NEVER DEAD

NEVER DEAD
TAEYUN TEWAS



"Jika kau tak dapat menahan serangan ini maka kau akan ku pastikan mati hari ini."


Kata kata itu membangkitkan isting bertahan hidup dalam tubuhku. Kini aura nya tiba tiba naik dan menyelimuti tubuh nya. Bukan untuk mengintimidasi tapi untuk melapisi tubuh nya, aura itu berasal dari tenaga dalam dari dalam tubuh nya.


Aku patikan serangan ini pasti akan sangat menyakitkan.


Aku juga memasang ancang ancang, aura tenaga dalamku juga bangkit dari tubuhku untuk melindungi diri. Menatap nya dengan penuh khusuk.


"Bagus... Bagus sekali. Jika kumakan jantungmu pasti rasanya sangat nikmat." Kakek itu tertawa seperti orang gila, wajah nya jadi sangat mengerikan.


Dengan cepat ia melaju ke arahku dan benar saja. Serangan nya kali ini memang tidak bisa aku hindari walaupun aku juga telah bersiaga menggunakan energi tenaga dalamku.


Sebelum tapak tangan nya mencapai dada kiriku, mataku langsung menyala lalu mengirim sinyal pengganggu lewat tatapan kami.


'Apa' ucapnya dalam hati.


Kini aura penguat tubuh nya hilang untuk sementara, aku tiba tiba muncul di belakang nya dan langsung menyerang titik buta di tubuh nya.


Titik buta kakek ini berada di bawah belakang leher nya. Aku langsung memusatkan seluruh tenaga dalamku di telapak tanganku.


"Telapak pemotong...." ucapku dengan keras.


Matanya melirikku namun ia tak bisa apa apa.


BOOOOMMM....


Tubuh nya tertanam di dalam lantai, lantai di sekitar nya juga hancur. Untuk waktu yang lama ia tidak bangun. Aku memanfaatkan kesempatan itu dan langsung melarikan diri.


Di tempat itu ia bangun dengan perlahan, wajah nya seakan tidak percaya, seluruh tubuh nya gemetar karna saking marah nya. Menatapku kepergianku yang lari terbirit birit. Ia menggertakan gigi dengan kuat.


"Bocah sialan..."


Ia langsung menghilang dari tempat tersebut, dan tiba tiba muncul di depanku.


Aku tertegun karena tiba tiba aura kuat muncul di belakangku. Sepasang mata ganas nya menatapku seperti singa yang ingin menerkamku. Aku langsung melompat kesamping, karena instingku mengatakan ia akan menendangku ke bawah.


BOOOOM.....


Benar saja, lantai tempat ia pijak langsung runtuh. Bahkan berjatuhan ke lantai bawah. Berpikir kalau kakek ini sangat menakutkan saat dia marah. Kekuatan nya benar benar mengerikan.


Aku berdiri di tempat, kakek itu memandangiku dengan penuh kemarahan. Wajah nya bahkan menunjukan urat nadi yang membengkak.


"Bocah berani nya kau."


Mendengar itu rasa nya aku ingin tertawa, aku mencibir pada nya.


"Kau dari tadi terus memukuliku. Dan aku tak pernah bilang kalau kalau kau kurang ajar. Sekarang, bahkan menyentuhmu saja sudah membuatku seolah olah seperti seorang narapidana."


Kakek itu bertambah marah, ia dengan cepat melaju ke arahku.


Aku merasa seolah olah sebuah gelombang samudra datang menyambarku, sangat besar dan sangat luas dan aku hanya debu pasir di bawahnya. Yang kulihat di depanku ini seperti ilusi namun sangat mengitimidasi.


Aku mengangkat kedua tangan ke depan melindungi diriku.


Setelah itu, kekuatan yang sangat besar menghantam kedua tanganku. Aku terlempar sangat jauh.


1 dinding, 2 dinding, 3 dinding, 4 dinding, 5 dinding, sampai ke dinding yang ke 6 baru aku berhenti.


Kepalaku pusing dan mataku buram, aku merasa kalau duniaku berputar saat ini. Saat aku sadar tanganku sudah agak bengkok dan menyadari ada sebuah lorong di depanku. Tidak, itu bukan lorong. Itu adalah tembok yang bocor akibat tubuhku yang terpental sampai sampai menembus begitu banyak dinding.


Aku menyemburkan banyak darah segar, hendak terjatuh tak berdaya. Semua orang penghuni hotel menatapku dengan ngeri, melihat dari mana aku terlempar tadi.


Ketika hendak duduk tiba tiba pak tua itu muncul di hadapanku, menendang perutku memakai lutut nya. Aku merasa seluruh isi tubuhku ingin keluar lewat mulutku, rasa sakit yang tidak tertahankan bahkan membuat isi perutku keluar lewat pantat.


Pak tua menggenggam kepalaku dengan satu tangan. Seperti orang yang sedang mengambil gantungan pakaian.


Semua orang berteriak ketakutan dan dengan cepat pergi meninggalkan tempat kami.


Aku menggertakan gigi kesakitan, saat aku membuka mata aku terkejut kalau aku sekarang sedang berada di atas udara. Tapi aku tidak menginjak ke manapun. Aku melihat ke depan, kakek tua itu sedang berada di depanku. Sedang memegang kepalaku dengan satu tangan nya, jelas kalau ia masih berada di lantai hotel dan aku berada di luar. Napasku 'tidak teratur saat berusaha menahan rasa sakit di tubuh ini. Untung nya kepalaku tidak putus, sebenar nya posisi ini seperti orang gantung diri.


Saat ini tangan nya tiba bergerak, lalu ia melemparku ke belakang dengan keras.


BOOOOMM.....


Aku mendarat di dinding lagi, darah menyembur keluar sekali lagi. Ia langsung meninjuku, tapi aku langsung terduduk ke bawah.


BOOOOMM.....


Dinding atasku jadi bolong, aku langsung minggat dari sana. Dia terus menyerangku, memukulku, menendangku dan lain lain. Pokok nya berbagai serangan ia lancarkan padaku. Aku hanya bisa menghindar dan menghindar, hanya bisa bergantung pada kecepatan dan tubuhku yang fleksibel.


Aku tak berani menyerang balik, karna itu bisa saja menjadi pisau yang berbalik ke arahku. Saat ini aku sangat berhati hati dan begitu menjaga jarak dari nya. Agar ia tidak meraihku lagi dan memberiku beberapa bantingan kasar nya. Di tambah lagi tanganku yang sudah bengkok dan sedikit mati rasa seperti mengalami setengah kelumpuhan.


"Aaahk...." Aku berteriak kesakitan.


Tiba tiba ia memukul wajahku, hingga aku terpental di dinding.


Aku meringis kesakitan pada wajahku, mataku membesar saat sebuah besi melaju ke arahku dan menembus dada kiri atasku. Untuk sesaat aku merasa seperti gantungan foto yang sedang di gantung oleh sebuah paku yang menancap ke dinding. Karna saat ini aku tidak bisa lepas dari besi yang sudah menembus tubuhku dan langsung menancap ke dinding.


Sesaat kemudian dua besi juga menancap ke arahku, satu ke dada kanan atas, dan satu ke perutku.


"AAAAAAKH......"


Aku berteriak kesakitan, darah mengalir keluar dari ketiga luka tersebut. Aku berusaha menginjakkan kakiku ke lantai, namun aku tidak bisa apa apa. Karna kakiku tidak bisa menyentuh lantai.


Di saat aku sedang berusaha, kakek itu berjalan ke arahku. Ia tertawa puas, menatapku dengan penuh kesenangan. Ia kemudian menyentuh daguku dengan kuku tajam nya hingga membuat kuku nya masuk ke dalam dagingku. Berpikir kalau kuku orang tua ini sangat tajam, mungkin saja bisa di gunakan untuk bantu bantu memotong sayur.


"Bagaimana rasanya nak.? Apakah enak, hah.? Hahahahaha....." Kakek itu tertawa seperti orang gila, ia membelakangiku dan menari nari seperti orang tidak waras.


Saat ini aku dengan sekuat tenaga ingin melepaskan besi yang telah menancap ini, tapi mengapa begitu keras.


"Percuma nak, karna besi itu juga menancap sampai ke sisi dinding lainnya."


Aku tidak menghiraukan nya dan masih berusaha mencabut besi itu.


Tiba tiba dari sisi pintu, terdengar ada gadis yang berteriak memanggiku.


"KAKAK.....!!!!"


Kami berdua berbalik ke arah pintu, mataku terbelalak saat melihat Taeyun berdiri di sana dengan sebilah pisau di tangan nya. Wajah nya menangis ketakutan saat melihat keadaanku sekarang.


Aku mengumpulkan seluruh kekuatanku untuk berteriak padanya.


"CEPAT LARI......!!!!"


Dia bingung, saat ini kakek tua itu tersenyum licik. Melihat senyum licik ini membuat hatiku seperti di cincang cincang oleh pisau. Apakah yang kutakutkan akan segera terjadi.


Kakek tua itu tiba tiba menghilang, aku langsung berbalik ke arah Taeyun.


Oh tidak, jangan lakukan itu. Kumohon jangan.!


Aku berteriak dalam hati, meronta ronta melepaskan diri, aku tidak perduli lagi dengan sakit dagingku saat di gesek gesek dengan besi. Aku ingin maju, namun kenapa. Kenapa aku tak bisa keluar dari besi ini. Aku berbalik ke Taeyun dengan putus asa, berdoa agar tidak apa apa.


Namun di luar harapanku, ternyata Taeyun saat ini sudah membeku dengan sebuah tangan menembus dada kirinya dari belakang. Tangan itu sedang memegang sebuah jantung merah.


Lalu tangan itu di tarik, Taeyun jatuh tak bernyawa tepat di depan mataku.