Remember You

Remember You
The Request



"Ayahmu kedatangan tamu."


"Siapa?" tanyaku ingin tahu.


"Tante Renata," jawab Paman Melvin cepat.


Omong-omong, Tante Renata itu mantan pacar Ayah sebelum debut di B.O.S.


"Katanya tadi mau mengantarkan berkas untuk rapat besok. Entahlah... Paman juga tidak paham tentang hal begituan," imbuhnya sekali Lagi.


Dan, ya... sekarang Tante Renata adalah sekretaris Ayah semenjak menjadi direktur di IFC TOWER.


Paman Melvin menyenggol lenganku dengan sengaja, lalu berkata, "Temui Tante Renata sana, beri salam. Tadi ia mencarimu. Kasihan, rumahnya jauh."


Aku mengangguk paham dan segera beranjak dari bangku pantry.


"Mereka berdua ada di ruang kerja Ayahmu," pungkas Paman Melvin memberi informasi. Ku acungkan kedua jempolku padanya sebagai bentuk terima kasih. Lalu berjalan cepat menuju ruang kerja Ayah yang letaknya ada di sebelah kamarnya.


Pintunya ditutup, dengan rasa sedikit sungkan aku mengetuknya. Lantas segera mengayunkan gagang pintu manakala terdengar suara Ayah menyebutkan kata, "Masuk."


Kedua netraku menangkap eksistensi Ayah yang sedang duduk serius menghadap laptopnya, sementara di sampingnya terdapat Tante Renata sedang mendiktekan sesuatu dari jilid dokumen yang lumayan tebal.


"Oh, Alena?" pekik Tante Renata setengah kaget saat aku berjalan mendekati presisi mereka berdua. Ayah juga sempat menotisku.


Tante Renata bangkit dari tempat duduknya, lalu mendekatiku sambil cipika-cipiki. "Sudah lama sekali Tante tidak bertemu Alena. Tante jadi pangling. Semakin besar semakin cantik."


Aku jadi tersipu malu. Secantik itu kah aku sampai-sampai bidadari seperti Tante Renata ini memujiku?


"Tante sudah Lama?" tanyaku basa-basi.


"Lumayan, mungkin sudah setengah jam," jawab Tante Renata apa adanya. "Oh, iya! Tante ada sesuatu untuk Alena."


Tante Renata mengambil sebuah paper bag yang semula ditempatkan di sudut meja kerja Ayah. Ia memberikannya padaku sembari mengulas senyum manis.


"Coba Alena buka," titahnya.


Aku menurut. Segera membuka paper bag yang ukurannya tidak terlalu besar itu. Dan seketika terkejut terheran-heran saat mendapati sebuah dus jam tangan merk Patek Philippe ada disana.


Kalian tahu berapa harga jam tangan itu? US$ 45000! Yang artinya kalian bisa membeli sebuah rumah mewah dengan nominal sebesar itu.


Spontan saja kedua sudut bibirku tersungging tinggi. Rasanya senang sekali. "Terima kasih banyak, Tante!"


Tante Renata mengangguk-anggukan kepalanya sebagai balasan.


"Tadi Ayah sudah berbincang dengan Tante Renata." Ayah tiba-tiba berceletuk. Lantas ia menutup layar laptopnya, kemudian berdiri menyusul kami berdua yang berada di dekat ambang pintu.


"Berbincang tentang apa?" tanyaku sembari mencoba jam tangah mewah itu di pergelangan tangan kiriku. Warnanya cantik dan serasi dengan warna kulitku yang kuning Langsat.


"Ayah ingin Alena mengubah penampilan mulai dari sekarang," Ayah memotong kalimatnya untuk melirik Tante Renata sekilas, "Tante Renata akan membantu Alena."


Keningku sontak mengkerut, masih mencoba mencerna baik-baik perkataan Ayah barusan.


Tante Renata sontak terkekeh pelan. "Tante akan membantumu untuk menjadi seorang wanita yang sebenarnya."


Hei! Sebenarnya mereka berdua ini sedang membahas apa?


"M-maksudnya?" Aku semakin gagal paham.


Ayah menghela napas panjang. Ia paham bahwa sejujurnya aku ini belum bisa menangkap inti pembicaraan mereka.


"Ayah tidak mau kau jadi gadis tomboy lagi."


Mendengar hal itu sukses membuat bola mataku melotot sempurna.


"Tapi kenapa? Aku baik-baik saja dengan penampilanku, Yah! Sumpah! Apa aku membuat Ayah malu?" serangku tak habis pikir.


"Tidak bisakah Alena menuruti perkataan Ayah saja?"


Spontan kulempar tatapan sangsi pada wanita itu yang malah memilih bungkam. Gerak-geriknya ini justru mencurigakan. "Apa jangan-jangan Tante-"


"Alena please! Ini semua permintaan Oma dan Oppa."


Dan setelah diperdengarkan alasan seperti itu, aku hanya bisa tersenyum.


Perlu diingat jika segala sesuatu yang keluar dari mulut Oma dan Opa adalah mutlak. Tidak lagi bisa ditolak.