
Detik itu juga, jantungku rasanya seperti sedang terjun bebas dari puncak tebing, kemudian jatuh di atas ribuan kerikil dan hancur berkeping-keping.
Niat awal ingin setoran pagi di kamar mandi seketika terhenti manakala kedua sorot pendar ini mendapati sesosok makhluk bumi tengah menikmati ritual asyik di bawah guyuran air.
Tanpa dosa, ia bersenandung ria sambil menggaruk-garuk kepalanya yang dipenuhi busa. Pinggulnya bergoyang-goyang seakan tengah terbuai dalam irama abstrak yang keluar dari mulutnya. Tubuhku tiba-tiba stagnan. Napasku tertahan. Dan mataku seketika membola disaat makhluk bumi itu mulai berbalik badan ke arahku.
"AAAA WHAAAT THE FFFFFFFF---"
Aku segera keluar terbirit-birit dari kamar mandi, lantas membanting pintu dengan cukup keras. Menarik napas dalam-dalam agar syaraf-syaraf di tubuhku tidak tegang.
Oh, Tuhan! Apa yang kulihat tadi? Belalai gajah?
"Alena ada apa?" Si makhluk bumi itu tengah berusaha membuka pintu. Namun, dengan sekuat tenaga aku menahan gagangnya agar ia tidak bisa membukanya.
"T-tidak ada apa-apa, Paman. Selesaikan mandimu cepat!" raungku dengan frasa gelagapan. Sepuluh detik berselang, yang ada di dalam tak kunjung memberikan respon, aku pun berinisiatif untuk menempelkan telinga pada daun pintu dan suara gemericik air serta senandung abstrak itu terdengar kembali walau samar-samar.
Setidaknya itu membuatku sedikit lega. Ya, sedikit. Karena pemandangan 'wow' tadi masih melekat dengan sempurna di dalam otakku.
Aku benar-benar mengutuknya karena mandi di kamar orang seenak jidatnya, terlebih Lagi tidak mengunci pintu. Jangankan mengunci, pintunya saja sedikit terbuka. Sepertinya yang kubutuhkan saat ini adalah Rinso anti noda untuk mencuci otak dan mataku agar kembali suci.
"Kenapa tadi teriak-teriak?"
Lamunanku seketika buyar tatakala suara bariton itu mengudara. Pintu yang semula tertutup, kini sudah separuh terbuka dan menampilkan eksistensi makhluk bumi yang hendak berjalan keluar dari kamar mandi. Wajahnya heran. Tapi, aku tak kalah heran. Bisa-bisanya ia tidak malu keluar hanya dengan memakai handuk kecil yang melingkari pinggangnya didepan anak gadis super lugu sepertiku. Bagaimana kalau tiba-tiba handuknya melorot?
Jadi, makhluk bumi yang kumaksud itu adalah Paman Melvin.
"Kenapa Paman bisa di sini?" tanyaku balik tanpa menjawabnya terlebih dahulu. Aku berjalan mundur, memberi jarak agak jauh dari presisinya. Sebab entah kenapa kini aku merasa seperti salah tingkah. Aku teringat belalai gajah itu Lagi, ups.
Dahiku mengernyit ragu. "Di sini? Di kamarku? Bersamaku?" tanyaku seraya menunjuk ke arah ranjang, kemudian menunjuk diriku tak yakin.
"Iya, bersamamu di kamar ini."
Kedua lututku mendadak lemas.
"Tapi, Alena di ranjang dan Paman di sofa." Kedua lututku tidak jadi Lemas. "
"Kenapa wajahmu terlihat merah sekali?" tanyanya sembari mengeluarkan baju bersih dari paper bag hitam miliknya. Kemudian mulai memakai kaos putih oblong, berlanjut dengan...
"PAMAN STOP!" Spontan aku menutup mata dengan telapak tangan.
"Kenapa?"
"Jangan pakai sempaknya di sini, plis."
"Memang kenapa?"
"Aku masih kecil, Paman. Tidak boleh melihat pemandangan porno."
"Bukankah tadi kau sudah melihatnya?"
Jadi sebenarnya pria ini juga tahu dan ia hanya sedang berpura-pura tidak ngeh, begitu?
"Cepat sana mandi. Paman yang akan mengantarmu ke sekolah sekalian ke MasterPiece Entertainment," cetusnya. Segera aku berjalan masuk ke dalam kamar mandi tanpa menoleh sedikit pun ke arah Paman Melvin. Kemudian cepat-cepat mengunci pintu dua kali.