
Aku sudah bertekad kalau apapun yang terjadi, kakek ini harus ku bunuh. Apalagi ia sudah melihat tranformasiku, ini sangat berbahaya jika di sebarkan keluar. Akan banyak para peniliti gila yang datang menginginkanku.
Aku langsung maju dan muncul di hadapan nya, siapa yang menyangka kalau ia sebenar nya menyembunyikan sebuah pedang di balik baju nya.
Ketika aku ingin memukul nya, ia menunduk dan langsung menikamku tepat di bagian dada tengahku atau lebih tepat nya di bagian ulu hati.
Aku langsung membeku di tempat, semua energiku hilang. Tangan virtualku juga menghilang begitu saja, tubuhku yang tadi sangat kuat sekarang terlihat jauh lebih lemah. Mataku sekarang telah kembali seperti semula, bukan hanya itu. Tulangku yang tumbuh juga menghilang.
Badanku gemetar kesakitan. Sementara si kakek tersenyum puas.
"Heheh.... Aku akui yang tadi itu hampir membunuhku sialan. Hahaha.... Ukh."
Kakek itu tertawa lepas, namun karena bekas pukulanku yang merobek wajah nya tadi, membuat nya kesulitan untuk berekspresi dengan bebas.
Kakek itu menggenggam leherku, ia mengoceh tak berakhlak di depanku. Aku sekalipun tak ingin mendengar nya, sekarang badanku sangat menyakitkan akibat tusukan ini.
Kemudian kakek itu menggenggam erat pedang nya dengan kedua tangan nya. Kukira ia akan mencabut pedang ini dari tubuhku, tapi siapa yang menyangka ia akan memotongku dari sisi kiri ke sisi kanan. Hingga menembus bahu Kananku.
Cpraaatt......
Aku terjatuh mengikuti arah pedang, rasa sakit yang sangat pedih menyelimuti tubuhku. Seperti nya tubuhku sudah terbelah dua sepenuh nya. Semua tulang rusukku di bagian kanan juga terpotong akibat pedang kakek itu.
Aku terbaring di lantai, menatap langit dengan mata buram, cahaya lampu di sana tampak ada dua. Tidak, rasa nya ada tiga. Darah terus keluar tak henti henti nya, seperti sungai yang mengalir.
Pak tua itu menjilat darahku yang ada di pedang nya, ia mendesah nikmat saat menikmati darah itu. Kemudian menginjak tubuhku hingga tulang rusukku yang tadi sudah terpisah jadi menusuk ke dalam daging.
"Aaaaaah....."
Aku meronta ronta kesakitan, sakit nya sangat luar biasa. Membuatku gemetar tak terhenti merengek menahan penderitaan ini. Tapi kakek itu malah terlihat sangat menikmati penderitaanku dan ia malah menginjak lebih kuat lagi.
"Bagaimana rasa nya bocah, sakit bukan. Heheh...."
Aku berusaha mengumpulkan seluruh kekuatanku, jika aku tinggal diam di sini, aku pasti lamban laun akan mati. Namun sebelum mati harus menanggung beban sesakit ini.
Aku langsung menendang kaki nya hingga terjatuh, untung nya ia saat ini sedang lengah. Ia juga tidak menyangka kalau aku masih punya kekuatan untuk melakukan hal ini. Kemudian aku memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri.
Belum jauh aku pergi, kakek itu tiba tiba menendangku lagi. Hingga aku berguling guling hingga sampai ke kaca luar. Tidak sengaja aku berbalik kesamping, ternyata ini adalah dinding pembatas. Di bawah, segala sesuatu nampak sangat kecil di pandang mata. Mulai dari gedung gedung pencakar langit yang ada di sekitar hotel ini, mobil, serta bukit bukit yang berisi pepohonan di atas tanah nya.
Saat ini aku sadar kalau sebenar nya ada cara untuk membunuh kakek ini. Yaitu dengan cara membuang nya keluar dari kaca ini atau bunuh diri bersama nya. Sehebat hebat apa pun diri nya, sekuat kuat apa pun tubuh nya ia juga pasti akan mati ketika jatuh dari ketinggian yang sudah mencapai beberapa ratus meter ini.
Tiba tiba kakek itu menarik tubuhku lalu membantingku kelantai. Darah semakin bercepretan di mana mana, aku tak bisa apa apa lagi sambil menatap kakek itu yang ingin sekali menyiksaku sampai aku mati.
Aku menutup mata, Saat ini aku sudah pasrah pada nasibku dan berniat tidur sekarang. Tapi ketika aku teringat adegan Taeyun yang mati tepat di depan mataku membuatku tak sudi untuk mati sekarang. Aku dengan tenang mengumpulkan seluruh kekuatanku sekali lagi.
Saat ini kakek itu menginjak kaki kiriku hingga patah sambil mengoceh tidak jelas, tapi aku bisa menahan nya. Ku alirkan seluruh kekuatanku ke dalam mataku dan melepaskan nya ketika aku membuka mata.
Kebetulan kakek itu juga sedang menatapku, mungkin karna ia mengoceh dari tadi maka nya ia jadi menatapku.
Saat kami bertatapan, energiku langsung meledak. Dengan keras aku berteriak.
"Kejut mental.!!."
"Apa.?" ucap nya dengan terkejut.
Sinyal kejut langsung memasuki diri nya dengan kuat. Hingga membuat tubuh nya gemetar karena otak nya sekarang di ganggu oleh energi mentalku. Untuk sesaat tubuh nya kehilangan keseimbangan. Aku memanfaatkan kesempatan itu untuk bangun dengan tergesa gesa. Dengan menggertakan gigi menahan rasa sakit aku berlari sekencang yang aku bisa, lalu menangkap tubuh nya dan membawa nya ke dinding kaca.
PRAAANK.....
Dinding kaca nya pecah, dengan pose seperti saling berpelukan kami jatuh ke bawah. Kakek itu hanya bisa menatap langit yang cerah sambil meronta ronta melepaskan diri. Sementara aku menatap ke bawah, di mana banyak kendaraan yang melintas di bawah sana. Aku yakin setelah jatuh nya kami pasti akan menarik banyak perhatian mereka.
Aku menutup mata erat erat, sampai jumpa Taesik, sampai jumpa bibi, paman. Walaupun setelah ini aku memang akan hidup kembali, namun aku tak bisa menemui kalian lagi karena berita dan bukti kematianku sudah terpampang di depan mata. Aku akan terpaksa pergi ke tempat lain.
Di saat aku bersiap untuk mati, tiba tiba terdengar suara teriakan nyaring seorang gadis.
"AAAAAAAAAAAHHHHHH.....!!!!!!"
Aku mendongak, melihat gadis yang kuselamatkan tadi sekarang juga jatuh bersama dengan orang yang berusaha menangkap nya.