
Aku terjebak dalam dimensi bosan yang berkepanjangan hingga suara denting bel istirahat pun akhirnya menggema. Seluruh siswa berhamburan keluar menuju kantin yang sedari tadi memenuhi pikiran. Berlari tak sabaran dengan ekspresi sangat kelaparan. Sementara di sini aku masih berusaha mengumpukan nyawa setelah mencuri-curi waktu untuk tidur sejenak. Namun, aku tidak sendiri. Gadis 'cupu' itu juga masih duduk anteng dibangkunya.
Buru-buru aku merogoh ponsel yang tersimpan dalam saku dada, kemudian mengarahkan kamera pada objek papan tulis yang dipenuhi dengan rumus matematika. Aku tak paham sama sekali. Tulisan-tulisan itu terlihat seperti rumput yang bergoyang. Mendengar guru yang memberikan penjelasan seperti Eminem saja membuatku seperti sedang di ninabobokan. Otak kecilku seketika mengkerut saking tidak pahamnya.
Aku benci matematika dan aku tidak suka belajar.
"Apa kau tidak mau berkenalan dengan teman sebangkumu ini?" cetusku tatkala melihatnya mulai mengeluarkan bekal makanan dari dalam tasnya.
"Aku sudah mengenalmu. Tadi kau memperkenalkan diri didepan kelas" Ia menunduk, entah karena malu atau takut, aku hampir tidak bisa membedakannya. Sesekali ku dapati ia membenarkan kacamatanya yang melorot. Tulang hidungnya kecil, sedangkan kacamatanya besar dan berbentuk bulat. Rambutnya juga dikepang dua.
"Apa cupu itu memang namamu?" tanyaku memancing
Gadis itu menggeleng cepat, kemudian secara tak terduga mengulurkan tangannya yang kurus dan berwarna putih pucat. Membuatku mengingat mayat Ibu sebelum di kremasi.
"Namaku Jesica" ucapnya lirih sekali
"Jadi bukan cupu?" Ia menggeleng sekali lagi.
"Panggilanku Jeje, Cupu adalah julukanku. Jery yang mulai memberiku sebutan itu"
"Jery?" Dahiku mengkerut
"Jeryco. Anak laki-laki yang tasnya kau lempar kebelakang tadi" jelasnya.
Jadi laki-laki berkaki kuda itu namaanya Jeryco.
"Kau tidak pergi kekantin?"
"Tidak, aku lupa meminta uang saku" jawabku apa adanya. Tapi tak berselang lama, Jeje kembali merogoh isi tasnya.
"Aku ada sedikit uang, pakai saja. Tidak apa-apa, hari ini aku membawa bekal"
"Tidak, kau makan saja. Aku sedang tidak berselera"
"Sudah, cepatlah makan, nanti keburu bel masuk" titahku seraya beralih pada ponselku. Jeje tersenyum lalu mulai menyantap bekalnya.
Tidak ada yang saling bicara untuk beberapa saat. Jeje masih sibuk dengan kegiatan mengganjal perutnya, sedangkan aku tengah fokus membaca sebuah thread yang sedang trending di twitter dan menjadi topik pembicaraan hangat akhir-akhir ini. Sang Legenda telah kembali.
Bersamaan dengan itu, bunyi derap langkah kaki yang memasuki kelas sontak membuat kegiatan masing-masing dari kami berhenti. Itu Jery, sedang berjalan bersama dengan seorang siswi yang bergelayutan dilengan kanannya dengan sangat manja. Laki-laki itu mengajak sang gadis duduk pada bangku didepanku -milik siswa lain yang sedang jajan dikantin.
"Jadi ini teman barumu, Jery?" Gadis itu menyerongkan tubuhnya ke belakang. Mencoba untuk menilikki lamat-lamat. Yang ditanyai hanya berdehem singkat sebagai jawaban.
Beberapa detik setelahnya, gadis itu mengulurkan tangannya padaku, sama seperti yang Jeje lakukan sebelumnya. Aku tidak langsung membalas jabatannya sebab mendadak dibuat salah fokus. Buah dadanya besar sekali. Seragamnya bahkan terlihat sangat sesak.
"Kau melamun?"
Aku terkesiap "Ah, ya?"
"Kenalkan, namaku Rahel. Pacar Jeryco. Siswi paling populer, cantik dan seksi"
Tidak ada yang bertanya sialan!
"Jery tadi bilang ada siswi pindahan yang kurang ajar merebut tempat duduknya" Rahel melirik sekilas kekasihnya lalu berpaling memperhatikan nametag diseragamku. "Apa itu kau Alena?"
"Kalau iya, memang kenapa?" aku mendengus malas. Jeje juga terlihat mulai mengemasi perbekalan makanannya.
"Awalnya ku kira bocah pindahan itu adalah gadis cantik dan centil, nyatanya hanya seorang laki-laki"
"Aku perempuan!"
*Jeryco