
Kalau ada yang bertanya, siapa makhluk bumi yang paling sedih?
Mungkin dari sekian jawaban, namaku akan masuk nominasi sepuluh besar dalam sistem perangkingan.
Ya, Alena, seorang gadis tujuh belas tahun yang kini tengah duduk manis di pojok kantin sendirian. Sibuk menyedot segelas es teh manis selagi menunggu mi ramen cup yang baru saja diseduh matang.
Sedari tadi batinku tak berhenti mengumpat. Muak sekali melihat pemandangan dua sosok manusia di bangku seberang yang tengah asyik bermesraan. Suap-suapan, tertawa malu-malu, cubit-cubit gemas, panggil sayang-sayangan, dan masih banyak hal cringe lain yang membuat nafsu makanku perlahan turun.
Agaknya dunia ini memang milik mereka berdua, sedangkan yang lain hanya ngontrak, numpang, kredit hutang, dan sisanya gelandangan pinggir jalan.
"Hei, Alena!"
Seorang laki-laki berperawakan jangkung yang baru saja keluar dari antrian tengah melambaikan tangan ke arahku sambil mengulas senyum lebar. Disusul dengan penampakan gadis berkepang dua di belakangnya yang tengah sibuk memegang dua gelas besar es jeruk. Lantas mereka pun segera berjalan menuju bangku tempatku berada, sebelum akhirnya sama-sama mendaratkan pipi bokong pada kursi kosong di depanku.
"Kulihat kalian berdua semakin dekat setelah acara camping itu, cinta lokasi ya?" tanyaku membuka obrolan, namun masih menaruh pandangan pada bangku seberang yang kini tengah menampilkan adegan pegang-pegangan tangan di atas meja makan.
"Ah, benarkah? Apa terlalu terlihat?" Si Lelaki menjawab dengan sedikit ringisan malu-malu kucing. Sementara si Gadis tengah kedapatan memalingkan wajahnya yang tengah blushing.
Aku mengangguk. "Kelihatan sekali, apalagi Lipstick merah muda di bibirmu itu Jessica. Semoga setelah ini Guru BK tidak menghabisimu sampai mati."
Yang disindir kontan mengusap-usap bibirnya dengan ujung dasi. Gadis itu terlihat panik. Kemudian menepuk-nepuk lengan eksistensi di sampingnya seraya bertanya, "Toni lihat, Lipsticknya masih ada atau tidak?"
"Iya, masih sedikit," jawab Toni sembari membawa jemarinya mengusap pelan sudut bibir Jeje yang menyisakan bercak Lipstick merah muda.
Ya Tuhan!
Rasanya aku bisa mati karena terlalu banyak menyaksikan adegan-adegan mesra, sementara aku di sini tengah sesak karena mengidap uwuphobia.
Segera pertemukan aku dengan jodohku ya Tuhan -kalau bisa yang kaya dan tampan-agar aku bisa cepat-cepat merasakan apa yang mereka rasakan.
"Seharusnya kau memberitahuku kalau kau sudah berpacaran, Je. Aku merasa dikhianati," aduku sebelum akhirnya menyeruput mie cup yang sudah cukup mengembang dan matang.
Siapa yang menyangka gadis paling polos dan lugu di kelas diam-diam sedang menjalin hubungan? Aku saja kaget.
"Sebenarnya kami belum berpacaran," sahut Toni alih-alih Jeje. "Lebih tepatnya masih pendekatan."
Uhuk! Uhuk!
"Alena! cepat minum ini." Jeje buru-buru menyodorkan gelas es jeruknya padaku, tanpa pikir panjang aku segera meminumnya sebab kurasa aku baru saja tersedak bubuk cabai di kuah. Beruntung tidak ada mie yang keluar dari lubang hidungku. Aku mengutuk es tehku yang sudah habis duluan padahal makananku masih sisa banyak.
"Sekarang ceritakan padaku bagaimana kalian bisa dekat? Aku iri. Siapa tahu setelah dengar cerita dari kalian aku bisa mendapatkan pacar," ujarku berterus terang.
Mendengar hal itu, Toni pun menarik napas dalam, seolah tengah mempersiapkan mental untuk membeberkan kisah kasihnya yang sukses membuatku penasaran. "Malam itu disaat semuanya sudah tidur di tenda camping masing-masing, aku masih terjaga karena merasa lapar. Awalnya aku ingin mengajak Jery mencari makanan, namun kalau tidur ia tidak bisa dibangunkan seperti orang mati. Jadinya aku keluar tenda sendirian. Kemudian melihat Jeje sedang duduk di depan perapian yang masih menyala sendirian. Aku mendekatinya lalu menanyakan sebab kenapa ia belum tidur. Ternyata sama, dia juga kelaparan. Lantas kami berdua memutuskan untuk mencari warung di sekitar area camping, beruntung ada warung kopi yang masih buka. Kami pun akhirnya memesan mie instan dan dua cangkir kopi panas. Kemudian kami asyik mengobrol, bertukar nomor HP dan chat-an sampai sekarang. Ternyata Jeje itu tidak seperti yang kukira."
"Oke, sekarang aku ingin bertanya. Kira-kira berapa lama orang yang berpacaran akan putus?"
Mendengar itu, Jeje dan Toni sontak melongo.
"A-apa maksudmu? Kita bahkan belum berpacaran," sergah Toni tak habis pikir.
"Bukan untuk kalian, tapi untuk orang lain. Cepat katakan berapa lama!"
"Setahuku, kalau orang pacaran karena cinta monyet, paling tidak hubungan mereka akan bertahan selama tiga bulan saja." Toni akhirnya menjawab. Dari ekspresi wajahnya, ia tidak terlihat sedang bercanda.
Apakah ini berarti hubungan percintaan pasangan bangku seberang akan segera kandas? Demi apapun, hatiku sedang menjerit puas.
"Memangnya kenapa, Al?" Jeje tiba-tiba berceletuk. Sebagai pengindahan, aku hanya memberikan gelengan kepala singkat. Sementara kedua bola bangku pendarku mulai melirik sinis kedua makhluk bumi di seberang sana.
"Kenapa sih dari tadi kau melihat ke sana? Ada apa?" tanya Toni sembari mengikuti arah sorot pendarku, ia menoleh ke belakang, Jeje juga melakukan hal yang sama. Setelah paham, gadis itu langsung menutup mulutnya tak percaya.
"Hei, jangan bilang yang kau maksud itu Jery dan Rahel?" Jeje memekik skeptis.
Dengan santai, aku mengangguk. "Hubungan mereka sudah berjalan tiga bulan. Apa itu artinya mereka akan putus?"
"Tiga bulan? Yang benar saja!" Jeje terdengar tak membenarkan.
"Jery pernah mengirim pesan padaku kalau dia akan membelikan sesuatu untuk anniversarynya yang ketiga bulan bersama Rahel. Mau kutunjukkan pesannya?" tanyaku sambil bersiap mengambil ponsel di saku rok.
"Tidak mungkin kau pasti salah baca," kata Jeje.
"Serius deh. Ada apa dengan kalian berdua? Kenapa kalian seperti tidak percaya dengan yang kukatakan barusan?" Kedua alisku sontak mengernyit ragu.
"Jery pasti seadang membohongimu, Al," cerocos Toni semakin membuatku tambah bingung.
"Jery tidak bohong, pasti dia typo saat mengetik di chatnya dengan Alena," interupsi Jeje.
"Kau yakin dia typo?"
Brak!!
Tanpa sadar, tangan kananku menggebrak meja dengan cukup keras. Semua penghuni kantin spontan menoleh ke arah bangku kami bertiga, termasuk Jeryco dan Rahel. Aku langsung menutup wajah dengan cup mie karena malu luar biasa. Siapa suruh Jeje dan Toni berdebat? Sudah tahu aku ini sedang haus jawaban.
"Katakan yang sebenarnya, jangan buat aku mati penasaran," pintaku sesaat setelah keadaan kantin kembali tenang seperti semula.
"Sebenarnya mereka itu sudah berpacaran dua tahun Lebih sejak MOS."