
Acara camping kali ini dilaksanakan di hamparan kaki gunung yang berada di sentral Pulau Jeju.
Pemandangan yang disuguhkan benar-benar luar biasa. Di sini aku bisa bebas melihat birunya langit tanpa kepulan asap pabrik. Pepohonan hijau yang tumbuh disepanjang mata memandang memberi kesan yang menyejukkan meskipun nantinya di malam hari akan terlihat sangat menyeramkan. Suara kicauan burung-burung berpadu dengan suara ranting yang tertiup angin terdengar begitu menenangkan. Aku tak pernah berada dalam situasi sedamai ini sebelumnya.
Setelah selesai dengan kegiatan mendirikan tenda, Tiger Ssaem selaku pembina camping memberikan waktu sekitar sepuluh menit untuk anak-anak beristirahat sekaligus mempersiapkan kegiatan selanjutnya, yakni game antar tim.
Setiap tim terdiri dari empat anggota. Untuk sekarang, aku berada dalam tim yang sama dengan Jeje, Jery, dan juga Toni
"Semua sudah berkumpul dengan anggota timnya masing-masing?" tanya Tiger Ssaem sambil membagikan satu persatu id card bertuliskan nama tim yang sudah dipersiapkan oleh panitia camping. Timku mendapat nama 'Kura-Kura'.
"Sudah, Ssaem" Semua menjawab serempak. Sangat bersemangat.
"Baik. Ssaem akan bacakan bagaimana aturan bermainnya. Di game ini, misi kalian adalah menemukan salah satu dari total lima Mystery Box yang sudah disembunyikan oleh panitia di sekitar area camping. Semua tim diberi waktu yang sama, yaitu satu jam untuk menyelesaikan misi tersebut. Kalian bebas mencari Mystery Box itu di mana saja, asalkan tetap dalam tim dan jangan masuk terlalu jauh ke dalam hutan. Ketua tim harus bertanggung jawab penuh atas anggotanya. Barang siapa tim yang berhasil mendapatkan Mystery Box, maka tim tersebut akan mendapatkan hadiah spesial yang sudah dipersiapkan. Jadi, apa kalian semua sudah siap?"
"Siap, Ssaem" Semua kembali menyahut serentak. Terlihat semakin antusias.
"Ssaem hitung mundur," ujarnya sembari bersiap menekan tombol timer, "tiga... dua... satu... GO!!"
Mendengar itu, sontak semua tim berhamburan kesana-kemari. Mengecek satu persatu spot yang memungkinkan menjadi tempat persembunyian si Mystery Box itu. Ada yang langsung masuk ke tenda, menyisir semak belukar, membuka bebatuan, bahkan sampai ada yang langsung memanjat pohon. Hal yang sama juga ter jadi dengan anggota timku, Jery dan Toni nampak sangat berambisi untuk menemukannya.
"Sepertinya bukan di sini tempatnya," celetuk Jery sembari berkacak pinggang, memeta seluruh penjuru tempat tenda didirikan. "Panitia tidak mungkin menyembunyikan Mystery Box itu di tempat yang mudah dijangkau seperti ini."
Aku, Jeje, dan Toni mengangguk setuju.
"Lalu di mana tempat yang mungkin?" tanya Toni. Jery Langsung berpikir keras. "Di hutan."
"Tiger Ssaem melarang kita semua untuk ke sana," timpa Jeje dengan memasang raut wajah seolah tak setuju.
"Boleh, kok. Asal tidak masuk terlalu jauh," cetusku membenarkan kalimat si gadis itu.
"Kalau begitu kita harus berpencar. Dua anak dua anak, bagaimana?"
Toni tampak mengangguk mantap, "Ide bagus. Aku denganmu dan Alena dengan Jeje."
"Jangan! Mereka berdua perempuan, kalau tiba-tiba terjadi sesuatu gimana? Biar adil satu Laki-Laki satu Perempuan." Jery terdengar memberi solusi.
"Oke," sahut Toni sembari menoleh ke arahku sejenak, "aku dengan Alena, kau dengan Jeje"
"TIDAK!" sela Jery cepat dengan nada ngegas.
Toni sontak bersungut kesal. "Kok gitu sih?" Ia ikut-ikut menarik pergelangan tanganku menuju tubuhnya. "Kan aku yang menandai Alena duluan!"
"Bodo amat! Alena yang bersamaku." Jery tidak mau kalah, ia menarikku kembali ke arahnya.
"Emang kau ini siapa?" Toni mulai kesal.
Jery pongah, "Aku ketua timnya, jadi aku berhak dan berkuasa untuk membagi anggota timku. Mengerti tuan Toni"
"Alasan macam apa itu? Tidak! Aku mau sama Alena." Toni lagi-lagi menarik pergelangan tangan kiriku, namun Jery dengan sigap menahan pergelangan tangan kananku. Mereka berdua saling melempar tatapan tajam bak ujung pedang yang siap untuk menusuk lawan. Bahkan dalam kondisi seperti ini, mereka masih terus menarik pergelangan tanganku seolah-olah mereka sedang bermain tarik tambang, dan aku adalah tali tambangnya.
"Lepaskan, sialan! Tanganku bisa putus kalau kalian tarik-tarik terus," ungkapku kelewat dongkol. Kedua pergelangan tanganku memerah dan mulai terasa kebas.
"Alena, tentukan pilihanmu. Aku atau Toni?" tanya Jery kian gencar.
Aku menoleh ke arah pria itu sekilas, lalu bergantian ke arah Toni yang tampak menaruh banyak harapan. "Denganku saja, please. Jery rese. Toni baik."
"Hei."
Suara itu...
Aku, Jery dan Toni spontan memutar pandangan menuju sumber suara.
"Apa kalian semua tidak ada yang ingin bersamaku?" tanya Jeje dengan ekspresi melas. Sangat. Aku jadi tidak tega.
Menarik napas panjang, aku pun lantas segera melepaskan cengkeraman tangan dua Lelaki hyper itu sesaat setelah merasa lengah akan kalimat Jeje barusan.
"Baiklah, aku akan memilih bersama Jery," cetusku berusaha menyudahi drama ini. Jery terlihat mengulas senyum puas, sementara Toni memasang garis wajah sensi terhadap pria di hadapannya itu. Jeje juga tampak lega, sebab Toni mulai berjalan mendekati presisinya. Pria itu sedang mengalah.
"OKE! Aku dan Alena akan menyusuri tepi hutan sebelah utara dan kalian berdua di sebelah timur, deal?"
Kami bertiga mengindahkannya dengan anggukan kepala ringan, kemudian mulai melangkahkan kaki menuju tempat tujuan masing-masing.
"See? Di sini sangat sepi. Pasti panitia menyembunyikannya di sekitar sini," ujar Jery percaya diri.
"Kalau ternyata tidak ada bagaimana? Di sini menyeramkan. Aku jadi tidak yakin."