Remember You

Remember You
The Dinner



"Kita hanya akan makan malam di rumah Oma, haruskah aku memakai pakaian kurang bahan seperti ini?"



"Memangnya ada yang salah dengan itu?" Seseorang yang tengah berdiri di belakangku itu terdengar menyangkal, "Lagipula kau terlihat lebih cocok dengan penampilanmu yang sekarang. Cantik."


Merotasikan bola mata dongkol, aku pun lantas berbalik badan untuk menghadap eksistensi seonggok daging yang baru saja memujiku 'cantik' itu. Bukannya senang, aku justru merasa kesal. Entah kenapa.


"Tapi, Tante... kalau aku masuk angin bagaimana?" tanyaku setengah mengadu. Wanita itu malah terkekeh, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.


"Apa Tante Renata tidak pernah melihat berita di TV tentang orang yang tiba-tiba saja meninggal karena masuk angin?"


Ia menggelengkan kepalanya cepat seraya mencebikkan bibir bawahnya, "Hei, Alena, dengar ya. Memakai gaun seperti ini tidak akan membuatmu mati. Percayalah. Malah dengan penampilanmu yang seperti ini, pasti banyak laki-laki yang akan melirikmu di sepanjang jalan. Lalu mereka akan berlutut padamu sambil berkata 'maukah kau jadi pacarku?'. Impresif."


Mendengar rentetan kalimat itu membuat impuls syarafku langsung mengirim sinyal ke otak, tubuhku spontan bergidik geli. Jadi ngeri sendiri saat membayangkan jika itu benar-benar terjadi. Amit-amit sekali.


"Maaf Tante, tapi tipeku idealku sangat mahal."


Tante Renata mengangkat sebelah alisnya tinggi sebelum akhirnya bertanya, "Memangnya tipe ideal Alena seperti apa?"


Memilih untuk tidak langsung menjawab, aku lantas berjalan dua langkah menuju presisinya. Kemudian mendekatkan bibirku pada telinga kanannya sambil berbisik.


"Tipe idealku itu seperti boss mafia, CEO tampan, atau paling mentok sugar daddy."


Sepersekian detik setelahnya wanita itu terbahak-bahak. Tangan kirinya ia gunakan untuk menutup mulutnya yang sedang tertawa lebar, sementara tangan kirinya menabok lenganku beberapa kali sebagai pelampiasan. Ternyata wanita secantik dan seanggun Tante Renata kalau tertawa suka memukul orang lain juga. Kukira hanya Oma dan Ibu yang punya kebiasaan aneh seperti itu.


"Ya, Alena! Pantas saja sampai sekarang kau jomblo tidak punya pacar," ujar Tante Renata terbata-bata karena masih asik tertawa.


"Tante tahu dari mana?" tanyaku setengah heran. Selama ini aku memang masih agak menutup diri jika bersama dengannya.


"Ayahmu yang bilang."


Oh, Bapak Lucas itu sepertinya minta dicubit.


"Omong-omong, Alena itu single, bukan jomblo. Kalau single itu punya prinsip, sedangkan jomblo itu memang nasib. Jadi tolong bedakan ya, Tante. Biar Alena ini terkesan berwibawa, begitu."


"Sudah-sudah," cetus Tante Renata, lalu beralih menyodorkan sepasang high heels padaku, "sekarang Alena pakai ini, setelah itu kita berangkat."


Kedua bola mataku sontak terkunci pada heel yang tingginya nyaris sama dengan panjang telapak tanganku. Dadaku mendadak berdesir ngilu saat menyadari bahwa tebal heel itu tidak lebih dari telunjukku. Sudah kecil, kenapa harus tinggi sekali? Bahkan kurasa heel itu lebih tinggi dari IQ ku yang tiarap saat pelajaran matematika.


"Tante, bisakah aku pakai sandal jepit saja? Oh! Kalau tidak sneakers saja bagaimana?" tanyaku sembari memasang wajah melas. Memberinya tatapan seperti anak anjing yang baru saja jatuh ke got dan minta untuk diselamatkan.


"Nope!!" tolaknya, lantas menunjuk dagu pada sepasang high heels yang kini tengah menggantung di jemariku.


Pasrah, aku pun segera berjalan gontai menuju sofa. Melempar pipi bokong dengan sedikit hentakan sebelum akhirnya mulai memakai high heels sialan itu di kakiku.


Sejurus dengan itu, suara derit pintu yang terbuka menghentikan aktivitasku sejenak. Aku dan Tante Renata kompak menoleh ke ambang pintu, tempat di mana si pelaku itu kini berada.


"Kalian sudah siap?"


Itu Ayah. Ia bahkan terlihat sangat tampan dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku dan dua benik atas yang sengaja tak dikancingkan.


"Sud-"


"Woah!! Apakah ini putriku?" Bapak Lucas itu memotong ucapkanku. Ia berjalan cepat ke arahku dengan tatapan takjub


Kedua telapak besarnya mendarat di atas pundakku, lalu menggoncang-goncangnya pelan hingga membuat tubuhku sedikit bergetar. Lantas ia menengok ke arah Tante Renata sekilas, "Renata, kau apakan putriku sampai bisa secantik ini? Kau menyulapnya? Wah... bisa-bisa aku diabetes kalau begini caranya."


Aku tahu Ayah pangling. Terpesona. Tapi tidak perlu selebay ini juga. Aku jadi malu dengan Tante Renata.


"Mulai hari ini Alena harus membuat Omanya terkesan. Oleh karena itu aku sedikit memermak penampilannya. Bagaimana Lucas, kau suka?"


"Suka sekali!" Ayah bersemangat. Dua detik kemudian ia beralih merogoh saku celananya. "Sepertinya kita bertiga harus berselfie."


"Tidak mau!" tolakku cepat.


"Hei, kita harus mengabadikan mahakarya indah hasil goresan tangan seorang Renata. Ayo, Alena mendekat," bujuk Ayah sembari membawaku berada di antara mereka berdua.


Dan, "Cheese!"


Satu, dua, ah tidak! Bahkan kurasa Lebih dari sepuluh jepretan foto selfie.


"Oke, sekarang kita berangkat ke rumah Oma."


Butuh waktu sekitar dua puluh menit untuk sampai ke rumah Oma dan Opa. Selama perjalanan, kuhabiskan waktu dengan duduk termenung di jok belakang penumpang sambil menatap ramainya jalanan kota. Ayah dan Tante Renata banyak berbincang tentang hal-hal berbau perusahaan. Bahkan saking asyiknya sampai lupa jika masih ada makhluk bumi yang ingin diajak mengobrol. Seketika itu juga aku merasa seperti menjadi nyamuk yang tak dianggap. Hmm.


"Lucas, aku gugup sekali," celetuk Tante Renata sesaat setelah Ayah memencet bel rumah super megah itu.


"Benar juga."


Hei... Apa yang baru saja kudengar? Apakah mereka sedang flashback?


Andai saja Ibu masih hidup, sudah dapat kupastikan Ayah akan digeprek habis-habisan.


Tak berselang lama, pintu besar itu akhirnya terbuka. Menampilkan dua sosok manusia yang terlihat bungah sambil mengulas senyum lebar-lebar. Siapa Lagi kalau bukan Tuan dan Nyonya Frenando.


"Renata, Oma tidak menyangka kau benar-benar akan datang untuk makan malam bersama kami," ungkap Oma setengah terkejut. Lalu segera membubuhi cipika-cipiki pada Tante Renata. "Oma pikir kau sangat sibuk. Oma sampai tidak bisa tidur karena takut kau tak jadi datang."


"Mana mungkin Renata menolak ajakan Oma," sahut Tante sambil tertawa kecil.


"Benar. Dari dulu kau memang tidak pernah mengecewakan Oma."


Excuse me! Apakah Oma tidak berniat untuk menyambut anak dan cucunya juga?


"Oma, Opa, apa kalian tidak ingin mempersilahkan kami masuk? Kaki Ku sudah pegal dari tadi berdiri terus" sindir Ayah halus.


"Ah, ya! Oma sampai Lu-- tapi di mana Alena?" tanya Oma spontan menunda Langkahnya.


"Apa Alena tidak ikut ke sini?" tanya Opa mengimbuhi.


Sontak Ayah dan Tante Renata terkekeh kompak. "Ini Alena. Apa kalian tidak melihatnya?"


Aku yang sedari tadi bersembunyi di belakang punggung. Ayah pun mulai menyundulkan kepalaku.


"Kenapa kau bersembunyi seperti itu? Ayo sini, Opa ingin melihat wajah cucu-- wah! Ini sungguh Alena cucuku yang kelaki-lakian itu?" Opa terperanjat luar biasa manakala aku mulai keluar dari tempat persembunyian di punggung Ayah. Mulutnya bahkan sampai menganga lebar. Begitu juga dengan Oma. Ia langsung berjalan gopoh menghampiriku.


"Apa yang kalian lakukan dengan Alena sampai jadi begini?" Tangan Oma langsung menangkup kedua pipiku. Kemudian menolehkannya ke kanan dan ke kiri untuk menyaksikan sesuatu yang baru saja membuatnya terkaget-kaget. Tak sampai disitu saja, ia juga menilik penampilanku dari atas sampai bawah dengan sorot pendar tak percaya. "Cucuku cantik sekali malam ini."


"Renata yang menyulapnya, Ma."


"Sudah Oma duga, Renata pasti yang membuat Alena seperti ini. Oma sampai tidak mengenal cucu sendiri saking cantiknya. Kalau saja dari dulu Alena seperti ini, Oma pasti tidak akan seterkejut ini. Kau memang yang terbaik, Renata!" puji Oma sembari mengacungkan jempol ke arah Tante Renata. Yang dipuji kontan tersipu malu. Pipinya terlihat memerah.


"Omong-omong kenapa bisa ada plester di lututmu? Cucu Opa terluka?" tanya Opa sembari menunjuk lutut kananku. Oma yang awalnya entah memang tidak sadar atau justru sengaja menghiraukan pun kini tiba-tiba berubah lebay. "Kenapa bisa begitu? Kau baik-baik saja?"


Aku mengangguk lemas, "Aku jatuh saat camping. Tapi sekarang sudah tidak apa-apa."


"Cucu Oma yang malang," ucapnya sembari mengelus pucuk rambutku. Tidak biasanya. Terlihat sekali sedang cari muka di depan Tante Renata.


"Sudah-sudah... Sekarang ayo kita masuk ke dalam. Kasihan Lucas. Dia sampai terlihat seperti orang ayan karena ingin segera duduk." Opa peka dengan keadaan membuat Ayah langsung tersenyum lega.


Setelah itu, Opa segera mengajak kami menuju ruang makan. Aku tertegun untuk beberapa waktu. Di atas meja makan tersaji makanan yang sangat banyak. Tidak seperti biasanya, ini bahkan terlihat sangat penuh. Terbesit di pikiran, apa ini gara-gara Tante Renata yang datang?


Sudah pernah kubilang, jika ada Tante Renata, Oma seperti orang yang berbeda. Seperti punya kepribadian ganda. Jadi lebih hangat dan keibuan sekali. Padahal aslinya suka mencak-mencak.


"Banyak sekali makananya, siapa yang akan menghabiskan?" tanya Ayah seraya menunggu pelayan menuangkan teh kamomil pada cangkirnya.


Opa berdehem singkat, "Kalian tahu? Semua yang memasak ini adalah Oma."


"Ah, benarkah?" Tante Renata merasa takjub.


"Tentu saja" sahut Oma berbangga diri. "ayo segera di ambil makannya. Habiskan semua kalau perlu."


Mengangguk pelan, Ayah lantas berniat untuk mengambil nasi, namun hal itu terhenti saat Tante Renata memegang tangan Ayah. "Biar aku ambilkan."


Ayah hanya menurut. Tante Renata dengan cekatan mulai menyiduk nasi yang kemudian diletakkan di piring. "Mau pakai lauk apa?"


"Aku ingin pakai lobster kari saja," ucap Ayah langsung diindahkan sang lawan bicara. Mereka terlihat seperti sepasang ah, sudahlah.


"Alena tidak makan?" sentak Opa menyadarkan lamunan sesaatku.


"Mau Tante ambilkan?" tawar wanita itu sambil mengatungkan tangan kanannya.


"Tidak usah, Tante," tolakku sambil buru-buru mengambil pasta.


"Oma sangat senang melihat kalian bertiga seperti ini."


"Senang kenapa?" tanya Ayah dengan mulut yang dipenuhi nasi.


"Seperti sebuah keluarga yang harmonis. Ayah, ibu, dan anak."


"Uhuk... uhuk... uhuk..."


Sial! Aku hampir tersedak garpu makan.