Remember You

Remember You
The Shopping



Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Langit yang semula gelap karena mendung, kini sudah benar-benar gelap karena dimakan waktu. Yang artinya kami berdua menghabiskan waktu nyaris dua jam hanya untuk membeli pakaian dan make up.


Jujur saja, aku tidak paham dengan fashion style gadis kekinian. Oleh karena itu, kupasrahkan semuanya pada Tante Renata yang lebih berpengalaman.


Jika kalian tahu, yang kulakukan selama dua jam itu hanyalah mengekori Tante Renata dari belakang, sementara ia terlihat begitu antusias memilihkan satu persatu pakaian yang kiranya cocok untukku. Alhasil kami pun sukses memborong Lima gaun cantik keluaran terbaru.


Ya, kata Tante Renata gaun-gaun itu sangat cantik jika kukenakan. Tetapi, daripada gaun, pakaian minim bahan itu lebih pantas disebut sebagai pakaian dalam. Bagaimana tidak? Semuanya mengekspos bahu dan paha dengan cuma-cuma.


Dan yang membuat dada terasa sedikit sesak adalah harga gaun-gaun itu sangatlah mahal. Ibarat kata, satu gaun harganya bisa untuk membeli satu buah motor. Padahal selama ini aku Lebih suka membeli kaos-kaos oblong dan celana jeans yang nyaman dipakai. Tentu saja harganya tak semahal itu walau berasal dari brand yang terkenal.


Kemudian berlanjut dengan membeli berbagai macam make up. Pun yang menjadi beban pikiran saat ini adalah mau ku apakan make up sebanyak itu? Sejauh ini aku tidak pernah memakai make up jika keluar rumah, hanya sebatas Lip balm agar bibir tidak kering saja. Itupun kalau ingat.


Dan yang terakhir, Tante Renata memberiku bonus dua pasang sepatu hak tinggi, ia membelinya dengan uangnya sendiri, bukan dari uang transferan Oma. Ia bilang sepatu dengan hak setinggi Lima belas senti itu akan pas jika dipadukan dengan salah satu dari kelima gaun dan make up yang natural.


Hei, serumit inikah menjadi wanita seutuhnya? Ini lebih terasa menyiksanya daripada terlihat 'cantik.


"Tante akan mengantarmu pulang sekarang," wanita itu sembari menyalakan mesin mobil.


"Apakah Tante nanti akan kembali ke kantor lagi?" tanyaku merasa iba. Jangan lupakan fakta di mana mobil yang sedang Tante Renata kendarai ini adalah mobil milik Ayah, bukan miliknya.


Ia mengangguk pelan, "Tentu. Mobil Tante masih ada di kantor. Tante kira tidak akan lama, ternyata kita berbelanja sampai lupa waktu. Tadi Ayahmu mengirim pesan, katanya Oma sudah ada dirumah. Mereka berdua menunggumu"


Butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di rumah. Terlihat sebuah mobil berwarna putih terparkir sempurna di halaman depan, mobil yang tak lain merupakan salah satu koleksi mewah milik Oma dan Opa. Pak Sopir yang selalu mengantar kemanapun majikannya pergi juga terlihat tengah santai mengopi bersama Pak Satpam penjaga rumah.


Setelah pintu utama terbuka, hal pertama yang menyita atensiku adalah eksistensi Ayah dan Oma. Mereka berdua tengah asik mengobrol, lantas terhenti saat mendapatiku dan Tante Renata yang mulai melangkah masuk.


Di detik yang sama, Bibi maid datang dari arah dapur sembari membawa beberapa piring kue kering menuju ruang tamu, lalu setelahnya berjalan ke arahku untuk mengambil alih paper bag yang kutenteng untuk dibawa ke kamarku.


"Bagaimana? Sudah dapat semuanya?" Oma memulai obralan tatkala kami berdua sudah mendaratkan pipi bokong dengan sempurna di atas sofa.


"Sudah, Oma," sahut Tante Renata seraya melemparkan senyum sumringah. Omong-omong, jika sudah berada di luar kantor, Oma dan Opa meminta Tante Renata memanggilnya demikian agar terkesan lebih akrab.


"Cucuku ini jadi salah pergaulan karena dari kecil hanya tinggal bersama Lucas, ayahnya. Ia tumbuh menjadi gadis tomboy yang keras kepala, tidak pernah menuruti perkataan Omanya," ujar Oma dengan nada yang terdengar meledek. Sukses membuatku menunduk malu, sebab tidak tahu atas dasar apa wanita tua itu menjelek-jelekkan cucunya sendiri di depan orang yang bahkan bukan keluarga.


Tersenyum kikuk, Tante Renata lantas membela, "Mungkin belum saatnya, Oma. Lagipula Alena 'kan masih dalam masa puber. Lambat laun pasti ia bisa menempatkan dirinya sebagai seorang wanita."


"Betapa senangnya Oma jika punya anak dan cucu dengan pemikiran dewasa sepertimu, Ren," ungkap Oma menjeda kalimat, Lantas bergantian melirikku dan Ayah dengan sorot pendar yang sangsi, "andai saja waktu itu--"


"Oma, stop it! Jangan bahas itu lagi, ada Alena di sini." Ayah memotong, membuat Oma sontak mengurungkan kata-katanya.


Tidak mau berada dalam situasi yang tak mengharuskannya terlibat terlalu dalam, Tante Renata memilih bangkit dari sofa tempat duduknya. "Maaf sebelumnya, Renata rasa harus pamit karena sudah malam"


Oma keberatan "Loh, kok cepat sekali? Itu kue keringnya juga belum di makan."


"Tidak apa-apa, Oma. Renata masih harus kembali ke kantor untuk ambil mobil," tolaknya halus sembari mematri senyum manis.


"Oh, tidak perlu. Pak Direktur pasti lelah, biarkan saya naik taksi saja," tolaknya untuk yang kedua kali.


Oma menggeleng kukuh "Oma tidak tega" Kemudian menyenggol lengan Ayah dengan sengaja. "Lucas antarkan Renata sampai apartemennya."


"Tapi, mobil saya masih ada di kantor, Oma."


"Hei, itu bukan masalah besar. Biarkan saja mobilmu bermalam di kantor. Tidak akan ada yang merusak atau mencurinya. Besok biar Lucas yang menjemputmu dan berangkat ke kantor bersama," jelas Oma panjang lebar dengan garis wajah sumringah.


Ayah tidak bisa membantah, apalagi Tante Renata.


"Lucas, sana antar Renata pulang, supaya cepat bisa beristirahat" titah Oma untuk yang kesekian kali. Ayah pun segera meminta kunci mobil yang sebelumnya di bawa oleh Tante Renata.


"Terima kasih ya, Ren, karena sudah mau menemani Alena berbelanja hari ini. Oma berhutang padamu."


Tante Renata menggeleng pelan, "Tidak perlu seperti itu, Oma. Renata senang kalau bisa membantu."


Mendengar jawaban seperti itu, tentu saja Oma semakin berbunga. "Bagaimana kalau minggu depan kau ikut acara makan malam kami?"


"Terima kasih, Oma. Tapi sepertinya Renata tidak bisa."


Air muka Oma berubah drastis. Ada guratan kecewa yang tersirat di sana. "Kenapa? Padahal Oma akan sangat senang jika Renata bisa datang."


Tentu saja, Tante Renata yang dihadapkan pada situasi seperti ini merasa sangat serba salah. Di satu sisi ia ingin menolak karena ya... Ayah, alias Lucas Zander itu adalah mantan pacarnya. Pasti sangat canggung nantinya. Sekarang saja Tante Renata tengah terlihat mati-matian untuk bersikap biasa saja saat Oma meminta Ayah mengantarnya pulang.


Kemudian, di sisi lain Oma adalah istri dari Presdir IFC TOWER. Tentu saja ia sangat sungkan meskipun sudah menolak secara lembut. Apalagi Oma lah yang menjadikan Tante Renata berada di posisi sekretaris direktur, posisi yang sangat diidam-idamkan banyak karyawati berkompeten.


"Baiklah, saya tidak berjanji, tapi akan saya usahakan untuk datang, Oma," jawab Tante Renata pada akhirnya. Air muka Oma kembali bungah, lantas beralih menepuk pundak sang lawan bicara sebanyak dua kali sebagai bentuk apresiasi atas permintaannya yang disanggupi.


"Kalau begitu, Renata pamit pulang dulu, ya." Wanita itu menyinggung kedua sudut bibirnya tinggi-tinggi. Lalu membungkukkan badan sebagai salam hormat pada Oma yang jauh Lebih tua darinya.


Aku yang sedari tadi menyimak lantas mulai berkata, "Terima kasih, Tante."


Tante Renata mengangguk, kemudian melirik Ayah sekilas. Memberi sinyal bahwa ia sudah selesai dengan kegiatan pamitnya.


"Al, Ayah antar Tante Renata dulu, ya?" Ayah meminta persetujuan. Aku mengiyakan dengan senyuman.


Kemudian mereka berdua berjalan menuju tempat mobil terparkir. Dari ruang tamu, nampak Ayah tengah membukakan pintu mobil untuk Tante Renata.


"Lihat, masih tega melarang Ayahmu untuk menikah lagi?" Oma tiba-tiba mengeluarkan kata sarkas. Setelah mobil Ayah meninggalkan pekarangan, Oma menyerongkan tubuhnya ke arahku.


"Bukankah Alena itu anak yang egois?"