NEVER DEAD

NEVER DEAD
JANGAN REMEHKAN AKU



Keadaan ibu itu sangat memilukan. Setelah terjatuh akibat dorongan kasar itu, ia langsung pingsan. Darah mengalir deras dikepalanya. Tanpa pikir panjang aku langsung maju dan mengejar penculik itu.


Meninggalkan Taesik dan penjual ikan yang saat ini hanya terbengong melihat kepergianku. Ia juga tanpa pikir panjang langsung meninggalkan pedagang ikannya dan mengejarku.


"Rian tunggu aku..."


Kemudian ia juga berlari menyusulku.


"Hei, ikannya..."


Penjual itu hanya terbengong sendiri lalu


menyimpan ikannya kemudian kembali duduk dengan sedihnya.


Sementara aku saat ini dalam masa pengejaran pencuri itu.


Sepertinya pencuri cukup cepat dan lincah, ia dengan mudah menghindari semua benda-benda yang menghalangi jalannya. Namun jika dia bersaing denganku maka jangan harap.


Ketika dia berlari, ia mulai menjatuhkan beberapa benda untuk memperlambatiku.


TRAAAANG.....


BRUUUKK.....


TRAAANAANG.....


Berbagai macam benda berserakan dihadapanku, tapi itu tak menghentikan kecepatan lariku yang seperti tornado. Saat itu aku sudah mencapainya dan hendak menggapainya. Namun ia tiba-tiba berbelok kelorong samping sehingga tanganku yang sudah memegangnya langsung meleset.


Aku pun terus mengejarnya dan mulai memasuki lorong kecil itu. Ia sengaja untuk lari berkelok-kelok agar bisa lolos dari pengejaranku. Namun aku juga sudah mengaktifkan mata intelektualku sehingga kemanapun ia pergi, ia takkan lolos dari pengamatanku.


Saat aku mengaktifkan mataku, akupun sadar kalau pencuri ini bukan cuman sendirian. Dan bersamaan dengan itu juga kalau pengejaranku ini juga bukan sendirian. Ada seorang remaja, yang berusaha mengejar pencuri ini dari atas atap. Sementara Taesik dibelakangku saat ini juga sedang mengejarku. Entah sejak kapan aku menyadari kalau lari anak ini cukup cepat. Hanya saja ia tak memperhatikan benda yang berserakan disekitarnya hingga kadang-kadang terjatuh akibat benda-benda itu.


Aku dengan cepat langsung mencapai pencuri itu, namun diatas atap bagian kanan ada seorang temannya yang sedang memberi kode agar melempar tas itu padanya.


Seketika aku langsung menangkap pencuri namun tas sudah sampai ditangan temannya bagian atap. Aku langsung menggertakan gigi saat melihat tas itu dibawa oleh temannya.


Kemudian aku juga melihat remaja itu yang berada diatap bagian kiri melompat kesisi bagian kanan. Itu terjadi tepat diatas kepalaku.


Aku langsung melompat dan menginjak dinding, dari dinding kiri kedinding kanan. Begitulah seterusnya sampai aku berada diatas dan melanjutkan pengejaran.


"RIAAAN....."


Taesik dibawah berteriak memanggil namaku, sialan. Dia dengan kejam langsung menendang penculik sebelumnya karena penculik itu berusaha mengahadangnya. Yah mungkin karena ia takut kali, ia tanpa sadar menendang pencuri itu hingga pencuri itu terpental jauh kedinding buntu dan retak.


Braaak....


Darah mengalir keluar dan membasahi maskernya kemudian ia pingsan.


Sementara diatas aku dengan cepat berlari dan melompat dari rumah satu kerumah lainnya hingga aku melewati remaja itu. Remaja itu menatapku dengan heran seperti menatap seorang monster. Sementara dibawah, para warga sudah heboh karena aksi kejar-kejar kami.


Ketika aku hendak mencapai pencuri itu, ia langsung melempar tas kearah lain. Aku kaget sebelumnya, namun jauh didepan kami ada seseorang yang tiba-tiba naik keatas dan menangkap tas itu lagi.


AAAAAAAKKHHHHHH.........


Aku berteriak dalam hati. Kali ini aku benar marah. Bisa-bisanya mereka mempermainkanku. Pencuri kedua saat ini ada digenggamanku langsung kulemparkan dia pada temannya itu.


BRAAAAAKKKHHH.....


"AAAAHHHH........"


Aku melempar pencuri itu hingga ia terjatuh menembus atap warga dan terjerumus kedalam rumah itu. Penghuni rumahnya langsung berteriak histeris.


Sementara pencuri kegtiga turun dari atap dan langsung lari menyusuri lorong kecil. Tapi jangan harap ia bisa lepas dari pengamatan mataku.


Aku juga langsung turun dan mengikutinya menyusuri lorong kecil itu. Sementara remaja dibelakangku tetap berada diatas dan tetap berlari sambil mengawasi dari sana.


Aku berlari, lari dan berlari secepat yang kubisa. Tapi tetap saja, ketika aku berhasil menangkap yang satu. Satunya lagi datang mengambil tasnya. Aku menekan amarahku, dan tetap melakukan pengejaran yang melelahkan ini.


Entah pencuri sudah yang keberapa, tapi dalam hati aku sangat kesal. Mereka benar-benar pandai, menggunakan cara itu untuk mengelabuiku. Sekarang kesabaranku sudah habis, aku langsung menggunakan teknik "Langkah bayangan" dan langsung tepat berada diatasnya kemudian dengan cepat menerkamnya.


Bruukh.....


Badanya langsung jatuh ketanah ditindis oleh tubuhku. Dan tanpa pikir panjang aku langsung...


kretek.....


kraak...


Aaaaaahkk.....


Ia berteriak kesakitan, padahal aku hanya menggelintir sendinya bukannya mematahkan tulangnya. Tapi kurasa ini cukup untuk melumpuhkannya.


Aku langsung mengambil tas itu dari tangannya yang saat ini ia sedang menggeliat sambil meringis kesakitan. Yah siapa suruh kalian mempermainkanku. Main lempar sana situ, yah begini kan jadinya.


Aku memperhatikan tasnya. Warna merah, dilapaisi dengan hiasan berlapis emas. Kancing resletingnya merupakannya emas asli. Kuncinya dilapisi berlian. Ada juga beberapa hiasan lainnya yang dipenuhi berlian. Aku berpikir sejenak, tas ini pasti harganya sangat mahal. Aku berhati-hati membuka tasnya dan ketika melihat isinya, mama.!!!


Tasnya berisi barang-barang biasa, seperti alat-alat make up, dompet, parfum dan benda lainnya yang tidak kukenal. Ketika aku melihat dompet, aku mengerti. Bukan hanya tasnya yang diincar tapi isi dalam tas ini.


"Hei bocah, lebih baik serahkan tas itu pada kami."


Aku langsung mendongak melihat suara itu. Puluhan pria berbaju hitam berdiri didepanku. Semuanya menatapku dengan senyum jahat diwajah mereka dan dipenuhi kekejaman dimatanya. Wajah mereka dipenuhi luka, ada yang merokok dan ada juga yang sedang minum.


Mereka menatapku seolah-olah aku hanyalah seorang bocah yang tidak sengaja lewat didepan mereka.


Lalu seorang pria botak dengan kalung rantai dilehernya berjalan kearahku.


"Bocah, serahkan tas itu pada abang." Katanya sambil mengulurkan tangannya untuk menangkap tas itu.


Ia juga tersenyum, tapi senyum itu sangatlah mengerikan. Jika itu adalah bocah biasa maka ia pasti akan ngompol dicelana dan memberikan tas ini kepadanya kemudian lari terbirit-birit.


Tapi berbeda denganku yang sudah melewati pertarungan hidup dan mati diakademi waktu itu. Mana mungkin aku takut dengan cecunguk-cecunguk sampah ini.


Aku juga mebalas senyuman abang itu.


"Abang mau tas ini. Kenapa tidak ambil saja dariku." Kataku sambil memutar tas itu dilenganku.


Pria itu menghela napas lalu mencabut rokok dari mulutnya kemudian menghembuskan asapnya kearahku.


Pria itu langsung menyerngik.


"Bocah, abang tidak main-main." Katanya dengan serius. Kemudian ia melirik pencuri tadi yang sedang kesakitan.


"Abang Choi, hati-hati. Anak itu.... anak itu berbahaya." Ucap pencuri itu dengan terbata-bata berusaha dengan sisa-sisa tenaganya.


Ia bingung dengan apa yang didengarnya. kemudian ia menatapku dengan sedikit penasaran.


"Apa kau yang telah membuatnya seperti itu." Tanya padaku.


Aku hanya tersenyum padanya, kemudian melototinya.


"Kalau memang aku, kau mau apa.??!!"


Pria itu tertawa, memandangiku dengan lucu.


"Anak yang menarik, bisa-bisanya membual didepanku. Ayolah, abang tidak punya banyak waktu untuk bermain denganmu nak. Serahkan tas itu pada abang dan pulangnya minum susu ibumu dirumah."


"HAHAHAHAHA..........."


Anak buahnya yang ada dibelakang tertawa mendengar ucapan pria botak ini. Pria botak itu juga tertawa. Kemudian seorang pria yang satu lagi maju kearah kami. Ia mempunyai rambut yang gondrong, garis luka sayatan membekas diwajahnya, bibir dan hidungnya dipenuhi dengan cincin yang menggantung disana. Ia meminum bir yang ada ditangannya kemudian merangkul bahu si pria botak.


"Bocah, kau dengar kan. Kami tak ingin buang-buang dengan bocah rengesan sepertimu. Berikan tas pada abang sekarang, jika tidak maka jangan salahkan abang jika kau akan pulang dengan kaki pincang." ucapnya sambil mengulurkan tangannya padaku dengan remeh. Sementara yang lain tertawa dibelakang.


Aku juga tak ingin buang-buang waktu untuk meladeni mereka. Seketika aku langsung memegang tanganya dan....


KRAAAAAKHH.....


"AAAAAAHHHKKK....."


Ia berteriak kesakitan, sementara si pria botak menyerangku sambil mengatakan aku bocah brensek. Tapi dengan cepat aku menghindarinya dan langsung menendangnya hingga ia terjatuh kebelakang. Membuatnya memegang perutnya sambil merengek kesalitan. Sementara si pria gondrong memegangi tangannya yang tergelintir dengan posisi berlutut didepanku.


Hanya dengan sekejap, aku sudah menjatuhkan mereka walau hanya satu serangan tanpa menunggu anak buah dibelakangnya bereaksi.


Kemudian aku menatap mereka berdua dan juga anak buah dibelakang yang saat ini mentapku dengan ekspresi terkejut dan waspada.


"Jangan remehkan aku abang-abang jago."