
Tiing.....
Lift berhenti di lantai 47.
Bang badui keluar terburu buru bersama dengan anak buahnya. Di tangannya juga terdapat Taeyun yang sedang menangis di pelukannya.
"Sialan, anak itu benar benar kurang ajar." bang Badui keluar dengan kesal.
"Padahal seidikit lagi baru aku bisa bersenang senang dengan gadis ini."
Bang badui akhirnya teringat dengan kejadian tadi itu.
Beberapa menit yang lalu....
Sebelum melarikan diri dari Taesik.
Tiiing....
Lift terhenti di lantai 45. Bang badui keluar bersama anak buahnya dengan kepuasan di wajahnya.
"Hahahahaha.... malam ini aku akan bersenang senang dengan gadis kecil ini. Biarkan saja perawan anak ini menjadi milikku."
Bang Badui sangat senang bahkan sampai mengabaikan tatapan banyak orang di Diskotik yang menatapnya dengan heran karena di pelukannya terdapat Taeyun yang sedang pingsan.
"Cih, lihat apa kalian." Ancamnya dengan mata melotot kepada orang yang menatapnya.
Kemudian ia berjalan melewati pesta itu dan sampai di suatu kamar.
"Sekarang tidak ada lagi menggangguku, Rey sialan. Kemarin berani beraninya kau mengganggu rencanaku."
Tiba tiba Taeyun membuka matanya, ia kaget kalau sekarang kalau ia sudah di atas ranjang. Sementara bang Badui menatapnya dengan penuh nafsu seperti serigala kehausan. Air matanya mengalir tak terhentikan, ia hanya menatap bang Badui yang sedang membuka bajunya dengan tatapan pasrah. Kenapa hidupnya jadi begitu rumit seperti ini. Ia masih Smp dan sekarang ia sudah merasakan siksaan seperti ini. Bagaimana lagi nanti ia melewati hari harinya setelah ini.
"Ayolah hadis kecil, janganlah menangis. Layani aku dengan baik."
..........
Ting....
Pintu terbuka, dan tiga orang terlihat di dalamnya.
"Taesik, kami hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Jaga dirimu baik baik." Ucap Rey dengan tulus.
"Ya, terimah kasih." kemudian ia mulai berlari mencari adiknya.
Ia sedikit terpesona saat melihat lingkungan pesta yang dilantai ini. Tapi seketika ia ingat kalau tujuannya datang kesini untuk menyelamatkan adiknya. Dia kemdian menggigit bibirnya, berkeliling mencari adiknya kemana-mana. Hingga akhirnya ia menemukan anak buah bang Badui sedang berjaga di depan pintu.
"Di mana adikku.." ucapnya dengan marah pada mereka.
Para anak buah bang Badui itu tertegun saat melihat kedatangan Taesik.
"Bocah ini, berani beraninya dia mengejar kita sampai ke sini. Pukul dia, bawa dia ke bos. Agar bos puas dan anak ini bisa melihat kalau adiknya akan di tiduri malam ini."
Taesik emosi sampai ke akar akarnya, ia tak tahan lagi untuk menghajar bang Badui ini. Tapi melihat dua orang bang badui yang maju ke arahnya membuatnya ketakutan sampai menggigil. Ia datang ke sini atas dasar emosi dan ia tidak tahu apa apa tentang berkelahi. Karena dari kecil, ia selalu ketakutan akan perkelahian dan tak pernah berniat untuk belajar bertarung. Dan hasilnya, adiknya dalam bahaya sementara ia tidak bisa melakukan apa apa.
Dua orang maju ke arahnya dan melayangkan tinjunya. Awalnya Taesik hanya pasrah, tapi tiba tiba ia melihat gerakan mereka yang menjadi lambat.
'Eh, apa yang terjadi.' pikirnya dalam hati.
Seketika ia ingat kalau dulu ia selalu di buli oleh sekelasnya. Teman sekelasnya itu selalu memukul tepat di ulu hatinya sambil berkata.
"Pukulan tanpa sebab."
Bugkh.....
Salah satu anak bang Badui terhempas dibelakangnya. Ia pingsan dengan darah mengalir di mulutnya.
"I...ini." Taesik sangat terkejut dengan kekuatannya. Bisa langsung membuat orang pingsan bukanlah hal yang mudah.
Bukan hanya dia, tapi semua yang melihatnya juga terdiam.
"Pukul dia." teriak ketuanya dengan emosi.
Semua anak buahnya maju bersamaan dan mengeroyok Taesik.
.........
"Aku tidak mau...." Taeyun menangis terisak isak.
"Apa yang kau bilang cepat lakukan, jika tidak maka malam ini aku akan menyiksamu. Jika kau dapat memuaskanku malam ini, maka hutang pamanmu bisa di tunda. Toh, uangnya di utang karena kamu kan. Kamu itu hanya akan menyusahkan orang lain di sekitarmu." ucap bang Badui denang licik.
Buahgk...
Bughk...
Aah...
Suara keributan terjadi di luar tampak lebih serius.
"Apa yang terjadi di luar sana." ucapnya dengan kesal, apakah malam ini ia akan di ganggu lagi.
Kemudian ia maju ke pintu dan dengan keras membanting tangannya.
"Hei, apa yang terjadi." teriaknya.
"Bos..! Seorang anak datang mengacau bos. Tenang saja kami akan membereskannya." ucap anak buahnya yang ada di luar.
"Cepat bereskan dia kalau begitu." bang Badui bernapas lega.
Kemudian ia melangkah maju, kembali melakukan aktivitasnya.
BUUGH....
Belum sampai dua langkah, salah satu anak buahnya terlempar hingga menembus pintu. Bahkan terlempar sampai di dinding kamarnya. Salah satu anak buahnya itu menyemburkan darah segar ke mulutnya dan kemudian pinsang di hadapannya.
Bang badui langsung membeku lalu ia mendengar teriakan.
"Bang Badui..... dimana kau.!!" teriak Taesik di balik pintu.
Bang Badui dan Taeyun langsung terkejut, tanpa sadar Taeyun berteriak.
"Kakak."
Tanpa sadar juga bang Badui juga berbalik. Ketika berbalik Taesik langsung meninjunya hingga ia terlempar kedinding.
Buaagkh....
Darah mengalir dari mulut dan hidung, saking kerasnya pukulan itu. Bang Badui merasa kalau setengah rahangnya hancur.
Taeyun menganga melihat tingkah kakaknya, matanya terbuka lebar-lebar.
Taesik langsung maju dan menghujaninya beberapa serangan lagi, namun seseorang menangkapnya dari belakang. Membawanya kembali keluar.
Taesik berusaha maju dan mulai menyerang, hanya saja lawannya juga bukan orang biasa. Ia seorang petinju, tidak tahu berapa pun Taesik menyerang. Gerakannya jauh lebih lambat dari serangan pria ini. Pria ini adalah ketua dari anak buah bang Badui. Serangan ratusan tinjunya menghantam wajahnya. Namun ia juga tidak sekalipun jatuh, ia hanya menggunakan kedua tangannya untuk melindungi wajahnya.
Bang Badui mengambil kesepatan ini untuk melarikan diri dan memabawa Taeyun pergi. Taeyun hanya meminta tolong sambil meronta ronta di tangan bang Badui.
"Kakak.!" Teriak Taeyun.
Taesik menoleh ke arah Taeyun yang saat ini di bawa oleh bang Badui.
"Taeyun.!" teriak Taesik.
Melihat Taesik hanya menurunkan penjagaannya, pria itu langsung memukul dagunya hingga ia terjatuh.
Taesik tak menyerah, ia bangun lagi. Melihat Taeyun yang sudah menghilang, darahnya melonjak.
"Aaah...." teriaknya emosi.
Pupil matanya berubah menjadi hijau, ia langsung meninju salah satu anak buahnya bang badui. Sementara petinju itu mundur darinya dan anak buahnyalah yang maju bertarung.
Dengan ganas ia menghancurkan semuanya. namun ketika melawan petinju itu, ia tidak mampu. Karena petinju hanya menghindar dan berusaha melarikan diri.
Seseorang memukul bagian kepalanya memakai besi, namun Taesik tidak bergeming. Ia hanya pusing sesaat, lalu beberapa anak buahnya mulai menyerang lagi satu persatu. Salah satu pria menendang wajahnya hingga ia oleng lalu seseorang lagi menjebak kakinya hingga ia terjatuh.
Kemudian semua menginjaknya dan menendangnya bagaikan menendang seekor kambing mati.
Tapi Taesik berusaha bangun dan berdiri. Petinju itu menghujaninya tinjuan, hingga mengenai dagu, hidung, perut, ulu hati, perut dan lain-lain. Hingga akhirnya pertahanan Taesik runtuh, tanganya langsung lemas. Di situlah si petinju mengeluarkan tinju terakhir berencana mengakhirinya dengan cara memukul wajahnya.
Namun saat itu, Taesik langsung membuka matanya. Gerakannya pria itu kembali melambat. Dengan segala kefokusan, ia meniru gaya petinju itu. Hingga mereka seperti melakukan hal sama. Dan setelah itu....
Buaghk....
Petinju itu langsung terjatuh karena mengenai tepat bagian giginya. Taesik yang selama ini tak pernah belajar beladiri, tidak disangka bisa mengalahkan seorang ahli petinju.
Di saat anak buahnya menyerang lagi, Rian datang dan mengalahkan semuanya.
Dan kalian tahu apa yang terjadi selanjutnya.