NEVER DEAD

NEVER DEAD
PENCULIKAN



Pagi harinya kami berdua terbangun. Tadi malam aku bercerita hingga tengah malam. Bahkan bibi dan paman menyuruh kami makan malam tidak kami tanggapi.


Pagi hari, aku membuka jendela dan menatap dunia fajar tempat aku tinggali ini. Walaupun masih pagi, tapi suara-suara aktivitas sudah sangat aktif. Ayam-ayam peliharaan mulai berkokok, jendela-jendela para tetangga juga terbuka satu persatu.


Ada yang membangunkan anaknya, ada juga yang keluar dan melakukan kegiatan senam di depan rumah mereka. Ada juga yang keluar dan menikmati kopi mereka hingga aktivitas-akvitas lainnya.


Suasana yang yang begitu hidup namun santai seperti ini sangat berbeda dengan dengan kehidupanku diakademi waktu itu.


Begitu pagi telah datang , tepat jam 6.00 kami sudah tiba dan berbaris dilapangan Lalu melakukan senam. Jika saja ada yang terlambat diantara kami saat itu, maka akan dikenai seratus cambukan. Ketika terkena hukuman itu, sakitnya luar biasa bahkan kami sampai takencing-kencing saat menahan rasa sakit itu.


Seingatku, aku terkena hukuman itu saat umurku 11 tahun. Tepat ketika aku pertama kali masuk kedalam Akademi Jalur Khusus. Dan tentu saja aku yang pertama mendapat hukuman itu dan menjadi pelajaran bagi semua orang yang menontonku. Itu adalah hukuman pertama dan sekaligus terakhir kalinya. Dan yang memukulku juga adalah Jenderal Mayor Jo, orang yang telah membuatkan identitasku.


Jika diingat-ingat, terlalu banyak kenangan saat ditempat itu. Pertama kali masuk, kami belum saling mengenal. Oleh karena itu kami berkelahi satu sama lain untuk menentukan siapa bos diakademi itu. Dan hasilnya hanya aku yang satu-satunya yang berdiri ditempat itu. lalu yang kedua adalah Kevin yang kemudian setelah itu kami menjadi rival sejati.


Ketika kami makan, kami akan seperti **** lapar yang menunggu makanan lalu berjejer rapi ketika makan. Kadang kala juga kami sering bertengkar karena benda itu sehingga aku ingin tertawa saat mengingatnya.


Lalu tiba-tiba suara terdengar dibalik pintu.


"Taesik, Rian. Ayo sarapan. Tadi malam kalian hanya ketiduran dan lupa makan malam." Suara bibi membangunkanku dari lamunanku sendiri.


Lalu dengan cepat pergi kekamar mandi. Saat itu juga Taesik selesai mandi dan keluar pintu. Jadi aku langsung masuk dan mandi. Menyikat gigi, membersihkan tubuh dan mengkeramas rambut. Setelah itu aku berganti baju. Baju dengan lengan pendek dan juga celana pendek pula. Yah sebenarnya semua itu adalah pakaian Taesik yang sudah ia siapkan untuku. Tidak lupa kuikat lagi rambutku yang panjang seperti ekor kuda.


Kemudian aku keluar keruang makan, disana sudah ada paman dan bibi serta Taesik yang memandangiku dengan tatapan kagum. Aku hanya mengabaikan tatapan mereka kemudian duduk disalah satu kursi dekat mereka. Mengambil sendok dan garpu lalu menunggu makanan dengan penuh semangat dan tanpa sadar mengetuk-ngetuk sendok dan garpuku ke meja sambil berseri-seri menampilkan gigi ginsulku dan lesung pipiku yang memikat.


"Aiya... Chi tae, dari mana kau dapat anak ini. Kenapa ia imut sekali. Gemes banget."


Kata bibi sambil mencubit pipiku dengan gemes hingga meninggalkan bekas cubitan berwarna merah. Seketika aku langsung malu dicubit begitu hingga membuat ia terkikik.


Ia buru-buru mengambil nasi lalu menyendok nasinya ke piringku.


"Kau mau makan.. Nih, makan yang banyak yah. Supaya gemuk."


Ia juga tak lupa mengambil telur dan mie untuk menjadi teman nasiku. Hasilnya, segunung nasi dengan dipenuhi dengan mie dan telur mata sapi.


Aku tertegun saat melihat makananku Lalu memandanginya. Dia hanya tersenyum tulus padaku. Tanpa pikir panjang aku langsung melahap makanan itu dengan cepat. Tanpa memperdulikan reaksi mereka.


"Bibi, ambilkan aku lagi." Taesik berkata dengan manja.


"Ambil." Bibinya tersenyum jahat, membuat Taesik agak ketakutan. Lalu kemudian wajahnya menjadi galak.


"Ambillah sendiri." Setelah itu rasanya Taesik mau menangis, ia dengan terpaksa mengambil makanannya sendiri.


Aku hanya menahan tawaku melihat tingkah mereka. Apakah ini yang dinamakan keluarga. Benar-benar indah sekali jika aku punya keluarga seperti ini.


Bibi makan sambil memperhatikan Taesik.


"Taesik, mana kacamatamu.??" tanyanya dengan penasaran.


Taesik dengan santai menjawab.


"Bibi, aku sudah bisa melihat walaupun tanpa kacamata lagi sekarang."


Bibinya langsung terkejut saat melihatnya.


"Benarkah..." tanyanya sekali lagi. Ia benar-benar tak percaya jika Taesik memang sudah bisa melihat.


Taesik hanya mengangguk-ngangguk sambil makan. Sementara bibi mengalihkan pandangannya ke paman.


Paman terbatuk sambil berkata kalau yang dikatakan Taesik memang benar, kemarin ia sudah mengetes matanya dan benar saja kalau matanya memang sudah pulih kembali. Bibi hanya mempercayai perkataan paman dan menyuruh Taesik agar memeriksakan matanya nanti kedokter.


Aku menghabiskan seluruh makanannya, sarapan ini benar-benar enak. Aku bersandewa kenyang setelah menghabiskan semuanya. Bibi juga senang ketika melihatku seperti ini.


Setelah itu, bibi membersihkan piringnya. Aku mencoba membantunya, tapi dia bilang tidak perlu. Namun aku bersikeras membantunya dan bilang kalau anggap saja ini adalah tugasku. Bibi hanya bisa mengangguk saja ketika melihatku bersikeras seperti ini.


Kami berdua mencuci piring bersama sambil bercanda tawa. Ia juga kadang menanyai keluargaku, darimana aku berasal, dan apakah aku akan lanjut pendidikan nantinya. Aku hanya menjawab ala kadarnya saja.


Setelah itu, Taesik mengajakku berjalan-jalan di luar. Aku pun juga mengikutinya, kebetulan juga bibi menyuruh kami membeli ikan.


Ketika aku keluar dari rumah, aku menghirup udara segar. Lalu mengikuti Taesik kemana ia akan pergi. Kami menyusuri jalan setapak yang tidak terlalu besar ini, namun sepanjang jalan aku melihat banyak anak-anak bermain. Ada yang bermain bola, ada bermain anse dan lain sebagainya. Anehnya ketika aku melewati mereka, mereka menatapku dengan tatapan tidak biasa. Kadang ada yang salah tingkah dan lupa tentang aktivitas yang dilakukan mereka.


Apalagi para gadis melihatku, tatapan mereka tidak berpaling sedikit pun. Kurasa mereka agak sedikit aneh sih, pikirku. Karna penasaran aku bertanya pada Taesik.


"Taesik kenapa mereka menatapku begitu. Mereka sedikit aneh bukan." bisikku secara hati-hati padanya.


"Jangan tanya padaku, tanya saja pada dirimu kenapa kau begitu cantik." Katanya dengan acuh tak acuh.


"Apa." jawabku terkejut. Kemudian melanjutkan.


"Apa aku benar-benar cantik." kataku sambil memegang pipiku.


"Yaelah, aku bahkan mengira kau adalah perempuan saat pertama kali kita bertemu. Kalau bukan barangmu yang sama dengan barangku mungkin aku akan benar-benar berpikir kalau kau adalah wanita."


Aku tertegun saat mendengarnya, tapi barang apa yang dimaksud.


"Barang apa." tanyaku lagi padanya.


Tiba-tiba dia berhenti dan menatapku dengan aneh. Lalu ia menunjuk bagian bawah selangkanganku.


"Kau bertanya barang apa sialan. Tentu saja barang yang ada dibawahmu itu." katannya dengan sedikit kesal.


Aku memandangi dibawah kaki, barang yang mana. Melihatku yang seperti itu ia makin kesal hingga memukul dahinya sendiri lalu memarahiku.


"RIAN.... barang dibawah itu maksudku ini."


Ia langsung menggenggam punyaku, ia dan aku langsung membeku ditempat. Diam-diam aku memperhatikan orang-orang disekitar kami. Mereka juga memandangi kami dengan aneh. Sementara tangan yang ia pakai untuk menggenggam punyaku bergetar. Kemudian menarik tangannya dengan cepat.


Dalam pikirannya pasti


'besar sekali.


"Sudahlah, percuma saja jika aku berbicara seperti itu denganmu."


Kemudian setelah itu ia pergi melangkah dengan cepat, aku juga mengikutinya dengan cepat dibelakang.


Akhirnya kami sampai kepasar...


Mataku terbuka dengan besar saat melihat pemandangan itu. Ratusan orang memenuhi jalanan dan mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Dipinggar jalan ribuan penjual berjejer dari ujung keujung. Mereka juga sedang sibuk berinteraksi dengan para pembelinya masing-masing.


Aku memandangi pemandangan hidup ini dan tak tahu harus berbuat apa. Yang kulakukan hanyalah menengok kesana kesini dan tak menyadari kalau Taesik sudah menghilang ditelan oleh kerumunan.


Tiba-tiba tanganku tertarik sesuatu, ketika aku melihat siapa yang menarikku ternyata Taesik yang melototiku dengan tajam. Mungkin ia tahu reaksiku akan seperti ini saat aku berada ditempat ini. Makanya ia langsung membawaku tanpa melepaskan tanganku.


Aku memasuki kerumunan, mataku tidak pernah diam. Aku memandangi banyak sekali penjual, yang paling menarik minatku adalah penjual makanan yang baunya menusuk hidungku. Air liurku tanpa sadar keluar saat mencium baunya.


"Taesik, aku mau beli ini."


Tapi ia tidak mendengarkanku, ia hanya berjalan dan terus berjalan. Sampai disuatu tempat dimana bau bangkai ikan sangat menusuk hidung.


Taesik berhenti disalah satu penjual, ia kemudian berkata padanya.


"Bang, ikannya satu kantung yah..."


Abang itu langsung mengantongi ikannya dan hendak memberikannya kepada Taesik.


Tiba-tiba....


"TOLOOONG........................!!!!"


Suara memekakkan telinga terdengar. Kami semua langsung berbalik kearah suara itu.


Seorang wanita paruh baya sedang meminta tolong karena tas sedang diculik. Karena tasnya tak ingin diambil, ia bersih keras untuk tidak melepaskannya. Namun naasnya ia malah didorong dengan kasar dan kepalanya terbentur di sebuah batu.