
Di Lift....
Dimana Jeongho sedang ditahan oleh si polwan. Yah sebenar nya tidak juga kelihatan seperti polwan, dia hanya memakai pakaian serba hitam serta topi dan masker, pakaian juga sama seperti pakaian si Jeongho. Tapi ia bergabung dengan polisi, bisa saja ia seorang polisi hanya saja sedang menyamarkan diri nya. Si polwan hendak memborgol nya namun lift berhenti dilantai 40.
Bang Badui beserta anak buahnya masuk kedalam lift dan melempar keduanya keluar. Mungkin ia mengira kalau Jeongho dan gadis itu adalah teman jadi ia tinggal main pukul saja. Namun Jeongho melihat Taeyun ada ditangannya membuatnya jadi tampak curiga.
"Hei, lepaskan gadis itu." ucap Jeongho dengan dingin.
"Bocah, ini bukan urusanmu. Cepat pergilah sana." Wajah bang Badui tampak panik, apalagi ketika diganggu seperti ini membuatnya tampak sangat emosi.
Jeongho maju dan ingin menyerang bang Badui, namun ia ketendang oleh salah satu anak buahnya hingga menjauh dari pintu lift.
"Cepat kita pergi, atau anak gila itu akan mengejar kita." Pintu tertutup.
Jeongho hanya menatap kepergian bang Badui sambil memegang perutnya yang sakit. Polwan itu datang menolongnya namun ia menolaknya dan bangun sendiri.
"TAEYUUUN......!!!" Teriak Taesik dengan kencang dibalik lorong.
Kemudian ia muncul dan hendak mengejar pintu lift. Namun sudah terlambat, bang Badui sudah pergi. Ia hanya melampiaskan amarah nya pada pintu lift yang sudah dicapainya.
BAAAMM.....
Bang Badui di dalam jadi berkeringat, menatap pintu litf yang tiba tiba terdapat bekas pukulan kearahnya. Ia bernapas lega, karena ia bisa lolos dari anak itu. Ia berpikir, sejak kapan Taesik jadi sekuat ini. Bukankah dulu dia hanya anak lugu dan takut akan kekerasan. Kenapa ia bisa berubah cepat begini. Bahkan kekuatannya juga sudah ada diatas tingkatan orang dewasa.
Taesik memukul pintu berkali-kali hingga pintunya benar-benar penuh dengan bekas pukulannya. Jeongho dan polwan dibelakang hanya menganga menatap kekuatan si monster ini.
Lalu aku muncul menghentikan dirinya.
"Kita bisa mengejarnya, ayo.!" aku mengajaknya menaiki tangga. Jeongho dan polwan itu juga mengikuti kami.
_________
"Rey, bagaimana...?" tanya Jangyeon.
"Ssstt...." Rey memberi tanda diam untuk sementara waktu.
Kemudian ia melirik kebawah. Terdapat dua orang pria paruh baya sedang mendiskusikan sesuatu.
Mereka saat ini sedang dilangit-langit mengintai mereka berdua yang sedang melakukan bisnis.
"Jadi pak Yora, bagaimana.? Sepakat.?" tanya Dongwo Kim dengan penuh senyum ramah.
"Tentu saja Tuan Kim. Kita sepakat." jawab sambil menjabat tangan si Dongwo.
Ketika mereka sedang berjabat tangan, setetes air jatuh didepan mereka sendiri. Mereka tertegun sejenak, lalu melihat keatas.
Rey sekarang berusaha menyembunyikan dirinya. Tapi karena Jangyeon ada dibelakangnya, ia jadi tak bisa lepas dari pandangan kedua orang itu. Mereka berdua dalam keadaan merangkak di lorong atas itu dan Jangyeon ada dibelakangnya sehingga sangat sulit untuk mundur kebelakang.
Wajah mereka berdua terlihat kacau saat melihat Rey yang berusaha sembunyi.
"Sialan, ada yang menguping pembicaraan kita." Teriak pak Yora sambil mengeluarkan pistol yang ada dibalik bajunya.
Tapi sebelum ia mengeluarkan benda itu, Rey sudah melompat dari langit kemudian menindihnya.
BUUKHH.....
Pak Yora meringis kesakitan saat tertindih oleh Rey, sementara pak Dongwo di belakangnya sedikit terbengong sesaat. Ketika dia juga hendak mengambil pistolnya, Rey cepat berbalik dan menendangnya hingga ia terpental jatuh.
Dengan cepat ia kemudian mengambil koper milik pak Dongwo, setelah itu beranjak lari. Tapi pak Yora tiba-tiba terbangun dan menghujaninya ratusan peluru.
DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR DOR...
Untungnya reaksi Rey cukup cepat, ia mengambil meja tempat mereka berunding sebelumnya lalu membalikannya dan bersembunyi dibelakangnya sehingga peluru-peluru itu hanya ditahan oleh meja tersebut.
Disaat pak Yora sedang sibuknya menembak Rey, Jangyeon juga lompat dibelakangnya. Ia mengembil sebuah besi panjang kemudian menghantam kepalanya.
BUGH....
Pak Yora terjatuh, sebelum itu ia berbalik kearah Jangyeon dengan tidak percaya dimatanya.
Kali ini pak Dongwo sudah terbangun dan menetapkan pistol kearah Jangyeon. Tapi Jangyeon tidak sedikit pun merasa ketakutan. Ia hanya menatapnya dengan tenang membuat pak Dongwo yang jadi ketakutan.
"Katakan, siapa kalian..!!" Ia mulai berteriak keras sambil menodongkan pistolnya kedepan. Seolah-olah berinisiatif untuk menarik pelatuknya sehingga pelurunya keluar dan bisa menembus kepala anak ini.
Sementara Jangyeon mengeluarkan sebuah korek api, menyalakannya dan memutar-mutar dipergelangan tangannya.
"Tenanglah, semua masalah itu bisa diselesaikan baik-baik." Ucapnya dengan tenang.
"Apa maksudmu." jawab pak Dongwo dengan bingung. Tapi melihat korek api yang terus berputar ditangannya membuat kepalanya pusing. Matanya jadi sedikit ngantuk.
SKLIIIkh....
Tangan Jangyeon tiba-tiba berhenti dengan korek api ditangannya dalam keadaan menyala.
Bersamaan dengan itu tatapan mata pak Dongwo jadi kosong. Ia membeku dan diam seperti mayat hidup.
"Pak Dongwo, pembicaraan kita hari ini cukup sampai di sini." Jangyeon datang menjabat tangan nya.
Tanpa pikir panjang, pak Dongwo juga langsung menjabat tangan Jangyeon. Ia menunjukan sedikit senyum, namun matanya masih menunjukan kekosongan.
"Tentu saja pak Yoran, terimah kasih atas kerja sama nya."
Ternyata, dimata pak Dongwo saat ini Jangyeon adalah sosok pak Yoran.
Jangyeon tersenyum lalu mengambil kopernya, ia juga memberi kode pada Rey yang menatapnya dengan penuh kekaguman.
Jangyeon. Preman jalanan yang suka menipu banyak orang. Ia belajar banyak tentang teknik sulap dan teknik menghipnotis. Siapapun yang sudah berhadapan dengan anak ini pasti tak akan bisa mengendalikan diri, kecuali orang itu mentalnya terlalu kuat. Selain itu ia dapat melihat kepribadian orang dengan begitu mudah, dan menebak ciri-ciri psikologinya. Jika dilihat lihat, mereka memang tim yang sangat cocok. Jangyeon si tampan dengan kemampuan penghipnotis nya, Rey yang mempunyai kelebihan mencuri yang lebih baik dibandingkan kebanyakan rata rata dan Taesik, orang yang mempunyai keahlian untuk menghacker setiap sistem digital.
Banyak sekali orang kaya yang menjadi korban penculikan dari ketiga bocah ini. Rata ratanya bahkan tak tahu siapa identitas mereka.
Tapi tiba-tiba pintu dibuka, anak buah pak Dongwo dan anak buah pak Yora masuk ke dalam.
"Apa yang terjadi disini."
Mereka langsung masuk dan mengecek keadaan, tidak ada orang diruangan ini. Hanya pak Dongwo yang hanya berdiri terdiam dengan besi panjang ditangannya dan pak Yora yang sudah pingsan ditempat.
Secara perlahan mereka mendekati pak Dongwo.
"Tuan, apa kau baik-baik saja." Tanya salah satu anak buahnya.
Melihat pak Dongwo hanya diam saja, mereka makin risau. Apa yang terjadi padanya.
"Tuan....." Ucapnya lagi sambil menggoyang goyangkan tangannya di depan wajah tuannya itu tapi masih tidak ditanggapi.
"Tu...." Pak Dongwo langsung terjatuh saat mereka menyentuhnya.
Mereka langsung panik saat melihat pak Dongwo terjatuh.
"Cepat cari pelakunya, pasti ada seseorang disini."
Mereka memandangi sekitar, hanya ada satu pintu di sini. Dan pintu itu adalah tempat masuk mereka. Tidak mungkin kan mereka keluar lewar pintu itu.
Mereka melihat keatas, langit-langitnya sudah di bolong. Dengan geram ketuanya berteriak.
"Kejar mereka.!!"
_________
Kami menaiki tangga hingga kami sampai kelantai 41, Taesik yang sedang dalam keadaan mengamuk mengejar kepergian mereka dengan kecepatan penuh. Bahkan akupun juga sedikit lelah saat melihatnya.
Lantai 41 adalah lantai yang rata rata kamarnya khusus untuk pelanggan VIP. Jangan dibilang lagi, disini adalah tempat dimana para pasangan bisa melampiaskan cintanya yang membara.
Kebanyakan mereka akan canggung saat sampai di sini karena dikejutkan suara-suara indah yang bergema didalam kamar.
Tapi tidak bagi Taesik yang saat ini yang hanya emosi atas kepergian adiknya. Dia bahkan memborbardir setiap benda yang menghalangi jalannya. Sambil berteriak...
"Bang Badui.... sialan kau..."