NEVER DEAD

NEVER DEAD
BENTROK DENGAN SEORANG MASTER



"Um... um... um...."


Gadis itu meronta ronta di tangan bang Joker. Walaupun ikatan di tangan nya sudah tidak terikat lagi namun ia masih tidak bisa lepas dari kekuatan pria bertopeng yang satu ini.


"Sudah diamlah, jika kau bergerak lagi maka aku akan menyiksamu." ucap bang Joker dengan kejam.


"Um..um...um..."


Gadis itu tak terima, ia masih meronta ronta, wajah nya sekarang sudah tidak terurus lagi. Rambut panjang nya sangat garing dan berantakan, begitu pun dengan wajah nya.


Dua garis air mata yang sudah membeku di wajah nya terlihat sangat jelas. Matanya bahkan sudah membengkak, bagaimana tidak, dari tadi ia menangis terus. Tentu saja itu akan mempengaruhi raut wajah nya.


"Sudah kubilang, jangan bergerak." Bang Joker mulai mengencangkan pegangan nya dan dengan cepat melangkahkan kaki nya.


Namun ia tiba tiba berhenti, melihatku sedang berdiri dengan santai di depan nya.


Awal nya ia masih menatapku untuk beberapa saat, tapi setelah itu ia melewatiku.


Aku menoleh pada nya, dengan pelan aku bertanya.


"Kalian mau kemana.?"


Bang Joker berhenti, berbalik ke arahku. Aku juga berbalik, gadis itu menatapku dengan penuh harapan. Yah setidak nya bersikap keren dulu lah di depan cewek.


"Siapa kau..? apa kita saling kenal..?? kalau tidak jangan ganggu aku." Diapun berbalik dengan cepat dan berjalan terburu buru.


"Tentu saja kita saling kenal."


Bang Joker berhenti lagi, menatapku dengan heran. Ia memandangiku dari ujung kaki sampai rambut, dan tentu saja ia tidak mengenalku.


"Maaf. Aku tidak tahu siapa kau." Dia pun berbalik lagi, namun sebelum ia pergi aku sudah berbicara.


"Kau mungkin tidak akan mengenalku. Namun aku mengenalimu, jika kita saling berkenalan maka kita akan saling mengenal." ucapku sambil pura pura tersenyum.


Ia berhenti lagi, mengepalkan erat tangan nya. Berbalik dengan marah padaku.


"Apa kau sudah selesai berbicara.? apa kau hanya akan menunda waktu kepergianku.? Sialan kau, pergi saja ke neraka."


Dia mengeluarkan pistol nya hendak menembakku.


Ceklek.. ceklek....


Tapi pistol nya tidak mengeluarkan peluru, ia bahkan mengetuk pistol itu ke pinggang nya dengan bingung. Setaunya pistol ini tadi ada peluru nya, apakah pistol ini rusak.?


"Kau mencari ini.?" Ucapku sambil membuka sesuatu dari tanganku.


Puluhan peluru pistol itu terjatuh dari tanganku ke lantai.


Mereka langsung kaget, melihat peluru pistol nya sekarang ada di tanganku. Ia pasti penasaran kapan dan bagaimana aku mengambil peluru itu dari dalam senjata nya. Ia mundur selangkah menatapku seperti menatap seekor monster.


"Hei, percuma bukan kau masih memegang benda itu." ucapku lagi.


Pistol di tangan nya langsung terjatuh, ia menatapku dengan penuh kewaspadaan.


"Siapa sebenar nya kau.?" Tanya nya lagi dengan serius.


Aku tersenyum pada nya.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, tapi satu yang harus kau tahu. Kau telah berani melukai teman temanku di bawah sana. Bukankah kau bertanya, siapa yang mengganggu rencana kalian waktu itu. Siapa yang mengambil balik tas ibu itu dan siapa yang telah menghajar teman temanmu.?"


Mata bang Joker terbelalak, ia langsung mengerti dengan perkataanku.


Aku langsung tersenyum licik, menatap nya dengan penuh niat membunuh.


"Itu benar. Itu adalah aku."


Sekarang dia juga malah tersenyum licik, membuatku sedikit mengerutkan alis dan bingung saat melihat nya.


"Oh, kamu orang nya toh. Kenapa tidak bilang dari awal agar tidak banyak korban yang berjatuhan." Ucap dengan percaya diri.


Tampak nya ia punya kartu di belakang nya, kalau tidak mana mungkin ia tidak takut pada aura membunuhku. Mungkin kakek tua yang membantai sekelompok orang tadi adalah sandaran nya. Jika itu benar maka seperti nya masalah ini tidak akan semudah itu.


"Kenapa kau diam.? Aku benar benar mengakui keberanianmu yang sudah berani jujur padaku. Tapi kenapa kau bersembunyi, jadinya teman temanmu sudah menjadi mayat di bawah sana."


Aku sedikit menaikan alisku, memandang nya dengan tidak senang. Maksud dari perkataan nya adalah aku menyembunyikan diri saat dia masih bersama dengan anak buah nya tadi. Memang aku tahu kalau mereka saat ini sedang sekarat, tapi aku yakin kalau mereka masih selamat.


"Aku tidak bersembunyi, tapi karena kebetulan adikku juga di culik di sini makanya aku langsung menyelamatkan nya dulu. Mungkin saja teman temanku sedikit tersesat ke kamar kalian tadi itu."


"Hahahahaha..... " Ia tertawa dengan geli.


"Apakah itu benar atau tidak.? tapi seperti nya kau ini pandai mencari alasan yah." Ia mengeringai padaku.


Melihat seringai nya, tiba tiba aku merasa kesal.


Aku langsung meninju wajah nya hingga sampai ke dinding, dinding nya retak karena tinjuanku, beserta dengan topeng yang ia pakai juga ikut hancur.


Gadis yang di sana tampak bingung sejak kapan ia bebas, namun bebas ya bebas. Melihat aku meninju bang Joker ia langsung melarikan diri dan bersembunyi di balik dinding. Ia masih belum pergi dan sebalik nya ia masih mengintip kami di balik dinding sana.


"Maaf, tapi waktuku sangat sempit. Aku tak punya waktu untuk berdebat denganmu."


Aku melepas tanganku, setelah itu ia terjatuh sambil memuntahkan darah dan gigi nya bersamaan. Wajah nya terlihat jelas saat topeng nya terlepas. Ia masih terlihat sedikit tua namun juga tidak bisa di bilang masih muda. sekitar 35 tahunan, dan seperti nya ia masih lajang.


Dia menatapku dengan penuh kebencian dan kemarahan, sambil menggertakan gigi ia berteriak padaku.


"Berani berani nya kau membuatku seperti ini. Kau pasti akan menyesal, kau pasti akan mati." Ia meludah ke arahku.


Nafas nya tidak teretur setelah memarahiku, tapi ia masih menatapku dengan tajam. Seolah olah ia memang tidak bercanda.


"Hooo.... seperti nya, kau belum puas di pukuli yah."


Aku mengangkat tanganku tinggi tinggi, tiba tiba raut wajah nya berubah menjadi ketakutan. Ia menatap tanganku yang tinggi, berpikir ia mungkin mati hari ini. Tapi belum lama lagi ia langsung tersenyum, aku bingung dengan apa yang terjadi pada orang ini. Kenapa ekspresi berubah begitu cepat setiap detik nya. Apa dia sudah gila.?


Aku langsung meninju nya, namun tiba tiba tanganku di hentikan hingga tanganku tak bisa bergerak.


Aku mengerutkan kening, berbalik melihat siapa yang bisa menghentikan pergerakanku ini. Ternyata di belakang, seorang kakek tua berjanggut putih menatapku dengan penuh aura membunuh.


Aku tertegun melihat kemunculan nya, kapan ia tiba di sini dan kenapa aku tidak menyadari keberadaan nya. Aura membunuh kakek ini membuatku sedikit kedinginan, aura nya persis seperti aura guru yang kami lawan waktu di akademi saat itu. Namun aku tahu kalau kakek ini sedikit lebih lemah dari guru. Tapi tetap saja ia sangat kuat bagiku, mungkin aku akan mati di sini saat berhadapan dengan nya langsung.


Di tambah dengan kekuatan nya yang sangat kuat, aku sama sekali tak bisa bergerak dari sana. Kultivasi kakek tua ini pasti sangat tinggi, mengapa ia ada di tempat ini.


Di saat aku bingung, ia langsung mengangkatku dan membantingku ke dinding yang terdekat. Aku langsung menggertakan gigi kesakitan, badanku rasanya remuk dan bergetar di dalam nya. Seolah olah mau hancur. Jika bukan karena sel gen ku yang terlalu kuat mungkin tulangku sudah hancur dari tadi dan langsung tewas di sini. Atau mungkin tangan nya dari tadi sudah menembus dagingku dan menghancurkan apa yang ada di dalam nya.


Aku langsung menyemburkan darah segar dari mulutku. Dinding tempat aku mendarat segala nya langsung retak sampai kesisi dinding lainnya dan rasa nya dinding itu bisa hancur kapan saja.


Saat dia menatapku begitu, hatiku merinding ketakutan.


Sialan....


Aku mengutuk dalam hati, orang di depanku ini adalah seorang ahli tenaga dalam tingkat Master. Seseorang yang 100 kali lebih kuat dariku, aura nya juga tidak kalah kuat dari guru kami. Mengapa aku harus bentrok dengan orang seperti ini di sini.