Remember You

Remember You
The Password



"Dari tadi Paman lihat kau terus memegangi bibirmu sendiri, apa kau sedang sariawan?"


Mendengar itu, sontak langsung kujauhkan jemariku dari bibir, kemudian secepat kilat menoleh pada eksistensi pria nyaris paruh baya yang tengah memecah jalanan kota sambil bersenandung lirih mengikuti melodi musik klasik yang mengalun pelan, sebelum akhirnya menjawab, "Tidak."


"Lalu kenapa? Paman sampai risih melihatnya," terangnya tanpa ekspresi sama sekali.


"Tidak tahu. Aku juga tidak sadar kalau dari tadi sedang memegangi bibir," ungkapku berbohong. Tentu saja. Tidak mungkin aku mengatakan bahwa bibirku ini baru saja diperawani. Yang ada Paman akan banyak tanya dan mengadu ke Ayah. Aku tidak mau citra polos dan suci lahir batinku ternodai.


"Omong-omong... Bagaimana Paman? Apa Ayah mengijinkan?" tanyaku berusaha mengubah topik obrolan. Yang ditanyai kontan menoleh sekilas, tersenyum manis, kemudian menjawab, "Tentu saja. Ayahmu mana mampu menolak permintaan ibu mertuanya?"


Kedua bola pendarku langsung berbinar terang. "Jadi, kapan Nenek akan sampai?"


"Nenek sudah sampai jam sebelas tadi. Katanya ia sangat tidak sabar menemui cucu kesayangannya," sahut Paman Melvin membuatku semakin antusias.


Oh, ya! Jadi, Nenek itu adalah ibu dari Ibuku dan Paman Melvin. Selama ini ia memang tinggal sendiri di Daegu dan sesekali pergi ke Seoul untuk melepas rindu dengan anak cucunya.


Semalam, Nenek meneleponku. Memberi kabar jika ia akan ke Seoul dan menginap selama seminggu. Lalu, ia memintaku untuk menginap di apartemen Paman Melvin, sebab katanya ia ingin berlama-lama dengan cucu kesayangannya ini. Maklum, aku memang cucu satu-satunya yang Nenek punya. Siapa Lagi? Paman Melvin saja sampai sekarang juga tidak punya pacar, mana mungkin bisa punya anak? Ups.


"Besok ada pr atau ulangan, tidak?" Paman Melvin kembali bersuara.


"Tidak."


"Kalau begitu, nanti Paman ajak ke pasar malam mau?" Pria itu bertanya setengah malu-malu, terbukti saat ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal sambil meringis kikuk.


Merotasikan bola mata, aku lantas menyahut, "Seharusnya Paman itu tidak mengajakku, tapi mengajak wanita-wanita seumuran Paman sekalian pdkt-an."


"Jadi Alena mau atau tidak?"


"Ya maulah!"


Sepuluh menit berselang, akhirnya kami berdua pun sampai di unit apartemen Paman Melvin.


"Alena masuk duluan, ya? Sepertinya ponsel Paman ketinggalan di mobil," terangnya sembari masih menggerayangi isi kantongnya, kemudian segera memberikan plastik kresek berisikan martabak yang semula ia pegang padaku, "Alena tahu password pintu apartemen Paman?"


"Tidak tahu."


"2107*"


Keningku spontan mengkerut. Merasa tidak asing. "Bukankah itu tanggal lahirku, Paman?"


Si Pria itu tertawa kecil. "Yup!"


"Tapi kenapa?" tanyaku penasaran sambil memasang tampang inosen. Lagi-lagi ia tertawa, menunjukkan jajaran giginya yang rapi seraya berkata, "Biar Paman ingat Alena terus."


Sepersekian sekon setelahnya, telapak tangannya yang besar mengusap pucuk kepalaku lembut sekali. "Masuk duluan gih. Temui Nenek," titahnya, sebelum akhirnya berjalan cepat menuju Lift untuk turun ke parkiran basement guna mengambil ponselnya.


Segera kutekan password sesuai dengan apa yang pria itu beritahukan. Sesaat setelah pintunya terbuka, kuberjalan setengah mengendap-endap memasuki apartemen. Kemudian mendapati presisi seorang wanita lanjut usia yang terlihat tengah fokus pada jarum dan benang rajutnya, dengan kacamata yang bertengger sempurna di ujung hidungnya yang mancung. Ditemani oleh secangkir teh yang masih terlihat mengepulkan asap, ia sungguh tidak sadar jika makhluk bumi yang ingin ia temui sudah berada di depannya saat ini.


"Ekhemm..." Aku berusaha mencari perhatiannya. Itu berhasil. Nenek langsung menghentikan kegiatannya. Lalu sedikit mendongak. Kemudian ia mulai membenahi posisi kacamatanya dan sedikit memicingkan matanya ke arahku. Mungkin ketajaman penglihatannya sudah kian berkurang karena faktor usia. Sampai akhirnya dua detik kemudian ia berceletuk, "Cucu Nenek?"


Aku mengangguk-anggukan kepala antusias. Nenek kontan menaruh alat rajutnya di atas meja, lalu bergegas bangkit dari sofa duduknya. Melihat itu, aku lantas berjalan cepat menuju presensinya seraya merentangkan tangan lebar-lebar. Nenek peka, ia juga ikut merentangkan tangannya. Kami saling berpelukan erat sambil lompat-lompat kecil. Rindu sekali. Cukup lama sampai akhirnya benar-benar puas. Tak sampai di situ, Nenek juga menciumi seluruh sudut wajahku saking senangnya bertemu dengan sang cucu.


"Ah... Alena rindu Nenek banyak-banyak," ujarku sembari mendaratkan bubuh kecupan di pipi kanannya yang sudah berkeriput.


"Sama, Nenek juga sangat rindu."


"Nenek pasti capek karena perjalanan kemari, seharusnya Nenek istirahat, bukannya malah merajut." Ya, Nenek memang hobi sekali dengan yang namanya merajut. Seakan-akan itu adalah belahan jiwanya. Tanpa jarum dan benang rajut, hidupnya akan terasa hampa.


"Oh, ya! Nenek bawa hadiah untuk Alena."


"Buka saja," katanya memberi instruksi. Tak mau berlama-lama, aku pun segera membuka paper bag tersebut. Lantas mengambil isi di dalamnya dengan perasaan gembira yang semakin meletup-letup.


"Sweater rajut ini Nenek yang buat sendiri?" Aku terkagum-kagum.


Nenek kontan menyunggingkan kedua sudut bibirnya tinggi. "Siapa Lagi kalau bukan Nenek? Alena suka atau tidak?"


"Suka sekali! Apapun yang dibuat Nenek memang paling juara," pujiku padanya.


"Tapi Melvin bilang ke Nenek, katanya mau mengajakmu pergi ke pasar malam. Nanti pakai saja sweater rajut itu, pasti sangat cocok."


Aku mengangguk semangat.


"Di mana pamanmu itu? Apa Alena tidak datang bersamanya?"


"Oh! Ponselnya ketinggalan di mobil. Nenek tunggu saja sebentar lagi. Mungkin Paman sedang perjalanan ke sini," jawabku sembari mencoba sweater itu.


Namun, aku mulai merasa aneh saat tiba-tiba Nenek tidak lagi bersuara. Kudengar suara helaan napas panjang keluar dari lubang hidungnya. Kedua netranya seketika menjadi sayu. Ekspresi wajahnya mendadak berubah sendu.


"Ada apa, Nek?"


Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Nenek ini heran. Pamanmu itu umurnya sudah hampir empat puluh tahun, tapi tidak juga punya rencana untuk menikah."


Tangan kananku tergerak untuk mengelus pundaknya. "Mungkin jodohnya masih tersesat, Nek."


"Apa jangan-jangan pamanmu itu gay?"


"Buktinya sampai sekarang ia tidak punya pacar-"


"Astaga! Apa itu pacar? Apakah bisa dimakan?"


"G-gay???"


Suara bariton yang tiba-tiba merangsek ke gendang telinga itu membua kami berdua spontan menoleh ke arah pintu.


"Eomma... Aku bukan gay," jelas Paman Melvin sembari menutup pintu, lantas perlahan berjalan mendekati presisi kami.


"Lalu kenapa kau tidak segera menikah? Asal kau tahu saja, kau jadi bahan ghibah tetangga Eomma gara-gara jadi bujang lapuk." Nenek bersungut-sungut. Kedua tangannya lekas dilipat di depan dada sambil membuang muka dari Paman Melvin.


"Karena menikah tidak bisa di makan. Eomma, aku lapar. Buatkan sup iga spesial yang enak ya?"


Sepersekon kemudian, sebuah bantal sofa mendarat sempurna di kepala Paman Melvin dengan cukup keras. Tubuhnya sampai terhuyung dan nyaris limbung.


"Eomma! Sakit tahu. Nanti kalau putramu yang manis ini terluka bagaimana?" Paman Melvin berlagak manja. Memasang wajah sok tersakiti.


Sayang sekali, Nenek baru saja mengabaikannya, sebab kini Nenek tengah mendekatiku seraya berkata, "Nenek tadi membuat sup iga untukmu. Ada susu stroberi kesukaanmu juga. Habiskan, ya. Nenek mau mandi. Gerah karena tiba-tiba ada orang setengah tak waras mengaku jadi putraku."


Aku mengangguk sambil menahan tawa. "Siap, Nek!"


"Loh! Kan Aku yang minta sup iga, kenapa Alena yang dikasih makan?"


"Ya Tuhan kenapa akhir-akhir ini aku jadi bisa mendengarkan bisikan setan?" ujar Nenek bermonolog sambil memegangi kedua telinganya. Berjalan tanpa sedikitpun menoleh ke sumber suara. Mengabaikan Paman Melvin, Lagi.


"Yang sabar ya, Paman."


"Hmm."