NEVER DEAD

NEVER DEAD
DATANGNYA SEORANG MASTER



"IBUU....!!!" teriak Park jung dengan keras hingga membuat semua orang terdiam.


Semua orang menoleh ke arahnya, termasuk Taesik, Jeongho dan gadis yang sedang bertarung di sana. Namun tidak lama Taesik mengamuk lagi dan menghantam seseorang.


Buukh....


Orang itu terjatuh dan pertempuran kembali berlanjut.


Tanpa menghiraukan mereka, Park Jung berlari ke arah ibunya. Namun seketika ia langsung di hadang oleh bang Joker.


"Siapa kau.? Anaknya.?" Tanyanya dengan senyum sinis.


Park Jung menatap nya dengan penuh kebencian dan berkata dengan geram.


"Ia aku anak nya, dan siapa kau.?" Tanya balik.


"Hahaha...." Bang Joker tertawa keras.


"Kau anak toh, mau selamatkan ibumu.?" Tanyanya lagi.


"Sialan...!!" Park Jung memakinya. Dan dengan cepat menendangnya.


Bang Joker menahan tendangan itu dengan santai dan tersenyum puas.


"Ganas juga yah. Belum lama berbicara sudah emosi." Cibirnya.


"Ka... kau...., jangan lupa kau sedang berada di hotel. Di bawah polisi sudah mengepungmu. Kau tak bisa lari kemana mana lagi." Ucapnya dengan dingin.


Bang Joker tertawa mendengar itu, merasa lucu dengan perkataan nya. Lalu memandang nya dengan penuh kebanggaan.


"Kau kira kami terang terangan menculik ibumu di sini karna kami takut polisi."


Wajah Park Jung langsung berubah setelah mendengarnya. Itu berarti mereka sama sekali tidak takut pada polisi. Jika tidak takut maka mereka pasti sudah menyiapkan sesuatu. Sesuatu yang lebih buruk.


"Kenapa, takut." Perkataan bang Joker membuat nya tersadar dari pikiran nya.


Ia kembali menatap nya dengan tajam, lalu melirik di mana ibunya diikat. Tangan terkepal sambil menggertakan giginya. Wajah nya langsung berwarna merah padam karena emosi. Ia berteriak pada bang Joker.


"Pergilah ke neraka."


Park Jung langsung menyerang dengan ganas, bang Joker juga melayani nya.


Kemudian polisi masuk, mereka terkejut melihat kekacauan yang terjadi di dalam ruangan ini.


"Berhenti..!! Hentikan semua ini...!!" Teriak mereka sambil mengancungkan pistol mereka ke atas.


Dor....


Suara tembakan berbunyi, namun mereka tidak menghiraukan nya. Malah terus bertarung dengan lawan masing masing.


"Ka.. kalian.." Mereka tak bisa lagi berkata kata dengan situasi ini.


Buagkh....


Belum sampai mereka bertindak lagi, salah satu dari mereka sudah di hantam balok kayu. Hingga salah satu dari mereka itu terjatuh sambil menggeliat memegangi kepalanya yang berdarah.


"Apa yang kalian lakukan.?" ucap teman polisi itu dengan nada marah.


Tidak lama kemudian wajah polisi yang marah itu langsung membeku. Melihat segerombolan orang orang maju ke arah mereka. Mereka bahkan tidak sempat menembakan pistol karena musuh juga menyerang dari belakang. Bisa di bilang mereka sudah di kepung.


Pak polisi dengan cepat menghubungi rekan rekan nya yang ada di bawah agar secepat nya naik ke lantai ini. Ia memberikan nomor kamar di mana letak kekacauan ini terjadi. Lalu menutup telepon nya setelah itu bergegas menghadapi para musuh.


Setiap kali mereka menodongkan pistol pasti ada memukul tangan mereka hingga pistol yang mereka pegang terjatuh menjauh ke lantai. Tidak sempat mengambil pistol itu kembali, pada akhirnya mereka tidak punya pilihan lain selain bertarung dengan berandalan gila ini.


Pertarungan terus berlanjut. Taesik, Jeongho dan si gadis systema terlibat dalam pertempuran sengit. Bukan hanya itu Park Jung dan para polisi juga bergabung dalam perkelahian ini.


Pintu kembali terbuka, puluhan polisi masuk ke dalam ruangan tersebut. Untuk sekarang, ruangan sudah di penuhi banyak orang.


"Berhenti..!!"


Dor dor....


Polisi menembakan dua peluru nya keatas, hingga membuat semua orang terdiam. Dengan cepat para polisi mengelilingi mereka dan masing masing orang bertarung sudah di todongi pistol.


"Lepaskan senjata kalian dan angkat tangan ke atas...!!"


Semua orang masih terdiam, Taesik dan lainnya hanya berusaha berdiri sembari mengendalikan napas mereka. Tentu saja mereka juga mengangkat tangan.


Gadis itu berteriak menggeliat ke sakitan, karena pisau itu menggores lehernya yang putih. Darah segar mengalir dan ia menangis ketakutan.


"Jangan bergerak atau leher gadis ini akan putus." Ucap bang Joker mengancam.


Para polisi menodongkan pistol kearahnya, tapi bang Joker malah menggores leher gadis itu lebih dalam dalam.


"Um...." Gadis itu mendesis ketakutan. Kakinya menggeliat tak tahan dengan rasa sakit goresan pisau itu.


"Kalian lihat, aku tidak akan segan segan untuk memotong leher gadis ini. Kalian cepatlah mundur, dan lepas pistol kalian."


Raut wajah para polisi berubah, mereka ragu ragu untuk menembak pria licik ini. Kemudian kapten mereka berteriak untuk melepaskan pistol mereka masing masing.


Bang Joker memberi mereka kode supaya menendang pistol mereka ke depan agar mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mengambil senjata mereka kembali.


Setelah melakukan apa yang ia perintahkan, pak polisi mengangkat sambil dengan tenang berkata.


"Sekarang kami sudah mendengarkan perkataanmu. Lepaskan gadis itu."


Bang joker malah tertawa mendengar nya, dan mengatakan dengan serius.


"Biarkan aku pergi, aku akan melepaskan nya nanti."


Semua orang terdiam, saat ini Taesik sudah terjatuh karena kehabisan darah. Jeongho dan gadis sistema juga menyusulnya. Mereka terbaring di lantai tanpa ada yang memperhatikan nya.


Wajah sang ketua polisi menjadi gelap mendengar perkataan itu. Ia menggertakan giginya lalu menyuruh yang lainnya untuk membuka jalan agar orang sialan ini lewat.


Bang Joker berjalan keluar dengan bangga, ia juga tidak melupakan kewaspadaanya dan terus memantau para polisi yang ingin diam diam menyergap nya.


Para anak buah nya juga pergi melewati mereka dengan sombong sambil memaki maki dan meremehkan mereka sebagai polisi. Tentu saja para polisi ini emosi dengan dengan apa yang mereka lakukan. Bukan hanya memaki, mereka bahkan meludahi wajah si salah satu pak polisi.


Polisi itu ingin maju menghantam pria itu, namun di cegah oleh teman nya. Pada akhirnya ia hanya bisa menahan kemarahan nya sambil menggertakan gigi dan menatap pria yang meludahinya itu dengan penuh kebencian.


Bukan nya takut, tapi pria itu malah mengancungkan jari tengah nya ke atas sambil mengolok ngolok dirinya. Para polisi itu makin emosi dengan perlakuan itu.


Tiba tiba dari luar segerombolan orang juga datang dan langsung menembaki anak buah bang Joker tanpa ampun.


Dor... dor... dor... dor... dor... dor... dor...


Dor... dor... dor... dor... dor... dor... dor...


Dor...dor...dor...dor...dor...dor...dor...


Para anak buah bang Joker langsung tersungkur tanpa ampun di tembak mati oleh mereka. Tidak sampai di situ, para polisi juga kembali mengambil pistol mereka dan menodongkan kepada para sekelompok orang yang menembak sambil mengatakan hentikan.


Tapi sekelompok orang berbaju jaket hitam itu tidak mau mendengar. Mereka juga memakai sebuah helm sehingga para polisi tidak mengenal mereka.


Ternyata itu adalah teman teman Park Jung yang datang membantunya di sini. Mereka datang terbelakang agar tidak menarik perhatian banyak orang. Apalagi para polisi, mereka diam diam mengikuti di belakang Park Jung dan mengikuti semua petunjuk nya lalu menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.


Saat ini hanya bang Joker yang tersisa, ia masih saja memegang gadis itu dan bersikeras untuk menggunakan nya sebagai tameng.


Sekelompok pria yang memakai helm itu terdiam, masih menodongkan pistol ke arah nya. Namun tidak berani menembak karena gadis yang mereka kenal ada di tangan nya.


"Hehehe... masih ingin menembak, baiklah ayo tembak. Tembak gadis ini biar kalian puas." Bang Joker dengan tidak tahu malu bersembunyi di belakang gadis itu.


Gadis itu masih saja menangis ketakutan, apalagi luka di lehernya sangat perih membuat nya sangat tersiksa.


Tiba tiba di belakang bang Joker ada seseorang yang menangkap diri nya dan langsung mengancingkan tangan nya. Pisau yang di pegangi nya jatuh kelantai. Namun ia masih menggenggam gadis itu dengan kuat dan tak mau melepaskan nya.


Pada akhirnya bang Joker mendapat pukulan berat dari pria itu hingga gadis itu lepas dari tangannya.


Setelah gadis itu terjatuh di lantai, pria yang menangkap nya juga tiba tiba mengikuti nya berbaring kelantai.


Sebelum bang Joker sadar dari keterkejutan nya, para pria ber helm itu langsung menembak nya tanpa ampun.


Dor... dor.... dor.. dor... dor... dor...


Dor... dor... dor... dor... dor... dor...


dor... dor.... dor.... dor... dor... dor.. dor...


Mereka kira bang Joker itu sudah mati. Namun di luar harapan, peluru yang mereka keluarkan hanya berhenti tepat di hadapan nya. Melayang di hadapan bang Joker seperti terhenti oleh sebuah sihir atau waktu yang berhenti.


Bang Joker tersenyum lebar dan memanggil dengan pelan.


"Master, kau sudah datang."