
Di sepanjang perjalanan, belum ada obrolan yang mengudara sama sekali. Hanya ada suara musik yang mengalun pelan, berpadu dengan suara rintik-rintik hujan yang jatuh mengenai badan mobil, juga sesekali terdengar bunyi wiper yang tengah menyeka air dari kaca depan.
Aku merasa canggung dan mungkin Paman Melvin juga demikian. Oleh sebab itu sedari tadi kami memilih untuk diam. Aku tidak suka. Sensasinya seperti sedang berada di dalam suasana militer.
"Paman..." panggilku Lirih nyaris berbisik. "Sebenarnya aku tadi tidak benar-benar melihatnya. Hanya se-"
"Panjang ya?"
"APAAAA-"
"Antriannya yang panjang."
Wah! Aku hampir saja mengeluarkan kata-kata indah untuk yang kedua kalinya. Agaknya otakku jadi sedikit konslet setelah kejadian tadi, sebab isinya kini dipenuhi dengan bayangan balalai gajah. Sampai-sampai mendengar kata 'panjang' saja membuatku sukses melongo dan ambigu keras. Padahal yang Paman maksud 'panjang adalah antrian POM isi ulang bahan bakar.
Oh, Tuhan... tolong selamatkanlah kepolosanku.
"Apa akan terlambat kalau harus antri sebentar?" Paman Melvin melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangannya sekilas, lalu menoleh ke arahku sembari menunggu jawaban.
Aku menggeleng pelan. "Tidak, kok."
Kemudian setelah selesai dengan isi ulang bahan bakar, hening kembali menyapa. Sampai akhirnya mobil yang kami kendarai berhenti tepat sepuluh meter dari gerbang masuk sekolah.
Segera kulepaskan sabuk pengaman yang sedari tadi melindungi tubuhku. "Thanks ya, Paman. Sudah diantar," celetukku sembari hendak membuka tuas pintu, namun hal itu terurungkan sebab Paman Melvin sudah lebih dulu menahan Lenganku.
Raut wajahnya mendadak kelabakan, aku menatapnya tak paham sembari mengernyitkan dahi. Kedua mulutnya terbuka, nyaris berbicara, tetapi entah kenapa ia terlihat ragu untuk bersuara.
"Ada apa, Paman?"
Yang ditanyai masih ragu menjawab. Satu tangannya yang bebas beralih menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sementara tangan yang lain masih setia mencekal lenganku. Ia menarik napas panjang untuk menetralisir kegugupan yang ia ciptakan. Menggigit bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya mulai menyuarakan frasa, "Yang tadi... Lupakan."
"Y-ya. Kalau begitu aku keluar. Paman hati-hati di jalan," sahutku gelagapan, lantas buru-buru melepas pegangan tangannya. Kemudian segera membuka tuas pintu dan mengibrit keluar dari mobil.
Ah! Akhirnya aku bisa menghirup udara bebas Lagi.
Lekas aku berlari kecil memasuki gerbang sekolah. Dengan kedua tangan yang berada di atas kepala, menahan gerimis rintik-rintik agar tak membasahi muka. Kemudian berjalan santai seperti biasa setelah kedua kakiku menapak di Lantai koridor yang kini terlihat masih sepi, hanya ada beberapa anak yang menyusuri jalan bersamaku.
"DOR!!!"
Siall Aku kaget.
Spontan tubuhku berputar ke belakang, naluriku tergerak dengan sendirinya untuk melihat siapa makhluk bumi sialan yang telah membuat nyawaku hampir saja lompat indah. Namun, belum saja 90° tubuhku berputar, secepat kilat kedua tangannya menahan pundakku, seketika itu pula ia mengarahkan tubuhku agar kembali menghadap depan.
"YAK" Aku menggertak dongkol. Berusaha melepas kedua pegangan tangannya dari bahuku. Risih, sebab kini kami terlihat seperti bocah yang tengah bermain kereta-keretaan. "Lepas Jery!"
"Hari ini tanggal berapa?" Si Kaki Kuda itu justru mengalihkan pembicaraan.
"Masa bodoh. Aku tidak tahu."
"Oh, pantas," cetusnya membuatku semakin frustasi.
Merotasikan bola mata malas, aku lantas bergumam, "Apa sih? Tidak jelas."
"Jangan balik badan! Selang beberapa detik, aku mendengar suara resleting yang tengah diturunkan. Aku mencoba untuk berpikir positif, namun hal tersebut dipatahkan saat tiba-tiba sepasang tangan kekar itu merangkul pinggangku untuk menalikan lengan jaket dipinggang.
"A-apa yang kau lakukan? S-siaLan!" Tubuhku meremang.
Jery yang sejak beberapa saat lalu setia bermain kereta-keretaan di belakang tubuhku, kini akhirnya mulai berjalan maju dan menyamai langkahku. Ia terkekeh. Sedikit terlihat mengejek. Kemudian ia mendekatkan bibirnya di telingaku sambil berkata, "Apakah tuan rumah Lupa untuk menyambut kedatangan tamunya?
Bola pendarku sontak melotot sempurna, rasanya seperti akan keluar dari kelopaknya. "M-maksudmu?"
Oh sial!
"Kau serius?" Aku masih tidak percaya, si Kaki Kuda ini suka bercanda.
"Demi apapun itu, aku serius."
"Banyak?" tanyaku ragu sambil menggigit bibir bawah, kemudian memeta lorong yang sudah terlihat mulai ramai siswa berlalu-lalang.
Jery mengangkat tangan kanannya, lantas membuat bulatan dari penyatuan jari telunjuk dan ibu jarinya. "Segini."
Mampus aku.
Segera kuberlari kencang menuju kamar mandi.
Cepat-cepat melepas jaket yang melingkar di pinggang, kemudian memastikannya dengan mata kepalaku sendiri. Dan, ya. Jery tidak bercanda dengan perkataannya.
Wajahku mulai memanas. Mungkin sekarang pipiku tengah memerah layaknya tomat rebus. Rasanya aku ingin menenggelamkan diri di dasar bumi. Malu sekali. Meskipun memang bocor tidak terlalu banyak, tetapi warnanya sangat kontras dengan rokku yang berwarna putih. Dan aku yakin sekali, tidak hanya Jery yang melihatnya.
Padahal hari ini masih pagi, tetapi aku sudah mendapatkan kesialan sebanyak dua kali.
Ah, tidak! Yang benar tiga kali. Sebab kini aku tidak membawa pembalut sama sekali. Aku jadi stress sendiri.
Kurogoh ponselku yang tersimpan di saku dada, berniat untuk menghubungi seseorang, siapa tahu bisa dimintai bantuan. Tapi setelah melihat kontakku yang isinya hanya nomor Ayah, Paman Melvin dan Guru Private homeschooling, aku jadi semakin keki.
Sepersekian detik kemudian, sebuah notifikasi pesan masuk muncul di Layar ponselku. Nomor yang tidak kusimpan.
📥 Keluarlah, aku membelikan pembalut untukmu.
Oh, aku baru saja ingat. Itu Jery. Semalam aku tidak sempat menyimpan nomornya.
Tidak mau pikir panjang, aku bergegas membuka sedikit pintu. Kemudian mengeluarkan tangan kananku sebatas siku sambil mengatung. Kurasa ia peka, sebab tak butuh waktu lama pembalut itu sudah ada dalam genggamanku.
"Terima kasih."
Dia tak menjawab, kudengar suara pantofelnya melangkah menjauhi area kamar mandi wanita. Maka, aku pun segera mencuci rokku dan memakai pembalut yang ia berikan.
Setelah merasa semuanya beres, segera kubawa langkahku menuju kelas. Aku masih melingkarkan jaket Jery di pinggangku, sebab rokku masih basah dan itu akan nampak sangat mencolok. Sesampainya di kelas, kulihat Jery tengah duduk anteng di bangkunya sambil bermain ponsel. Sementara bangku kosong sebelahnya diisi dengan tas miliknya. Aku pun lantas mengambil tempat di bangku paling belakang. Namun, saat aku melewati eksistensinya, ia segera mencekal pergelangan tanganku.
"Mau ke mana?"
"Duduk di situ," jawabku sambil menunjuk dagu.
"Semalam kan aku sudah membookingmu. Jadi hari ini kau harus duduk denganku." Ia mengambil tas miliknya, lantas beralih menepuk-nepuk bangku itu, menyuruhku untuk segera duduk di sana.
"Biar Jeje saja yang duduk denganmu"
"Apa kau malu gara-gara aku memergokimu bocor? Makanya kau menolakku. Bukan begitu?" Jery menarik dengan tenaga lumayan besar, sehingga tubuhku limbung dan akhirnya terduduk di atas bangku dengan cukup keras. Bahkan sampai terdengar suara decitan antara kaki kursi yang bergesekan dengan Lantai.
"Santai saja kali," ujar pria itu sembari memasukkan ponselnya ke dalam kolong meja. "Rahel juga sering begini, kok."
Wah... Rahel beruntung sekali punya pacar yang pengertian.
"Jadi, hutangmu bertambah 400 won."
Sialan! Padahal aku baru saja memberinya sebuah pujian.