Remember You

Remember You
The Way To Calm Down



"Apa kau masih marah dengan Ayahmu?"


Brakk!


Aku langsung menutup pintu mobil dengan penuh emosi. Padahal aku belum sempat mencari posisi duduk yang nyaman, bahkan sabuk pengaman pun belum kupasang, namun sudah lebih dulu disambut lontaran pertanyaan kelewat menjengkelkan.


"Apakah Paman Melvin menjemputku hanya karena ingin menanyakan hal itu?" Aku membalik pertanyaannya selagi mulai memasang sabuk pengaman.


Paman Melvin menghela napas panjang. Ia mulai beralih menginjak pedal gasnya. "Oke. Paman tahu sekali Alena masih sangat marah karena kejadian semalam. Tapi--"


"Aku tidak marah. Aku hanya kecewa," interupsiku cepat. Membenarkan tentang bagaimana gejolak sentimen yang kurasakan saat ini. Daripada marah, kupikir aku lebih merasa kecewa. Kecewa yang luar biasa.


"Maaf karena Paman harus mengatakan ini padamu," ia menjeda kalimatnya dan sesekali melirikku. Aku bisa merasakannya walaupun kini aku tengah mengunci pandangan ke depan menatap jalanan, enggan menoleh ke arahnya, namun ekor pendarku masih bisa menangkap bagaimana gerak-gerik Paman yang sedikit bimbang.


"Paman tahu betul bagaimana perasaan Ayahmu. Ia sudah menduda selama 13 tahun. Wajar jika ia merasa kesepian. Apalagi akhir-akhir ini ia sering bercerita pada Paman jika ia tengah stress dengan saham IFC yang terus naik turun. Jadi, Paman harap Alena juga bisa memahami bagaimana perasaan Ayahmu. Percayalah, Ayahmu sedang menyesali perbuatannya sekarang."


"Aku tidak menyalahkan rasa kesepiannya, namun aku juga tidak membenarkan bagaimana caranya menghilangkan rasa kesepian itu. Apapun alasannya, Ayah sudah mengkhianati janjinya pada Ibu," jelasku dari lubuk hati yang paling dalam. "Janji dibawa sampai mati. Masih hidup saja sudah berani mengingkari."


Satu tangan Paman Melvin yang semula sibuk dengan kemudi, kini beralih mengusap punggung tanganku hangat sebelum akhirnya kembali melayangkan sebuah pertanyaan. "Jujur saja, apa Alena masih belum bisa merelakan kepergian Ibu?"


Salah satu pertanyaan yang paling kubenci adalah pertanyaan tentang bagaimana perasaanku terhadap hilangnya sosok Ibu. Mau sekeras apapun aku mencoba untuk bersikap kuat, tetap saja, aku tidak bisa. Bahkan kini kedua netraku sudah mulai memanas.


"Anak mana yang rela ditinggal ibunya untuk selama-lamanya? Bahkan kurasa aku adalah salah satu anak piatu spesial karena bisa melihat bagaimana cara ibuku mati. Jika mengingat itu, aku semakin merasa tidak rela." Aku membuang muka ke arah jendela tatkala air mata di pelupuk sudah tak bisa Lagi dibendung. Cukup Jery saja yang memergokiku menangis, Paman Melvin jangan.


"Tapi bagaimanapun--"


"Paman, bisakah kita tidak membahas Ibu?" Selaku sesaat setelah berhasil menyeka air mata diam-diam.


"Maaf," Lirihnya dengan intonasi menyesal.


Aku menoleh ke arah Paman, memandangnya selama sepuluh detik tanpa berkedip. "Jika Paman bermaksud untuk membuatku memahami rasa kesepian Ayah, maka aku akan berusaha untuk itu. Tapi aku masih butuh waktu untuk memaafkan dan meredam rasa kecewaku."


"Semua memang butuh waktu, tapi jangan terlalu lama membuang waktu. Paman yakin Ayahmu akan sangat tersiksa jika kau tidak segera memaafkannya. Hanya kau satu-satunya alasan mengapa ayahmu bisa bertahan sampai sekarang," terangnya mencoba untuk membuatku mengerti.


Setelahnya, tidak ada lagi topik pembicaraan di antara kami berdua. Paman Melvin kembali sibuk dengan kemudi, sementara aku juga tengah sibuk menatap jalanan dengan pandangan kosong. Sepuluh detik kemudian, aku baru sadar jika jalan yang kami lewati bukanlah jalur Pulang menuju rumah. Sejujurnya aku agak penasaran ke mana Paman akan membawaku pergi, namun aku terlalu gengsi untuk bertanya, sehingga aku memilih diam dan berpura-pura tidak peduli.


Sampai akhirnya kami sampai di suatu tempat yang tidak asing. Setelah mobil terparkir, Paman Melvin segera membuka pintunya untuk keluar tanpa bicara apapun padaku. Berjalan beberapa langkah menjauhi mobil, ia pun terlihat seperti sedang mengangkat telepon dari seseorang. Lumayan lama, sekitar lima menit. Kupikir ia pasti sedang ada janji bertemu dengan seseorang di sekitar sini, jadi aku memutuskan untuk tetap berdiam diri di dalam mobil.


Namun, tak berselang lama setelah panggilan itu berakhir, Paman Melvin kembali berjalan menuju sisi pintu mobil tempatku berada. Ia membuka pintu itu, mengulas senyum manis yang sangat memikat, lantas mengulurkan tangan kanannya seraya berkata, "Apa Alena ingin di mobil terus? Ayo keluar."


Aku mengangguk, kemudian beralih melepaskan sabuk pengaman yang melingkari tubuhku dan segera membalas uLuran tangan Paman Melvini. Sayangnya saat kakiku hendak melangkah keluar, aku tak sengaja tersandung. Keseimbangan tubuhku hilang dan aku terhuyung ke depan. Beruntung Paman Melvin sigap memeluk tubuhku dari depan, jika tidak mungkin aku sudah tersungkur dengan amat memalukan sekarang.


"Astaga, kau ini masih muda tapi sudah banyak pikiran sampai keluar dari mobil saja tersandung. Beruntung Pa -Al?"


Rasanya aneh. Seperti aku tidak ingin sama sekali memalingkan mataku dari wajahnya yang begitu dekat denganku. Kedua tangan besarnya yang refleks menahan kedua pinggangku itu seakan memberi sengatan aneh yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Tanganku yang juga spontan mengalung pada lehernya pun seolah menciptakan desiran lembut yang membuat sesuatu asing dalam diriku bergejolak.


Paman Melvin membalas pandanganku. Sepasang obsidian kami saling bersirobok tanpa sedetik pun berkedip. Aku bisa melihat pupil matanya yang semakin melebar dengan tatapan seketika berubah sayu dan dalam. Ia tersenyum tipis. Kemudian menarik pinggangku semakin dekat dengannya, hingga kini kurasakan perut kami saling menempel satu sama lain. Tangan kanannya beralih pada tengkukku. Mengelus lembut di sana. Menciptakan rasa geli namun nikmat dan candu di waktu yang sama.


Jiwaku ingin menolak, tetapi tubuhku seperti menginginkan sesuatu yang lebih. Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini. Bahkan rasanya aku semakin terbuai saat Paman mulai membelai pipiku dengan begitu lembut penuh perasaan. Wajahnya semakin mendekat. Napas hangatnya perlahan terasa menyapu wajahku. Semakin dekat hingga tak sadar aku mulai memejamkan mata dan-


Cupp!


Sepasang benda kenyal itu mendarat di atas bibir ranumku. Tubuhku menegang. Paman Melvin yang mengetahui itu langsung kembali membelai belah pipiku dengan ibu jarinya. Perlahan ia pun menggerakkan bibirnya. ******* bibir bawahku dan sesekali menghisapnya lembut. Aku pun berusaha melakukan hal yang sama, mengikuti irama lumatannya yang semakin lama semakin ganas dan begitu mendamba, meskipun bibirku terasa sangat kaku sebab aku tidak mengerti bagaimana cara membalasnya.


Paman Melvin kian mempererat rengkuhannya pada pinggangku. Menghapus jarak. Hingga kurasakan sesuatu yang keras menyembul ke perutku.


Ting!


Mendengar suara notifikasi itu, spontan aku mendorong tubuh Paman Melvin menjauh. Ia terheryak dan merogoh kantong celana untuk mengambil ponselnya yang baru saja menyuarakan notifikasi pesan. Sementara ia membaca isi pesan, aku bergegas mengelap bibirku yang basah oleh pagutan saliva.


Paman Melvin tak menjawab, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan terlihat seperti sedang salah tingkah.


"Apa wajar kalau paman dan keponakan melakukannya?" Aku teringat kejadian malam itu, di mana Paman Melvin memelukku sambil mengelus lembut perutku, katanya itu bukan apa-apa, hanya sekedar paman yang memberi kehangatan untuk keponakannya, jadi apakah kejadian ini juga bukan apa-apa?


Pria itu mengangguk. "Iya, ini wajar kok. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya? Ini rahasia kita berdua."


"Iya," sahutku. Mendengarnya, Paman Melvin langsung mengusap pucuk kepalaku sambil berkata, “Gadis baik.”


"Paman mengajakmu ke sini untuk menenangkan pikiran," ujarnya, lantas menggandeng tanganku dan mengajakku untuk berjalan bersama. Kemudian berhenti di salah satu spot yang menyuguhkan pemandangan Sungai Han dengan amat sempurna.


"Bagaimana? Indah bukan?" tanyanya yang langsung kuindahahkan dengan anggukan semangat. Jemari Paman Melvin yang semula setia menggandeng tanganku tiba-tiba saja ia lepas, kemudian perlakuan yang selanjutnya ia berikan padaku cukup membuatku tersentak.


Hap!


Ia memelukku dari belakang. Kedua tangannya melingkar erat pada perutku, sementara dagunya ia tenggerkan pada pundak kiriku. Aku berusaha mengelak, situasi seperti terasa sangat tidak nyaman. Ditambah lagi banyak pasang mata yang menyaksikan dan mungkin sebentar lagi akan menjadi bahan gunjingan karena penampilan kami berdua yang sangat mencolok. Ya, gadis berseragam sekolah dengan om-om bergaya casual.


"Paman lepaskan, banyak yang melihat, aku malu," Lirihku nyaris berbisik.


Namun, seakan tidak peka, ia justru bertanya, "Kenapa harus malu?"


"Mereka pasti berpikir macam-macam."


"Contohnya?"


Kugigit bibir bawahku geram. Katanya ia membawaku kemari untuk menenangkan pikiran, tapi nyatanya ia malah membuatku makin emosi. "Om-om mesum."


"Astaga mulutmu," pekiknya setengah tak terima. "Jangan hiraukan mereka. Sekarang tutup matamu dan ikuti apa yang Paman katakan, mengerti?"


Awalnya aku ragu, namun saat ia semakin mempererat rengkuhannya, aku pun mulai memejamkan mata.


"Tarik napas yang dalam, kemudian hembuskan perlahan. Jangan membayangkan apapun yang membuatmu tertekan. Lepaskan beban pikiranmu bersama dengan hembusan napasmu. Rasakan bagaimana angin sore yang sepoi-sepoi ini menyapu kulitmu. Fokus dan dengarkan bagaimana aliran sungai yang tenang ini menyapa ruang rungumu," instruksinya dengan intonasi bicara yang membuat hatiku merasa teduh. Aku menurut. Cukup lama aku melakukan itu, sampai akhirnya Paman kembali bersuara, "Sudah merasa tenang sekarang?"


Perlahan aku kembali membuka kelopak mataku. Kemudian sedikit menoleh ke samping dan mendapati Paman Yoongi yang ternyata sedang memandangi wajahku diam-diam sambil tersenyum manis.


"Sedikit," jawabku setelahnya.


"Syukurlah. Setidaknya 0,001% beban pikiranmu berkurang. Paman ikut senang." Air mukanya terlihat lega.


"Mau foto bersama?" tawanya mendadak, membuatku sukses mengernyitkan dahi skeptis. "Tiba-tiba?"


Ia terkekeh samar. "Kita belum pernah punya foto berdua," jawabnya selagi mengeluarkan ponsel, lantas menyuruhku mengambil alih untuk memencet tombol kamera.


Masih dengan posisi yang sama memelukku dari belakang Paman mulai menyunggingkan kedua sudut bibirnya, menampakkan jajaran giginya yang rapi sekaligus gummy smilenya yang khas. Aku juga ikut tersenyum lebar sepertinya.


"Chessee!"


"Satu lagi ya?" Paman Melvin terdengar belum puas.


"Chee_"


Cupp!


Aku terperanjat manakala tanpa aba-aba Paman Melvin mencium pipi kiriku. Aku langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan dongo, sementara ia malah meringis tanpa dosa sekali sembari mengambil kembali ponselnya. Lantas melihat hasil foto kami berdua sambil tertawa kecil.


"Haha lihat wajahmu, shock begitu. Padahal Paman cuma cium pipimu," kelakarnya telak mengejek, ia bahkan sengaja mengezoom wajahku yang terlihat seperti orang kepergok kecepirit di celana. Dan apa yang ia katakan? Cuma?