
Sepertinya keinginan Jery kali ini tidak mendapatkan restu dari semesta. Hujan deras tiba-tiba turun begitu saja. Membuat kami berdua mau tidak mau harus mencari tempat berteduh agar tidak basah kuyup.
"Kita berteduh di sini dulu tidak apa-apa, kan?" tanya Jery merasa tak enak.
"Tidak apa-apa. Santai saja kali," sahutku tak keberatan sama sekali.
Well, saat ini kami memang sedang berteduh di depan minimarket. Tidak hanya kami, ada beberapa orang lain yang juga ikut berteduh. Tapi yang jelas, dari sekian manusia, hanya kami berdua yang masih menggunakan seragam sekolah. Ya, semoga saja tidak ada satpol PP yang akan mengangkut kami karena disangka membolos -karena masih memakai seragam dan keluyuran di jam makan siang.
"Jery, lepas saja jaketmu itu. Basah. Nanti malah masuk angin," titahku saat baru menyadari bahwa bagian depan jaketnya basah. Jery meresponnya dengan anggukan kecil, namun mantap. Ia bergegas menurunkan resleting jaketnya, sementara aku melakukan hal yang sama.
"Ini," aku menyodorkan jaket milikku yang tak basah-basah amat, masih bisa ditolerir dan tentunya hangat. "Pakai saja jaketku. Kau baru saja sembuh, tidak boleh kedinginan. Nanti bisa kena flu."
Jery menggeleng mantap, "Tidak usah. Kau pakai saja. I'm okay."
"Menurutlah selagi aku memintanya baik-baik," ujarku sarkastik sambil kembali menyodorkan jaketku di depan dadanya.
"Tapi_"
"Cepat ambil, tanganku sudah pegal."
Ia mengangguk ragu, kemudian mulai mengambil alih Jaket itu dari tanganku. Beruntung jaketku oversize, Jadi muat untuk tubuhnya yang bigsize.
"Hei, Jery! Bagaimana kalau kita beli payung dan lanjut ke Subway?" tanyaku sok ide sembari melirik jam tangan sekilas, "sebentar lagi jam satu siang."
Kau tahu alasan mengapa Jery tiba-tiba ingin mentraktir makan di Subway?
Itu karena ia mendapatkan dua voucher makan gratis. Sudah kuduga. Jery yang mendadak baik dan murah hati itu patut dicurigai. Konsepnya bukan lagi 'mentraktir', melainkan 'menukarkan voucher gratis".
"Apa kau gila?" Pria itu terdengar tak menyetujui ideku. "Apa kau tahu bagaimana rasanya pakai payung sambil naik motor?"
Aku menggeleng skeptis. "Memang bagaimana rasanya?"
Jery menghela napas pendek sebelum akhirnya menjawab, "Rasanya seperti sedang menantang malaikat maut."
"Salah posisi sedikit saja saat memegang payungnya, maka kau bisa terbang terbawa angin sampai ke perbatasan Korea Utara dan Korea Selatan," Lanjutnya sangat meyakinkan. Seolah-olah ia sudah pernah mengalaminya.
"Kalau menunggu terang, pasti akan lama. Sementara sepuluh menit Lagi voucher itu akan kadaluarsa kalau tidak segera ditukar." Sejujurnya, aku juga tengah kelaparan.
"Tapi kalau hujannya kita terjang, bisa-bisa kita diusir pas sampai sana karena basah kuyup dan bikin banjir lantai," ujarnya cukup masuk akal. "Tidak apa-apa. Tidak usah pakai voucher gratis. Nanti akan kubayari."
"Memangnya kau punya uang?"
Tuk!
Kurasakan sebuah sentilan kuat tepat di tengah jidatku. Aku mendengus, "Wah kau baru saja melakukan KDRT!!"
"KDRT apanya? Kita saja belum menikah," elaknya sambil berkacak pinggang. Memasang wajah kesal, padahal di sini aku yang jelas-jelas dibuat kesal.
"KDRT, Kekerasan Dalam Raga Teman," jelasku meluruskan, "kau baru saja memukulku, ragaku kesakitan, SiaLan!"
"Ouch!! Apakah kita perlu ke rumah sakit, Nona Alena? Sepertinya kepalamu harus dirongsen untuk melihat apakah otakmu baik-baik saja atau tidak." Pria itu malah meledekku. Sengaja. Ia bahkan memasang air muka sok khawatir sambil memegangi jidatku yang belum lama ia sentil.
"Jangan pegang-pegang! Nanti malah iritasi," kelakarku yang direspon dengan sudut bibir kiri sedikit naik, ekspresi khas orang julid.
"Jeryco... mau makan ramyeon bersamaku?"
"Y-ya?" Jery menganga, gaya bicaranya jadi terbata-bata, ia bahkan melempariku tatapan tidak percaya.
Aku bingung, alisku spontan saling bertaut. "Kenapa? Ada yang salah?"
Si Jery ini langsung menggelengkan kepalanya konstan -bukan untuk menanggapi jawabanku, melainkan terlihat seperti sedang berusaha untuk mencari kesadaran diri. Ia kemudian memalingkan wajahnya dariku, namun dari sini aku masih bisa melihat ia tengah menelan ludah susah payah. Jakunnya seperti tersangkut di kerongkongan. Ia seperti orang yang sedang... gelisah? Entahlah, aku juga tidak yakin.
"Kau"
Jery lebih dulu menginterupsi pembicaraanku dengan sengaja menyenggol sikuku, kemudian menunjuk dagu ke arah orang-orang yang juga tengah berteduh di depan minimarket. Aku menoleh sesuai instruksinya. Lalu total tergemap saat mendapati semua orang di sini tengah menatapku aneh, bahkan ada juga yang sampai berbisik-bisik kelewat julid.
Sesungguhnya aku tidak peduli sama sekali. Toh sejak lahir pun aku juga sudah jadi topik gosip paling epik. Biasalah, skandal Ayah.
"Jadi sebenarnya kau ini mau atau tidak makan ramyeon bersamaku? Jawab yang jelas, jangan seperti anak perawan ma_"
Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, Jery sudah lebih dulu membekap mulutku dengan telapak tangannya. "Ssssstttt!!!!"
Aku berusaha melepaskan diri, namun tenaganya jauh lebih kuat untuk kutentang. Bahkan secara random, ia membungkukkan sedikit punggungnya ke arah orang-orang yang masih menatapku heran. Seolah sedang meminta maaf. Ia juga berkata, "Maaf, saya benar-benar minta maaf. Gadis ini mentalnya memang agak terganggu. Jadi harap maklum."
Ia masih melanjutkan acara minta maafnya yang mengatasnamakan kesehatan mentalku. Tidak tahu saja aku di sini sedang menahan emosi untuk tidak membogem 'Jery Junior' yang tak sengaja bersentuhan dengan tanganku. Ia tak menyadarinya dan terus membekap mulutku sampai terasa agak kebas. Baru setelah orang-orang mulai memalingkan pandangannya dari eksistensiku, ia baru melepaskannya.
Kini kedua mata kami saling bersirobok. Bedanya, tatapan mataku penuh emosi, sedangkan tatapan matanya penuh teka-teki.
Tanpa ba-bi-bu. Jery kontan mendekatkan mulutnya di telingaku. Lantas ia melayangkan sebuah pertanyaan yang kelewat sarkas, "Al... kau horny ya?"
"Ha? Gimana?" Mendadak aku seperti orang bodoh. "Horny? Aku?"
Jery mengangguk mantap, lalu kembali menyuarakan uneg-uneg yang mengganjal di hatinya. "Bukankah terlalu cepat? Tidak kupikir kau terlalu agresif. Tiba-tiba mengajakku **** dengan cara seperti ini. Padahal aku baru putus kemarin lusa. Setidaknya hargai aku yang baru patah hati, walaupun kau sedang horny setengah mati."
Kau tahu? Mulutku kini tengah menganga selebar Danau Toba.
Horny? ****? Apa hubungannya dengan ramyeon?
Atau jangan-jangan ada **** gaya ramyeon? Ramyeon, gaya?
Otakku Loading parah.
Seseorang tolong beri aku pencerahan.
"Hei, kok malah bengong?" Jery melambaikan tangannya di depan wajahku.
"Jry... jujur ya, aku tidak tahu maksud dari pembicaraanmu. Tidak nyambung. Ramyeon dan **** itu bukan satu kesatuan yang klop," ungkapku berterus terang. Tidak mau muluk-muluk.
"Kau sungguh tidak tahu? Atau hanya pura-pura tidak tahu untuk menutupi rasa malumu karena habis kutolak mentah-mentah?" tanyanya dengan aksen tengil.
"Apa aku terlihat sedang malu?" Aku menunjuk wajahku, "Bukankah sekarang aku terlihat seperti orang bodoh berIQ jongkok?"
Ia terkekeh sambil menepuk pundakku beberapa kali. "Iya. Kau memang tidak pandai menyembunyikan ekspresi. Terlihat bodoh sekali. Seperti sapi."
"What the fff- "Oke, Alena kau harus sabar. Jujur itu boleh-boleh saja, tapi ya harus tahu kondisi juga. Fix! Jery juga tak kalah bodoh karena tidak bisa memfilter kata-kata yang keluar dari mulutnya.
Jery lagi-lagi mendekatkan mulutnya ke telingaku, sebelum akhirnya berbisik, "Kalau mengajak lawan jenis untuk makan ramyeon bersama, itu tandanya kau sedang merayunya. Merayu untuk melakukan kegiatan berkembang biak. ****."
Wah, sungguh korelasi yang tak masuk akal.
Sampai sini aku paham alasan dibalik orang-orang itu menatapku sambil berbisik-bisik manja. Rupa-rupanya mereka salah mengira bahwa aku adalah gadis nakal karena mengajak makan ramyeon laki-laki yang tak lain adalah teman sekolahku sendiri. Padahal jelas aku mengajaknya karena cacing-cacing dalam perutku sudah mencak-mencak minta diberi makanan.
Minimarket ini menyediakan fasilitas untuk memasak makanan instan sekaligus bangku tempat makan. Aku bisa melihatnya melalui dinding minimarket yang terbuat dari kaca. Di sana juga ada bapak-bapak yang sedang menikmati kopinya.
"Aku ingin makan ramyeon instan. Lapar. Kalau kau tidak mau, tunggu saja di sini," ucapku sembari melenggang memasuki minimarket. Tak sampai tiga detik, Jery mengekoriku dari belakang dan memintaku untuk membuatkan untuknya juga.
"Ini," kataku seraya meletakkan cup ramyeon di atas meja. Masih panas, baru keluar dari microwave. Jery mengindahkanku dengan anggukan, laLu melanjutkan kegiatan melamun sambil menatap rinai hujan di balik dinding kaca. Raut wajahnya sendu.
Seperti sedang banyak beban pikiran.
"Kenapa?" tanyaku selagi mengaduk ramyeon agar bumbunya tercampur rata, sementara Jery masih diam saja. "Teringat Rahel, ya?"
Ia kontan menoleh ke saya sebelum akhirnya balik bertanya, "Tau dari mana?"
Mendecih pelan, aku lantas berkata, "Padahal aku hanya asal menebak. Eh, ternyata benar. Bau-bau gagal move on."
Si Jery itu mencebik remeh, "Bukan 'gagal move on', tapi masih belum move on. Bedakan." Dua detik berselang, ia mendengus panjang. "Kau tahu? Setiap malam aku tidak bisa tidur karena terus memikirkannya."
"Setiap malam tai ayam! Kau baru putus kemarin lusa. Tidak usah hiperbola," sergahku nyinyir maksimal, kemudian meniliknya dari ujung rambut sampai perpotongan dada dengan tatapan iba. "Kasihan. Menyedihkan."
Mendengar itu, membuat Jery spontan memegangi ulu hatinya, "Mulutmu menyakiti hatiku, Nona."
Aku mengedikkan bahu tanda tak peduli. Berniat untuk menyeruput ramyeon, namun tertunda saat Jery berdecak sambil berujar, "Sepertinya ada yang kurang?"
"Apa?"
"Kimchi. Makan ramyeon tanpa kimchi bagaikan laut tanpa garam. Hambar," keluhnya sok dramatis, "ambilkan cepat. Di sini banyak kimchi instan."
Menghela napas panjang, aku pun akhirnya kembali bangkit dari bangku. Awalnya aku ingin menolak, tapi gara-gara ia memasang wajah melas dengan mata berbinar lebar-mirip anak anjing yang hendak menangis karena ingin minum susu-membuatku jadi tak tega.
"Ini, kimchi yang anda minta Paduka," ujarku penuh penekanan di setiap kata. Jery meringis, menunjukkan jajaran gigi rapinya. Lantas segera menyumpit kimchi itu dan memasukkannya ke dalam mulut.
Belum saja pantatku menyentuh kursi, Jery lagi-lagi melayangkan kalimat yang membuatku keki setengah mati. "Nona! Sepertinya kau berniat membunuhku ya?"
"Membunuh apanya sih Jery?"
"Bisa-bisanya kau tidak beli minum? Bagaimana kalau Padukamu ini tiba-tiba tersedak?" ujarnya dengan kaki menyilang dan menegapkan postur duduknya, bergaya bak seorang raja di depan bawahannya.
"Ambil saja sendiri. Punya kaki kan?" sarkasku tak mau kalah.
"Kau saja yang ambilkan," perintahnya enteng tanpa berpikir dua kali. "Kemarin lusa aku baru pingsan. Kau tidak lupa kan? Nanti kalau aku keliling minimarket untuk cari minuman, bisa-bisa aku pingsan karena kelelahan."
Menyumpal mulut Jeryco dengan kaos kaki dosa tidak sih?
"Y," sahutku singkat, padat dan jelas. Kemudian menyeret langkah kelewat malas menuju rak minuman.
"Alena!"
Sepertinya pria itu sengaja ingin membuatku kesal.
Aku menghentikan langkahku, kemudian berbalik badan.
"APA??"
"Anu... itu... aku susu pisang."
Dengan sisa kesabaran yang tak lagi bisa dikais, aku hanya bisa tersenyum. Lantas melipat kedua tanganku dengan anggun di bawah perut sebelum akhirnya membungkuk 90° dan berkata, "Baik, Paduka."
Mirip seperti budak dan majikannya.