Remember You

Remember You
The Disappointed



"Paman, aku ingin ke supermarket itu, mau beli snack," ucapku sembari menunjuk supermarket yang kumaksud.


"Mau Paman temani?"


Aku segera menggeleng mantap. "Tidak usah. Paman tunggu saja di sini."


"Iya, tapi jangan lama-lama. Paman juga mau menelpon seseorang dulu," timpanya.


Setelah mendapat izin, aku pun segera berlari kecil menuju supermarket. Sebenarnya aku ingin kabur sebentar dari eksistensi Paman Melvin. Ingin menghirup udara bebas. Sebab dari tadi aku dibuat menahan napas karena tingkahnya yang random, sangat tiba-tiba dan selalu mengejutkan.


📥 Paman pergi sebentar untuk menemui teman lama 15 menit. Alena tunggu saja di tempat tadi lalau takut langsung ke mobil saja mengerti?


📤 Ya.


Setelah melihat pesan tersebut, aku memutuskan untuk duduk pada bangku yang menghadap langsung ke arah matahari terbenam. Pukul setengah enam, langit sudah mulai berubah jingga. Aku mengambil sebuah kaleng soda dari kantong belanjaan, membuka lalu berakhir meneguknya seraya menikmati sensasi letupan-letupan kecil di dalam mulut.


Selama dua menit tidak ada hal lain yang kulakukan, kecuali menikmati soda sambil mengamati bagaimana sang matahari perlahan membenamkan diri di ujung bumi. Namun, tak berselang lama, tubuhku dibuat terperanjat kaget manakala tiba-tiba ada sesuatu yang dingin menempel di permukaan pipiku.


Aku segera menoleh, lantas mendapati seorang pria berhoodie hitam dengan sengaja menempelkan sebuah botol air mineral yang masih berembun pada pipiku sambil menyengir kuda, seolah puas melihat targetnya terkejut dan memasang mimik kesal.


"Ngapain di sini sendirian?" tanyanya seraya mendaratkan pipi bokongnya di sampingku. Lalu beralih membuka botol minumnya dan segera menenggaknya sampai tandas. Terlihat begitu kehausan layaknya kadal gurun yang baru menemukan kubangan air di padang pasir. Aku sempat salah fokus pada jakunnya yang naik turun saat meneguk air. Terlihat sangat seksi dipadu dengan keringat di lehernya yang mengalir turun. Seperti iklan-iklan di tv. Tapi kuakui ini lebih seksi.


Alena sadarLah! Pikiranmu benar-benar jorok.


"Menenangkan pikiran. Bagaimana denganmu?" Aku balik bertanya.


"Aku baru bersepeda," jawabnya sambil menunjuk di mana tempat sepedanya kini terparkir, kemudian beralih menyeka keringat di keningnya dengan lengan hoodienya.


Peka, aku pun lantas merogoh saku rokku untuk mengambil sapu tangan yang ia pinjamkan padaku saat masih di sekolah tadi siang. Aku belum sempat mengembalikannya. "Seharusnya kau bawa handuk kecil, jangan lap keringat pakai hoodie begini. Ini pakai sapu tanganmu," titahku sembari memberikan sapu tangan.


Ia tertawa kecil sebelum akhirnya menjadikan sapu tangan itu sebagai penyeka keringat. "Kau masih menyimpannya?"


"Sebenernya aku berniat untuk membuangnya. Tapi aku lupa, jadi masih ada di dalam sakuku," jawabku dengan kekehan di akhir kalimat.


"Omong-omong kau masih pakai seragam sekolah, apa kau tidak pulang?" Air muka pria Jery itu menyiratkan sebuah rasa penasaran. Sebelah alisnya terangkat tinggi.


"Aku langsung diajak ke sini oleh pamanku sepulang sekolah, tidak sempat pulang apalagi ganti pakaian. Well itu bukan masalah besar. Lagipula besok hari Libur," terangku seraya kembali meneguk minuman soda. Lalu beralih memusatkan pandangan pada langit senja yang kian jingga. Indah sekali. Apalagi saat segerombolan burung-burung camar terbang serempak memeta bentang langit yang begitu luas. Sungguh menenangkan pikiran.


"Cantik."


Mendengar kalimat itu mengudara, spontan aku menoleh ke arah Jeryco yang entah sejak kapan menatap wajahku dengan obsidian berbinar dan senyum simpul terlihat di sudut bibirnya.


"Y-ya?" Aku mendadak gugup. Jery yang sadar pun buru-buru menggelengkan kepalanya cepat. Memalingkan wajah ke arah sebaliknya sambil berdehem tidak jelas.


"Burungnya yang cantik, bukan dirimu. Jangan geer," elaknya. Kentara sedikit gelagapan. Terbukti saat ia berusaha menampiknya dengan pura-pura sibuk minum air, padahal botolnya sudah kosong tidak berisi sama sekali sejak tadi. Bahkan samar-samar di bawah redupnya senja, aku bisa melihat belah pipinya berubah warna menjadi pink-pink kemerahan. Apa jangan-jangan Jery ini sedang salah tingkah?


"Tapi kau menatapku, bukan menatap burung, godaku sambil tertawa mengejek. Ia telak kesal. Ekspresinya berubah sinis. "Geer."


"Iya, semua orang juga bilang aku cantik kok." Aku masih tertawa.


"Puas-puasin gih mengejekku, setidaknya kau bisa kembali tertawa, aku ikut senang," celetuknya yang malah sukses membuatku seketika diam tak berkutik.


"Ha?"


"Tidak jadi. Kau lemot sekali." Pria itu menoyor kepalaku pelan.


"Tidak apa-apa lemot, yang penting kau sudah memujiku cantik, wleee," godaku dengan sengaja menjulurkan lidah padanya.


"Siapa bilang aku memujimu? Jelas-jelas aku sedang memuji burung, jadi berhentilah bersikap geer," si Jery kembali mengelak sambil menaikkan sedikit bibir ke atasnya.


Aku pun mengiyakannya dengan anggukan sok percaya. Kasihan, bisa-bisa ia merasa tersudutkan kalau terus digoda. Agaknya ia bukan tipikal pria yang pandai mengelak. Alasannya terlalu jelas dibuat-buat. Tapi entah kenapa, aku jadi senyum-senyum sendiri. Aku tidak bisa membohongi perasaanku, aku senang sekali. Namun aku berusaha menutupinya dengan bersikap biasa-biasa saja.


Sepersekian detik setelahnya, suara dering ponsel memecah keheningan sementara di antara kami berdua. Itu bukan suara dering ponselku, melainkan dari ponsel Jery. Cepat-cepat ia mengambil ponselnya yang semula tersimpan di saku hoodie miliknya.


"Siapa?" Aku penasaran. Jery pun menunjukkan layar ponselnya yang tengah menampilkan permintaan panggilan dan tertera nama


'Bee 🐝🌹💓' di sana.


Bee? 🐝🌹💓 Apa seekor lebah sedang menelepon Jery?


"Bee?" monologku.


"Pacarku," tegas Jery seolah memecahkan rasa penasaranku. Kemudian ia beranjak dari bangku, berjalan menjauhiku beberapa langkah, baru akhirnya ia mengangkat panggilan tersebut.


"Iya, halo Bee?"


"Oke! Aku akan segera pulang. See you. Jangan rindu."


Panggilan pun berakhir, Jery kembali berjalan menghampiriku. "Rahel ada di rumahku. Ia sudah menunggu. Jadi aku pulang duluan, ya?" Pamitnya sembari tersenyum menampakkan sepasang gigi kelincinya yang menggemaskan. Aku mengangguk, baru setelahnya Jery mulai berjalan menuju tempatnya memarkir sepeda. Lantas mengayuh sepedanya dengan penuh semangat, sebab ia akan segera menemui kekasihnya yang sudah menunggu di rumah. Aku menatap punggungnya yang bergerak kian menjauh hingga akhirnya presisinya tak lagi tertangkap obsidianku.


Sejurus dengan itu, Paman Melvin yang tadi pamit untuk menemui temannya pun akhirnya kembali. Tepat lima belas menit setelah ia mengirim pesannya untukku.


"Paman, aku ingin pulang," ungkapku saat ia sudah berada di depanku.


"Langsung? Tidak ingin mampir ke mana gitu?" tanya Paman memberi tawaran. Namun aku menolaknya dengan gelengan kepala samar.


"Oke, kalau itu maumu."


...----------------...


"Paman, kalau tidak sibuk tolong kirim foto selfie kita berdua tadi, ya?" Haha, aku teringat itu dan ingin memintanya. Kupikir aku juga harus menyimpannya untuk kenang-kenangan.


"Mau Paman kirim sekarang?" tanyanya yang kubalas dengan anggukan kepala.


Saat Paman Melvin mengaktifkan ponselnya, tak sengaja aku melirik wallpaper lockscreennya yang sukses membuatku merasa gemas.


"Astaga Paman... kenapa harus dipakai wallpaper lockscreen sih?" Ya, wallpaper lockscreen yang digunakan adalah foto selfie tadi sore di Sungai Han. Tepatnya foto dengan pose Paman Melvin mencium pipiku.


"Kenapa memangnya? Paman suka. Lucu," sahutnya seraya mulai mengirimkan gambar melalui aplikasi share it.


"Takutnya nanti ada wanita yang tidak jadi mengajak pakt-an Paman gara-gara mengira Paman sudah punya anak, kelakarku.


"Sugar Daddy dan Baby Sugar, ya?"


Aku bergidik, "Big no!"


"Thanks ya Paman untuk hari ini," ujarku dengan senyum mengembang dipipi. "Paman hati-hati pulangnya. Tidak usah ngebut-ngebut. Ok?"


Paman Melvin terlihat mengangguk. Baru setelahnya aku berniat untuk membuka pintu mobil, tetapi Paman menahannya sambil berkata, "Jangan abaikan ayahmu. Boleh kecewa dan marah, tapi jangan keterlaluan, mengerti?"


"Iya," jawabku singkat dan padat. Kemudian segera keluar dan berdiri beberapa meter dari mobil, berniat menunggu Paman Melvin pergi sembari melambaikan tangan. Saat mobilnya sudah benar-benar jauh pergi, aku lantas mulai memasuki rumah dengan langkah gontai setengah tak ikhlas.


"Putri Ayah sudah pulang?"


Baru saja aku membuka pintu, Ayah sudah menyambutku dengan senyuman seolah tidak terjadi apa-apa di antara kami berdua. Namun matanya tidak bisa berbohong. Masih terlihat sedikit sembab dan merah. Ia pun bangkit dari sofa tempat duduknya. Sepertinya ia sengaja duduk di sana untuk menungguku pulang. Ayah lantas mendekatiku. "Paman Melvin mengajak Alena ke mana sampai malam begini?" Intonasinya terdengar sengaja dilembutkan.


"Menenangkan pikiran," jawabku tanpa menoleh ke arahnya.


"Mau makan malam bersama Ayah? Ayah tadi beli martabak favoritmu selagi pulang dari kantor," ajaknya.


Namun, aku menggeleng mantap. "Tidak lapar."


"Tapi Ayah menunggumu untuk makan bersama. Setidaknya temani Ayah makan malam."


Langkahku yang hendak manaiki tangga kontan terhenti. Aku menoleh ke belakang, tepat di mana kini Ayah menatapku sambil berharap. "Ayah makan saja sendiri."


Kemudian aku kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga tanpa peduli sama sekali dengan ekspresinya yang seketika berubah lesu dan sedih. Aku mengunci pintu. Hendak mandi dan berganti baju, lalu ingin segera tidur dengan nyaman. Namun, hal itu tertunda saat suara ketukan pintu menyapa ruang runguku.


"Apa Alena sungguh tidak ingin makan bersama Ayah? Apa Alena masih marah sama Ayah?" tanyanya di balik sana. Terdengar kelewat sendu.


"Alena tidak mood," sahutku.


"Ayah tidak akan makan kalau tidak ditemani Alena. Ayah mogok makan."


Apakah Ayah baru saja mengancam?


Aku menghela napas gusar. Sejujurnya aku tidak tega, namun rasa gengsiku jauh lebih besar. Aku tidak mau luluh begitu saja dengan ancaman yang mengatasnamakan dirinya.


"Sudahlah, Ayah makan saja. Tidak perlu mengajak Alena segala. Ayah punya maag, tidak usah berniat ingin mogok makan."


"Tapi Ayah ingin-"


Brak!


Aku sengaja menutup pintu kamar mandi dengan sangat keras. Berharap Ayah yang berada di luar kamarku bisa mendengarnya sehingga ia berhenti bicara. Seharusnya Ayah paham. Akan sangat percuma membujukku yang sedang dalam perasaan kecewa. Jangankan makan bersama, berbicara saja aku masih sangat canggung. Aku benar-benar belum bisa berdamai dengan keadaan.


Sepuluh menit kemudian, aku pun selesai dengan kegiatan mandi. Tubuhku kembali segar. Dan aku hendak bersiap untuk tidur lebih awal. Sebab aku berencana untuk mendedikasikan besok sebagai hari yang padat untuk belajar sebelum ujian. Ya, lusa adalah hari pertama ujian berlangsung. Seperti yang sudah pernah kukatakan, aku tak ingin berada di ranking paling bawah. Akan sangat memalukan. Maka aku harus belajar supaya mimpi buruk itu tidak jadi kenyataan.


Belum sempat aku merebahkan tubuhku di atas kasur, suara notifikasi spam sudah lebih dulu menarik atensiku sepenuhnya. Cepat-cepat aku meraih ponsel dan mendapati nama 'Jeryco' yang tak lain adalah si pengirim pesan.


📥


😭😭😭


ALENA!!!


I'm so sad.


WHAT THE FUUVKKK


ALENA, I WANNA SUICIDE


FUUVKK


Aku melongo membaca isi pesan-pesan tersebut. Kenapa Jery tiba-tiba memaki tidak jelas begini?


Aku yang dibuat penasaran pun segera membalas Pesannya.


📤 Kena--


Perangkat Anda akan mati. Hubungkan pengisi daya Anda.


0%


Sial, ponselku mendadak mati karena habis baterai.


[...]