Remember You

Remember You
The Periods



"Baik, anak-anak. Waktu pengerjaan kurang 15 menit Lagi. Bagi yang sudah, bisa dikumpulkan di depan dan silahkan keluar untuk beristirahat."


Seketika, suasana kelas menjadi sedikit riuh. Yang semula asyik melamun, ataupun menatap langit-langit kelas untuk berpikir, bahkan ada yang mengulum ujung bolpoin sebab dongkol, pun segera kembali fokus pada kertas jawaban masing-masing.


Aku hanya perlu menjawab satu soal terakhir. Kukira aku akan menjadi yang pertama mengumpulkan, namun hal itu terpatahkan saat Jery mulai bangkit dari bangkunya. Berjalan santai seolah tanpa beban pikiran menuju bangku guru.


Seisi kelas menatapnya tak percaya. Padahal kuakui soal ujian bahasa Inggris ini cukup sulit dan bisa membuat kepala pening. Tetapi, ia dengan percaya diri menjadi yang pertama mengumpulkan. Persetan apakah ia mengarang jawaban atau benar-benar menjawabnya dengan pikiran, aku sungguh tidak peduli. Lantas setelah satu bulatan terisi, aku segera mengekorinya ke depan untuk mengumpulkan Ljk.


"Kau bilang semalam tidak belajar dan mau mencontek. Tapi kenapa tadi kau malah jadi yang pertama mengumpulkan? Hei, jangan-jangan kau mencuri kunci jawaban ya? Padahal semalam kau seperti orang bego saat membalas chatku." Setelah keluar dari kelas, aku langsung menyemprotkan berbagai pertanyaan sarkas padanya.


"Sssttt..." Jery menempelkan jari telunjuk di mulutnya. "Kenapa sih orang mens jadi sensi dan cerewet?"


Hmm. Menyebalkan sekali ya.


"Aku juara kelas," imbuhnya enteng seraya melipat kedua tangan di depan dada. Lalu memasang wajah arogan luar biasa.


Oh, jadi semalam itu hanya kedok 'merendah untuk meroket'? Wah anak ini benar-benar membagongkan.


Dua detik kemudian, suara notifikasi menyapa ruang rungu kami. Itu bukan notifikasi dari ponselku, melainkan dari ponsel milik Jery. Segera ia membuka ponsel dan membaca pesannya..


"Mau menemaniku?" Ia bertanya sembari memasukkan kembali ponsel itu di saku celananya.


Sebelah alisku terangkat, "Kemana?"


"Ke ruang tata usaha. Tadi Wakasek memberi informasi di grup untuk mengambil surat persetujuan."


"Persetujuan apa?"


"Minggu ini akan diadakan camping. Jadi murid harus mengumpulkan surat persetujuan sebelum ikut," terangnya dengan Lugas.


Aku ber-oh ria sebagai pengindahan.


Saat setengah perjalanan, langkah kami berdua terhenti begitu mendengar suara panggilan yang memekik.


"Bee!"


Spontan kami berdua menoleh ke belakang. Lalu mendapati seorang Rahel tengah berlari kecil ke arah kami sambil menenteng sebuah plastik berisi es teh manis di tangan kanannya. Buru-buru aku mengambil dua langkah ke samping. Menciptakan jarak agak jauh dengan Jery. Sebab saat ini aku sedang tidak ingin mendapat omelan dari gadis montok yang kini tengah bergelandotan seperti monyet di lengan kiri Jery. Memasang wajah manja.


"Kok berduaan dengan si Tomboy ini sih?" Ia melirikku tajam, bersungut-sungut.


Rahel menggelengkan kepalanya semangat, "Mau cari mati?"


"Apa kau membolos Lagi?"


"Iya, dengan teman-temanku. Tapi mereka masih di kantin. Aku tidak sengaja melihatmu dengan si Tomboy. Makanya aku menghampirimu," ungkapnya dengan nada mendayu-dayu sambil menyandarkan kepalanya di bahu Jery. Terlihat mesra. "Hari ini pelajaran matematika. Aku pusing setiap melihat angka."


Lantas Jery mulai menjauhkan tubuhnya dari Rahel, membuat sang gadis berdecak pelan. "Kau kembali saja ke kantin. Aku mau ke TU dulu. Nanti aku akan menyusulmu."


Layaknya orang berkepribadian ganda, Rahel yang semula memamerkan wajah kesal, kini mendadak berubah kelewat girang. "Oke, kutunggu, Bee," celetuknya saraya membubuhi satu kecupan singkat di pipi kanan Jery.


Wah, seketika aku jadi merinding. Menyaksikan adegan seperti ini jauh lebih menyeramkan daripada penampakan setan di film Layar Lebar. Sepertinya sekarang aku sedang mengalami gejala uwuphobia.


Setelah mini drama itu usai, kami pun kembali berjalan menuju ruang TU dan lekas mengambil surat persetujuan yang sudah disiapkan oleh para pengurus.


"Kau ikut?" tanya Jery setelah kami keluar dari ruang TU.


"Entahlah. Tapi sepertinya menghabiskan waktu di atas kasur lebih menarik daripada camping," jawabku apa adanya, lalu menatapnya sejenak, "kalau tidak ikut dapat sanksi, ya?"


Jery membalas tatapanku. Kini kedua bola pendar kami tengah bersirobok. "Tidak, sih. Tapi ini acara tahunan kelas 12 sebelum masuk ke semester akhir. Istilahnya untuk refreshing sebelum menghadapi ujian."


"Oke, aku tidak ikut saja." Aku memutus pandangan dan beralih fokus menghadap depan.


"Kenapa?" Intonasi Jery terdengar berbeda.


Mengedikkan bahu, lantas aku menimpa, "Tidak tahu. Tidak ingin saja. Malas."


"Kalau kau tidak ikut, aku juga tidak ikut."


Langkahku spontan terhenti, Jery juga ikut berhenti. Mata kami bersirobok kembali. "Kenapa?" tanyaku balik.


"Karena--"


"Lebah!"


Ah, sial! Gadis itu datang Lagi.