NEVER DEAD

NEVER DEAD
KEDATANGAN PARK JUNG



"Tuan, ada apa.?"


Bang Badui langsung tersadar saat mendengar ada orang yang memanggilnya. Ternyata itu anak buahnya yang sudah menarik kembali dirinya dari lamunan nya sendiri.


"Tidak apa apa. Ayo kita pergi. Mari kita cari dulu kamar untuk beristrahat." ucap bang Badui sambil mengelus rahang nya.


'Ukh, rahangku rasanya sudah picah nih. Bocah taesik sialan itu, tunggu saja. Aku pasti akan memberi pelajaran cepat atau lambat.'


Mereka berjalan sampai di pintu salah satu kamar yang ada di lantai tersebut.


Tidak jauh dari mereka, Rey yang saat ini sedang panik berlari menuju lift. Sementara para berandalan di belakangnya juga tak henti hentinya mengejarnya. Sesekali Rey berbalik kebelakang, memastikan keadaannya baik baik saja dan musuh masih jauh darinya. Tapi ia tidak sadar kalau ada orang di depannya.


Bang Badui yang saat ini sedang hendak membuka pintu, tiba tiba tertabrak olehnya.


Bruugkh....


Mereka berdua langsung terjatuh kelantai sehingga Taeyun yang ada di tangannya terlepas. Tapi tetap saja, Taeyun tak bisa apa apa karena anak buah bang Badui langsung menangkapnya.


"Apa lagi sekarang." teriaknya dengan kesal sambil menatap Rey yang saat sedang memakai masker.


Namun koper yang di bawa Rey tadi langsung terjatuh sehingga uang di dalamnya tak bisa menahan diri untuk keluar.


Mata bang Badui terbelalak saat melihat uang itu. Ia menatap Rey yang jatuh lemas di lantai. Di saat ia bernasib buruk ternyata ada banyak uang datang sendiri padanya.


"Ambil uang itu." Ucap bang Badui dengan mata berbinar.


"Tidak." Teriak Rey. Ia sudah susah payah merebut uang itu sampai kesini ujung ujungnya malah berada di tangan bang Badui.


Di saat salah satu anak buah bang Badui mengambil uang itu, ia dengan cepat memutar kakinya dan lansung menendang tangannya hingga orang itu terjatuh karena tubuhnya yang tidak seimbang setelah di tendang seperti itu.


Dengan cepat ia memasukan uangnya kembali ke dalam kopernya. Tapi bang Badui juga tidak tinggal diam, ia langsung menendang Rey hingga ia menjauh dari uangnya.


Buahk...


Rey meringis kesakitan.


"Hei bocah, uang ini adalah milikku. Ambil." ia menyuruh anak buahnya untuk mengambil uangnya kembali.


"Tunggu. Jangan sentuh uang itu." ucap ketua dari para gerombolan yang mengejar Rey.


Akhirnya mereka dapat menyusul Rey dengan susah payah. Tapi masalahnya di sini bukanlah Rey lagi, melainkan para preman yang ada di depannya ini.


Hosh hosh hosh.....


Saat ini mereka terlalu lelah setelah berlari sejauh ini dan itu karena anak ini. Jika di bayangkan, berapa kali mereka terjatuh akibat pengejaran ini maka tidak usah di bilang lagi. Mengingatnya saja sudah membuat mereka sangat emosi.


"Jangan sentuh uang ini, memangnya kau siapa.?" Bang Badui maju membalas perkataan orang ini dengan sombong.


"Kami adalah pemilik uang ini." Saat ini ketua anak buah pak Dongwo juga maju dengan sombong pula sambil menyeka keringatnya.


"Oh, aku mengerti sekarang. Jadi, memangnya kenapa kalau kau pemilik uang ini. Siapa yang melarangku untuk mengambil uang ini." ucap bang Badui memprovokasi.


"Cih, sialan kau. Berani juga." Pria itu melotot ke bang Badui kemudian tersenyum licik.


"Pukul dia." ucapnya dingin.


Sementara bang Badui hanya tersenyum melihat mereka maju. Di lihat dari tampilan mereka yang sudah berdarah dan lelah ini merupakan keuntungan bagi mereka dalam hal perkelahian ini.


"Bunuh." ucapnya juga dengan dingin.


Kemudian terjadilah pertarungan epik di antara kedua belah pihak.


Sementara Staaf hotel malah sembunyi ketakutan dan tak ingin terlibat dalam perkelahian kedua belah pihak ini.


________


Sekarang kami sudah sampai ke lantai 45, semuanya tampak lelah karena menaiki tangga yang begitu tinggi. Bahkan Taesik yang tadi dalam keadaan mengamuk, sekarang berjalan lambat dengan napas yang tidak tak karuan.


Kecuali aku yang hanya terus menaiki tangganya sampai keatas.


Sementara Jeongho dan polwan berada di bawah, mamasuki lantai 44. Jeongho saat ini duduk tak kuat lagi di atas tangga. Tidak jauh darinya polwan juga duduk di bawanya. Untuk mencapai lantai 44 ini saja sudah menghabiskan seluruh tenaga mereka. Apalagi Taesik dan aku yang ada di atas. Mereka berdua sudah menganggap kami sebagai anak yang tidak normal.


Walaupun kami sudah mencapai lantai 45, tapi kulihat bang Badui berada di lantai 47 dan sedang mencari kamar. Tapi tunggu, bukankah itu Rey, sedang apa dia di sana. Dan mengapa mereka berkelahi.


Aku juga tidak banyak pikiran lagi, jika perkelahian ini berlangsung sementara Taeyun ada di tengah mereka maka ia pasti juga akan terkena imbasnya. Oleh karena itu aku langsung mempercepat langkahku dan menancap gas kemudian lari dengan kecepatan penuh.


"Hei, Rian. Tunggu aku.! Hei..."


Melihatku yang sudah jauh ke atas, Taesik hanya menghela napas panjang.


"Huh, Anak itu, benar benar....." Taesik hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


________


Di depan hotel....


Seorang pemuda mengendarai motor vixion merah berhenti di depan jalanan hotel. Ia turun dari motornya dan hendak memasuki hotel, namun di tahan oleh pihak kepolisian.


"Maaf nak, hotel ini sedang dalam masa darurat. Anda tidak di ijinkan masuk ke dalam hotel ini. Polisi sedang menangani kasus ini." ucap salah satu polisi.


"*****, ibuku dan adikku ada di dalam hotel itu. Dan dia sedang di sekap oleh para berandalan itu brensek." Ucap pria itu, orang yang bernama Park Jung sambil menarik kerah pak polisi.


"Tenanglah nak. Kami tahu perasaanmu. Biarkan kami pihak berwenang yang akan menyelamatkan ibumu." Polisi itu tidak sekalipun meresa takut dengan bentakan itu. Dia tetap tidak membiarkan Park Jung masuk.


"Huh, persetan dengan polisi. Aku ingin melihat ibuku bukan mayatnya nanti di tangan kalian." Park Jung dengan cepat melewati polisi dan lari terbirit birit ke dalam lobby.


Pak polisi juga sepertinya tersinggung dengan perkataan anak itu, ia segera berlari menangkapnya.


"Tangkap dia, jangan biarkan ia masuk."


Park Jung yang melihat para polisi di belakangnya segera berlari dengan kencang. Ia langsung memasuki lift.


Ia sudah sampai ke lift namun sekitar 5 orang polisi datang menyusulnya kedalam.


Awalnya ia masih memberontak dan berduel dengan mereka berlima. Namun mereka sangat kuat, hingga ia di tahan di sana agar tidak bisa bergerak. Hampir saja ia di keluarkan dari lift jika tidak menjelaskan inti permasalahannya pada mereka.


"Tolong, kumohon. Aku hanya ingin menyelamatkan ibu dan adikku. Penjahat itu menelponku untuk melakukan penukaran dengannya." ucap Park Jung sambil memohon.


Polisi itu mengerutkan keningnya, ia lalu bertanya kepadanya.


"Jadi, apakah mereka meminta uang."


Park Jung segera menjawab.


"Ya. Bukan hanya itu saja, mereka juga meminta agar membawakan beberapa orang yang telah mengganggu mereka." Ucapnya dengan sungguh sungguh.


"Benarkah." Polisi ini masih belum percaya.


"Anjim, apa kau kira aku akan bercanda pada nyawa ibuku.?" Park Jung berteriak kesal padanya.


"Baiklah, kami akan mengikutimu ke sana." Polisi itu memberi kode ke rekan rekannya kemudian berjalan kearah tombol lift.


"Mereka bilang ibumu ada di lantai mana." tanyanya lagi.


"Lantai 45."


Kemudian lift melaju keatas. Park Jung diam diam menekan sebuah tombol di tangannya.


Bib....


Di luar....


Beberapa orang sedang berkumpul, melihat kalau jam tangan mereka menyala. Mereka mulai bergerak.


"Cepat, mari kita bergerak."