
Bagiku, tidak ada yang lebih cepat dari pergantian hari Minggu ke hari Senin. Rasanya seperti baru saja aku memanjakan diri dengan bermain ponsel sambil rebahan di atas kasur seharian penuh. Dan, ya! Tiba-tiba saja sekarang sudah berada di dalam kelas dengan suasana yang begitu-begitu saja. Sangat membosankan.
Waktu baru saja menunjukkan pukul tujuh. Suara bel sekolah juga belum lama berhenti berdering. Namun, guru mata pelajaran sastra bahasa ini sudah duduk bersedekap seraya mengabsen kehadiran muridnya satu persatu sebelum memulai pembelajaran.
Bu Kinan, kalian masih ingat, bukan?
"Baik, anak-anak, apakah ada tugas atau PR dari pertemuan kita minggu Lalu?" tanya guru wanita itu sembari beranjak dari bangku tempat duduk, kemudian berjalan lamban sembari melipat tangan di depan dada. Melempar tatapan mengintimidasi pada para siswa secara bergantian. Seolah sedang menunggu jawaban penuh kepastian.
"Tidak ada?" tanyanya sekali lagi. Dengan nada setengah sarkas.
Aku menarik napas dalam. Lantas memeta seisi kelas yang terlihat hening sebab tidak ada satupun anak yang berani bersuara. Maka dengan suara lantang aku pun menjawab. "Tidak--"
"Ada, Bu. Membuat Laporan teks berita dan praktek."
Itu adalah suara Jery yang menginterupsi.
Bu Kinan terdengar tertawa kecil, "Apa Alena tadi mencoba untuk membohongi Ibu?"
Seisi kelas langsung menoleh ke arahku. Well, hei! Padahal aku ingin menyelamatkan mereka semua agar tidak jadi praktek! Mereka benar-benar tidak peka.
"Maaf, Bu" cetusku sembari memasang wajah sok menyesal. Bu Kinan hanya menanggapinya dengan gelengan kepala tak habis pikir.
"Semua sudah siap untuk praktek?"
"Siap!" Semua menjawab kompak.
"Kalau begitu, Ibu akan tunjuk tim yang maju pertama. Jangan lupa teks laporannya di bawa ke depan juga dan dikumpulkan!" terang Guru itu sambil membuka buku nilainya.
"Kau sudah print laporannya?" tanyaku pada Jery yang tengah duduk di sampingku. Jeje hari ini belum masuk, jadi Jery menempati bangkunya untuk sementara waktu.
"Sudah dong," jawabnya santai seraya memainkan bolpoin di jemarinya.
"Ibu akan memilih tim Alena dan Jery untuk tampil pertama." Bu Kinan kembali bersuara.
Aku pun lantas berdiri dengan penuh percaya diri. "Baik, Bu"
Namun, saat aku hendak berjalan keluar dari bangku, Jery malah menahanku. "Tunggu dulu!"
"Kenapa?" tanyaku mendadak was-was ketika mendapati raut wajahnya yang panik. Kini ia tengah mengobrak-abrik seisi tasnya.
"Ayo, Jery dan Alena cepat ke depan," ujar Bu Kinan memperingati.
Jery menggigit bibir bawahnya frustasi. Kemudian melambaikan tangannya padaku, memintaku untuk mendekati presisinya. "Aku tidak membawa laporannya."
"Apa-apaan ini-"
"Alena, ada apa?"
Aku dan Jery spontan menoleh ke arah Bu Kinan.
"Bagaimana bisa?" Lirihku sambil berbisik, mataku melotot sempurna.
Jery menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ya gimana Lagi? Aku lupa memasukkannya ke dalam tas."
"Jery, Alena, kenapa berbisik-bisik seperti itu? Ayo cepat ke depan. Teman-temanmu sudah menunggu." Nada bicara Bu Guru itu terdengar geram.
Jery lantas bangkit dari posisinya semula. Lalu nampak pergerakan bola matanya yang menginstruksiku untuk ikut bersamanya maju ke depan. Awalnya aku menggelengkan kepala karena takut. Bu Kinan itu perangainya buas, ganas, kejam, sadis, dan mematikan, tetapi karena ia menarik seragamku diam-diam, maka mau tidak mau aku harus mengekorinya dari belakang.
"Bu... laporannya ketinggalan di rumah," ungkap Jery semakin lama semakin terdengar lirih. Ternyata nyalinya juga ciut. Aku hampir saja ingin tertawa.
"Jery ceroboh, Bu" timpalku dengan lirikan tajam.
"Kok jadi aku? Salahmu lah tidak mengingatkanku!" Jery menghardik.
"Loh! Itukan tanggung jawabmu!" Aku menyolot. Tak mau kalah, tentu saja.
"Aku kan gampang lupa. Seharusnya teman satu tim harus saling mengingatkan. Bukan begitu, Bu??" Pria itu mencoba mencari pembenaran.
"Mau mengingatkan lewat mana coba? Nomormu saja tidak punya!" Semakin panas, kini aku tak tahan untuk menjambak rambutnya sampai botak.
Merotasikan bola mata dongkol, Jery lantas mendengus, "Salah siapa tidak minta?"
"KALIAN BERDUA DIAM!!" Bu Kinan tiba-tiba menggebrak bangkunya. Aku dan Jery spontan terkesiap.
"Kalian ini bukannya minta maaf malah adu argumen di depan saya! Sekarang Ibu minta kalian lari sepuluh kali memutari lapangan basket!"
"Tapi, Bu"
"Masih berani membantah? Jangan harap kalian bisa masuk kelas sebelum melaksanakan hukuman yang Ibu berikan," sarkas wanita itu tanpa ampun.
Akhirnya, aku dan Jery pun memutuskan untuk keluar dari dalam kelas. Berjalan tanpa suara menuju lapangan basket.
"Ini semua gara-gara kau!" Jery mendadak berhenti melangkah saat beberapa meter Lagi kami sampai di lapangan basket. Ia memutar badan ke belakang. Melempariku tatapan kelewat kesal sambil berkacak pinggang.
"Kalau saja kemarin kau mengingatkanku untuk memasukkan laporan itu ke dalam tas, kita pasti tidak akan dihukum." Jery kembali berjalan.
"Sudah kubilang-"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, Jery sudah mulai berlari mengelilingi lapangan dan mengabaikanku.
"Andai aku punya kekuatan, aku ingin mengubahmu menjadi seekor kuda yang jelek!" monologku seraya ikut berlari.
Satu, dua, tiga. Ya, aku baru saja memutari lapangan basket yang super luas ini sebanyak tiga kali. Masih kurang tujuh putaran Lagi. Namun, rasanya aku benar-benar sudah mampus setengah mati.
Dadaku kembang kempis, keringat mengalir dari dahi, dan wajah yang terasa kian memanas. Jika tetap diteruskan, aku takut paru-paruku akan meledak karena harus bekerja ekstra combo untuk meraup oksigen.
"Heil Apa kau akan menyerah sekarang?" Jery ikut berhenti di sampingku. Mengontrol napas agar tak terengah-engah.
Aku tak langsung menjawab, sebab lima detik berselang tubuhku bersimpuh duduk tak berdaya. Kedua kakiku mendadak lemas. Mungkin akibat dari tidak melakukan pemanasan. Ditambah lagi tadi pagi hanya minum susu sebagai sarapan.
"Bibirmu sangat pucat, apa kau sedang sekarat?" celetuk Jery menaruh atensi. "Jangan tumbang di sini, please! Aku tidak mau menggotongmu ke UKS. Kau pasti berat."
Setelah mengucapkan frasa terakhirnya, Jery yang super menyebalkan itu kini kembali dengan kegiatannya berlari mengelilingi lapangan. Hanya saja aku sedikit tertohok manakala mendapati eksistensinya keluar dari lapangan basket setelah berlari setengah putaran. Tidak bilang tidak apa, malah nyelonong begitu saja.
"Awas kau Jery!" geramku setengah mampus. Kalau saja si kaki kuda itu tidak berulah, pasti aku tidak perlu repot-repot berlari mengelilingi lapangan seluas ini.
"Semoga saat kau berjalan terpeleset. Semoga saat kau minum tersedak. Semoga saat makan Lidahmu tergigit. Semoga-"
"Apa kau sedang menyumpahiku?"
Sialan!
Jantungku rasanya seperti akan pindah posisi.
"Aku kaget, Sialan!"
Jery meringis, "Kenapa kau menyumpahiku seperti itu? Apa karena aku pergi meninggalkanmu?"
Aku diam. Kemudian memilih untuk mengubah posisi duduk menjadi serong, sehingga kini sosoknya tak lagi terlihat oleh ekor netra. Sengaja mengabaikan pertanyaannya.
"Penampilannya saja yang sangar. Ternyata hatinya hello kitty. Seperti anak kecil suka ngambek. Padahal cuma ditinggal sebentar. Cih!"
"Siapa peduli? Lagipula kenapa kembali ke sini Lagi? Pergi sana yang jauh!" raungku masih tetap membuang muka.
Namun, sepersekian detik kemudian sebuah tangan kekar terulur di depan mataku dengan membawa sebuah botol air mineral. "Aku tadi ke kantin. Membelikanmu minum."
Tak Langsung menerima, kelopak mataku spontan memicing curiga. "Kesambet apa?"
Jery lekas berjalan dua langkah ke depan hingga kini ia berada di hadapanku, kemudian ikut duduk sambil meluruskan kedua kaki kudanya yang super panjang. Beralih menyugar poni rambutnya ke belakang, dan berakhir menyeka keringat pada dahinya dengan punggung tangan.
"Kalau baru lari-lari, kaki jangan ditekuk seperti itu. Nanti varises." Tanpa permisi ia menarik kedua pergelangan kakiku sampai lurus, membuat tubuhku sedikit terhuyung ke belakang.
"Kau yang seperti ini saja terlihat seperti orang tidak laku, apalagi kalau sampai punya varises." Kata-katanya terdengar meledek. Ia menyodorkan botol air mineral itu padaku, Lagi.
"Kau mengalihkan pembicaraan, Jery?"
Merotasikan bola mata dongkol, pria itu lantas membuka segel botolnya dengan brutal. Setelah berhasil, ia mengambil tangan kananku, memintaku untuk memegang botol air yang sudah siap untuk diminum.
"Aku takut kau mati gara-gara lelah berlari."
Hei, apakah ini salah satu bentuk perhatian?
"Jangan pede! Kalau kau mati, siapa yang akan melunasi hutang-hutangmu padaku? Ingat, hutangmu bertambah 350 won!"
Padahal aku hampir saja akan tersipu.
"Iya-iya, santai saja kali. Tidak usah nyolot begitu," ujarku seraya mulai meneguk air mineral itu. "Kau tidak beli air untuk dirimu, Jery?"
Jery menggeleng, "Dompetku di tas, hanya ada sedikit yang kukantongi. Itupun hanya cukup membeli satu botol air mineral saja."
Maka, dengan hati yang baik aku ganti menawarinya, "Mau berbagi denganku?"
"TIDAK!!"
"Ya sudah."
Tapi ternyata, lima detik berselang, pria itu akhirnya mengatungkan tangannya padaku sembari memasang wajah melas. Ia benar-benar tidak bisa membohongi kerongkongannya yang gersang. Terbukti dari air mineral yang sisa lebih dari setengah botol kini sudah tandas hanya dalam dua kali tegukan.
"Alena," panggilnya seraya menyeka ujung bibir yang basah terkena air.
"Apa?"
"Boleh minta nomor ponselmu?"