
Saat aku mengatakan apakah ia menemukan sesuatu dilokasi ledakan itu, ia berpikir sebentar. Kemudian mengangkat bahunya sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak menemukan apa-apa." ucapnya.
Aku mulai berpikir, itu pasti tidak mungkin. mana mungkin ia tidak menemukan sesuatu ketika berada disana. Aku yakin ada sesuatu yang janggal dengan situasi ini. Kalau tidak ia pasti tak akan mempunyai perubahan seperti itu.
Setauku kalau ledakan itu menghasilkan kawah yang sangat besar, pastinya semua yang ada diwilayah itu pasti musnah. Mana mungkin ada yang masih hidup disana.
"Rian, kenapa kau bengong sendiri. Apa sebenarnya yang kau pikirkan." Tanya Taesik padaku.
Aku memandanginya sekali lagi, dan aku langsung tersadar.
Taesik juga menyadari perubahan ekspresiku.
"Kenapa. Apa ada yang salah dimukaku ini."
Aku makin mendekatinya dan memegang kedua bahunya.
"Hei, apa yang kau lakukan."
Ia memperhatikan kedua tanganku dan menatapku dengan aneh karena tingkahku yang tiba-tiba ini.
"Sejak kapan kau bisa melihat tanpa kacamata." tanyaku padanya.
Ia tertegun sesaat, kemudian berpikir kembali.
"Aku ingat, sebelum aku bisa melihat dengan jelas saat itu aku digigit sesuatu ditendaku waktu itu."
"Sesuatu.!!"
Akupun terkejut, lalu menatapnya dengan penasaran. Dia melanjutkan.
"Um, Tapi karna mataku saat itu masih kabur. Makanya aku tidak terlalu melihat dengan jelas benda apa itu. Yang penting benda itu warna hijau dan bisa bergerak gitu. Dia seperti seekor kalajenking, tapi karna ia bergerak terlalu cepat aku tak bisa memastikan lebih lanjut bagaimana bentuk aslinya. Dia lari keluar, jadi aku berusaha mengejarnya karena saat itu aku lagi emosi. Tapi diperjalanan kepalaku tiba-tiba pusing dan seluruh tubuhku jadi kesemutan. Tulangku bahkan jadi remuk semua, lalu aku merasa kalau sel dan juga kulitku mengalami perubahan. Tapi aku tidak berani memastikan itu. Tepat setelah aku sadar sudah banyak orang yang menontonku dan saat penglihatanku sudah sembuh."
Aku mengangguk sendiri dan mengelus daguku. Dari cerita Taesik ini aku bisa menyimpulkan pantas saja kalau Taesik mengalami perubahan seperti ini. Ternyata begitu toh. Kemudian aku bertanya sekali lagi.
"Gigitanya bagian mana.??"
"Disini."
Taesik menunjukan gigitan makhluk itu, tepat dipunggung tangannya terdapat tato kalajengking hijau.
"Ah, sejak kapan ini muncul.??" ucap Taesik sambil meraba-raba tato itu.
Tentu saja kami kaget saat melihat tato itu, jika kuingat-ingat kalajengking ini aku pernah melihatnya.
_________
"Hahahaha.... aku berhasil. Berhasil. Hahahaha...."
Aku bangun saat mendengar suara itu. Saat itu aku sedang dalam tabung, kupandangi sekelilingku. Tabung ini sedikit besar, mungkin mampu menampung sebanyak 3 orang. Ketika aku melihat keadaan, saat ini aku telanjang, mulutku ditutupi masker oksigen, mataku ditutupi oleh semacam benda seperti kacamata renang dan seluruh badanku ditancapkan ratusan benda seperti pipa kecil dan aku tidak tahu apa kegunaannya.
Saat itu aku sadar kalau aku merupakan salah satu subjek hasil uji coba dari profesor Delanni. Ketika aku berbalik kebelakang, kulihat ratusan tabung teman-temanku juga terpampang dihadapannya.
Lalu aku menyaksikan profesor sedang mengamati hasil eksperimennya.
Didepannya ada sebuah tabung kecil seukuran ember yang didalamnya terdapat seekor kalajengking berekor dua. Kalajengking itu berwarna hijau loreng-loreng dan mata yang hijau pula. Tapi tabung itu berada jauh didepan dan dikelilingi oleh aliran listrik. Sementara profesor berada diluar jangkauan listrik itu. Dari kejauhan ia terus memandangi hewan itu sambil tertawa keras dengan bangga.
Tampaknya hewan itu sangat spesial dimata profesor sampai-sampai ia selalu memujinya berkali-kali. Bagaimana tidak, hewan itu adalah keberhasilan pertama sekaligus terakhirnya karena ia tidak tidak kalau hasil eksperimennya juga berhasil pada kami.
Aku melihat dengan jelas kelebihan kalajengking itu. Pertama, ia dapat berubah bentuk menjadi bentuk apapun dan yang kedua, ia dapat membuat aura pelindung dan yang paling penting Ia dapat menembus benda. Seperti yang dilakukannya pada tabung itu. Ia dapat keluar dengan mudah tanpa harus menunggu tabung itu dibuka. Itu juga membuatku sedikit terkejut.
Tapi ia tidak bisa melewati dinding listrik. Itulah mengapa ia tak pernah keluar dari domain listrik itu.
Mungkin saja saat kami berusaha menghancurkan labolatorium profesor saat itu, kami tak sengaja mematikan daya dinding listriknya. Sehingga ia keluar dan berkeliaran dimana-mana. Lalu pada saat ledakan terjadi, ia mengaktifkan skill tembusnya sehingga ledakannya tidak berpengaruh apa-apa pada kalajengking itu.
Dan mungkin kebetulan ia bertemu dengan Taesik dan memberikan seluruh kekuatan gennya pada anak ini.
Jika itu benar terjadi maka Taesik harus berada dalam pengawasanku agar ia tidak salah jalan. Aku juga harus melatihnya dan memberi arahan yang benar untuknya agar bisa mengendalikan kekuatannya dengan baik.
"RIAAAN......"
Aku terbangun dari lamunanku saat mendengar panggilan itu. Taesik saat ini sedang menatapku dengan penuh amarah.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, sialan. Aku sudah memanggilmu berkali-kali tapi kau malah asik melamun."
Aku merasa sedikit bersalah saat mendengarnya. Oleh karena itu aku hanya menggaruk kepalaku padanya.
"Yah, maaf."
"Cih."
Ia berbalik dan kemudian tidur membelakangiku. Aku juga ingin tidur tapi terdengar suara langkah kaki dari bawah menuju kamar kami. Yah seharusnya Taesik juga mendengar itu.
Tok tok tok tok.....
"Taesik, Rian. Kenapa kalian belum tidur. Tidak baik ribut ditangah malam. Cepat tidur.!" Suara paman terdengar dibalik pintu.
"Tuh kan..." Bisikku pada Taesik.
"Huh, diamlah." jawabnya dengan kasar.
"Iyah paman. Kami akan tidur kok." Jawab Taesik pada pamannya.
Pamannya diam sebentar kemudian ia meninggalkan kami dan pergi kekamarnya.
Kami juga tidak mengatakan apa-apa dan melanjutkan tidur kami. Taesik memutarkan musik pengantar tidur agar ia dapat tidur dengan lelap. Sementara aku masih memikirkan kondisi Taesik, tapi lama-kelamaan mataku juga mulai kantuk dan akupun tertidur.
Pagi hari...
Kami terbangun seperti biasa. Cuci muka, sikat gigi, sarapan dan aktivitas lainnya.
Begitu pula dengan hari-hari selanjutnya, setelah peristiwa itu, kami melalui hari-hari kami dengan penuh ketenangan. Kadang-kadang, Taesik membawaku keliling kompleks tempat tinggalnya ini. Memperkanlakan beberapa temannya hingga mengajakku bermain sepak bola.
Hari ini bibi kembali menyuruh kami membeli ikan, karena kemarin kami tak berhasil membawa pulang ikan itu. Dan sebagai gantinya, pagi ini kami akan menebusnya.
Perjalanan dan pembelian kami lancar tidak seperti kemarin sehingga kami dapat membeli ikannya dengan sukses. Ditambah lagi ikannya sangat murah hingga kami dapat membeli ikannya lebih banyak.
Setelah berbelanja cukup lama, kami pun pulang. Diperjalanan kami pulang, beberapa warga mendatangi kami.
Tapi anehnya, para warga itu mendatangi kami dalam keadaan lelah, badan mereka dipenuhi keringat dan napas mereka sangat cepat. Sehingga membuat kami sedikit terkejut saat melihatnya.
"Taesik, haah.. haaah..." ucap salah satu warga tersebut dengan tergesa-gesa.
"Ada apa pak. Kenapa anda mencari kami." Taesik dengan cepat menghampiri bapak itu.
Kemudian bapak itu menunjuk kebelakangnya. Ia batuk sebenatar kemudian menatap Taesik dengan khawatir.
"Bang Badui datang lagi, ia sekarang sedang memborbardir rumahmu." ucapnya sambil menunjuk kearah rumah Taesik.
Taesik langsung terkejut seketika, matanya terbelalak menatap bapak itu kemudian menatap rumahnya. Tanpa pikir panjang lagi ia langsung berlari pulang kerumahnya dengan cepat. Aku juga mengikutinya kulihat wajahnya penuh dengan kekhawatiran.
Dari kejauhan kami sudah melihat banyak orang mengelilingi rumah kami. Bibi dan paman duduk didepan halaman. Halaman rumah kami sekarang sangat berantakan dibandingkan saat kami pergi tadi. Terbukti kalau para preman itu memang datang memborbardir rumah ini. Bibi berlutut sambil menangis tersedu-sedu sementara pamannya berusaha menghiburnya.
"Bibi, paman. Apa yang terjadi disini. Dimana Taeyun.?" Tanya Taesik tergesa-gesa kearah paman dan bibinya.
Bibinya hanya menangis dan pamannya juga menunduk. Wajah Taesik semakin pucat dan khawatir. Ia bertanya sekali lagi, dimana Taeyun. Tapi mereka tetap tidak menjawabnya. Hanya sedikit suara samar paman yang tidak sanggub mengatakannya.
"Taeyun diculik oleh bang Badui."