik saja? Ayah bisa mendengarku?"
Ia mengangguk lemas dengan helaan napas yang terdengar begitu frustasi.
βKalau ada masalah, Ayah boleh bercerita denganku,β ucapku seraya membawa telapak tangan hangatnya di pipiku, βAyah tidak boleh menderita sendirian.β
"Maafkan Ayah," Lirihnya nyaris berbisik. Namun, ada hal lain yang membuat hatiku begitu teriris. Ayah menangis. Ekor pendarnya mengalirkan bulir air dan membasahi wajahnya yang masih memerah.
"Apakah itu terlalu berat? Tidak apa-apa, sejauh ini Ayah sudah melalui perjalanan hidup yang berat. Ayah pasti bisa menyelesaikan masalah Ayah dengan baik. Alena minta Ayah untuk tidak mengulangi hal seperti ini lagi, mengerti? Alena tidak mau Ayah sakit."
"Maafkan Ayah."
Aku tersenyum, sebelum akhirnya menggelengkan kepala pelan. "Kenapa Ayah terus meminta maaf? Ayah tidak melakukan kesalahan apapun pada Alena."
"Ini salah Ayah."
"Ayah pasti melantur gara-gara kebanyakan minum alkohol," candaku untuk menetralkan suasana, "sekarang Alena akan mengganti pakaian Ayah, setelah itu Ayah tidur. Oke?"
Sepersekon kemudian, aku kembali melanjutkan kegiatan menanggalkan kemeja Ayah. Berlanjut dengan membuka ikat pinggang untuk melepas celana katun hitamnya. Tapi sebelum itu, aku menyempatkan untuk merogoh saku celananya yang terlihat menyembul. Ponselnya masih tersimpan di sana. Aku segera mengambil ponsel itu dan berniat untuk meletakkannya di atas nakas. Namun, ada sesuatu lain yang tak sengaja ikut terambil.
Kedua alisku bertaut tak paham saat melihat dua buah kemasan kecil berbentuk persegi dan seperti ada jiplakan berbentuk lingkaran yang kuyakini tak lain adalah isi dari kemasan tersebut. Salah satu dari kemasan itu sudah terbuka dan tidak ada isinya lagi. Awalnya aku memilih untuk tak ambil pusing, namun di saat kedua sorot pendarku menangkap tulisan 'condom super, aku langsung tercekat dan mendadak lupa cara untuk bernapas.
"A-ayah... Apa ini?" Aku masih mencoba untuk berpikir positif, walaupun itu sudah jelas dan tak perlu lagi untuk dipertanyakan.
"Maafkan Ayah," jawabnya sangat lirih seraya menjambaki rambutnya sendiri.
Mendengar itu, aku langsung melompat dari atas ranjang. Berjalan mundur beberapa langkah sembari menutup mulut tak percaya. Kedua mataku memanas, jiwaku terhenyak, aku masih tak menyangka.
"Ayah sudah tidak mencintai Ibu lagi?" tanyaku dengan suara bergetar. Pada akhirnya air mata itu pun turun deras membasahi kedua belah pipiku.
"Maafkan Ayah."
"KENAPA AYAH MELAKUKAN ITU HAAA??!!!" Aku berteriak keras. Seluruh urat-urat leherku menegang. Kedua lututku terasa begitu lemas. Aku ambruk. Jatuh bersimpuh di lantai. Terlihat sangat menyedihkan dengan fakta bahwa satu-satunya orang yang kupercaya telah mengkhianati janjinya sendiri.
"Katakan apa alasannya."
Ayah tak langsung menjawab, ia mengusap wajahnya kasar. Ia juga menangis di sana. Mungkin merasa menyesal atau bahkan hanya pura-pura menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.
"KATAKAN!"
"Ayah kesepian."