
Ia meronta-ronta. Kedua tangannya berusaha untuk menahan pergerakan tanganku yang tengah menggelitik manja di perutnya. Lama-Lama aku jadi kasihan. Ia sampai terlihat lemas karena banyak tertawa. Kalau tetap diteruskan, mungkin bisa-bisa ia cepirit di celana. Oh! Atau bahkan mengompol.
"Ternyata gampang geli, ya?" Aku terkekeh, setengah mengejek. Ia mengangkat sudut bibirnya tinggi-tinggi. Sinis.
"Bagaimana lututmu? Masih sakit?" tanyanya mengubah topik pembicaraan seraya memandang lurus lututku.
"Lumayan," jawabku apa adanya.
Jery mengangguk paham. Lantas mulai membuka kaos yang digunakan untuk menghentikan perdarahan di lututku. Kini, darah segar tak lagi mengucur seperti sebelumnya.
"Sobeknya lumayan dalam," ujarnya memberi tahu. Kemudian ia beralih membersihkan kerikil-kerikil kecil dan tanah yang menempel di atas lukaku dengan ujung kaos yang masih bersih. Aku meringis.
"Perih, ya?" Jery peka. Ia menghentikan aksinya. Aku mengangguk sambil menggigit bibir bawah menahan rasa bak ditusuk ribuan jarum itu.
Perlahan, Jery mendekatkan kepalanya pada lututku. Lantas aku bertanya, "Mau apa?"
Pria ini sepertinya suka sekali melakukan sesuatu yang tak diduga-duga. Alih-alih memberikan jawaban atas pertanyaanku, ia justru mengabaikan. Dan beralih dengan meniup-niup pelan luka di lututku. Ingin mengurangi rasa perih dengan caranya sendiri. Sukses membuat hatiku menghangat. Ia sangat manis jika seperti ini.
"Masih terasa perih?" tanyanya, berlanjut dengan meniup-niup lututku kembali. "Sudah mendingan."
Ia mendongak, lalu mengangguk mengerti.
"Sepertinya aku melihat sesuatu."
"Apa?" Jery penasaran.
"Warnanya merah. Di dahan pohon."
Merotasikan bola mata dongkol, Jery Lekas berseru, "Apa? Burung yang tadi?"
Aku menggeleng cepat. "Bukan! Bentuknya kotak."
Jery langsung membawa pandangannya menuju arah telunjukku mengacung. "Mystery box atau bukan?"
"Sepertinya... iya!" Ia menoleh padaku, "aku akan mengambilnya."
"Bagaimana caranya?"
"Memanjat lah, apalagi?" ujarnya bersolusi, "kau tunggu di sini."
Sepersekian detik kemudian, Jery bergegas memanjat salah satu pohon yang dekat dengan tempat kami berteduh. Ia sangat bersemangat. Tidak sampai sepuluh detik ia sudah berada di dahan pohon dan mengambil mystery box berwarna merah itu. Dan entah kenapa, aku jadi teringat salah satu scene film Tarzan.
Sial! Aku hampir tertawa.
"Hujannya sudah mereda. Ayo cepat kembali ke tenda. Waktunya kurang lima belas menit lagi," terangnya sembari memberikan mystery box itu padaku, lalu ia mengambil posisi jongkok, "naik, aku gendong Lagi."
"Tidak usah. Aku bisa berjalan."
"Tidak menerima penolakan."
Maka, akupun kembali naik dalam gendongannya. Butuh waktu lima menit untuk sampai di area tenda. Semua anak berada di sana dan masih sibuk mencari mystery box meskipun hujan rintik-rintik masih jatuh membasahi. Jery Langsung membawaku ke tenda PMR. Sesampainya di sana, aku Langsung mendapatkan pertolongan oleh petugas yang bersangkutan.
"Sudah?" Jery bertanya sesaat setelah aku keluar dari tenda. Ia menungguku di luar dengan kupluk jaket yang sudah menyelimuti kepalanya. Rupanya hujan kembali deras. Alih-alih berteduh di dalam tendanya masing-masing seperti anak Lain, Jery justru rela kehujanan untuk menungguku selesai diobati. Aku jadi tersentuh.
"Ayo berteduh," ajakku seraya menarik pergelangan tangannya. Ia menurut. Sepersekian detik setelahnya, seseorang memanggil nama kami secara bergantian.
"Jery!" "Alena!"
Itu adalah Toni dan Jeje. Mereka tengah berlari menghampiri kami sambil melindungi kepalanya dengan telapak tangan agar tidak basah. Tapi tunggu, aku melihat sesuatu di tangan kanan Toni.
"Alena kau kenapa?" tanya Toni. Aku menggeleng samar seraya menjawab, "Tidak apa-apa, kok."
Toni lantas berseru. "Instingmu benar. Kami berdua mendapatkan mystery boxnya, ia Langsung menunjukkan box berwarna merah itu. Tak ketinggalan, Jery juga langsung menunjukkan mystery box yang kami berdua dapatkan. Double kill! Kita berempat akan mendapat dua jackpot hari ini.
"Jery!!"
Suara panggilan melengking seorang gadis itu sukses membuat kami semua menoleh. Gadis cantik dengan rambut yang sudah lepek terkena hujan itu tengah terengah-engah bergegas mendekati eksistensi kami.
"Ada apa?" Sepertinya Jery mengenal gadis dari tim 'Ular' ini.
Jery langsung memegang kedua lengan gadis itu, lalu sedikit menyentaknya, "Kenapa dengan Rahel?"
"Dia hilang."
"Apa?"
"Tadi Rahel bilang mau menyusulmu ke hutan tapi dia tidak kembali sampai sekarang. Aku dan timku sudah mencarinya ke mana-mana," jelasnya dengan suara bergetar.
Jery memejamkan matanya, "Sudah Lapor ke pembina?"
Gadis itu menggeleng.
"Aku akan membuat Laporan," cetus Toni seraya bergegas mencari Tiger Ssaem.
Sementara itu, Jery yang terlihat sangat panik mulai berlari menuju ke tepi hutan bagian timur- tempat kami berdua mencari mystery box.
Aku hendak berlari mengekorinya, namun Jeje menahan, "Jangan! Kakimu sakit, Al!"
Tak mengindahkan sama sekali, aku pun menepis tangannya. Kemudian lekas berlari menyusul Jery yang kini sudah mulai terlihat sangat jauh. Aku memaksa, meskipun lutut kananku masih sangat linu untuk digunakan berlari.
"Rahel! Kau di mana?" teriak Jery terdengar menggema. Diam-diam aku mengikutinya dari belakang.
"Rahel!!"
Cukup lama ia mencari. Memanggil namanya berkali-kali. Berlari kesana-kemari. Aku kewalahan. Lututku kembali mengeluarkan darah karena terus dipaksa.
"Kau di mana?" Suaranya terdengar kian serak dan berat. Aku yakin ia sedang menangis. Air matanya berpadu dengan guyuran hujan yang membasahi wajah frustasinya.
"Ssst," ringisku menahan perih. Kasa yang semula menutup lukaku kini sudah terlepas entah ke mana.
Sial!
Padahal aku hanya berpaling sebentar untuk mengecek lukaku, tapi kini Jery sudah tak ada di depan mataku.
Kubawa langkahku semakin cepat. Entah ke mana. Aku tidak tahu. Hanya berpacu pada insting.
Sampai akhirnya kedua langkahku itu berhenti dengan sendirinya tatkala melihat pemandangan yang membuat tubuhku lemas. Entah lega atau bagiamana. Aku segera bersembunyi di balik pohon besar dan mulai mengintip.
"Kau ke mana saja? Aku khawatir setengah mati, Rahel!" teriak Jery sembari memeluk erat wanitanya yang tengah menangis kencang.
"Aku tadi melihatmu...bersama gadis Lain... aku ingin mengikutimu...tapi aku kehilangan jejakmu." Gadis itu semakin mempererat pelukannya, kemudian menenggelamkan kepalanya pada dada bidang sang kekasih.
"Aku sangat takut, Jer" imbuhnya masih dengan nada gemetar.
Jery yang paham akan situasi kekasihnya lantas membelai pucuk kepalanya lembut. Tangan kirinya juga terlihat mengusap punggung sang kekasih untuk menenangkan. Ia sedang berusaha memberikan kehangatan pada gadis didekapannya itu.
"Jangan berselingkuh dariku, kumohon."
"Aku tidak akan pernah berselingkuh darimu, Bee. Gadis yang kau lihat sedang bersamaku tadi hanya teman biasa. Bukan siapa-siapa," jelas Jery membuka titik terang.
Hanya teman biasa. Bukan siapa-siapa.
Yang pria itu katakan semuanya benar. Anehnya, lututku yang terluka, tapi kenapa hatiku juga ikut terasa sakit? Dadaku sesak mendengar kalimat itu keluar dari mulutnya.
"Jangan pernah tinggalkan aku, Bee. Aku takut," pinta Rahel Lirih.
Jery lantas mulai merenggangkan pelukan. Sepasang telapaknya yang besar dan hangat itu beralih menangkup pipi sang kekasih. Kedua sudut bibirnya tersungging tinggi. Sorot matanya penuh cinta.
"Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu. Aku akan selalu ada di sini untukmu. Untuk mencintaimu."
Detik itu juga, Jery mendaratkan bibir ranumnya di atas bibir ceri milik Rahel.
Berciuman di bawah rintik-rintik hujan dengan penuh kemesraan.
YANG JOMBLO SABAR YAK ðŸ˜ðŸ˜