Remember You

Remember You
The Camp II



Jery kontan menghentikan langkahnya, lalu memutar badannya 180° menghadapku yang sebelumnya berada di belakangnya. Ia mendecih remeh. "Belum juga dicari, malah mengeluh duluan."


"Ya, tapikan-"


"Sst!! Jalannya licin. Perhatikan jalanmu, jangan ngomel terus. Cari pakai mata, bukan pakai mulut. Pokoknya harus sampai ketemu."


Wah, rasanya aku ingin menyumpal mulutnya dengan sepatu bootsku.


"Lihat betul-betul daerah pepohonan, semak-semak, batu-batuan ataupun tumpukan daun. Tapi hati-hati ada ular."


"Iya-iya bawel"


Tetapi, detik itu pula aku mulai tersadar akan satu hal.


"Jeryco," panggilku lirih.


"Hmm?"


"Sepertinya kita sudah terlalu jauh masuk ke dalam hutan," terangku sembari menyipitkan mata, tenda sudah tak lagi terlihat dari posisi kami berdua berada saat ini.


"Benarkah?" tanyanya, lalu menoleh ke arahku, "kenapa? Kau takut?"


"Kalau tersesat bagaimana?" Aku mulai overthinking.


Jery yang menangkap kegelisahanku lantas terkekeh samar, "Tenang saja. Aku hafal rutenya."


"Oh!!!" Tiba-tiba sepasang netraku menangkap sesuatu di atas pohon.


"Kenapa, Al?" pria itu ikut berhenti di sampingku.


"Ada burung!"


"Burung siapa?" tanya Jery sambil menahan tawa. Aku langsung memberinya ekspresi datar. Melihat itu, ia langsung menyentil dahiku pelan. "Kukira kau menemukan Mystery Box."


"Tapi burungnya lucu. Warna merah. Ingin bawa pulang," ungkapku gemas sendiri.


Jery tak mengindahkan keinginanku, ia justru kembali berjalan. "Jangan aneh-aneh."


Persetan. Burung itu terlalu gemas untuk dilewatkan begitu saja. Beruntung sarangnya berada di dahan pohon yang pendek. Aku hanya perlu berjinjit untuk mengambilnya.


Namun, saat aku hendak berjalan mendekat ke dahan tersebut, sesuatu yang tak pernah diduga terjadi kepadaku.


Bughh!!


Aku tersandung. Jatuh tersungkur. Lutut kananku mencium ujung batu yang tajam. Celanaku sobek dan seketika itu pula lututku mengucurkan banyak darah.


"Alena!!"


Jery terperanjat kaget. Ia berbalik arah dan berlari kecil menuju presisiku.


"Kau kenapa?" Jery panik luar biasa. Kedua manik matanya bergerak gelisah.


"Jatuh. Tersandung tadi saat mau ambil burung."


"Kenapa sih susah sekali dibilangin? Kan aku sudah bilang jangan aneh-aneh. Lihat lututmu sekarang berdarah." Ia malah memarahiku. Hm, kuda sialan.


"Aku tahu," ucapku malas. Kemudian berusaha untuk berdiri kembali, tetapi Jery lebih dulu menahanku.


"Mau apa?" tanyaku penasaran, tetapi ia tak menjawabnya, melainkan beralih melepas jaketnya.


Aku menarik napas panjang, "Mau apa?"


Ia tak menjawabnya, lagi. Kali ini ia malah bertingkah dengan membuka kaos putihnya secara tiba-tiba. Mataku yang suci ini jadi tak sengaja melihat penampakan enam roti sobek. Aku langsung memalingkan wajah ke samping.


"Pendarahannya harus dihentikan," ungkapnya lantas menggulung kaosnya tersebut. Kemudian melingkarkannya pada lututku yang masih setia mengucurkan darah segar. Aku meringis linu saat ia mempererat simpul talinya.


"P-pakai jaketmu."


Jery menurut. Buru-buru ia memakai kembali jaketnya. Lalu mengambil posisi jongkok dengan bahu sedikit membungkuk. Kedua alisku sontak tertaut sebab tak paham. "Ngapain?"


"Naik. Aku gendong," sahutnya sambil menepuk-nepuk bahunya sendiri. Ia menatapku yang termangu untuk beberapa saat.


Menggeleng cepat, lantas aku berusaha untuk berdiri sendiri. Mencoba sok kuat. Tapi nyatanya saat masih setengah beranjak, aku kembali ambruk sebab tiba-tiba. merasakan nyeri yang menusuk-nusuk di lututku.


"Keras kepala!" Jery mencebik. "Cepat naik. Kita harus ke tenda PMR."


"Tapi kita belum menemukan-"


"Lupakan. Ayo, cepat," pintanya untuk yang kesekian kali.


Tidak ingin membuatnya semakin kesal, aku lantas mulai merangkak pelan menuju eksistensinya. Lalu memposisikan diri untuk menaiki punggungnya. Jery pun segera menyangga kedua kakiku, sebelum akhirnya kami mulai berjalan kembali menuju tenda.


"Pegangan yang benar. Nanti kau terjungkal." Jery mengingatkan. Sejujurnya sedikit canggung, tapi yang ia katakan ada benarnya juga. Aku langsung mengeratkan tanganku yang mengalung di lehernya.


"Maaf," ucapnya Lirih nyaris berbisik.


Aku tak mengerti. "Maaf untuk apa?"


"Seharusnya aku tidak mengajakmu kesini. Kau jadi terluka karenaku."


"Ti-"


"Lagipula kenapa ada-ada saja sih? Pakai mau ambil burung segala. Coba tadi kau memintaku saja yang mengambilkan hmpp."


Aku membungkam mulutnya yang terus berceloteh itu dengan telapak tanganku. Berisik. Seperti ibu-ibu tukang rumpi. Bukannya merasa jera, ia malah mengambil kesempatan menjilat telapak tanganku, kemudian menggigitnya kecil.


"Ih.. nanti bau jigong! Sialan!"


"Biarin, wle," ia mengejek dengan menjulurkan lidahnya yang panjang. Kami pun tertawa. Namun, tiga detik kemudian tawa tersebut terhenti karena gerimis tiba-tiba turun membasahi kami berdua.


Awalnya Jery ingin melanjutkan perjalanan saja. Lagipun hujannya hanya rintik-rintik. Sayangnya, tak berselang lama hujan yang turun semakin deras. Aku mengajak Jery untuk berteduh di salah satu pohon besar yang rindang. Jika tetap diteruskan bisa-bisa malah terserang flu.


"Agak mendekat biar tidak kena air hujan." Jery menuntunku untuk mengikis jarak di antara kami. Kemudian ia menatapku tanpa berkedip sama sekali. Ia tersenyum tipis. Jemari lentiknya tergerak untuk menyisihkan anak rambutku yang menghalangi pandangan. Lantas beralih menyeka air yang membasahi keningku akibat sapuan hujan, sebelum akhirnya berkata, "Kau jelek."


Sialan!


"Apa kau bilang? Katakan lagi! Cepat!"


"KAU JELEK," katanya mengulangi sambil memberikan penekanan di setiap kata.


Aku yang dibuat jengkel tentunya tidak mau tinggal diam. Jemariku bergerak usil dengan menggelitiki perutnya. Ia terbahak-bahak. Merasa geli setengah mati. Tubuhnya menggeliat seperti cacing kremi.


"Ampun," pintanya dengan wajah memerah. "Buahahahhaha!!"