Remember You

Remember You
The GingerBread



Sepertinya untuk malam ini, semesta sedang tidak berada di pihakku dan Paman Melvin. Buktinya sesaat sebelum kami berangkat menuju pasar malam, hujan tiba-tiba turun dengan begitu lebat. Seakan tidak memberikan kami ijin untuk pergi. Padahal aku sudah berekspektasi tinggi akan mencoba semua wahana seru bersama Paman Melvin. Kami bahkan sudah membuat some perfect plans. Paman Melvin sampai mencatatnya di note pribadi, seperti; bermain palu godam sampai dapat boneka beruang, masuk ke rumah hantu dan teriak-teriak sampai tenggorokan serak, mengendarai bom-bom car sampai mabuk, naik komidi putar sampai pusing, naik kora-kora sampai mual, dan naik bianglala sepuluh putaran.


Sayang sekali, semuanya gagal total hanya karena turun hujan. Membuat kami mau tidak mau harus kembali ke apartemen dengan wajah bersungut kelewat kesal.


All plans failed!


"Hei... mau sampai kapan kalian akan menekuk wajah seperti itu? Padahal pergi besok kan juga masih bisa," celetuk Nenek membuka suara. Mungkin ia merasa jengkel melihat anak cucunya yang sedari tadi diam saja sambil melipat tangan di depan dada dengan mulut yang manyun ke depan seakan-akan bisa dijadikan sebagai gantungan pot bunga.


"Kalian berdua ini sudah seperti sepasang kekasih yang gagal kencan saja."


Detik itu juga, aku dan Paman Melvin spontan saling menyirobokkan pandangan. Sama-sama memasang ekspresi seolah sedang berkata "kami?".


"Itu berarti tandanya Tuhan sedang menegur kalian. Besok kan Alena masih sekolah, seharusnya belajar bukan keluyuran." Nenek mulai mendengus sebal, "Apalagi kau Melvin. Sudah tua. Sudah mau berkepala empat. Bukannya cari istri malah mau ngajak keponakannya main sampai pagi."


Menarik napas panjang, Paman Melvin lantas menimpa, "Kami ini juga butuh hiburan. Refreshing. Rambut Alena sampai keriting karena memikirkan rumus matematika. Sedangkan kepalaku sudah hampir botak karena terus-terusan disuruh menikah. Benar, tidak?"


Pria itu melirikku, memintaku untuk segera mengonfirmasi. lantas aku pun mengiyakannya sambil mengangguk pasti.


"Ya sudah. Kalau begitu bagaimana kalau kita bertiga berkreasi di dapur saja?" cetus Nenek memberi ide.


Kedua alisku bertaut sempurna, sebelum akhirnya bertanya, "Memangnya Nenek mau bikin apa?"


Nenek tak langsung menjawab, melainkan beralih berpangku tangan seraya mengetuk-ngetukkan jari telunjuk di keningnya. Sedang berpikir keras. Lalu setelah 'lampu bohlam' di kepalanya menyala, barulah ia menjawab, "Bagaimana dengan membuat roti jahe? Hujan-hujan begini makan roti jahe sambil minum susu panas bisa untuk menghangatkan tubuh."


"Boleh." Kupikir itu tak terlalu buruk. "Alena akan membantu Nenek."


"Oke," sahut Nenek sembari mulai bangkit dari sofa.


"Kau tidak mau ikut membuat roti jahe Vin?"


Paman Melvin terlihat menggeleng skeptis. "Tidak, Eomma. Sepertinya aku harus ke kamar untuk menyelesaikan pekerjaan. Aku baru saja dapat email dari Masterpiece," ujarnya seraya menunjukkan ponselnya yang baru menyala karena ada notifikasi email masuk.


"Tak apa. Selesaikan sana cepat. Eomma akan membuatnya dengan cucu tersayang saja," sahut Nenek sambil melempar senyum manis ke arahku. Setelahnya, kami berdua pun bergegas menuju dapur untuk membuat roti.


Butuh waktu sekitar satu jam untuk membuat roti jahe yang sempurna. Sebenarnya aku tidak banyak membantu. Semua step inti dilakukan oleh Nenek, katanya aku hanya boleh menyetak adonan dan mendekorasinya saat sudah jadi, sebab ia takut rasa roti jahenya akan hancur jika aku ikut turun tangan. Ya, Nenek ini tahu betul kalau aku tidak pernah pergi ke dapur untuk memasak.


"Sekarang Alena bawa ini ke kamar Paman, kamu makan bersama Paman sampai habis. Jangan sampai ada sisa satu roti jahe pun. Kalau sisa, besok Nenek tidak mau buatkan Lagi untuk kalian," ujar Nenek sembari memberikan nampan berisi sepiring roti jahe yang sudah dihias cantik dan dua gelas susu putih panas.


Dengan sigap aku menampaninya, "Loh, memang Nenek tidak ikut makan bersama kami?"


Nenek tampak menggeleng pelan sambil mengulas senyum tipis. Kerutan-kerutan kecil di ekor matanya juga turut timbul menambah kesan manis. "Nenek harus mengurangi makanan banyak gula untuk mencegah diabetes. Kalian berdua makan saja tanpa Nenek. Nenek mau ke kamar untuk istirahat. Oke?"


Aku Lantas mengangguk paham. Kemudian membubuhkan dua kecupan singkat di kedua belah pipinya. "Terima kasih. Sayang Nenek banyak-banyak."


"Ough! Cucu Nenek memang yang paling manis," sahutnya sembari ikut-ikut mengecup pipiku, sebelum akhirnya memutuskan untuk berjalan lebih dulu menuju kamarnya. Baru setelah itu, aku pun Lekas bergegas menuju kamar Paman Melvin.


Tok... Tok... Tok...


Kuketuk pintunya tiga kali, namun tidak ada respon sama sekali. Lantas aku mulai menempelkan telingaku pada pintu, sedang menguping.


Pantas saja Paman tidak merespon ketukan pintuku, rupanya ia sedang asik bertelepon dengan seseorang.


Maka, aku memutuskan untuk membuka pintu itu sendiri, sebab ternyata Paman tidak menguncinya. Kemudian berjalan masuk sambil mengendap-endap dan mendapati presisinya yang tengah berdiri menghadap pintu balkon.


"Tetapi bukannya kau bilang sedang mencintai seseorang? Ajak saja dia untuk menikah. Apa susahnya? Kau kan tampan, mapan, sukses, kaya, ya walaupun memang sudah tua."


"Apa kau gila? Kalau aku menikahinya, maka aku benar-benar melakukan sebuah dosa besar!"


"Memangnya siapa wanita yang kau cintai?"


"Namanya Al-"


"AHH! Meja sialan!"


"Randy, sepertinya pembicaraan kita sampai di sini saja dulu. Keponakanku sedang berada di kamarku. Kita lanjutkan kapan-kapan."


Paman Melvin lantas mengakhiri panggilannya sepihak. Kemudian buru-buru mendekati presisiku yang tengah ber jongkok sambil mengecek apakah jari kelingking kakiku baik-baik saja atau tidak.


"Alena kenapa?" tanya Paman Melvin panik. Ia ikut ber jongkok sambil melihat jari kakiku yang mulai memerah.


"Tadi aku menaruh nampan itu di meja kerja Paman, Lalu ingin menghampiri Paman, eh kelingkingku malah tak sengaja menatap mej_"


"Sejak kapan Alena masuk ke kamar Paman? Dan kenapa tidak ketuk pintu dulu?"


Kedua alisku mengernyit tak paham dengan tingkah aneh Pria itu barusan. Bukannya menanyakan bagaimana keadaan keponakannya yang hampir saja kehilangan jari kelingking, malah justru melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku semakin dongkol.


"Apa kau mendengar semua yang Paman bicarakan di telepon?"


Sedikit.


"Tidak, kok. Sumpah," ucapku berbohong seraya menggelengkan kepala lemah.


Sepersekon setelahnya Paman Melvin memilih untuk bangkit lebih dulu, kemudian beralih mengulurkan tangan kanannya di depanku. Tak mau berlama-lama, aku lantas menggapainya dan ikut berdiri di hadapannya.


"Kalau begitu Paman segera makan saja roti jahenya mumpung masih hangat. Alena akan keluar," pamitku sembari membungkukkan sedikit bahu. Lantas berbalik badan menuju ke ambang pintu. Namun, saat hendak berjalan, Paman Melvin malah meraih lenganku dengan cepat.


"Mau ke mana?"


"Ke kamar Nenek, aku akan makan roti jahe bersamanya," jawabku tanpa menoleh ke arahnya sama sekali.


"Apa Alena sedang berbohong?" tanyanya yang langsung kuidahahkan dengan gelengan pelan. "Tuh kan, berbohong. Nenek sudah berhenti mengonsumsi makanan yang manis sejak beberapa tahun silam. Lalu bagaimana bisa ada dua gelas susu jika Paman akan memakannya sendirian?"


"Oh."


"Alena harus tetap di sini. Temani Paman."